
Suasana kencan menjadi sedikit canggung gara-gara kemunculan Elliot di tengah perbincangan antara teman membuat Vallerie merasa tidak nyaman. Apalagi Elliot sempat menyindir Bertrand tadi, Vallerie merasa tidak enak saja, sikap kekanak-kanakan suaminya setiap cemburu selalu sulit dikendalikan sejak dulu.
Elliot masih menyantap nasi goreng dengan santai seolah-olah tindakannya memang benar. Rasanya Vallerie ingin mencubit lengan dan pinggang suaminya sekuat tenaga melampiaskan kekesalannya telah merusak suasana. Sebagai ganti pelampiasannya, Vallerie mengunyah sesendok nasi seperti sedang menggigit suaminya habis-habisan.
“Sayang, makannya jangan kasar begitu. Kamu seperti singa kelaparan saja.” Elliot terkekeh menatap istrinya dengan fokus.
“Memang sekarang aku ingin menjadi singa! Singa yang akan memakan kamu!” Lagi-lagi Vallerie mengunyah nasi dengan tatapan kejam.
Dahi Elliot mengernyit. Sebenarnya apa yang dipikirkan istrinya sampai tiba-tiba terlihat buas? Apakah ia sungguh melakukan kesalahan besar sampai membuat istrinya marah?
“Kamu kenapa sih marah terus?” protes Elliot kembali ketus.
“Renungkan apa yang telah kamu perbuat! Hanya kamu yang tahu jawabannya!” Vallerie memasukkan sesendok nasi penuh di sendok ke dalam mulut.
Sudah tahu jawabannya hanya berpikir sepuluh detik. Elliot melipat kedua tangan di dada mengerutkan dahi. “Kamu marah karena aku cemburu?”
“Aku tidak marah karena kamu cemburu!”
“Kamu marah karena sikapku keterlaluan saat di hadapan Bertrand. Benar, ‘kan?”
Vallerie sengaja mengatupkan bibir rapat, tidak mau menjawab pertanyaan suaminya yang sudah jelas jawabannya seperti apa.
Elliot tertawa usil menahan pipi kiri kanan istrinya, membuat ekspresi wajah sang istri semakin cemberut. “Nah begini baru wajahmu tidak seperti singa, lebih menggemaskan.”
Vallerie menyingkirkan tangan suaminya. “Dasar nakal!”
Dengan wajah memelas Elliot menggenggam kedua tangan Vallerie. “Maafkan aku, Sayang. Terkadang memang sulit mengendalikan sikap cemburuku.”
“Kenapa kamu berbicara seolah-olah aku yang melarangmu cemburu? Cemburu boleh, tapi jangan terlalu posesif deh!” Vallerie menaruh sendok dan garpu di piring sambil menyeka bibir merahnya dengan tisu.
Cup..
Kecupan manis mendarat di hidung Vallerie tiba-tiba membuat bola mata Vallerie terbelalak.
“Bukankah justru bagus aku cemburu berlebihan menandakan bahwa aku tidak rela membiarkan kamu bersama pria lain. Apalagi Bertrand pernah menyatakan cinta padamu, kalau sampai dia masih belum menyerah gimana?” Elliot merapikan rambut panjang istrinya sedikit kusut bagian bawah.
Ada benarnya juga. Dengan begini, Vallerie tidak perlu khawatir lagi melihat suaminya akan kembali kejam seperti semula. Lebih baik cemburu berlebihan daripada bersikap kejam selalu membuat hatinya teriris.
“Suapi aku, Sayang. Tanganku pegal.” Vallerie menggeserkan piring ke arah suaminya menunduk malu.
Reaksi Elliot tertawa gemas sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut sang istri sambil mengelus kepala pelan. “Maafkan aku, Sayang. Seharusnya tadi kita pergi bersama ke sini. Kamu jadi repot naik mobil perusahaan diantar sopir.”
“Aku tidak mungkin mengganggumu rapat. Hari ini kamu sangat sibuk. Jangan terlalu memaksakan dirimu hanya karena aku.”
“Setelah ini aku tidak terlalu sibuk. Mungkin kita bisa pergi berkencan sebentar.”
Vallerie menggeleng pelan. “Ada satu hal yang ingin kuselesaikan di luar kantor.”
Alis Elliot terangkat sebelah. Apa lagi yang akan dilakukan istrinya tanpa sepengetahuannya lagi?
“Kamu mau melakukan apa sih?”
“Rahasia.” Vallerie tertawa usil.
“Selalu deh main rahasia segala! Jangan-jangan kamu mau mengincar Erick lagi!” Elliot memundurkan mangkuk selangkah, mengurungkan niat menyuapi istrinya.
