Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 22: Kembali Cinta



Mendengar kejadian sesungguhnya diceritakan suaminya, tetesan air mata terus membasahi kelopak mata Vallerie sampai hidungnya tersumbat. Membayangkan suaminya menjadi arwah sudah membuatnya merinding ketakutan, bukan karena wujud arwah menyeramkan, tapi lebih cenderung membuatnya kesal karena tidak bisa melihat dan merasakan sentuhan cinta diberikan suaminya selama di rumah duka.


Tangan kanannya terus menyeka air mata membasahi pipi Elliot. Meski suaminya selalu bersikap dingin selama ini, Vallerie sudah tahu alasan utamanya karena apa selain dikhianati para wanita. Elliot juga harus membayar bayaran besar demi bisa terlahir kembali. Karena tidak ada yang gratis di dunia ini, Vallerie juga merasa janggal kenapa hidup Elliot hampir mendekati sempurna, meski tetap kesepian.


“Terima kasih sudah menceritakan padaku, Sayang. Sekarang aku sudah tahu alasan kenapa kamu selalu galak padaku.”


“Maafkan aku … selama ini aku selalu menjadi pria kasar.”


Vallerie menggeleng cepat dan menampilkan senyuman indah. “Mendengar kamu memelukku saat aku pingsan di rumah duka, aku sangat bahagia. Sebenarnya kamu masih tidak ingin meninggalkanku dan masih menyayangiku.”


Sebenarnya, masih ada satu hal yang masih mengganggu pikiran Elliot. Tangan kanannya terlepas dari genggaman tangan istrinya, kepalanya menunduk dan sedikit memalingkan mata.


“Kamu kembali ke masa ini demi bisa menikahiku. Sebenarnya aku penasaran, kenapa kamu ingin menikahi pria yang sangat payah seperti aku? Kalau kamu menikahiku lagi, nanti nyawamu akan dalam bahaya.”


“Tapi aku—”


“Kamu bisa menikahi pria jauh lebih sempurna dariku. Banyak pria di luar sana lebih kaya dariku dan hidup mereka tidak akan terancam. Kalau bersamaku lagi, hidupmu akan sengsara terus. Apalagi beberapa waktu lalu, aku sempat memperlakukan kamu kasar.”


Dada Vallerie terasa seperti terkena irisan pisau kecil sangat tipis. Ucapan suaminya sedikit menyinggungnya, tapi hatinya tetap keras kepala tidak ingin menghiraukan perkataan itu. “Kamu sudah sempurna bagiku, aku tidak mau menikahi pria lain! Kamu sendiri tidak lihat aku hampir diperkosa beberapa hari lalu! Semua pria di dunia ini sebagian besar memiliki karakter seperti pria berengsek di hotel! Kamu mau aku disiksa lagi? Pokoknya mau aku dihidupkan kembali beberapa kali, aku tetap ingin bersamamu.”


“Vallerie ….” Hati Elliot dalam sekejap meleleh hingga rahangnya sangat kaku.


Tangan kanan Vallerie menepuk lengan suaminya berirama. “Saat di taman, bukankah kamu sendiri memintaku melupakan semua masa lalu dan memulai lembaran baru? Aku mau melakukannya. Aku ingin menciptakan kenangan baru lebih indah bersamamu.”


“Tapi setelah ingatanku kembali sepenuhnya, aku merasa ragu jika kita hidup bersama lagi setelah dipikir-pikir. Aku tidak suka melihat kamu terus menangis dan terutama aku tidak mau kamu pingsan lagi di depan mataku. Hatiku terasa tercabik-cabik melihatmu hidup sengsara karena aku.”


Vallerie tidak tahan mendengar keluhan suaminya terus. Bibir merahnya menempel pada bibir suaminya selama beberapa detik, kemudian melepaskan perlahan memasang tatapan iba. “Percayakan semuanya padaku. Aku yakin kali ini kejadian sama tidak akan terulang kembali. Aku sudah menyusun rencana supaya kamu tidak dalam bahaya kedua kalinya.”


Kini Elliot semakin percaya diri, membuang pikiran negatif jauh-jauh setelah mendengar perkataan istrinya memang benar. Jika mereka sudah tahu kejadian sebelumnya akan terjadi lagi, mereka bisa menghindarinya.


“Aku semakin merasa bahagia menikahimu kedua kalinya. Sebenarnya aku tidak rela membiarkanmu menikahi pria lain. Aku terkesan egois, tapi hatiku sungguh melarangmu melakukannya.” Elliot mengelus punggung tangan istrinya yang melekat pada pelipisnya.


“Sebenarnya aku masih penasaran kenapa kamu mudah setuju menikahiku. Apa yang merasuki pikiranmu saat itu?”


“Entah kenapa sejak pertemuan pertama kita, aku sudah memercayaimu. Dua bulan menjelang hari pernikahan kita, kamu selalu menanyakan kabarku tanpa bosan meski aku tidak membalas pesanmu. Sejujurnya, kamu adalah orang pertama yang sangat memedulikan sejauh ini hingga aku mudah jatuh cinta padamu.”


