Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 37: Awal Penderitaan



Wanita muda yang baru saja keluar dari restoran ini adalah sang malaikat maut yang menghidupkan Vallerie saat tewas di sungai. Mulut Vallerie sampai menganga, kakinya sudah tidak tahan rasanya ingin mengejar wanita itu. Namun, jika dipikir lagi, apakah wanita itu adalah orang yang sama dengan malaikat maut? Kenapa manusia biasa bisa berinteraksi dengan malaikat maut seolah-olah berbincang dengan orang normal? Apakah terjadi sesuatu pada wanita itu?


Elliot bingung melihat raut wajah istrinya terlihat melamun dan tatapannya seperti sedang terfokus pada sesuatu. Sejenak melambaikan tangan kanan tepat di depan mata istrinya perlahan untuk menyadarkan lamunan. “Sayang, kamu sedang memikirkan apa?”


Vallerie membelalakan mata. Akhirnya baru tersadar dari lamunan, sorot matanya kembali terfokus pada suaminya. “Kenapa?”


“Aneh sekali melihat tingkahmu tidak biasanya. Kamu lihat apa sih dari tadi?”


“Aku … melihat wanita itu. Wanita yang membuat kita kembali ke masa ini.” Sebenarnya Vallerie malu melaporkan hal konyol ini pada suaminya, ia cemas suaminya akan menganggap tidak waras.


Bola mata Elliot terbelalak. Ia semakin yakin wanita yang dilihat istrinya tadi adalah wanita yang sama dilihatnya saat berkencan di festival cokelat waktu itu. “Berarti yang kulihat saat di festival cokelat waktu itu tidak salah. Tapi wanita itu tingkahnya tidak terlihat seperti malaikat maut.”


“Yang kulihat tadi, dia bersikap seperti manusia biasa. Petugas kasir bisa melihat wanita itu dengan jelas.” Jari telunjuk Vallerie agak gemetar menunjuk counter kasir hanya dihadiri petugas kasir.


Elliot bertopang dagu, mulai berpikir kritis setiap ada teori konspirasi muncul. “Tapi, sebenarnya aku masih bingung. Kalau seandainya wanita yang kita lihat sekarang adalah orang yang sama dengan malaikat maut itu, bagaimana dia bisa tewas? Padahal jika dilihat ekspresi wajahnya, sepertinya dia selalu sehat dan hidup bahagia.”


“Yang membuatku semakin penasaran, seandainya saja dia sungguh tewas menjadi malaikat maut, kenapa harus kita yang dipilihnya? Padahal selama ini kita tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.”


Itulah satu misteri bertambah dalam hidup mereka. Sebelumnya menyusun rencana membalas dendam pada Erick, sekarang satu beban bertambah karena kehadiran sang malaikat maut tiba-tiba muncul di kehidupan mereka sekarang. Padahal urusan sudah terselesaikan, kenapa wanita itu muncul lagi tapi dengan wujud manusia? Mustahil malaikat maut bisa hidup kembali juga padahal sudah ditetapkan tidak bisa reinkarnasi atau terlahir kembali selamanya di dunia lain.


“Sudahlah, aku tidak mau bahas malaikat maut lagi. Memikirkan kematian kita di masa lalu membuatku merinding terus.” Vallerie terburu-buru memasukkan sesendok mie mulai dingin ke dalam mulut Elliot.


“Aku juga tidak mau memikirkannya lagi. Sekarang aku bisa menyentuhmu sepuasnya, lebih baik fokus pada masa sekarang saja.”


Sesi bermesraan di dalam mobil masih belum puas. Elliot sengaja memberhentikan mobilnya di tepi jalan dekat gedung perusahaan supaya semua pegawai tidak risih melihat adegan mesra dari luar mobil.


Tangan kanan Elliot terus bertautan erat dengan tangan kiri istrinya. Saling melempar senyuman terindah mereka sebelum Elliot kembali memasang wajah galak saat bekerja di kantor.


Elliot memasang wajah memelas. “Sayang, bagaimana kalau aku mengubah sikapku di kantor? Setiap rapat bersamamu, sebenarnya aku tidak bisa menahan diri ingin melihatmu terus.”


“Haruskah aku memarahimu setiap rapat? Terkadang kamu tidak fokus rapat karena ingin melihatku.” Vallerie menyisingkan lengan blazer.


“Habisnya … bagiku mustahil kalau aku berwajah serius di hadapanmu. Beberapa kali aku juga bergabung denganmu rapat padahal tidak ada kaitannya denganku. Karena aku terlalu merindukanmu.”