“Nanti aku dan Aria akan bertemu Sofia.”
Elliot membelalakan mata sampai hampir batuk tersedak. “Apa? Kamu akan bertemu dengannya lagi? Bukankah semua masalah sudah kuselesaikan?”
“Kamu hanya memecatnya dan pegawai produksi yang terlibat. Kemudian kamu menarik semua pengedaran pakaian ilegal yang dibuat Sofia. Menurutku, hukuman itu belum cukup untuknya.”
“Kamu hanya tahu itu, tapi sebenarnya aku punya rencana lain. Selain ditarik dari pengedaran dan memerintahkan polisi menangkap para penjual ilegal, aku juga membakar semua pakaian ilegal itu.”
“Bagiku masih belum cukup hukumannya.” Vallerie tersenyum licik menyesap jus lemon dengan elegan.
Elliot memasukkan sesendok terakhir ke dalam mulut Vallerie sekaligus menghabiskan nasi goreng miliknya tersisa beberapa sendok. “Tetap saja aku tidak mengizinkan kamu bertemu wanita berbahaya itu lagi!”
“Tenang saja. Dia tidak akan bisa menggangguku lagi. Aku punya rencana lain bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap.” Vallerie mengedipkan mata kanan.
“Tidak semudah itu dia membayar dosanya pada kita.”
Elliot hanya bisa pasrah mengikuti keinginan istrinya berhadapan dengan salah satu musuh terbesar mereka di masa lalu. Terpaksa Elliot meninggalkan istrinya di restoran ini, karena akan dijemput Aria ke tempat pertemuan Sofia.
Vallerie sengaja memilih tempat sedikit terpencil supaya memudahkan berinteraksi dengan Sofia. Memilih sebuah Kafe sepi hanya dikunjungi beberapa pengunjung, lalu sengaja memilih tempat strategis di dekat pintu masuk.
Tidak perlu menunggu Sofia terlalu lama, Vallerie memasang tatapan kejamnya menatap wajah Sofia sangat murung akibat menerima pembalasan darinya seminggu lalu. Untungnya Vallerie memiliki suami kejam seperti Elliot, sehingga tanpa disadari ilmu kejam yang disalurkan Elliot berguna baginya.
“Kamu sudah bawa apa yang kuminta?” Vallerie menyandarkan punggungnya bermalasan pada sandaran kursi.
Sofia menunjukkan beberapa tas berukuran besar dan paper bag yang isinya berupa uang tunai. Hanya saja sengaja disimpan dalam sebuah kotak waffle agar tidak terlalu mencolok.
“Sudah puas, ‘kan? Apakah saya bisa bebas sekarang?”
Vallerie masih belum puas membalaskan dendam pada Sofia. Namun, apa lagi yang bisa diperbuatnya sekarang, sudah kehabisan ide karena sebagian besar juga sudah dibantu Elliot beberapa saat lalu.
Vallerie menyilangkan kaki, menggunakan stiletto sengaja menyenggol betis Sofia sedikit kasar. “Gara-gara ulahmu, saya sempat bertengkar dengan Elliot beberapa kali di kehidupan sebelumnya. Seharusnya hukuman seperti ini masih belum cukup. Apalagi kamu membuat Elliot hampir dipecat juga karena tiba-tiba laporan penjualan dimanipulasi.”
Aria dan Sofia tidak mengerti maksud perkataan Vallerie. Tapi yang pasti Aria terkagum menyaksikan aksi pembalasan yang dilakukan Vallerie.
Tetesan air mata hampir saja membasahi kelopak mata, Vallerie mengingat momen pahit Elliot sewaktu dulu difitnah habis-habisan karena laporan penjualan sengaja dimanipulasi Sofia seolah-olah penjualan bulanan tidak mencapai target penjualan. Terutama hubungan Vallerie dan Elliot hampir putus sebelum menikah karena Elliot merasa dirinya sangat payah saat itu tidak mungkin bisa membahagiakan hidup Vallerie.
“Selain itu, Aria juga menjadi korban. Gara-gara ulah kamu, Aria mengalami depresi parah dan mengonsumsi obat dari dokter secara rutin. Perbuatanmu tidak akan pernah saya maafkan sepanjang hidup saya!”
“Awas saja kalian!” Sofia hampir menampar pipi Vallerie, namun langsung dicegah Elliot.
Tatapan Elliot sangat kejam mencengkeram pergelangan tangan kanan Sofia sampai berbunyi. Vallerie sangat terkejut suaminya mendatanginya padahal sengaja ingin merahasiakan rencananya, tidak disangka mudah tertangkap basah.
