
Cukup muak berbincang dengan sang pembunuh, Vallerie terburu-buru mengakhiri rapat kemudian memasuki ruangannya lagi sambil menggosokkan kedua tangan menggunakan hand sanitizer. Berjabat tangan hanya beberapa detik, tapi sudah membuat telapak tangannya sangat gatal seperti banyak bakteri meninggalkan jejak.
Karena hari ini adalah hari pertama bekerja, pekerjaan Vallerie tidak terlalu banyak selain berkenalan dengan para pegawainya. Ia berniat mendatangi Elliot sedang sibuk fokus pada pekerjaan di ruangan sebelah. Sebenarnya bukan bermaksud mengganggu, tapi ia ingin menyampaikan kesan pertama saat bekerja di kantor ini. Hal itu wajar dilakukan seorang pegawai melaporkannya pada atasan.
Pertama yang dilakukan Vallerie adalah mengetuk pintu dengan pelan, kemudian memasuki ruangan direktur seketika mendengar aba-aba dari dalam ruangan.
Dilihat dari jauh saja karisma Elliot dengan penampilan lengan kemeja disisingkan bergaya fokus membaca sebuah laporan penting, membuat mata Vallerie bersinar-sinar menikmati pemandangan wajah tampan suaminya menggodanya, meski tidak disambut kedatangannya.
Vallerie tersenyum simpul melangkah anggun mendatangi suaminya. “Kamu tidak ingin mendengar kesan pertamaku bekerja di perusahaan ini?”
“Jika dilihat tingkahmu saat tanda tangan kontrak, sepertinya kamu sangat menyukainya. Aku tidak perlu bertanya.” Tatapan Elliot masih terfokus pada laporan proposal.
Bibir Vallerie memanyun mengamati sikap suaminya mulai keterlaluan tidak memedulikannya lagi. Dengan sengaja tangan kanannya menutup halaman laporan itu untuk memancing perhatian.
Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulutnya. Akhirnya Elliot merespons istrinya, mulai kesal melipat kedua tangan di dada karena merasa istrinya seperti sedang mengganggunya. Suasana hatinya sedikit buruk karena diskusi bersama pegawainya sempat tidak berjalan lancar sampai bertengkar, sehingga tanpa disadari ia melampiaskan kekesalannya pada Vallerie.
“Aku sibuk, kamu tidak lihat aku sedang baca proposal?” Elliot sedikit membanting berkas laporan digenggamnya di meja.
“Sebenarnya aku ingin memberitahukan kabar baik untukmu. Kamu pasti suka usulanku.”
Saat bersamaan, Erick menerobos masuk ruangan ini sehingga mengejutkan sepasang pengantin baru sibuk berbincang sedikit tegang, tapi di mata Erick terlihat adiknya sibuk bercumbu sampai tidak menyadari kehadirannya.
“Kakak ngapain ke sini?” Elliot semakin kesal, karena ia tipe pria tidak suka diganggu di tengah kesibukan bekerja.
“Aku hanya ingin melaporkan sesuatu menakjubkan dari istrimu. Tidak kusangka dia memang wanita berbeda dari lainnya.” Erick mengacungkan jempol kanan pada Vallerie.
Elliot memutar bola mata. “Langsung ke intinya, Kak.”
“Proyek kita itu mulai sekarang penanggung jawabnya adalah Vallerie, bukan Sofia.”
“Apa?!” Tatapan elang langsung terfokus pada raut wajah Vallerie masih biasa saja.
Erick bingung dengan reaksi sang adik terdengar tidak bahagia mendengarkan usulan ini. “Kamu kenapa kaget? Bukankah kamu justru senang istrimu yang menanganinya dibandingkan orang lain?”
“Dia tidak berpengalaman bidang ini! Tidak pantas dia yang menangani proyek ini!”
Jantung Vallerie seperti terkena sambaran petir dahsyat sampai kakinya gemetar mendengar suara bentakan Elliot menggetarkan seisi ruangan ini. Bahkan Erick yang mendengarnya saja sampai ikut tegang.
Raut wajah Vallerie mulai kusut, tapi tetap saja ia membantah sindiran Elliot dan menjelaskan rencananya ingin menghancurkan Sofia. Meski secara tidak langsung menceritakannya. “Elliot, biar aku jelaskan semuanya.”
“Kakak, bisa keluar dari sini?” Elliot memelototi Erick dengan kejam.
“Tapi justru dengan bantuan Vallerie, kemungkinan besar proyek kita akan sukses.”
“Kakak tidak perlu ikut campur urusan kami. Sebaiknya pergi dari sini!” Elliot mendorong lengan Erick sedikit kasar.
