Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 66: Lampu Hijau



Vallerie dan Elliot kembali ke kantor melakukan tugas mereka seperti biasa. Sedangkan Erick mengunjungi gedung perusahaan milik keluarga Rachel karena ada satu hal penting masih belum ada kepastian terkait restu pertunangan mereka.


Sebenarnya Erick sedikit gugup karena baru pertama kali berhadapan dengan calon mertua di hari kerja dan di ruangan pimpinan perusahaan. Awalnya Erick ingin mengatur jadwal ulang pertemuan keluarga kedua belah pihak, tapi pihak keluarga Rachel menolak dan meminta Erick bertemu langsung secepatnya jika ada waktu luang. Entah kenapa alasannya, Erick sibuk mempersiapkan mental di luar ruangan pimpinan dengan tubuh gemetar, meski Rachel mendampinginya dari tadi.


“Kamu takut?” Rachel bertanya langsung pada intinya menambah rasa gugup Erick.


Erick sedikit menunduk. “Habisnya baru pertama kali aku bertemu dengan orang tuamu di gedung ini. Apakah aku berbuat kesalahan sampai orang tuamu memanggilku secara pribadi ke sini?”


Rachel mengedikkan bahu. “Tidak sih.”


“Orang tuamu belum mengetahui kamu hamil anakku, ‘kan?”


Rachel menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau mereka serangan jantung duluan. Lagi pula, selama ini kita selalu tinggal bersama. Kecuali orang tuaku tiba-tiba datang mengunjungi apartemenku tanpa sepengetahuanku.”


Entah kenapa Erick semakin pucat jika membayangkan mertuanya pingsan saat mendengar hamil di luar nikah. Apalagi tuntutan keluarga Rachel lumayan ketat, Erick sudah tidak terlalu banyak berharap mendapatkan banyak pujian. Direstui saja sudah sangat bersyukur.


Sudah cukup lama menunggu di depan pintu, Rachel sudah tidak sabar menarik tangan Erick memasuki ruangan pimpinan perusahaan. “Kamu tidak mau masuk?”


“Aku sudah siap.” Akhirnya Erick menampilkan sikap percaya diri.


“Kalau sampai jawaban orang tuaku tidak sesuai ekspektasi kita, aku sudah menyusun rencana alternatif.”


Pintu ruangan pimpinan dibuka penjaga pintu dengan lebar. Erick menggandeng tangan Rachel memasuki ruangan ini sudah disambut tatapan tajam diberikan kedua orang tua Rachel dari kejauhan, ditambah pintu tertutup dengan pelan, menambah suasana semakin mencekam sehingga Erick mulai tidak bisa menahan tubuhnya yang lemas.


Erick dan Rachel menempati sofa kulit, duduk bersebelahan gugup dan berpegangan tangan erat karena suasana sekarang lebih menakutkan daripada menonton film horor di bioskop. Apalagi baru pertama kali Erick datang sebagai tamu tidak diberikan teh.


“Ayah ingin menyampaikan sesuatu pada Erick?” Rachel sengaja berbasa-basi untuk menetralkan suasana tidak terlalu canggung.


“Hubungan kalian memang sungguh tidak terduga. Awalnya ayah mengira kamu menyukai Elliot, maka dari itu, ayah sangat mendukungmu menikahinya.” Ayahnya Rachel menyesap kopi hitam memasang tatapan elang pada Erick sekilas.


“Aku tidak mencintai Elliot, Ayah. Justru aku sudah berpacaran dengan Erick hampir setahun, tapi kami selalu merahasiakan hubungan kami. Sekarang, karena hubungan kami sudah matang, aku ingin menikahi Erick.”


Tatapan ayahnya Rachel semakin menusuk pada Erick, sehingga Erick merasakan hatinya seperti tercabik-cabik. “Apakah kamu bisa menjaga putriku?”


“Sudah pasti bisa, Paman. Aku sangat mencintai Rachel melebihi siapa pun. Meski jabatanku hanya manajer penjualan di perusahaan ayahku, tapi jabatan bukan penentu kebahagiaan Rachel.”


Akhirnya ayahnya Rachel menampakkan senyuman tipis. mendengar nada bicara Erick sangat percaya diri. “Kalau kamu yakin bisa melindungi Rachel, menikah saja kalian.”


Erick tidak bisa tersenyum, karena justru poin penting ini harus dilaporkan pada calon mertua sebagai penentu jawaban restu pertunangan ini. “Tapi, ada satu hal yang paman harus ketahui. Sebenarnya Rachel mengandung anakku.”


Tiba-tiba suasana di dalam ruangan bagaikan terkena sambaran petir dahsyat. Awalnya ayahnya Rachel sudah tidak mempermasalahkan urusan pernikahan, sekarang keadaan menjadi semakin rumit membuat ayahnya Rachel sedikit mengamuk memukuli sandaran sofa.


