Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 45: Identitas Misterius



Entah ini kebetulan atau tidak, Vallerie dan Elliot dipertemukan kembali dengan Carla sang malaikat maut. Dari kejauhan Carla menampakkan raut wajah cemas menyaksikan Vallerie hampir tersandung karena tidak sengaja ceroboh salah langkah.


Sekarang Vallerie dan Elliot sedikit mencurigai kehidupan Carla di masa lalu. Kenapa di masa sekarang, Carla tiba-tiba muncul dalam kehidupan mereka padahal sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain? Apakah benar Carla adalah kunci utama dari kematian mereka bertiga?


Elliot jadi tidak terfokus pada rencana kencan yang ingin mereka lakukan hari ini. Kehadiran Carla sejak kemarin sampai sekarang, entah kenapa Elliot sedikit mencurigainya. Apakah ada maksud tersembunyi ingin mengincar mereka diam-diam? Atau karena kebetulan saja akibat dunia ini terlalu sempit? Elliot masih dendam sebenarnya karena ulah sang malaikat maut yang sempat menghapus kenangan indah bersama istrinya di masa lalu sehingga membuat sang istri sakit hati di masa sekarang.


Vallerie tersenyum ramah. “Carla, aku tidak menyangka kita bertemu lagi.”


“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kencan kalian. Awalnya aku tidak ingin menyapa, tapi aku cemas kalian akan berprasangka buruk padaku.” Carla menunduk sopan.


“Tidak apa-apa. Justru aku senang kamu menyapaku seolah-olah seperti teman dekat. Padahal kita baru bertemu kemarin.”


Namun, tatapan Elliot sedikit curiga terhadap penampilan Carla. Bukan merasa tidak nyaman momen kencannya diganggu, tapi jika dilihat lama postur tubuh Carla, Elliot seperti pernah melihatnya di suatu tempat di masa lalu saat sebelum bertemu Carla berubah menjadi malaikat maut.


“Kamu sedang ngapain di tempat seperti ini?” Elliot sengaja berbasa-basi, meski sebenarnya ia berniat ingin menginterogasi Carla sesuatu hal lain.


Bibir Carla memanyun lesu. “Sebenarnya aku berencana ingin membeli hadiah untuk pacarku. Tapi, aku bingung ingin beli hadiah apa. Kebetulan hadiah dari lomba ini salah satunya adalah tas pria merk terkenal. Sayangnya, aku tidak bisa ikut lomba karena aku tidak mengajak pacarku.”


“Bagaimana kalau sekarang aku menemani kamu belanja?”


Elliot melipat kedua tangan di dada, kecewa pada  istrinya tiba-tiba berubah pikiran. “Apa? Sayang, bukankah tadi kamu sendiri ingin mengikuti lomba ini sampai mengambek karena aku sempat lupa?”


“Urusan Carla juga penting. Lagi pula, kita sudah pernah ikut lomba di masa lalu tapi kalah. Mustahil kalau kita menang di masa sekarang.”


Elliot memutar bola mata bermalasan. “Tapi kita kan bisa berusaha menang di masa ini! Kita bisa menyusun strategi baru.”


“Kamu lupa? Saingan kita jauh lebih unggul. Kamu lihat saja sendiri semua pesertanya sama seperti dulu.” Jari telunjuk Vallerie menunjuk peserta lomba berkumpul pada satu titik.


Sorot mata Elliot sejenak mengamati berbagai pasangan bertubuh lebih besar dari mereka. Entah berotot besar atau kebanyakan dari mereka gemuk. Sudah pasti bisa terbaca tanpa perlu dicoba, pemenangnya pasti sama seperti di masa lalu.


Namun, Elliot keras kepala masih ingin mencoba mengikuti lomba itu. Perutnya juga sedikit mengambek karena porsi makan siang tadi masih belum cukup akibat sibuk memberikan beberapa lauk untuk istrinya sehingga ia makan sedikit.


Cara jadi merasa tidak nyaman melihat sepasang suami istri jadi beradu mulut karena kehadirannya. “Tapi Vallerie, kalian bisa ikut lomba dulu. Aku bisa belanja sendirian.”


“Tidak apa-apa. Aku bisa menebak siapa yang menang.”