Tubuh Erick menciut, daripada dirinya kena omelan sang adik bertemperamen buruk, ia langsung melarikan diri dari suasana mencekam ini.
Di ruangan hanya tersisa Elliot dan Vallerie. Vallerie sedikit lega karena musuhnya sudah kabur, tapi melihat ekspresi wajah Elliot penuh amarah. Perlahan Vallerie menyentuh lengan kekar Elliot, tapi langsung dihindari cepat membuat Vallerie semakin sakit hati. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Kenapa kamu bertindak sebelum berdiskusi denganku dulu?” Elliot membentak dengan suara melengking sampai telinga Vallerie perih.
“Padahal aku bermaksud baik ingin melindungimu sebelum ada hal buruk menimpamu! Sebaiknya kamu dengarkan penjelasanku dulu!”
“Sebenarnya prinsipku tidak mudah percaya omongan orang jika berkaitan dengan pekerjaan. Apalagi proyek ini adalah proyek besar, kalau sampai kamu menghancurkan proyek itu, berarti kamu juga menghancurkan aku!”
Dada Vallerie semakin sesak, rasanya seperti ditinju seorang petinju habis-habisan apalagi perkataan menohok itu tidak disangka sungguh terucap dari bibir suaminya yang dulunya selalu manis. Kini berbanding terbalik.
Vallerie terus meremas kemeja mahal yang dipakainya sampai sedikit kusut. Air mata berlinang sampai membasahi pipinya, sekarang ia tidak akan segan pada suaminya. “Tega sekali kamu mengatakan perkataan itu padaku!”
“Justru aku tidak suka orang yang bertindak sesuka hati tanpa meminta izin dariku! Apalagi proyek itu ada kaitannya denganku! Baru saja aku pecat satu pegawai karena dia bekerja tidak becus!” Elliot membentak habis-habisan dikarenakan terbawa suasana menghadapi pegawai egois sebelum berhadapan dengan Vallerie. Lagi-lagi masih belum sadar ia berhadapan dengan seorang istri yang berhasil membuat paginya terasa hangat tadi.
*****
Saat proyek besar itu sedang berlangsung, status Elliot dan Vallerie sudah menikah. Vallerie tiba-tiba dipanggil manajer perancang busana dan dimarahi habis-habisan karena masalah kasus plagiarisme rancangan busana yang dirancang Vallerie. Namun, Vallerie selalu membantah bukan ia pelakunya dan ada orang lain yang memanfaatkannya sengaja demi menutupi kesalahan. Tetap saja manajer itu membentak Vallerie sampai menghebohkan satu lantai gedung dan mengancam akan memecat Vallerie jika tidak mencari solusi dalam waktu seminggu.
Usai dimarahi, semua pegawai terfokus pada raut wajah Vallerie sangat kusut dan matanya sedikit membengkak. Vallerie menyadari kelopak mata sedikit basah karena sebenarnya ia terus menahan tangisannya supaya tidak ditertawakan wanita licik yang berhasil menjebaknya.
Vallerie tidak bisa menahan air mata lagi. Karena semua orang sekarang kembali fokus bekerja, Vallerie berjalan terburu-buru memasuki pintu tangga darurat untuk melampiaskan tangisannya sangat pecah, perlahan bokongnya menempati satu anak tangga.
Sedangkan Elliot sangat mencemaskan apa yang dilakukan istrinya di tangga darurat. Dengan sigap ia langsung mendatangi istrinya kemudian menemukan sang istri sedang menangis terisak-isak duduk lemas di tangga. Tanpa diceritakan lengkap, Elliot sudah bisa menebak permasalahannya di mana sampai istrinya sangat stress.
Tanpa berbasa-basi, lengan kekar langsung membungkus tubuh ramping sang istri dengan penuh kasih sayang, sehingga dalam sekejap tangisan istrinya sedikit reda.
Vallerie mengangkat kepala menyambut kedatangan suaminya. “Sayang, kenapa kamu ke sini? Bukankah kamu ada rapat sebentar lagi?”
“Aku tidak memedulikan rapat bodoh itu! Aku sangat mencemaskanmu. Pasti kamu dimarahi lagi sampai menangis.”
Tangisan Vallerie semakin pecah. “Maafkan aku. Gara-gara aku membuat masalah, kamu juga kena imbasnya. Apalagi tadi aku sempat diancam akan dipecat kalau aku tidak menemukan solusi. Nanti kamu juga pasti akan diperlakukan sama sepertiku.”
“Aku sangat memercayaimu. Mana mungkin kamu berani berbuat kotor seperti itu.”