“Putriku hamil? Bagaimana bisa?”


“Jadinya, kamu melamar putriku karena ingin bertanggung jawab atas kesalahanmu?” Ibunya Rachel memelototi Erick sampai Erick semakin ketakutan.


Tangan Erick semakin gemetar, cemas hubungan mereka sungguh berakhir hanya karena kecerobohannya satu malam mengakibatkan fatal. Sentuhan tangan lembut Rachel berhasil membuat Erick sedikit tenang, perlahan kepalanya menoleh pada Rachel masih tersenyum tipis.


“Erick melamarku sebelum aku hamil, Bu. Memang ini semua salahku karena aku terlalu mencintai Erick sampai tidak sengaja melakukannya. Tidak lama setelah Erick melamarku, aku hamil saat melakukan tes.”


Erick terus menggeleng menatap calon ibu mertua dengan wajah memelas. “Tidak. Rachel tidak bersalah sama sekali. Justru aku yang memulai duluan dan aku terlalu berlebihan melakukannya.”


Kepala ayah dan ibu Rachel semakin sakit mendengar kabar di luar dugaan mereka. Apalagi sejujurnya mereka sangat sensitif mendengar perkataan hamil di luar nikah bisa merusak citra nama baik mereka dan Rachel. Tapi, serba salah juga jika tidak merestui pertunangan ini, bagaimana dengan nasib cucu mereka dalam rahim Rachel?


“Rachel, kamu tahu ibu sangat tidak suka mendengar kabar hamil di luar nikah? Semua orang akan berpandangan kamu adalah wanita rendahan.”


Rachel mengamuk, berdiri tegak menatap tegas pada orang tuanya. “Kalau ibu dan ayah tidak merestui hubungan kami, aku akan melakukan pelarian dan mengadakan pesta pernikahan sederhana di tempat terpencil bersama Erick!”


“Kamu sungguh mencintainya berlebihan! Apakah Erick jauh lebih penting daripada orang tuamu sendiri?” Ayahnya Rachel membentak tanpa segan.


“Memang benar. Aku lebih mementingkan Erick daripada ayah dan ibu. Erick selalu memedulikan aku dan selalu menemaniku di saat aku kesepian. Hanya Erick yang selalu mendengarkan pendapatku, sedangkan ayah dan ibu jarang menyetujui pendapatku!”


Rasanya Erick ingin melampiaskan tangisan haru mendengar ungkapan isi hati tunangannya membuat hatinya sangat tersentuh.


Sedangkan orang tua Rachel tidak bisa berbuat apa pun. Jika melanjutkan perdebatan ini, mungkin tensi darah mereka akan semakin meningkat dan bisa jadi akan terkena serangan jantung tiba-tiba.


“Baiklah, kami merestui hubungan kalian.” Ayahnya Rachel melaporkan hal tidak terduga membuat bola mata Erick dan Rachel terbelalak.


“Ayah sungguh tidak akan marah lagi?” Rachel bertanya balik mempertegas keputusan orang tuanya.


“Kami sudah memutuskannya dengan bulat. Tapi, dengan syarat cucu kami harus terlahir sehat nanti.”


Deraian air mata haru membanjiri kelopak mata Rachel, perlahan kembali duduk di sofa. “Terima kasih ayah dan ibu.”


“Pastikan Erick selalu merawatmu dengan baik dan perhatikan pola makan teratur.” Ayahnya Rachel mengulurkan jari telunjuk menunjuk Erick.


“Akan kupastikan bayiku akan selalu sehat sampai persalinan nanti.” Erick menunduk hormat.


“Kalian harus secepatnya mengadakan upacara pernikahan. Tidak mungkin kalian terus menunda, nanti semua orang akan curiga jika melihat perutmu membesar di hari pernikahan.”


“Kalau sampai kalian gagal merawat cucu kami, maka pernikahan kalian harus dibatalkan!” Nada bicara ibunya Rachel sangat tegas membuat Erick kembali gugup, meski sebenarnya ia sangat percaya diri bisa merawat tunangan dan bayinya dalam keadaan sehat.


Selain menghadiri persidangan, agenda Vallerie hari ini lumayan padat karena ia harus mempersiapkan proposal berbagai acara-acara yang akan diselenggarakan dalam proyek besar nanti. Sebentar lagi memasuki jam pulang kerja, tapi Vallerie masih belum menyelesaikan rapat bersama tim perancang busana.