Vallerie tersipu malu mengayunkan kedua tangan suaminya pelan.


Senyuman manis terpampang pada wajah tampannya, tangan kanannya menyentuh punggung tangan istrinya. “Sebelum bertemu denganmu, aku selalu bermimpi mengenai kematianku. Tapi berkat kamu pernah mendatangiku pagi-pagi sebelum berangkat kerja saat kondisi mentalku tidak stabil, aku tidak pernah takut mati. Sejak saat itu juga, aku mulai mencintaimu, Vallerie.”


Oh ya, ada satu hal yang masih belum dipertanyakan Elliot terkait kematian Vallerie tiba-tiba. Padahal ingatan terakhirnya adalah sewaktu Vallerie pingsan di rumah duka, kejadian apa lagi selanjutnya yang dialami Vallerie sampai tewas? Sangat disayangkan Elliot tidak menemani Vallerie sampai akhir.


“Vallerie, sebenarnya ada satu hal yang aku ingin tanyakan padamu.”


“Ada apa?” Vallerie memajukan kepala mendekati wajah suaminya.


“Kamu—”


Kruk..


Suara erangan bersumber dari perut Vallerie, terpaksa perbincangan ditunda sementara. Vallerie tersipu malu sambil mengelus perutnya selalu berbunyi di saat tidak tepat, terutama di hadapan suaminya.


“Maaf, aku harus memasak makan malam dulu.”


“Awalnya aku berencana ingin masak makan malam untukmu, tapi kepalaku masih sedikit sakit.” Bibir Elliot memanyun.


Tangan kanan Vallerie menyentuh dahi suaminya masih agak panas. “Kamu masih demam. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Biar aku saja yang masak makan malam.”


Elliot membaringkan tubuh di ranjang setelah mengganti pakaian menjadi piyama, sedangkan Vallerie masih sibuk memasak bubur di dapur menggunakan resep rahasia setiap suaminya tidak enak badan. Cukup lama memasak, Vallerie mematikan kompor kemudian menyajikan bubur telur di mangkuk berukuran besar untuk suaminya makan.


Vallerie sengaja tidak mau menikmati bubur sendirian seperti belum pernah menikah. Menaruh dua mangkuk di nampan kemudian membawa nampan ke kamar mendatangi suaminya terlihat bosan sendirian di kamar cukup luas.


Senyuman manis langsung terbit pada wajah Elliot. Memposisikan tubuhnya duduk tegak di ranjang dan merentangkan kedua tangannya lebar. “Sayang, kemarilah.”


Vallerie terburu-buru menaruh nampan di meja kecil sebelah ranjang, lalu membiarkan tubuhnya terbungkus dalam dekapan cinta suaminya selalu membuatnya ingin bermanja terus.


“Kepalamu masih terasa sakit? Aku sudah bawakan obat demam untukmu.” Tangan kanan Vallerie menyentuh dahi Elliot sekilas.


“Berkat kamu, kepalaku tidak sakit lagi. Kamu memang selalu menjadi penyembuhku dalam hal apa pun.”


“Maka dari itu, kamu jangan melarangku lagi. Sudah pasti aku akan menikahimu, tidak peduli kondisi apa pun. Lagi pula, kamu bisa menikmati masakanku gratis.”


Sejenak hidung tajam Elliot mengendus mengikuti sumber aroma masakan istrinya sangat menggoda perut semakin mengamuk. “Aku lapar, Sayang.”


“Biar aku menyuapi kamu saja. Aku tahu sejak dulu kamu selalu menyukai masakanku.”


Belum saja Vallerie mengambil satu sendok, Elliot sudah membuka mulutnya lebar. Vallerie tertawa ledek menggelengkan kepala sambil meniup sesendok bubur kemudian memasukkan ke dalam mulut Elliot.


“Selalu saja kamu rakus. Pantesan saat aku pertama kali menyuapimu di kehidupan sekarang, sikap rakus kamu tidak pernah berubah!”


“Kamu sendiri juga sangat rakus saat aku menyuapimu waktu itu. Setiap kamu rakus, kamu sangat menggemaskan.” Elliot mencolek hidung istrinya sekilas.


“Sebaiknya kamu jangan banyak bicara dan cepat habiskan makananmu! Perutku sudah lapar dari tadi, kamu tidak kasihan padaku!” Vallerie langsung memasukkan sesendok bubur kali ini dengan porsi lumayan besar ke dalam mulut Elliot.


Elliot tidak ingin berdiam saja. Memegang mangkuk juga kemudian mengambil sesendok bubur mengarahkan pada bibir Vallerie. “Aku menyuapimu juga boleh? Nanti tidak lezat kalau dibiarkan terlalu lama.”


Sudah pasti Vallerie membuka mulutnya lebar membiarkan suaminya memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut. Apalagi sekarang ia merasakan sedikit perbedaan rasa bubur saat cicip di dapur dan disuapi suaminya.


