
Kilas balik di kehidupan masa lalu seketika Elliot dan Vallerie masih belum terlalu akrab, karena hubungan mereka masih sebatas partner kerja di kantor. Sikap Elliot sebelum akrab dengan Vallerie selalu dikenal sebagai tipe pria tegas dan lebih memedulikan pekerjaan. Bahkan setiap wanita ingin mendekatinya, Elliot tidak peduli sama sekali dan selalu bersikap profesional, meski jabatannya hanya sebagai manajer penjualan.
Jika menanyakan persoalan siapa yang lebih dulu jatuh cinta pada pandangan pertama. Lebih cenderung Vallerie sudah terpesona dengan karakter tegas Elliot yang menampakkan sisi kejantanan. Karena Vallerie suka tipe pria yang tidak terlalu memedulikan wanita. Hanya saja efek sampingnya, akan sulit baginya menaklukkan hati Elliot karena percakapan mereka setiap di kantor selalu topiknya adalah pekerjaan.
Suatu hari kebetulan Elliot mengunjungi bagian perancang busana mendiskusikan persoalan laporan penjualan terus meningkat karena rancangan tim busana yang selalu memuaskan pelanggan. Manajer tim perancang busana mengatakan bahwa sebagian besar ide rancangan maupun rangkaian acara dirancang Vallerie. Karena itu, Elliot mulai sedikit perhatian pada Vallerie diam-diam.
Dibalik sikap cuek Elliot selama ini, sebenarnya ia tertarik dengan Vallerie seiring waktu berjalan. Karena, hanya Vallerie yang bisa membuat hatinya terhibur. Belakangan ini Elliot sengaja mengajak Vallerie berinteraksi dengannya, selain berbincang persoalan pekerjaan, terkadang Elliot juga memuji hasil karya Vallerie.
“Bagus sekali, Vallerie!” Elliot membuka beberapa lembar kertas hasil rancangan Vallerie dengan tatapan terkagum.
“Benarkah?” Senyuman ceria terukir pada sudut bibirnya, sebenarnya jarang sekali Vallerie mendengarkan kalimat pujian dari rekan kerjanya sendiri, termasuk Elliot.
“Memang kamu memiliki bakat dalam bidang ini. Melihat keterampilanmu sangat bisa diandalkan, sepertinya ke depannya aku akan mengandalkanmu berkolaborasi denganku.”
Jantung Vallerie berdebar-debar mendengarkan kalimat sederhana berhasil menyentuh hatinya. Namun, tetap saja ia tidak seperti wanita lain terlalu obsesi dengan Elliot. Karena Vallerie tahu karakter Elliot selalu profesional, pasti ingin mencari wanita yang memiliki karakter yang sama.
Elliot tersenyum santai, jarang sekali Vallerie melihat Elliot tersenyum di saat jam kerja. Bisa dikatakan Vallerie merasa Elliot tersenyum setiap kali mereka berbincang bersama. Elliot memberikan sebotol Matcha Latte yang sudah dibelinya masih utuh untuk Vallerie.
“Kamu sudah bekerja keras, kebetulan tadi aku beli kopi sedang ada diskon beli satu gratis satu. Mungkin kamu membutuhkan kopi.” Elliot tersipu malu sedikit memalingkan mata.
Dibalas senyuman ceria yang ditampilkan Vallerie, menerima pemberian spesial pertama kali dari rekan kerjanya membuat hatinya berbunga. “Terima kasih, Elliot.”
Sejenak Vallerie menatap arloji di pergelangan tangan kiri. “Aku harus kembali bekerja. Ada pekerjaan belum terselesaikan.”
Padahal Elliot masih mau berbincang lebih lama lagi, apa boleh buat terpaksa ia membiarkan Vallerie kembali bekerja.