Pandangan Vallerie sedikit berbinar mengamati senyuman manis Elliot berhasil menyihir hatinya kembali hangat.
“Sayang .... “
Dengan tatapan percaya diri, Elliot menyentuh pundak istrinya. “Kalau sampai kamu dipecat, aku akan mengundurkan diri juga! Masih banyak perusahaan jauh lebih bagus yang akan menerimamu. Kamu sangat berbakat, aku sangat bangga memiliki istri hebat seperti kamu.”
Jantung Vallerie terasa seperti sedang berdansa indah. Akhirnya senyuman manis kembali terukir pada wajah cantiknya, berkat ungkapan manis suaminya selalu berhasil membuat hatinya tenang.
“Sayang, kamu sangat cantik setiap tersenyum begini.” Elliot mencubit pipi Vallerie gemas.
“Terima kasih sudah menghiburku. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku bisa menangis sampai pingsan.”
Elliot membiarkan istrinya menyandarkan kepala di pundaknya sedikit lebih lama. Apalagi ia tahu rapat nanti akan membahas masalah yang dihadapi Vallerie. Bukan menghindari masalah, karena prinsip utama Elliot adalah membuat istrinya kembali tersenyum dan membuang semua pikiran negatif menghantui pikiran istrinya terus.
“Sayang, mau sampai kapan kamu menemaniku? Nanti kamu sungguh dimarahi.”
“Tidak masalah. Rapat bisa ditunda, tapi menghibur kamu sedang sedih tidak bisa ditunda. Aku harus menenangkanmu supaya bisa tenang saat rapat nanti. Lagi pula, aku sudah terlanjur nyaman bersamamu di sini.” Jempol kanannya terus mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya perlahan.
Kecupan manis mendarat sekilas di puncak kepala sang istri selama beberapa detik. “Semua orang membenci kita, tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menemanimu dan melindungimu dari siapa pun yang berani menghinamu.”
Hati Vallerie semakin tersentuh sampai pipinya sedikit memanas. “Aku juga akan selalu membelamu setiap ada orang yang berani menghinamu. Maka dari itu, kamu ikut rapat saja sekarang. Berkat kamu, hatiku sangat nyaman sekarang.”
*****
Kembali ke masa sekarang Vallerie berhadapan dengan suami kejam. Membayangkan momen manis itu, mata Vallerie semakin berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya supaya tidak terlihat lemah di hadapan suaminya sangat menyeramkan.
“Saat itu, bahkan kamu lebih memedulikan aku daripada pekerjaan. Setiap aku dimarahi karena masalah kecil, kamu selalu menemaniku di tangga darurat sampai hatiku tenang. Aku sangat merindukan sikapmu yang selalu lembut padaku.”
Elliot tidak memedulikan perkataan istrinya lagi-lagi terkesan omong kosong. Tatapannya semakin kejam perlahan mendekati wajah istrinya seperti ingin menyiksa. “Aku tidak peduli. Yang pasti sekarang aku ….”
Elliot baru menyadari orang yang kena omelannya sekarang adalah istrinya, akibat terbawa suasana ia jadi mudah marah hari ini. Entah kenapa seketika ingin mengucapkan perkataan menyakitkan ini, Elliot merasakan bibirnya sangat enggan mengatakannya terang-terangan. Sekarang giliran hatinya gelisah, merasa perbuatannya dari tadi berdosa besar sampai dadanya sesak.
Tiba-tiba ada selang ingatan kecil sekilas melewati pikirannya. Ingatan itu memperlihatkan sebuah momen seketika dirinya justru melindungi istrinya dari segala cacian para pegawai kantor yang membenci mereka. Terutama Elliot pernah melindungi istrinya beberapa kali dari berbagai kekerasan verbal.
Matanya semakin berkaca-kaca mengingat beberapa adegan manis itu membuatnya ingin meminta maaf langsung karena ucapannya tadi sangat kasar. Semakin sakit hati jika meneruskan perdebatan ini setelah mengingat beberapa momen penting di masa lalu. Hanya karena mudah terbawa suasana merupakan kebiasaan buruk sejak dulu, ia tidak bisa mengendalikan amarahnya.
Vallerie sudah muak berdebat terlalu lama. Dengan tatapan kesal juga, ia menghentakkan kaki menuju pintu ruangan ini, lalu berpamitan singkat. “Aku menyesal memasak sarapan untukmu. Sampai sekarang kamu masih tidak menghargaiku dan selalu egois.”
Seketika Vallerie membuka pintu, tiba-tiba ia dikejutkan sosok tamu tidak terduga berniat mendatangi Elliot sekarang.