Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 20: Hadiah Kecil



Suasana hati Elliot sejak bertengkar dengan Erick sangat buruk. Jarang bicara sejak semalam sampai pagi. Vallerie juga takut nyawa mereka akan semakin terancam dalam waktu dekat mendengar suaminya selalu diancam tanpa segan.


Sebenarnya hari ini masih hari kerja, tapi Vallerie malas bekerja jika raut wajah suami tercinta terus lesu. Maka dari itu, ia ingin melakukan ide konyol tidak pernah dilakukannya selama ini. Demi menghibur hati suaminya suram, padahal sudah menikmati sarapan favoritnya.


“Elliot, maukah kamu berkencan denganku hari ini?” Vallerie mengajak tanpa berbasa-basi.


Reaksi Elliot tersentak sampai sendok digenggamnya hampir terlepas. “Tapi, hari ini hari kerja. Kamu mau bolos?”


“Dari kemarin kamu cemberut terus. Kamu pasti juga tidak ingin kerja hari ini karena harus bertemu Erick lagi. Maaf, ideku terkesan konyol, tapi aku mau kamu kembali tersenyum seperti biasa setiap menghabiskan waktu bersamaku.” Kepala Vallerie menunduk sambil memainkan sendok berputar-putar.


Bagi Elliot tidak masalah sama sekali. Justru ia merasa berdosa karena membuat istrinya mencemaskannya terus. Senyuman manis akhirnya menghiasi wajah tampan juga sambil mengelus kepala istrinya perlahan.


“Idemu justru aku suka. Bahkan aku ingin bolos kerja seharian. Sesekali melakukannya tidak masalah.”


Vallerie mengangkat kepala gugup. “Bagaimana dengan pekerjaan kantor?”


“Urusan kantor belakangan saja. Aku tinggal meminta Jordan mengatur ulang jadwal rapat dengan tim perancang busana. Lagi pula, tidak ada pekerjaan mendesak harus diselesaikan sekarang. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Kamu lebih penting daripada pekerjaan, Vallerie.”


Terlihat senyuman indah semakin melebar pada sudut bibir sang istri mungil. Rasa bahagia sulit terkendalikan mendengar ungkapan itu menandakan bahwa suaminya sungguh cinta sekarang. Tapi tidak ingin mengaku terang-terangan.


Vallerie mengajak pergi ke berbagai tempat favorit kencan sewaktu dulu. Entah belanja di supermarket dan masih banyak hal lagi yang ingin dilakukannya bersama suaminya di kehidupan sekarang.


Elliot sangat menikmati kencan bersama istrinya. Meski sudah tidak ada potongan ingatan terlintas dalam pikirannya lagi, tapi merasa sangat bahagia dan ingin berterima kasih pada Vallerie karena sudah berhasil memusnahkan pikiran negatif apa pun itu. Dari sebelum pergi kencan sampai sekarang, akhirnya ia bisa tersenyum bahagia, ingin memperpanjang waktu kencan sampai besok.


Masih di pusat perbelanjaan, Vallerie berseri-seri memandangi sebuah jepitan rambut berukuran besar bermotif bunga sambil meraba terus jepitan itu seolah-olah memberikan kode keras meminta suaminya membelikannya.


Tidak perlu diberi kode keras juga Elliot langsung peka merebut jepitan itu dari genggaman tangan istrinya. “Maukah aku bantu pakaikan jepitan ini di rambutmu?”


Vallerie tersipu malu. “Tidak perlu. Aku hanya suka motifnya saja sangat indah.”


“Jepitan ini sangat cocok untukmu. Pasti kamu semakin cantik.”


Sebenarnya Vallerie merasa déjà vu pernah melakukan adegan ini di kehidupan sebelumnya. Persis Elliot memakaikan jepitan rambut ini padahal tidak meminta dibelikan terang-terangan.


Model rambut Vallerie diurai dan dihiasi jepitan rambut bunga di bagian tengah kepala. Elliot tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menyelipkan beberapa helaian rambut panjang ke belakang telinga Vallerie sehingga jantung Vallerie semakin berdebar kuat.


“Aku akan belikan untukmu. Jepitan ini hanya boleh dipakai istriku.”


Padahal hanya sebuah kalimat sederhana berhasil membuat Vallerie tersipu malu. “Terima kasih, Elliot.”


