Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 17: Fakta tidak Terduga



Tubuh Vallerie sangat syok sampai hampir terjatuh dari kursi seketika melihat pemandangan tidak terduga di depan mata. Melihat Rachel sedang bersandar manja dengan Erick, Vallerie ingin marah besar karena bisa dikatakan Rachel menipu Elliot selama ini. Padahal sebenarnya Rachel adalah pacar rahasia Erick.


Tapi yang membuat Vallerie penasaran adalah kenapa Rachel masih ingin menempel dengan Elliot di kamar hotel waktu itu? Padahal hubungan Rachel dan Erick bisa dikatakan sangat mesra sekarang, kenapa harus mengincar Elliot? Terutama mengaku sempat berpacaran dengan Elliot membuat darah Vallerie semakin mendidih memikirkannya.


Masalah itu lupakan dulu. Vallerie mengatur telinga tajamnya berusaha mendengarkan percakapan dilakukan sepasang kekasih licik itu. Bagi Vallerie, tindakan Rachel juga sangat mencurigakan seolah-olah berencana ingin menjatuhkan Elliot.


Rachel sudah merasa puas meraba lekukan leher Erick menggunakan bibirnya. Erick juga sudah puas melepas hasratnya berciuman panas dengan Rachel dalam durasi lama. Sekarang yang dilakukannya menuangkan segelas whisky untuk dirinya dan Rachel kemudian bersulang serentak.


“Hari ini sebenarnya suasana hatiku sedikit buruk,” desis Erick berwajah murung.


“Apa ada masalah lagi? Elliot membentakmu lagi?”


“Lebih cenderung istrinya yang mengalahkanku sekarang. Tidak kusangka istrinya jauh lebih licik dibandingkan adikku. Hanya beberapa hari, Vallerie berhasil memecahkan masalah besar yang dihadapi perusahaan. Aku jadi dia pasti akan kesulitan mencari pelaku yang menyebabkan kekacauan ini.”


Rachel pun ikut marah mendengarnya sambil menggenggam gelas kaca erat. Meski ia jarang bertemu Vallerie, tapi pertemuan pertama di kamar hotel masih membuatnya kesal.


“Seharusnya aku mengomporinya lagi. Memang Vallerie itu menambah beban hidup saja! Kalau dia tidak menikah dengan Elliot, mungkin Elliot akan merasa kesepian terus karena tidak ada seseorang yang akan menemaninya.”


“Tapi, setiap kali bertemu Elliot, sandiwaramu terlihat seperti sungguhan. Kalau orang lain melihatnya, mungkin mereka akan mengira kamu adalah pacarnya sungguhan.”


Rachel tertawa remeh sambil menyesap minuman whisky terburu-buru, kemudian membanting gelas kaca di meja. “Jangan harap aku jadi pacarnya! Sebenarnya dia bukan tipeku. Hanya saja, aku tidak mungkin mengecewakanmu menjalankan misi untuk membuatnya merasa terpuruk.”


Suara lantang Rachel terdengar tajam di telinga Vallerie sampai semakin syok. Tidak disangka Rachel selama ini berhubungan dengan Elliot hanya ingin memperalatnya. Rasanya Vallerie ingin menampar wajah Rachel habis-habisan, tapi mustahil ia bertindak gegabah sekarang, nanti misi rahasianya akan hancur.


Sejenak Vallerie mengambil napas, kemudian membuangnya perlahan mengendalikan napas sedikit sesak sampai kelopak matanya sedikit basah. Tidak ingin berhenti sampai di sini saja, Vallerie kembali melanjutkan mendengarkan percakapan sepasang iblis, meski sebenarnya tidak terdengar jelas karena suara keramaian  pengunjung.


“Tidak apa-apa. Lebih baik dia menikah dengan Vallerie daripada menikahimu. Sebenarnya aku cemas lama-kelamaan kamu akan jatuh cinta pada Elliot.” Tiba-tiba Erick memasang tatapan sebal membayangkan kekasihnya bercumbu dengan adik sendiri.


“Aku tidak akan menikahi pria yang tidak kucintai. Justru aku ingin menjadi istrimu di masa depan. Urusan Elliot dan Vallerie, biarkan saja mereka.”