Sementara Elliot sudah menunggu kedatangan istrinya dari tadi di ruangan perancang busana eksekutif. Padahal awalnya mereka akan melakukan dinner romantis saat pulang kerja, tapi jika dilihat langit semakin gelap, Elliot sedikit meragukan kencannya akan berhasil. Apalagi ia tahu belakangan ini pekerjaan tim perancang busana sedikit berat karena sebentar lagi akan memasuki musim baru harus membuat model pakaian terbaru sesuai musim.


Sudah hampir satu jam menunggu sambil berjalan mondar-mandir, akhirnya Elliot tertidur pulas juga di sofa karena mulai bosan menunggu tanpa melakukan apa pun, meski dari tadi sibuk bermain akun media sosial. Tapi, sejak menikah, ia lebih fokus ingin bermain bersama istri kesayangannya tidak pernah bosan.


Sekian menunggu lama, akhirnya Vallerie menampakkan batang hidung terburu-buru memasuki ruangannya, langsung disambut sosok suaminya sedang tertidur pulas dengan posisi tidur merengkuh di sofa. Vallerie merasa sedikit sungkan karena sudah membuat suaminya menunggu kelamaan sampai ketiduran dan seharusnya sekarang mereka sedang kencan romantis di restoran mahal sudah dipesan Elliot sejak jauh-jauh hari.


Perlahan melangkahkan kaki mengambil sebuah selimut tipis miliknya, berjongkok sambil menyelimuti tubuh suaminya terlihat kedinginan karena temperatur udara dalam ruangan ini memang sengaja diatur suhu paling rendah.


Vallerie mencium dahi suaminya selama beberapa detik, kemudian tangan kanannya mengelus kepala sang suami lambat laun dengan tatapan penuh cinta. “Maaf, kamu pasti bosan menungguku kelamaan sampai tertidur pulas.”


Elliot mengerjapkan matanya langsung disambut senyuman manis diberikan istrinya, membuat tatapannya menjadi menyegarkan. “Kamu sudah selesai rapat akhirnya.”


“Kamu bosan menungguku?”


Elliot menggeleng pelan sambil menepuk sofa pelan. “Tidurlah bersamaku, Sayang.”


Vallerie melepas stiletto hitam miliknya, memposisikan tubuhnya terbaring dalam dekapan hangat suaminya membuatnya ingin bermanja sampai besok pagi. “Aku ingin kencan denganmu.”


Bibir Elliot menyentuh puncak kepala Vallerie. “Sudah terlalu malam, sebaiknya kita melakukannya lain kali saja.”


“Kamu tidak marah? Kencan kita gagal karena aku.”


Bukan ekspresi marah yang ditampilkan suami tampan, justru senyuman penuh cinta menghiasi wajah tampannya membuat pipi Vallerie semakin memerah, ditambah sentuhan tangan suaminya terus membelai rambutnya. “Aku bisa masak makan malam di rumah nanti. Perutmu masih belum lapar, ‘kan?”


“Tidak. Tapi, aku cemas kamu semakin kelelahan kalau harus masak makan malam demi aku.” Bibir Vallerie memanyun.


“Mustahil aku merasa lelah kalau memasak makanan untuk kesayanganku.”


“Kalau begitu, kita pulang sekarang saja!” Vallerie ingin bangkit, tapi tubuhnya semakin dijepit erat sehingga membuatnya seperti diikat kuat.


“Sepuluh menit. Kamu baru selesai rapat, sekarang aku sedang menyalurkan energi tubuhku untukmu. Sebentar lagi akan terisi penuh.”


Vallerie memicingkan mata sambil terus menggelengkan kepala. “Bukankah lebih cenderung energi tubuhmu habis karena menungguku kelamaan?”


“Berkat tidur sebentar, energiku kembali penuh. Terutama hari ini kamu sibuk sekali, kamu tidak tahu betapa bosannya aku terus memandangi fotomu di ruang kerjaku?”


“Jadi itu sebabnya kamu simpan banyak fotoku di ponselmu sejak kita menikah, supaya kamu bisa melihatku terus setiap bosan.” Vallerie mengedipkan mata manis memajukan bibirnya membuat Elliot kesulitan menelan salivanya.


Rona merah menyala pada pipinya menandakan bahwa apa yang dipikirkan istrinya adalah benar. “Sepertinya sudah sepuluh menit kita berbincang. Aku ingin pulang sekarang.”


“Masih kurang dari lima menit! Jangan cari alasan supaya bisa menghindariku, Sayang.”


Kali ini Elliot tidak ingin menghindar daripada diejek istrinya terus. Hanya berdurasi singkat bibirnya menempel bibir istrinya, bertekad melampiaskan apa yang dipendamnya selama ini. “Iya, memang aku sudah tergila-gila padamu saat itu. Maka dari itu, setiap selesai rapat kamu harus mendatangiku. Jangan membuatku kelamaan menunggu sampai ketiduran!”