“Apa yang kamu lakukan terhadap Vallerie?!” teriak Elliot, amarahnya meledak dalam sekejap sampai memancing perhatian semua orang di Kafe.
“Pak Elliot, Bu Vallerie melakukan pemerasan terhadap saya! Dia meminta sejumlah uang dari penjualan saya selama ini! Bukankah dia tidak ada bedanya dengan saya melakukan tindakan kriminal?!”
Sejenak Elliot menatap ekspresi wajah istrinya setengah percaya diri dan lesu. Elliot tahu istrinya punya maksud tersembunyi menggunakan uang dari Sofia meski tidak tahu secara rinci akan digunakan apa.
“Kamu masih belum mendengar penjelasan saya. Sebenarnya, uang yang kamu dapatkan sebanyak ini bukan untuk kepentingan saya atau Pak Elliot atau perusahaan. Tapi, saya akan menyumbangkan semua uang ini untuk orang lebih membutuhkan.” Vallerie tersenyum sinis menendang betis Sofia lagi dengan stiletto.
“Apa?!” Tatapan Sofia terfokus pada layar ponsel memperlihatkan nominal uang di rekeningnya kosong dan juga semua hasil ilegal yang diperolehnya sudah jatuh di tangan Vallerie dan Aria..
Terdengar bunyi sirene mobil polisi sangat keras, senyuman percaya diri terbit pada wajah Vallerie dan Elliot. Akhirnya satu masalah kini telah terselesaikan sepenuhnya. Seorang detektif memborgol kedua tangan Sofia atas perkara karena melakukan tindakan plagiarisme dan penggelapan dana ilegal.
Sofia masih menahan tubuhnya di tempat. Dengan tatapan kejam berhadapan dengan Vallerie berekspresi wajah licik. Vallerie mendekati Sofia kemudian mencengkeram dagu Sofia. “Sudah saya peringatkan sejak awal. Siapa yang akan menang. Rasakan ini akibat perbuatan dosamu sangat banyak selama bertahun-tahun ditambah di kehidupan sebelumnya hidup saya dan Elliot sengsara.”
“Anda!!”
“Percuma saja menghasilkan banyak uang. Nantinya semua uang itu akan hangus disumbangkan untuk banyak orang dan menciptakan fasilitas yang nyaman untuk Clarity Star di masa mendatang.” Vallerie mendorong lengan Sofia berkali-kali.
“Beraninya Anda!!”
“Menyerah saja, Sofia! Jangan pernah menindas Vallerie lagi!” Elliot menggenggam tangan kiri Vallerie diam-diam membuat Vallerie kembali sedikit tersenyum manja.
Dua polisi itu langsung menuntun Sofia memasuki mobil tahanan. Sekarang tersisa Elliot, Vallerie, dan Aria masih di dalam Kafe. Elliot dan Vallerie masih berpegangan tangan erat, sehingga Aria sedikit iri menyaksikannya karena ia sendiri masih belum berpacaran.
Sebagai pegawai yang baik, Aria tidak ingin merusak suasana romansa atasannya sudah terlanjur nyaman satu sama lain jika dilihat pandangan mata sepasang suami istri ini saling melempar pandangan bahagia seperti dunia milik berdua. Mungkin Aria tidak akan bisa menahan rasa irinya jika terus berlama menjadi obat nyamuk.
Aria mengambil beberapa paper bag dan tas berukuran besar berisi semua uang tunai. “Pak Elliot, saya kembali ke kantor dulu, ya. Ada urusan mendesak yang harus saya selesaikan secepatnya.”
Elliot tersenyum ramah. “Baiklah, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah membantu Vallerie, Aria.”
Saat Aria tidak menampakkan batang hidung, kesempatan bagi Elliot dan Vallerie melanjutkan momen mesranya sebagai perayaan kemenangan mereka akhirnya berhasil mengalahkan satu musuh terbesar perusak kehidupan mereka sebelumnya.
Sebenarnya Vallerie masih penasaran bagaimana suaminya bisa tahu apa yang dilakukannya sekarang. Bibirnya semakin gatal ingin melontarkan banyak pertanyaan, tapi senyuman indah yang ditampilkan suaminya saat ini membuat jantungnya berdebar-debar.
“Kamu sangat keren tadi, Sayang.” Elliot semakin sengaja mengayunkan lengan tangan Vallerie kegirangan.
Vallerie tertawa imut. “Mau sampai kapan kamu ingin kita terus di sini? Kamu tidak mau kembali ke kantor?”
“Aku malas kembali ke kantor. Nanti aku sibuk bekerja, kamu kesepian lagi karena tidak ada yang menemanimu.”