Sepanjang hari berkencan di pusat perbelanjaan. Sekarang tempat kencan berpindah di taman kota saat langit sudah menampakkan warna jingga. Vallerie sengaja mengajak kencan di tempat seperti ini, karena memang hobinya sejak dulu menikmati pemandangan matahari terbenam bersama suaminya. Meski ia tidak tahu apakah Elliot sekarang masih sama seperti yang dulu.


Kaki mungil sedikit terasa pegal setelah berjalan lebih dari lima belas menit. Sejenak Vallerie menggandeng tangan suaminya menempati kursi taman sambil meregangkan kakinya lemas.


Melihat matahari terbenam bersama istrinya, Elliot sangat menyukai hobi barunya yang bisa menghapus bersih semua momen buruknya selama ini. Berkat istrinya, hidupnya selalu bahagia. Apa lagi yang kurang dari Vallerie?


Elliot tidak sabar mengungkapkan isi hati sesungguhnya pada Vallerie secara langsung, tanpa memuji dalam hati lagi dan sekarang ia sudah sadar sejak awal bahwa hatinya sungguh mencintai Vallerie tanpa faktor apa pun. Apalagi momen manis sekarang adalah saat yang tepat untuk berkata jujur. Selain itu, tidak ada yang akan mengganggu mereka lagi jika dilihat suasana taman sepi.


“Vallerie.”


“Iya, Elliot.”


“Terima kasih sudah mengajakku berkencan hari ini. Berkat kamu, semua hal buruk menumpuk di pikiranku langsung menghilang. Selain itu, hobimu sama seperti aku. Aku juga suka melihat matahari terbenam. Apalagi saat kita bulan madu di Pulau Jeju.”


Akhirnya Vallerie sedikit lega mendengar hobi suaminya tidak berbeda. “Pikiranku langsung tenang setiap melihat pemandangan indah. Apalagi dulu kamu sering mengajakku melihat matahari terbenam di atap perusahaan.”


Elliot sudah tidak memedulikan apa yang dilakukannya di masa lalu. Setiap istrinya berkata momen masa lalu, hatinya sedikit perih. Bisa disimpulkan Vallerie mencintainya karena terbawa suasana baru, bukan karena ingin memulai lembaran baru. Namun, Elliot berusaha tetap tersenyum, kemudian mendaratkan kecupan manis penuh cinta di puncak kepala istrinya dalam durasi lama.


Vallerie membulatkan mata dan hampir terkena serangan jantung. Elliot di kehidupan sekarang yang biasanya selalu bersikap cuek dan berbicara ketus tiba-tiba menciumnya tanpa sebab, seperti sebuah mimpi indah bagi Vallerie sampai rahangnya kaku.


“Ini hadiah kecil yang kuberikan untukmu, jawaban istimewa yang kamu inginkan sejak melamarku waktu itu. Aku tidak menganggap pernikahan kita sebagai paksaan atau sandiwara lagi. Aku menganggapmu wanita sekaligus istri paling istimewa dalam hidupku. Aku sangat menyayangimu, Vallerie.”


Mata Vallerie berkaca-kaca sekaligus dalam hatinya terus terngiang-ngiang. Setelah sekian lama, terucap juga ungkapan cinta dari bibir Elliot tanpa keraguan.


“Elliot ….”


Sejenak Elliot melepas pelukan, kemudian memposisikan tubuh berlutut di hadapan istrinya. “Kamu ingin memukulku, menghajarku, silakan saja. Selama ini aku selalu bersikap kasar padamu. Apalagi pertemuan pertama kita, aku bersikap kejam sampai menyakiti hatimu. Tapi kamu masih mencintaiku, seharusnya kamu marah padaku. Aku memang suami terburuk di matamu.”


Tangisan Vallerie terisak sampai rasanya sulit bernapas karena hidungnya tersumbat. Mustahil Vallerie membentak suaminya yang selama ini selalu lembut padanya. Perlahan berjongkok tepat di hadapan sang suami, memberikan pelukan hangat sambil mengelus punggung lebar suaminya pelan.


“Aku tidak mau menghajarmu karena sikapmu terkadang keterlaluan. Jangan menyalahkan dirimu terus. Aku sangat bahagia mendengar kamu akhirnya berkata jujur mengenai isi hatimu.”


“Maafkan aku, Vallerie.” Tangisan suaminya semakin pecah, jempol kanan Vallerie spontan mengusap kelopak mata suami tercinta dengan lembut.


“Jangan meminta maaf terus seolah-olah aku yang selalu kejam padamu! Kamu kembali mencintaiku saja, aku sangat bersyukur.”