“Rasa bubur sangat lezat setiap disuapi kamu, Sayang.” Vallerie memajukan bibirnya menampakkan senyuman manja.


“Lidahmu memang sangat unik. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Makanan apa pun jika disuapi kamu pasti terasa lebih sempurna.”


Aksi suapan mesra tidak berlangsung terlalu lama. Elliot minum obat demam, lalu beristirahat sendirian lagi di kamar sambil menunggu Vallerie mencuci semua piring kotor dan membersihkan diri.


Vallerie sengaja tidak ingin berdiam di kamar mandi terlalu lama, karena harus merawat suaminya masih demam. Vallerie mengambil baskom kecil dan handuk kecil kemudian mengisi sedikit air panas di baskom. Baskom ditaruh di meja kecil, kedua tangannya merendamkan handuk kecil beberapa detik, lalu memeras sekuat tenaga, menaruh handuk di dahi Elliot sambil mengusap sedikit keringat mengalir pada pipi Elliot.


“Aku rindu kencan denganmu lagi. Semoga kamu cepat sembuh supaya kita bisa berkencan,” bisiknya.


“Kita bisa melakukannya besok.” Elliot membuka mata perlahan sambil menggenggam tangan Vallerie masih menyentuh handuk.


Vallerie sedikit tersentak karena ia sempat mengira suaminya sudah tertidur lelap. Kepalanya sedikit menunduk sengaja membiarkan beberapa helaian rambut panjang menutupi wajahnya. “Aku mengira kamu sudah tidur.”


“Aku tidak bisa tidur sendirian. Aku sudah terbiasa dimanjakan kamu. Aku bisa tidur kalau berpelukan denganmu.”


“Bukankah sebelumnya kamu sangat ogah tidur berpelukan? Bahkan saat malam pernikahan kita, kamu lebih memilih tidur di sofa daripada tidur seranjang denganku!” Sebenarnya Vallerie tidak bermaksud membentak, tapi sengaja menguji respons Elliot seperti apa diberikan pertanyaan sulit ini.


Helaan napas lesu dikeluarkan dari mulut Elliot. Mengingat momen pernikahan di kehidupan sekarang terkesan hancur, entah bagaimana cara meminta maaf pada istrinya. “Sejujurnya, aku sangat nyaman tidur bersamamu saat itu. Memang aku sempat ketus, tapi entah kenapa tubuhku ingin menempel padamu. Saat aku tidur seranjang denganmu meski tidak berpelukan, tapi aku sangat nyaman berada di dekat wanita yang sangat menghargaiku.”


Pipi Vallerie dalam sekejap memerah. Sejenak menaruh handuk kembali di baskom. Membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya kemudian memeluk tubuh suaminya dengan manja. “Berjanjilah denganku. Jangan pernah ketus lagi! Padahal aku sudah bersusah payah hidup kembali supaya bisa hidup bahagia bersamamu. Kamu sangat tega!”


“Kalau aku ketus lagi, kamu bisa menceraikan aku.”


Vallerie menggeleng cepat, sikap posesif semakin membara sengaja memeluk tubuh suaminya semakin manja. “Tidak mau! Mau kamu ketus, aku tetap menerimamu apa adanya.”


“Terkadang aku sulit mengubah kebiasaan burukku mudah terbawa emosi setiap berdebat dengan pegawaiku, itulah alasan beberapa kali aku tidak sengaja berkata kasar padamu sewaktu di kantor. Padahal saat itu seharusnya aku memberimu selamat karena kamu bekerja di perusahaan ayah dan kamu pantas mengambil alih proyek.”


“Sekarang tugasku adalah mencubitmu kalau kamu berkata kasar lagi! Kalau perlu, aku menegur pegawai itu duluan supaya kamu tidak melampiaskan amarahmu padaku!” Vallerie mencubit lengan suaminya lembut.


Benar juga! Lagi-lagi Elliot lupa menanyakan persoalan bagaimana istrinya bisa kembali ke masa ini. Padahal jelas-jelas ia sudah berhasil menyelamatkan nyawa istrinya dari maut. Kenapa istrinya bisa tewas juga? Pikirannya sudah berprasangka buruk mengarah pada Vallerie tewas karena melakukan hal aneh.


“Vallerie, bagaimana kamu bisa hidup kembali ke masa ini? Bukankah aku sudah menolongmu saat itu? Kamu sungguh tewas?”


Raut wajah Vallerie berubah drastis menjadi lesu. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan pada suaminya mengenai penyebab kematiannya. Tapi, terpaksa ia harus melaporkannya demi bisa melawan musuh terbesar mereka supaya kejadian sama tidak terulang kembali.


“Kematian kita bukan kematian biasa. Seseorang sengaja melakukannya.”


Dahi Elliot mengernyit, teringat perkataan wanita misterius saat detik-detik terakhir sebelum kembali ke dunia ini.


“Kita … dibunuh?”