“Kamu tidak masalah menikahi aku hanya berjabatan manajer penjualan saja?”


“Tidak masalah.” Rachel menyahut sangat agresif sambil meraba dada bidang kekasihnya lambat laun.


Pada akhirnya Vallerie memutuskan pulang sebelum percakapan sepasang iblis itu berakhir. Mungkin tensi darahnya semakin tidak stabil jika terus berlanjut mendengarkannya.


Sedangkan di rumah mewah, Elliot terus berjalan mondar-mandir sambil mengamati jam dinding, mulai cemas dengan keadaan istrinya saat ini jika dilihat istrinya tidak biasanya pulang sangat larut malam, padahal biasa rajin pulang cepat meski makan malam bersama Whitney.


“Kenapa tiba-tiba aku takut terjadi sesuatu buruk padamu lagi, Vallerie? Belakangan ini aku selalu mencemaskanmu, sebenarnya apa yang merasuki hatiku? Apa aku sungguh mencintaimu, Vallerie?” Elliot bergumam sambil menggarukkan kepala kesal.


Memasuki tengah malam, Vallerie terus merenungkan informasi yang didapatkannya selama di bar. Bisa disimpulkan, bukan Erick saja yang harus difokuskan, ada satu penambah beban hidup harus dipantaunya demi hidupnya bersama suaminya di kehidupan sekarang tenang.


Namun, yang masih menjadi pertanyaan bagi Vallerie adalah ia tidak pernah bertemu dengan Rachel di kehidupan sebelumnya dan Rachel bukan istri Erick juga. Jadinya, apakah karena perubahan sejarah kehidupan yang membuat Rachel hadir dalam kehidupan sekarang? Rasanya semakin pecah kepalanya jika terus memikirkan semua teori konspirasi tidak masuk akal. Berusaha berpikir positif, mungkin Rachel adalah pacar rahasia Erick di kehidupan masa lalu juga tanpa sepengetahuannya. Mengingat hubungannya dengan Erick hanya sebatas atasan dan pegawai.


Perjalanan menuju rumah tidak sampai setengah jam. Saat Vallerie baru memasukkan kode akses rumah dan menginjakkan kaki ke dalam rumah sudah disambut pelukan hangat sang suami, tubuhnya mematung sampai sling bag yang digenggamnya merosot ke lantai.


Vallerie membuka mulut lebar. Sebenarnya ia merasa pelukan ini sedikit berlebihan sampai napasnya tersengal-sengal, tapi Elliot tetap tidak ingin melepaskannya membuat Vallerie sedikit penasaran apa yang merasuki Elliot lagi sampai sikapnya berubah drastis tiba-tiba.


“Elliot … bisakah kamu lepaskan aku sebentar?”


“Tidak mau, aku ingin memelukmu. Aku sangat merindukanmu, Vallerie.” Elliot menjawabnya dengan suara lantang.


Hatinya sangat meleleh mendengar gombalan suaminya. Tapi, Vallerie tetap merasa tidak nyaman pelukan ini terkesan seperti ingin membunuhnya.


“Tapi … kamu seperti … ingin … membunuhku.”


Dengan sigap Elliot melepas pelukan, tangan kanannya berpindah mengelus kepala Vallerie. “Aku sangat mencemaskanmu. Kamu habis dari mana saja?”


“Sebenarnya aku—”


Memang sikap Vallerie sekarang sangat keterlaluan. Apalagi sengaja berbohong supaya bisa menjalankan misi rahasia. Dilihat tatapan Elliot penuh kecemasan, Vallerie semakin merasa bersalah karena telah menelantarkan suaminya sendirian menunggu sampai tengah malam.


“Elliot, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berbohong.” Akhirnya Vallerie mengaku juga, daripada suaminya semakin membencinya hanya karena masalah kecil.


“Kalau kamu ingin pergi ke suatu tempat, kenapa kamu berbohong?! Aku kan suamimu, kamu masih belum memercayaiku?” Elliot membentak istrinya tanpa segan, tatapannya berubah menjadi kejam setiap ada orang yang berbohong padanya.


“Karena … demi kebaikanmu. Aku sengaja melakukannya demi melindungi kamu.”