“Vallerie, sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Tapi, aku takut menyakiti hatimu lagi.”


“Kamu tidak pernah menyakiti hatiku, sudah pasti aku bisa menjawab pertanyaanmu.”


“Kamu selalu berkata mencintaiku. Tapi, apakah kamu mencintaiku karena terbawa suasana masa lalu atau kamu sungguh murni mencintaiku karena aku memperlakukan kamu sangat spesial?” Elliot memasang tatapan sendu, sudah mempersiapkan mental mendengar jawaban jujur dari lubuk hati Vallerie.


Sekarang Vallerie tidak bisa menjawab. Antara perasaan masa lalu dan sekarang, ia sungguh sulit membedakannya. Merenungkan sejenak tujuan utama ia kembali ke masa ini untuk menyelamatkan suami yang sangat ia sayangi dari maut. Hatinya masih sangat merindukan sikap Elliot dulu, tapi jika dinikmati momen sekarang, Vallerie juga sangat menyukai Elliot sekarang meski sikap keterlaluan membuatnya terkadang sakit hati.


Vallerie sangat mencintai Elliot sekarang yang selalu melindunginya dari bahaya apa pun dan juga meluangkan waktu untuk berbincang santai. Bahkan belakangan ini menerima perlakuan manis sangat besar membuat Vallerie ingin membuka lembaran baru bersama suaminya dari awal.


Tidak ingin membiarkan sebuah pertanyaan sederhana gantung terlalu lama. Vallerie mengambil napas sedikit panjang, kemudian membuang perlahan bersiap memberikan jawaban sesuai lubuk hatinya.


“Sejujurnya, awalnya memang aku mencintaimu karena perasaan cintaku padamu di masa lalu masih sulit dilupakan. Tapi, seiring waktu berjalan menjalani kehidupan pernikahan bersamamu di kehidupan sekarang, aku mencintaimu karena sikapmu sangat perhatian padaku membuatku selalu nyaman berada di dekatmu.”


Dahi Elliot mengernyit. Entah kenapa ia merasa perkataan Vallerie terkesan ambigu. “Benarkah? Tapi kamu selama ini menangis karena aku menyakiti hatimu.”


Vallerie menggeleng. “Sikapmu sangat dingin, tapi kamu bermaksud perhatian padaku diam-diam. Aku suka setiap kamu selalu melindungiku setiap aku dalam bahaya. Kamu selalu lembut setiap menenangkan aku. Suami mana lagi memiliki sifat baik seperti kamu. Sekarang aku berusaha melupakan perasaanku di masa lalu.”


Tawa bahagia dilepaskan Elliot sampai suasana taman saja juga ikut hangat dan manis, berkat momen manis sepasang suami istri ini pada akhirnya saling mencintai satu sama lain tanpa keraguan. “Vallerie, aku ingin kamu melupakan semua momen yang kita lakukan di masa lalu. Aku ingin kita membuka lembaran baru memulai lagi dari awal. Aku ingin momen sekarang lebih indah dibandingkan sebelumnya.”


Deg..


Sebenarnya Vallerie sedikit keberatan melupakan semua momen masa lalunya juga terkesan indah di matanya, kecuali adegan kecelakaan menewaskan mereka di hari ulang tahun pernikahan. Vallerie masih sulit melupakan kejadian mengerikan itu, tapi berkat sentuhan tangan hangat diberikan suaminya sekarang, apakah sanggup melupakan semua momen di masa lalu?


Elliot menatap gugup. “Kalau kamu keberatan, aku tidak akan memaksamu.”


“Aku tidak keberatan. Memang perkataanmu benar, lebih baik aku lupakan masa lalu dan menciptakan momen indah bersamamu lagi. Aku juga sangat mencintaimu di kehidupan sekarang, bukan karena masa lalu.” Vallerie tersenyum percaya diri mengelus pipi di hadapannya lambat laun.


Tanpa berbasa-basi lagi, akhirnya Elliot menautkan bibirnya dengan bibir merah istrinya melampiaskan rasa cinta yang terus terpendam dalam hati selama ini, ia akan menyalurkan semuanya untuk istrinya.


Vallerie sangat terngiang-ngiang mendapatkan ciuman manis sekaligus, akhirnya sekian lama ia bisa merasakan pergerakan bibir suaminya sangat lembut membuat cintanya bertambah berkali-kali lipat dalam sekejap.