Vallerie tertawa gemas sambil memajukan wajahnya. “Hampir semua pegawaimu menggosipkan kamu pilih kasih. Kamu tersenyum hanya untukku saja. Jangan membuat mereka iri!”


Elliot sengaja semakin memajukan bibirnya mendekati bibir istrinya hanya berbeda tipis. “Baiklah, aku akan bersikap galak lagi seperti biasa. Sebagai gantinya, aku ingin menciummu dulu.”


Vallerie dan Elliot menempelkan bibir mereka beberapa detik. Lalu berpindah saling mengecup wajah satu sama lain dengan gelak tawa bahagia sebelum kembali ke kantor.


Seketika pulang kerja, Erick menampakkan wajah gelisah pada Rachel mengenai masalah pertama kali yang dihadapinya sampai membuat dirinya stress sepanjang hari. Erick sengaja tidak mau melakukan dinner romantis di restoran mewah langganannya karena suasana hatinya tidak ingin kencan dengan suasana romantis. Setelah makan malam di restoran dalam hotel bintang lima, sekarang mereka berpindah tempat di sebuah bar terlihat sepi pengunjung sehingga Erick bisa melampiaskan amarahnya sepanjang hari sambil menikmati minuman alkohol.


Melihat tingkah Erick tidak biasanya terus menampakkan wajah murung sejak makan malam tadi. Rachel sudah tidak bisa menahan rasa penasaran penyebab kegelisahan yang dialami Erick. Saat Erick ingin menuangkan segelas whisky lagi, Rachel langsung merebut botok whisky itu dan menaruhnya berjauhan dengan Erick.


“Sebenarnya kamu kenapa sih? Kalau ada masalah, ceritakan padaku deh!”


Helaan napas lesu dikeluarkan dari mulut Erick. “Hari ini aku membuat kesalahan. Baru pertama kali aku dimarahi Elliot karena aku bertindak ceroboh dalam hal mengurus dokumen penting. Dokumen penjualan bulan lalu yang sudah kusiapkan susah payah sampai kerja lembur tiba-tiba menghilang di mana pun. Bahkan hardcopy saja juga menghilang. Anehnya di rekaman CCTV, tidak ada yang menyusup ke ruanganku.”


Bahkan Rachel sendiri juga bingung memikirkan misteri dokumen menghilang sampai menampakkan kerutan di dahi. “Bagaimana bisa dokumen itu menghilang? Kamu pasang antivirus, kan?”


“Justru aku sengaja pasang antivirus paling mahal dan bisa diandalkan. Tapi, sebenarnya bukan karena virus komputer. Ada seseorang sengaja ingin mencelakaiku.”


Erick mengeluarkan ponsel miliknya lalu memperlihatkan sebuah pesan singkat dari nomor misterius mengenai sebuah ancaman halus.


Rachel membaca pesan singkat itu juga bingung, menggarukkan kepala. “Kamu sudah mencoba menghubungi nomor ini, ‘kan?”


“Nomor ini hanya sekali pakai. Mustahil kita bisa mengetahui orang yang mengirimkan pesan ini dengan mudah.”


“Tapi, kenapa ada orang sangat membencimu sampai melakukan perbuatan sejauh ini? Sebenarnya kesalahan apa yang telah kamu perbuat di kantor? Kamu pernah membentak pegawaimu?” Rachel mengembalikan ponsel milik Erick.


Erick memasukkan ponsel ke dalam jasnya. “Justru selama ini aku tidak pernah memarahi pegawaiku sendiri. Apalagi kalau mereka melakukan kesalahan, aku pasti meminta mereka merevisi laporan, tapi biasanya aku berbicara dengan baik. Tidak pakai bentak segala.”


“Lalu, sebenarnya siapa yang mengincarmu selama ini? Kalau bukan orang kantor, kenapa orang itu bisa mengakses ruanganmu dengan mudah?”


Erick kembali merebut botol whisky, menuangkan untuk gelas Rachel dan miliknya. “Aku tidak mau memikirkan masalah itu lagi. Bisa saja itu hanya orang iseng. Yang terpenting, aku ingin menikmati suasana malam bersamamu.”


Rachel tersenyum centil menyingkirkan gelas kaca miliknya, menempelkan bibir merahnya pada lekukan leher Erick dengan nikmat lambat laun, dibalas Erick juga meraba tulang selangkang Rachel menggunakan bibirnya, tidak peduli membuat Rachel tertawa geli merasakan kenikmatannya.