Vallerie menyesap kopi pemberian Elliot sampai tersenyum sendiri dan semakin bersemangat menyelesaikan tugasnya. Sebenarnya, dari kejauhan Sofia tahu hubungan Elliot dan Vallerie semakin dekat, sehingga membuatnya sangat iri dan berencana ingin menindas Vallerie seiring waktu berjalan.
Suatu hari, Vallerie tidak diajak makan siang bersama anggota tim karena pekerjaan Vallerie menumpuk dan harus diselesaikan sebelum jam makan siang. Untungnya Vallerie dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan akhirnya bisa makan siang meski sendirian.
Seketika pintu lift terbuka lebar, Vallerie berlari terburu-buru memasuki lift langsung menekan tombol menuju lantai dasar. Tiba-tiba muncul sosok Elliot juga memasuki lift terburu-buru dengan napasnya sedikit tersengal-sengal, Vallerie membulatkan mata tidak menyangka bisa berpapasan dengan Elliot secara acak.
“Kamu baru makan siang, Vallerie?” Elliot sengaja membuka pembicaraan dulu, karena ia sedikit cemas melihat rekan kerjanya makan siang tidak tepat waktu.
“Tadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu.” Vallerie tersenyum tipis.
BRUK
Tiba-tiba lift sedikit bergetar seketika hendak turun menuju lantai dasar dan listrik mengalami kendala sehingga lift berhenti entah di lantai mana. Vallerie mulai ketakutan sampai tubuhnya sedikit gemetar, mengingat trauma yang dialaminya sewaktu kecil membuat pandangannya kabur. Sejenak Elliot menekan alarm darurat memberitahukan petugas keamanan untuk menyelamatkan mereka dari lift atau memikirkan segala cara supaya lift berfungsi dengan baik.
Melihat tingkah Vallerie sangat tidak stabil membuatnya juga takut, Elliot memeluk tubuh Vallerie terasa kaku, berusaha menyalurkan kehangatannya sehingga membuat hati Vallerie terasa nyaman berada dalam pelukan hangat ini. Sebenarnya Vallerie juga sangat terkejut, tidak menyangka Elliot memeluknya tanpa berpikir panjang padahal selama ini mereka hanya sebatas rekan kerja.
“Kamu boleh menangis, aku tidak akan menertawakanmu. Menangislah sepuasnya jika kamu merasa masih ketakutan. Selama ini kamu selalu tersenyum padaku dan sekarang aku harus mengembalikan senyuman itu seperti semula.” Elliot mengungkapkannya dengan lembut membuat mata Vallerie semakin berkaca-kaca karena merasa bahagia mendengarkan perkataan manis tidak terduga terucap dari mulut Elliot.
Akhirnya Vallerie kembali tersenyum ceria, melingkarkan kedua tangannya di punggung lebar Elliot. “Terima kasih sudah menenangkan aku. Untungnya ada kamu menemaniku sekarang, aku tidak akan ketakutan berkat kehadiranmu.”
Tidak menunggu lama, akhirnya lift kembali berfungsi dengan baik. Vallerie dan Elliot langsung melepas pelukan sebelum dilihat rekan kerja lainnya akan salah paham. Terutama Elliot terus berdeham sambil merapikan dasinya sedikit miring dengan gugup sambil menatap Vallerie sekilas.
“Kamu makan siang sendirian?”
“Iya, semua rekan timku pasti sedang asyik makan di suatu tempat.” Vallerie sedikit cemberut, kecewa karena rekan kerjanya kembali bersikap datar.
“Maukah kamu makan siang denganku?” Elliot sedikit membuang muka menampakkan pipi merah merona.
Pertama kali diajak makan siang bersama. Jantung Vallerie berdebar-debar sampai pipinya semakin memanas menatap Elliot dengan senyuman malu. “Kamu juga sendirian?”
“Aku jarang makan bersama rekan timku. Tapi, hari ini aku ingin makan siang bersamamu. Maukah?”
Tanpa berpikir lama, Vallerie mengangguk kepala. “Aku mau.”