Udara sore hari semakin dingin, tapi bagi Elliot dan Vallerie merasa hangat karena mereka sudah terlarut cinta sampai rasanya semakin candu ingin berciuman lebih lama lagi. Tapi, karena ini di tempat terbuka, Elliot masih belum terbiasa melakukannya. Terpaksa ia mengakhiri ciumannya dan ditutup mendaratkan kecupan manis di kening istrinya selama beberapa detik.


“Jadi begini rasanya berciuman dengan kesayanganku. Dulu aku menyesal saat pertama kali berciuman denganmu, aku merasa jijik.” Elliot tersenyum malu mengusap bibirnya terasa manis setelah merasakan kelembutan bibir istrinya.


“Sekarang kamu menyesal, ‘kan? Sebenarnya aku ingin mencubitmu supaya menyadarkan sikapmu. Tapi aku tidak tega.” Vallerie menyipitkan mata dan mengepalkan tangan kanan.


“Aku tidak akan bersikap kasar lagi. Mulai sekarang, aku ingin bersentuhan fisik denganmu sesuka hatiku. Selain itu … aku ingin ada panggilan baru untuk kita.”


Rona merah menyala pada pipinya. Tangan kanannya menyentuh pipi istrinya memasang senyuman manis.


“Sayang.”


Rasanya Vallerie ingin berguling-guling di ranjang mendengar panggilan manis itu sudah lama tidak terucap dari bibir sexy suaminya. “Aku suka panggilan baru itu, Sayang.”


“Aku sangat suka panggilan istimewa kita. Mulai sekarang aku akan lebih sering memanggilmu dengan panggilan itu. Ada panggilan spesial lain juga kalau kamu bosan panggil sayang.”


Elliot melebarkan senyuman bahagianya. “My Vallerie.”


Vallerie berjingkak-jingkak mengayunkan kedua tangan suaminya girang. “My Elliot.”


“Aku semakin suka melakukan apa pun terhadap kamu. Sejujurnya, selama ini aku selalu jadikan foto pernikahan kita sebagai wallpaper ponselku. Setiap melihat foto pernikahan kita, aku sangat bahagia.”


“Kalau soal bersentuhan denganku? Seperti … ciuman?” Vallerie mengedipkan mata manja.


Elliot menyunggingkan senyuman bahagia mencium bibir istrinya beberapa detik menambah cinta Vallerie sangat besar. “Aku juga sangat suka berciuman denganmu, sejak dulu sesungguhnya aku hampir tidak bisa menahan diri setiap melihatmu. Sebenarnya aku ingin kita lanjutkan ciuman kita di rumah. Kalau di sini, aku agak malu.”


Jawaban itu sudah membuat Vallerie terngiang-ngiang, ia membalas kecupan bibir mesra sekilas sambil mengelus kepala suaminya.


Elliot merasa udara di sini semakin sepoi-sepoi. Sejenak melepas mantel miliknya, kemudian membungkus tubuh sang istri sambil memeluk erat. “Kamu mau pulang? Nanti kamu terserang flu kalau di sini terus.”


Vallerie mengangguk cepat, tangan kanannya berpindah menggenggam tangan suami kesayangannya girang. “Aku ingin bermain bersamamu di rumah.”


Hari semakin gelap, sambil berjalan santai menuju mobil sedan terparkir di lahan parkir, mereka saling bergandengan tangan girang mengayunkan tangan mereka tidak mengenal lelah. Apalagi masih bisa saling melempar senyuman bahagia sambil berjalan.


Namun, tiba-tiba sebuah motor melaju berkecepatan tinggi ke arah Vallerie. Elliot langsung panik memeluk istrinya erat sampai tubuh mereka berputar cepat menghindari motor itu sebelum ditabrak.


Kepala Elliot terasa seperti ada bom waktu tertanam dalam otak. Rasanya ingin pecah seketika tiba-tiba muncul semua ingatan mengenai momen indah yang dilakukan bersama Vallerie di masa lalu, hingga pada waktu ia mengalami kecelakaan sampai tewas. Bukan dalam samar-samar lagi ingatannya, kini sungguh diperlihatkan sangat jelas dan nyata.


Dadanya semakin sesak, Elliot hampir ambruk ke tanah sambil terus menepuk-nepuk dadanya. Air matanya terus berlinang sampai Vallerie ketakutan melihat sikap suaminya berubah drastis.


“Aku … ingat semua.”