“Tidak, Vallerie. Kamu berbohong karena masih belum memercayaiku, ‘kan? Meski kamu berkata selalu mencintaiku, tapi sebenarnya kamu tidak memercayaiku karena sikap kasarku selalu membuatmu marah.”


Hatinya seperti terkena irisan pisau sangat tipis. Sakit, perih, tapi tidak berdarah. Rasanya sangat kapok berbohong, akhirnya Vallerie menerima pelajaran berharga hari ini. Berbohong tidak akan menjamin hidup tenang.


“Dengarkan aku dulu! Aku akan menceritakan apa yang kulakukan semuanya padamu. Jangan membentakku dulu!” Vallerie memasang wajah memelas menyentuh punggung tangan suaminya.


Raut wajah Elliot berubah drastis menjadi tatapan penuh kasih sayang. Sejenak ia menunduk bersalah karena seperti biasa sikapnya selalu ketus tidak pernah berubah.


“Maaf, aku masih sulit mengendalikan sikap kasarku. Silakan memarahiku sesuka hatimu.”


Vallerie tersenyum tipis menggenggam tangan kanan suaminya sangat hangat. “Tidak apa-apa. Aku senang akhirnya kamu ingin mendengarkan aku juga.”


“Habisnya insiden mengerikan saat kamu diculik … aku masih trauma. Aku cemas kamu diculik lagi.”


“Justru aku yang ingin minta maaf karena selalu membuatmu cemas. Kali ini aku tidak akan nakal lagi. Aku menuruti perkataanmu saja.”


Sejenak Elliot menuntun Vallerie menuju sofa ruang tamu, duduk bersebelahan lalu Elliot membiarkan kepala Vallerie bersandar di pundaknya membuat senyuman indah Vallerie tidak terkendalikan.


“Jadinya, apa yang kamu lakukan sampai pulang larut malam?” Elliot memajukan bibirnya mendekati wajah istrinya.


“Sebenarnya aku mengintai pergerakan Erick.”


Dahi Elliot mengernyit, ia semakin bingung alasan kenapa istrinya tiba-tiba mengincar kakaknya tanpa sebab. “Kenapa mengikuti kakakku? Apa Erick melakukan kesalahan padamu?”


Terpaksa Vallerie berbohong lagi, tapi dengan cara halus supaya Elliot tidak syok mendengar fakta bahwa kakak kandungnya adalah pembunuh yang membunuhnya dua tahun kemudian.


“Kamu sempat bercerita kamu dan Erick tidak pernah akur. Erick selalu egois ingin mendapatkan posisi direktur. Aku cemas dia melakukan sesuatu ingin menjatuhkanmu. Apalagi beberapa kali aku melihat kamu dan Erick bertengkar di kantor.”


“Jadi, itu alasan kamu mengincarnya?”


“Pokoknya kamu harus berwaspada saja. Jangan terlalu memercayai kakakmu. Kalau dia sangat membencimu selama ini, aku cemas dia merencanakan sesuatu buruk padamu.”


Tubuh Elliot mematung sambil menggelengkan kepala. Membayangkan sikap Erick yang selalu kasar padanya, baginya belum tentu akan mencelakainya. Tapi, apakah yang dikatakan Vallerie itu benar?


“Memangnya Erick sedang apa tadi?”


“Dia pergi ke bar. Kamu harus tahu juga. Sebenarnya orang yang dia temui tadi adalah—”


Kruk…


Tiba-tiba perutnya tidak bisa diajak kerja sama saat ingin melaporkan topik utama pada suaminya. Pipinya memerah malu, tidak biasanya perutnya mengamuk dengan suara sedikit keras sampai suaminya menertawainya dan dicampur raut wajah cemas.


Vallerie menunduk mengelus perutnya. “Sebenarnya … aku belum makan malam.”


Elliot meraih sebutir debu menempel di ujung kepala Vallerie. “Maukah aku masak makan malam untukmu?”


“Tidak perlu. Aku bisa masak sendiri. Kamu tidur saja.”


Saat Vallerie berdiri, tiba-tiba tangan kirinya ditarik sehingga posisi tubuhnya kini duduk di atas pangkuan Elliot. “Aku yang masak saja, Vallerie. Kamu harus menikmati makanan lezat dariku.”