Seiring waktu berjalan, hubungan Elliot dan Vallerie semakin dekat bukan karena pekerjaan. Terkadang mereka berbincang santai mengenai urusan pribadi dan mereka saling terbuka berbagi cerita satu sama lain. Itulah yang membuat semua rekan tim Vallerie iri melihat Vallerie mudah akrab dengan Elliot yang selalu diidamkan para wanita. Awalnya semua anggota tim perancang busana tidak terlalu benci Vallerie, tapi karena hasutan iblis Sofia membuat semuanya sebal pada Vallerie, kecuali Aria yang masih akrab dengan Vallerie dan saling membantu.
Suatu hari, entah kebetulan atau disengaja, Vallerie sengaja dikasih tugas berlebihan oleh rekan timnya dengan alasan memang sedang dibutuhkan mendesak dan harus sudah selesai hari ini juga. Maka dari itu, di kantor, Vallerie masih sibuk bekerja di saat semua orang sudah pulang sampai kepalanya sedikit sakit karena terlalu memaksakan diri.
“Kamu belum pulang, Vallerie?”
Suara Elliot memecah suasana keheningan langsung memancing perhatian Vallerie berbalik badan menatap sosok Elliot berwajah cemas.
“Semua tugas harus kuselesaikan hari ini. Jadinya aku harus bekerja lembur.” Vallerie menyahut dengan lemas, masih menampakkan senyuman tipis sambil menatap layar monitor.
“Kamu pulang saja, biar aku yang mengerjakan tugasmu sampai selesai.”
Vallerie membelalakan mata langsung berbalik badan. “Jangan! Biar aku saja!”
Elliot tertawa kecil sambil menaruh tas kerja di meja Vallerie. “Tenang saja, kamu seorang wanita tidak boleh bekerja keras sampai larut malam. Lagi pula, aku juga ahli dalam bidang ini. Pekerjaan lembur seharusnya dikerjakan seorang pria.”
“Tapi, ini tugasku. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengerjakan tugasku sedangkan aku hanya bersantai.”
Elliot menggeleng pelan sambil menarik tangan Vallerie pelan mengambil alih kursinya dengan lincah. “Kamu adalah teman dekatku di kantor ini. Sudah pasti aku membantu temanku sedang kesulitan.”
“Tapi ….”
“Sudahlah, kamu pulang saja dan beristirahat cukup. Daripada besok kamu sakit karena kerja lembur.”
Entah kenapa Vallerie tetap tidak bisa pulang dengan tenang membiarkan Elliot menyelesaikan semua pekerjaan sendirian di kantor. Tapi, apa boleh buat daripada mereka berdebat terus dan pekerjaan jadi terbengkalai. Vallerie mau bawa bekal untuk Elliot juga tidak diberi izin.
Seketika Vallerie baru tiba di kantor pagi-pagi, ada beberapa catatan kecil ditempelkan di meja kerjanya dari Elliot. Vallerie membaca pesan ini satu per satu membuatnya ingin menangis terharu karena Elliot sungguh menyelesaikan semua pekerjaannya dalam semalam. Terutama catatan ini dihiasi emoji senyuman ceria.
“Kamu tidak perlu cemas lagi. Semua pekerjaanmu sudah kuselesaikan dan aku sudah pastikan tidak ada kesalahan. Semangat bekerja, Vallerie. Aku selalu mendukungmu dari belakang.”
Namun, anehnya sepanjang hari Vallerie tidak melihat sosok Elliot di bagian tim penjualan. Seketika mendengar gosip para pegawai mengatakan Elliot tidak masuk kerja karena sakit. Hatinya seperti terkena sambaran petir dahsyat. Mengingat semalam juga hujan deras, Vallerie cemas Elliot sakit karena kelelahan bekerja sekaligus terserang flu.