“Malam-malam begini jangan pikirkan masalah pekerjaan! Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membahas pekerjaan setiap berkencan denganku?” Rachel berkata dengan nada sexy.


“Mau lanjutkan di rumahku saja? Kamu tidak ngantuk?” Erick menyentuh dagu Rachel sengaja mendekatkan bibirnya pada bibir Rachel.


Rachel memundurkan kepala kemudian merangkul lengan Erick. “Aku sudah ngantuk, kita pulang saja sekarang!”


Seiring waktu berjalan, Elliot dan Vallerie sengaja berbuat berbagai trik usil membuat Erick semakin mengamuk. Entah dokumen menghilang lagi atau masalah lain ditambah surat ancaman selalu dikirimkan setiap hari, Erick sudah sangat muak rasanya ingin melaporkan hal penting ini pada ayahnya langsung.


Namun, setengah pikirannya juga ragu. Jika melaporkan hal ini kepada ayahnya langsung, mungkin ia akan semakin disiksa ayahnya karena masalah begini saja tidak bisa selesaikan dengan tangan sendiri. Maka dari itu, sudah seminggu berjalan, tetap saja ia masih berdiam dan terus memerintahkan asistennya mengawasi pergerakan pegawai apakah terlihat mencurigakan atau tidak selama ini.


Kerjaan Erick sepanjang hari ini adalah menggeser layar ponsel mengamati berbagai nomor tidak dikenal, terbukti orang yang sama mengirimkan pesan singkat ancaman mengenai hidup Erick akan sengsara suatu hari nanti. Erick masih bingung, sebenarnya siapa pelakunya? Tujuannya sebenarnya apa? Apa mungkin karena iri melihat pekerjaan Erick terlalu berjalan mulus dan selalu dikenal sebagai manajer bijak? Atau karena ingin merebut posisi manajer?


Hari ini ada rapat bersama Elliot mengenai laporan penjualan per kuartal. Saat Erick ingin mempresentasikan laporan yang sudah dibuatnya, entah kenapa tidak bisa dibuka dokumen itu tiba-tiba. Tertulis dokumen itu mengalami masalah.


Erick sangat mengamuk sampai rasanya ingin berteriak. Namun, mustahil ia melakukannya di hadapan pegawai sendiri. Terutama di hadapan Elliot dan Vallerie masih berekspresi wajah polos, meski sebenarnya mereka terus tertawa jahat di dalam hati sambil berpegangan tangan di bawah meja.


“Kakak, kenapa dokumen itu tidak bisa dibuka?”


“Entahlah. Padahal aku sudah yakin dokumen ini tidak ada masalah apa pun.” Erick menatap layar laptop panik, berusaha mencari solusi menyelesaikan masalah yang tidak pernah dihadapinya.


Elliot menunjuk layar proyektor. “Lalu, kenapa tertulis dokumen itu tidak bisa dibuka? Apakah kakak tidak menyiapkan dokumen cadangan lain?”


“Aku coba dulu!”


Saat Erick membuka dokumen itu di dalam penyimpanan cadangan, hasilnya juga sama. Entah kebetulan atau tidak, kenapa ia bisa mengalami masalah selama seminggu berturut-turut. “Tidak bisa dibuka.”


“Aduh, bagaimana ini! Aku padahal sudah penasaran laporan penjualan yang sudah kakak buat. Penjualan belakangan ini meningkat drastis, ‘kan?”


“Tapi, aku tidak bisa berbuat apa pun. Mungkin aku presentasikan melalui hardcopy saja. Untungnya aku bawa.” Dengan santai Erick memperlihatkan beberapa berkas dokumen yang sudah dicetak sebelumnya. Kali ini ia bertindak cerdas, Elliot sengaja membiarkannya karena tujuan sebenarnya bukan ingin merusak hasil kerja keras Erick.


Sorot mata Elliot dan Vallerie memandangi raut wajah beberapa anggota tim penjualan dan perancang busana satu per satu. Melihat Erick sampai diam-diam menggosipkan Erick dari belakang karena tidak biasanya Erick bertindak gegabah selama seminggu. Padahal sebelumnya Erick juga dikenal sebagai manajer perfeksionis selain bijak.


Inilah tujuan sebenarnya yang direncanakan Elliot dan Vallerie. Mempermalukan Erick di depan banyak orang, perlahan melepas topeng yang selama ini dipakai Erick untuk menutupi kebusukan sebenarnya.