“Sayang, kamu masih mau menyerah begitu saja? Kita bisa melakukannya lagi. Kamu lupa? Banyak kejadian dalam hidup kita maupun orang terdekat kita berubah drastis. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita mencoba ikut lomba ini.” Elliot membujuk dengan wajah memelas menyentuh pundak Vallerie dengan kedua tangan.


Akhirnya Vallerie menyerah juga, daripada harus berdebat berdurasi lama di depan teman barunya terkesan memalukan, ditambah ekspresi wajah suaminya patut dikasihani membuat Vallerie juga tidak tega berdebat tiada akhir. “Tapi kalau sampai kalah, kamu jangan menangis!”


“Akhirnya kamu menyerah juga.” Elliot tertawa girang mengelus kepala Vallerie.


Sejenak Vallerie menolehkan kepala kembali berhadapan dengan Carla. Setengah hatinya juga merasa sungkan karena merepotkan teman barunya demi mengabulkan keinginan suaminya selalu kekanak-kanakan. “Maaf, kamu boleh menungguku sampai lomba berakhir? Tenang saja tidak akan lama.”


“Boleh. Kamu bersenang-senang dulu saja bersama suamimu.”


Lomba makan ramen telah dimulai. Vallerie dan Elliot beradu saling suapan menikmati ramen dengan porsi super jumbo dalam waktu lima menit harus menghabiskannya dalam sekejap. Dari dulu sampai sekarang Vallerie tidak bisa menikmati makanan terlalu cepat, apalagi dalam porsi super jumbo, baru saja tiga menit Vallerie sudah merasa tidak kuat menikmati ramennya masih terlihat banyak.


“Sayang, aku sudah tidak kuat!” Vallerie meremas blouse yang dipakainya.


“Kalau begitu, aku habiskan semuanya saja.” Elliot langsung merebut sumpit milik Vallerie memasukkan ramen dengan lincah ke dalam mulutnya sekaligus sampai batuk tersedak.


“Uhuk…uhuk…”


Dengan sigap Vallerie memeluk tubuh Elliot dari belakang sambil memberikan segelas air putih. “Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan dirimu! Entah di masa lalu maupun sekarang tidak ada yang berubah!”


Ting…


Pas ada tiga pasangan lainnya sudah berhasil menghabiskan ramen sebelum waktu berakhir. Lagi-lagi Elliot dan Vallerie kalah dalam perlombaan ini. Mereka menunduk malu kembali menghampiri Carla yang masih menunggu mereka dari tadi di tempat sama.


Vallerie menunduk malu, motivasi dari Carla justru membuatnya semakin sungkan. “Maaf, waktumu terbuang sia-sia karena kami.”


“Tidak apa-apa. Sejak dulu aku suka menyaksikan pertandingan seperti ini. Seru juga kalau jadi penonton.”


“Kita pergi sekarang saja. Kamu mau belanja apa untuk pacarmu?”


Vallerie mengajak Carla mengunjungi sebuah toko khusus aksesoris pria. Vallerie dan Carla berjalan berdampingan sedangkan Elliot berjalan sendirian mengawasi para wanita dari belakang memasang ekspresi wajah datar. Bisa dikatakan kencan bersama istrinya lagi-lagi hancur, apalagi dilihat situasi sekarang seolah-olah istrinya seperti melupakan kehadirannya.


Sebuah tas mahal memancing perhatian Vallerie tiba-tiba. Dengan tangan yang lincah mengambil tas itu tanpa melihat label harga terlebih dahulu.


“Kalau model tas ini apakah sesuai selera pacarmu?” Vallerie memperlihatkan tas itu untuk Carla.


“Boleh juga sih. Modelnya sangat cocok untuk karakter pacarku itu adalah seorang direktur perusahaan ternama.” Carla menatap tas mahal ini dengan pandangan berbinar meraba bahan kulit berkualitas tinggi jarang sekali ditemukan.


Vallerie membelalakan mata. Hubungan seorang reporter dan direktur sungguh di luar dugaannya. “Apa? Bagaimana bisa kamu berkencan dengan direktur itu padahal tempat kerjamu dan perusahaannya pasti berbeda?”