Untungnya pekerjaan Vallerie hari ini tidak terlalu banyak, sehingga ia bisa minta izin bekerja setengah hari dengan alasan ada urusan penting berkaitan masalah pribadi. Padahal tujuannya ingin menjenguk Elliot sedang mengurungkan diri di dalam kediaman.
Vallerie pulang ke rumahnya memasak bubur untuk Elliot. Setelah itu pergi ke apartemen milik Elliot memasukkan kode akses kediaman ini pernah diberitahukan Elliot sebelumnya. Seketika Vallerie memasuki kamar Elliot, disambut sosok Elliot terus menggigil di balik selimut. Vallerie semakin panik berlari menghampiri Elliot terus mengeluarkan keringat dingin sambil menaruh tas di meja samping ranjang.
“Elliot, maafkan aku.” Suara tangisan Vallerie membuat Elliot terbangun dari dunia mimpi, perlahan memposisikan tubuhnya duduk bersandar lemas di sandaran ranjang.
“Kenapa … kamu mendatangiku?” Elliot menyambutnya dengan suara parau.
“Aku sangat mencemaskanmu! Kamu mengerjakan pekerjaanku sampai demam. Tentu saja aku merasa bersalah.” Vallerie mengeluh sambil memeluk tubuh Elliot erat melampiaskan tangisannya semakin pecah.
Bola mata Vallerie membulat. “Tidak ada yang mencemaskanmu selama ini?”
“Aku adalah anak yatim piatu dan belum memiliki pacar. Selain itu, aku memiliki sedikit teman dan mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Berkat kamu, selama ini aku merasa tidak kesepian lagi.” Perlahan Elliot melepas pelukan sambil mengusap kelopak mata Vallerie dibanjiri air mata.
Pipi Vallerie semakin memerah sambil menyeka keringat dingin mengalir di leher Elliot menggunakan handuk kecil yang dibawanya. “Syukurlah, kehadiranku membuatmu tidak merasa kesepian lagi. Aku sudah masak bubur untukmu. Semoga kamu suka dengan masakanku.”
Elliot meraih kedua tangan Vallerie mengelus lambat laun sambil menatap Vallerie dengan pandangan berseri-seri. “Kamu adalah seorang wanita, tidak akan kubiarkan tanganmu yang halus menjadi kasar karena kamu bekerja terlalu keras.”
Pekerjaan lembur justru membawakan berkah untuk hubungan Elliot dan Vallerie semakin mesra. Seiring waktu berjalan mereka saling jatuh cinta meski belum saling mengungkapkan cinta satu sama lain.
Hingga suatu hari di tengah hujan guyur deras saat Elliot menaiki taksi online menuju apartemen, tiba-tiba menemukan Vallerie berjalan sendirian di tepi jalan tanpa memakai payung. Elliot sangat panik langsung memerintahkan sopir taksi memberhentikan mobil di tepi jalan.
Elliot berlari cepat menggenggam payung transparan mendatangi Vallerie berjalan lemas. Kemudian Elliot memeluknya dengan erat sambil membuka jas miliknya membungkus tubuh Vallerie basah kuyup.
“Kenapa kamu membiarkan tubuhmu basah kuyup? Kamu kenapa?”
Vallerie tidak bisa berkata-kata selain memeluk tubuh Elliot dengan erat melampiaskan tangisannya. Mustahil Elliot mengajak berbincang di tempat seperti ini ditambah Vallerie basah kuyup, Elliot mengajak Vallerie mengunjungi apartemennya untuk berbincang lebih leluasa.
Tubuh Vallerie kini disulap hanya memakai kemeja putih milik Elliot yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya, sehingga seolah-olah terlihat memakai dress. Vallerie menceritakan semua masalah yang dihadapinya sepanjang hari membuat Elliot mengamuk mendengarnya, karena lagi-lagi Sofia yang membuat Vallerie menderita.
“Vallerie, jangan pedulikan perkataan buruk orang lain! Kamu adalah wanita terbaik di mataku. Justru Sofia adalah wanita jahat dan selama ini selalu sengaja memberikan tugas yang banyak untukmu. Aku sudah tahu sejak awal!”
Sejenak Vallerie menghentikan tangisannya menatap mata Elliot yang sedang memandanginya dengan penuh makna. “Kamu adalah orang pertama yang berkata jujur dan terang-terangan menganggapku adalah wanita terbaik.”
“Selain itu, kamu adalah wanita paling kusayangi sepanjang hidupku. Aku tidak suka melihatmu menderita terus!”
Jantung Vallerie berdebar-debar hingga merasa tubuhnya hangat dalam sekejap.
“Elliot ….”
Elliot tersenyum bahagia menempelkan bibirnya di punggung tangan Vallerie. “Selama ini kamu selalu ditindas dan aku juga tidak memiliki siapa pun yang memedulikan aku. Aku ingin kamu menjadi kekasihku, supaya aku bisa melindungi kamu dari semua cacian orang-orang di kantor. Kita tidak perlu bersikap canggung lagi di kantor. Kalau kamu merindukanku dan ingin mencurahkan isi hatimu, kita bisa berkencan di tangga darurat diam-diam.”
Sekarang Vallerie melampiaskan tangisan bahagianya sambil memeluk tubuh Elliot erat. Sangat bahagia dan sungguh tidak terduga ia bisa menjadi kekasih Elliot yang diimpikan semua orang di kantor, sedangkan ia tidak perlu bersusah payah berjuang memenangkan hati Elliot.
“Aku bersyukur memiliki kamu dalam hidupku, Elliot. Setiap hari aku pasti merindukanmu, aku bersedia berkencan denganmu di tangga darurat. Aku juga akan melindungimu dari semua hasutan dan fitnah semua orang, lalu aku akan menjadi penyembuh luka traumamu.”
Bibirnya terkatup rapat dengan raut wajah tersipu malu. “Aku ingin kita kencan di luar kantor juga setiap hari libur.”
Elliot tertawa lepas menyentuh pipi sang kekasih dengan tangan kanan. “Tentu saja aku mau mengisi hari liburku bersamamu. Bahkan aku ingin mengajakmu berkencan hari libur nanti. Maukah kamu?”
Vallerie mengangguk bersemangat. “Aku mau.”
Sorot mata Elliot terpaku pada rambut panjang kekasihnya terlihat basah kuyup akibat terkena air hujan. “Aku ambilkan handuk untukmu dulu.”
Awalnya Vallerie mengira hanya sekadar meminjamkan handuk, sekarang rambut indahnya sedang dikeringkan kekasihnya. Rona merah terus menyala pada pipinya, pertama kali rambutnya dikeringkan seseorang yang sangat disayanginya membuat jantungnya berdebar-debar. Sekarang rambutnya dikeringkan menggunakan hair dryer.
“Vallerie, sepertinya aku harus belikan sandal rumah untukmu. Mustahil kamu memakai sandal milikku terus.”
Vallerie menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku tidak butuh sandal. Justru aku merasa sungkan karena kamu pemilik rumah tapi bertelanjang kaki.”
Elliot menghentikan pergerakan tangannya. Perlahan lengannya berpindah melingkar di pinggang kekasihnya dari belakang. “Kamu adalah pacarku sekarang. Setiap hari saat pulang kerja, aku ingin kamu bermain bersamaku di sini.”
“Tapi, kamu tidak perlu repot belikan sandal untukku.”
Cup..
Kecupan manis mendarat di pipinya membuat Vallerie tersentak sampai tatapannya melotot. Perlahan menolehkan kepala mencium pipi kekasihnya dengan senyuman bahagia.
“Kamu bukan sekadar pacar atau tamu istimewa mengunjungi rumahku, tapi kamu adalah wanita teristimewa dalam hidupku. Aku pasti memperlakukanmu sangat istimewa juga.” Elliot mencium kening Vallerie sambil mengelus kepala Vallerie perlahan.