“Meski aku seorang reporter, tapi sebenarnya aku putri tunggal dari pemilik stasiun TV tempat kerjaku.”


Mendengar identitas Carla sesungguhnya membuat Vallerie dan Elliot tersentak sampai menganga.


“Apa? Wah, kamu memang pandai memberi kejutan untuk kami, Carla! Kami mengira kamu berasal dari keluarga kalangan menengah, jika dilihat penampilanmu sedikit sederhana.” Elliot memandangi penampilan Carla dari ujung kepala ke ujung kaki.


“Aku memang sengaja tidak terlalu suka memamerkan kekayaanku. Banyak pria yang mengincarku tapi sebenarnya mereka hanya memperalatku.”


Pandangan Carla berbinar memandangi tas mahal yang dipilih Vallerie begitu sempurna di matanya. “Terima kasih sudah memberikan saran untukku, Vallerie. Aku suka tas ini, tidak peduli harganya aku pasti langsung beli.”


“Kalau urusan dalam hal desain, memang istriku yang terbaik. Kamu bisa mengajaknya lagi kalau kamu kebingungan ingin beli apa lagi.”


Tidak terasa waktu kencan hari ini terkesan singkat. Elliot sebenarnya agak kecewa karena hari ini ia jarang dipedulikan istrinya sampai mengambek terus di ranjang selama istrinya sibuk mengoleskan night cream di meja rias. Dari tadi Vallerie ingin menahan tawa melihat setiap suaminya mengambek selalu terlihat menggemaskan di mata.


Tidak ingin berlama di meja rias. Vallerie menghampiri suaminya masih mematung di ranjang dengan tatapan wajah dingin hanya karena masalah kecil.


Vallerie memasang wajah memelas bersandar manja di pundak suaminya merangkul lengannya erat. “Kamu mengambek, Sayang?”


Elliot menoleh ke arah istrinya. “Akhirnya kamu sadar juga setelah aku memberikan kode keras!”


“Maaf, ya. Kencan hari ini ditunda dulu karena Carla bingung mau kasih hadiah apa untuk pacarnya.”


“Seharusnya kamu tadi jangan membiarkanku jalan sendirian seolah-olah kita tidak memiliki hubungan apa pun! Saat kamu menemani Carla tadi, aku merasa kesepian!”


Vallerie tersenyum usil, demi membuat suaminya tidak mengambek terus, bibir indahnya mencium bibir suaminya sekilas. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Mulai besok saat kencan, aku ingin bergandengan tangan terus.”


Benar trik manis Vallerie berhasil membuat hati Elliot kembali bersemi. Sebagai balasan, ia juga mengecup bibir Vallerie berdurasi lama menyalurkan energi cinta untuk Vallerie.


“Terima kasih asupan bibirnya. Aku tidak akan mengambek lagi.” Elliot mengusap bibir cantik istrinya dengan tatapan fokus.


Vallerie sedikit menjauhi bibir suaminya, karena sebenarnya pikirannya sedang tidak ingin bersenang-senang dulu sejak tadi siang berbelanja bersama Carla. “Lupakan saja masalah tadi. Sebenarnya ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku terkait Carla.”


Suasana di dalam kamar menjadi sedikit tegang. Itulah yang sebenarnya ingin dikatakan Elliot juga.


“Kamu masih merasa janggal soal identitas Carla sebenarnya?” Elliot sedikit mengerutkan dahi.


“Carla terlahir sebagai putri tunggal pemilik stasiun TV ternama. Kenapa di masa lalu dia bisa tewas? Mustahil kalau dia bunuh diri apalagi dilihat dari wajahnya selama ini selalu ceria.” Vallerie mulai berpikir kritis bertopang dagu.


“Kalau soal dia dibunuh atau memiliki penyakit sepertinya mustahil. Dia terlihat sehat dan orang yang meninggal karena penyakit tidak akan berubah menjadi malaikat maut.”


Tiba-tiba ada satu hal sangat penting terlintas dalam pikiran Vallerie. Dengan cepat Vallerie mengambil kartu nama Carla melihat nama lengkap sampai tatapannya melotot. Jika dijadikan sebuah inisial nama Carla, sebenarnya Carla….