Melihat waktu semakin menuju pergantian hari, terpaksa Elliot mengakhiri momen kemesraan mereka. Untuk sementara Vallerie meminjam celana panjang dan kaus milik Elliot karena pakaiannya masih basah kuyup. Vallerie tidak pulang sendirian, diantar kekasihnya meski mereka menaiki taksi online.
Sepanjang perjalanan pulang yang awalnya mereka duduk tidak saling berpegangan tangan, kini Elliot berinisiatif memulai duluan menggenggam erat tangan Vallerie, membuat senyuman bahagia semakin lebar pada sudut bibir Vallerie.
“Sejak kita jadian, kamu tidak boleh melepas genggaman tanganku. Ke mana pun kita pergi entah naik bus atau taksi, aku akan selalu menggenggam tanganmu.” Elliot mengucapkannya dengan lembut sambil menyelipkan helaian anak rambut panjang ke belakang telinga Vallerie.
“Aku suka tanganmu sangat hangat, membuatku nyaman ingin bersamamu.” Vallerie mengelus punggung tangan Elliot perlahan.
Seketika tiba di depan rumah milik orang tuanya, ekspresi wajah Vallerie dalam sekejap berubah menjadi cemberut. Bersiap-siap membawa banyak barang keluar dari mobil ini.
“Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang.”
Elliot menahan pintu mobil sejenak. “Izinkan aku menemanimu sebentar di luar rumah.”
Vallerie tersipu malu, menggenggam tangan kekasihnya keluar dari mobil. Lalu memposisikan berdiri saling berhadapan di depan pagar rumah. Sebenarnya Vallerie tidak ingin berpisah secepat ini, untungnya kekasihnya sangat peka terhadap keinginannya.
“Vallerie … kalau kamu tidak bisa tidur atau bermimpi buruk lagi, kamu bisa membangunkan aku melakukan video call.” Elliot mengusulkannya dengan nada lembut, memeluk tubuh kekasihnya manja.
“Tapi, nanti kamu kurang tidur. Apalagi belakangan ini pekerjaanmu lumayan padat. Aku tidak ingin mengganggumu tidur.”
Elliot menggeleng pelan. “Aku tidak peduli. Kalau seandainya kamu tidak bisa tidur, sudah pasti aku juga merasakan hal yang sama.”
Mendengar gombalan sang pujaan hati, Vallerie semakin tidak rela memasuki kediamannya karena sudah terlanjur nyaman dalam pelukan penuh cinta. “Aku tidak menyangka kamu pandai menggombal juga.”
“Omong-omong, aku punya ide bagus. Karena kita sudah resmi berpacaran, aku harus beli mobil baru.”
Tatapan Vallerie melotot langsung melepas pelukan. “Kamu serius? Bukankah kamu bilang lebih nyaman naik kendaraan umum?”
Senyuman manis terpampang pada wajah tampan. Elliot memajukan kepalanya mendekati bibir Vallerie membuat mata Vallerie tidak berkedip. “Aku akan belikan mobil yang bagus supaya kamu nyaman berkencan denganku selain di tangga darurat. Selain itu, aku bisa mengantarkan kamu ke kantor atau pulang kerja lebih leluasa.”
“Jangan terlalu memaksakan dirimu karena aku!” Vallerie mencubit pipi kekasihnya gemas.
“Kamu sudah lega curhat denganku tadi?”
Vallerie mengangguk. “Terima kasih selalu menjadi pendengar baik. Aku bersyukur memiliki pacar sangat baik.”
Elliot memeluk tubuh sang kekasih erat sambil mencium kening. “Jangan pernah memedulikan orang lain lagi! Semakin sering mereka menindasmu, aku harus menjadi perisaimu melindungimu dari mereka. Setiap kamu bekerja lembur, aku sudah pasti menemanimu dan mengantarkan kamu pulang dengan selamat.”