
Hari ini agenda Elliot cukup padat karena ada beberapa rapat yang harus dilakukannya tanpa kehadiran Vallerie, sehingga Vallerie cukup bosan berada di dalam ruangannya sendirian selama berjam-jam.
Sebenarnya Vallerie tidak hanya berdiam di dalam ruangannya, tapi ia tetap menggali informasi mengenai identitas Elliot dan Erick di kehidupan ini. Cerita yang diungkit Elliot sebelumnya mengenai sempat mengalami trauma saat hampir diculik para orang dewasa sampai membuatnya melupakan identitas dirinya sendiri dan keluarganya, Vallerie masih penasaran apakah sejak dulu Elliot memang sudah menjadi target dibunuh? Tapi jika dipikir-pikir, usia Erick saat itu masih dibilang terlalu muda merencanakan hal kejam ini, apakah penculikan Elliot saat itu sungguh kebetulan?
Sambil menunggu suaminya selesai rapat, Vallerie melanjutkan menggambar sketsa rancangannya ditemani Aria. Sekarang Aria secara resmi menjadi asisten pribadinya di saat Vallerie kesepian. Lagi pula, sejak dulu Aria selalu memberikan pendapat setiap Vallerie menanyakan soal hasil rancangannya.
“Bagaimana menurutmu?” Vallerie memperlihatkan hasil sketsanya sudah terlihat sempurna.
Aria berdecak kagum sampai melotot. Tidak bisa berkata-kata selain mengacungkan jempol untuk atasannya. “Hasil rancanganmu sangat indah. Bahkan punyaku masih kalah jauh dari punyamu.”
“Aku ingin melihat punyamu, bolehkah?”
Seketika Vallerie melihat buku sketsa milik Aria, rasanya sangat sedih memikirkan momen di kehidupan sebelumnya. Padahal rancangan Aria yang ini terlihat sempurna tapi dihujat Sofia habis-habisan sampai Aria mengalami depresi selama berhari-hari. Sekarang Vallerie merasa lega melihat kehidupan Aria berubah juga berkat campur tangannya menjatuhkan Sofia demi tujuan yang sama.
“Gaunmu sangat bagus. Aku suka sekali.”
“Terima kasih, Vallerie. Hanya kamu satu-satunya teman yang selalu memuji rancanganku dan memberikan beberapa masukan. Aku jadi merasa tersanjung dan suatu kehormatan selalu diberi komentar positif dari istri Pak Elliot.”
Sebenarnya Vallerie tidak terlalu bahagia menjadi seorang istri direktur. Bukan berarti ia membenci Elliot karena terlahir keluarga kaya, tapi lingkungan kerja menjadi sedikit canggung karena sudah pasti pegawainya akan sangat menghormatinya dan selalu bicara bahasa formal. Terutama Aria merupakan sahabat terdekatnya di kantor sewaktu dulu, Vallerie selalu merasa tidak nyaman setiap gaya bicara Aria selalu kaku setiap berbincang.
“Aku ingin bercerita padamu. Aku sangat mengenalmu sejak dulu. Selain Elliot, kamu adalah teman yang selalu menghiburku di saat aku mengalami masalah. Begitu juga aku selalu menenangkanmu setiap kamu mengalami masalah besar setiap berhadapan Sofia.”
Vallerie mengatupkan bibir sambil menggenggam tangan kiri Aria dengan senyuman cerdas. “Kamu mempersiapkan semua senjata melawan Sofia sejak dulu, ‘kan? Maka dari itu, saat aku meminta bantuanmu mencarikan segala informasi mengenai dia, kamu langsung memberikan beberapa bukti yang kamu dapatkan meski tidak banyak.”
Aria mengangguk anggun sambil menyelipkan beberapa helaian rambut panjang ke belakang telinga. Ia sangat terkejut, tidak menyangka tebakan Vallerie sungguh tepat sasaran. “Sebenarnya aku sudah tidak tahan mendengar bentakan dia setiap tidak setuju dengan pendapatku. Maka dari itu, aku mencari celah untuk menyingkirkannya dari tempat ini. Padahal dia sendiri yang berbuat kejahatan. Tidak akan kubiarkan dia bisa hidup tenang setelah melakukan banyak dosa.”
Reaksi Vallerie bertepuk tangan pelan sambil menepuk-nepuk pundak kiri Aria. “Aku suka gayamu di kehidupan sekarang, Aria. Aku suka kamu sangat kuat menghadapi musuhmu.”
“Omong-omong, ada sesuatu penting yang ingin kubicarakan soal Erick.”
Raut wajah Vallerie berubah drastis seketika mendengar nama sang kakak ipar selalu membuat pikirannya langsung teringat adegan pembunuhan itu.
“Ada apa dengannya?” Vallerie tidak sabar mendengarnya, bisa jadi ada informasi tambahan dari Aria yang berguna akan menjadi senjata menghadapi Erick.
“Erick pernah menanyakan soal pekerjaanmu selama ini. Erick sangat penasaran apakah kamu sungguh bisa mengerjakan proyek besar ini bersama Elliot dan tim perancang busana saja. Lalu, apakah kamu menciptakan masalah atau tidak.”
Sekarang beban pikiran semakin bertambah. Sebenarnya apa tujuan Erick mengincarnya terus? Memang soal jabatan wajar karena iri, tapi kenapa harus bertindak sejauh ini? Rasanya Vallerie semakin tidak sabar mengungkapkan sifat busuk Erick sesungguhnya di hadapan semua orang. Supaya semua orang tahu bahwa Erick merupakan manajer bijak selama ini hanya memakai topeng saja.
Vallerie mengerutkan dahi. “Kapan dia menanyakan hal itu?”
“Saat kamu dan Elliot cuti hari Jumat.”
Benar dugaan Vallerie. Sejak ayah mertuanya mengungkit persoalan penyerahan jabatan suatu hari nanti, Erick pasti tidak akan berdiam saja. Apalagi Erick putra sulung dari pimpinan Clarity Star Company Limited. Mustahil sampai sekarang dan ke depannya belum meraih posisi itu.
“Aku ingin meminta bantuanmu. Kamu terus memantau pergerakannya saja. Kalau sampai dia berbuat aneh lagi, kamu bisa melaporkan langsung padaku.”
Akhirnya memasuki jam makan siang yang ditunggu-tunggu Vallerie setelah menahan lapar sekitar satu jam meski sudah mengemil cookies cokelat sempat dibelinya beberapa saat lalu.
Karena Elliot masih rapat, terpaksa Vallerie pergi duluan ke restoran tempat mereka berkencan sudah dipesan Vallerie secara khusus sebelumnya. Saat Vallerie ingin menempati kursinya, tidak sengaja ia melihat sosok Bertrand sedang melambaikan tangan dari kejauhan. Tentu saja Vallerie tidak akan bersikap sombong di hadapan temannya, langsung menghampiri temannya baru selesai menyantap makan siang sendirian.
“Kamu makan sendirian? Tidak ditemani suamimu?” Bertrand menyeka bibirnya sedikit kotor.
“Begitu rupanya. Aku mengira kalian mungkin ingin makan terpisah.” Pandangan Bertrand sedikit lesu dalam sekejap.
Vallerie tertawa terbahak mendengar gurauan Bertrand sangat konyol. “Mustahil, suamiku tipe pria sangat posesif. Aku sudah berjanji padanya, aku akan terus bersamanya setiap saat kecuali keadaan genting begini.”
Sebenarnya Vallerie sangat penasaran dengan Bertrand sejak dulu. Kenapa Bertrand selalu sendirian setiap berpapasan dengannya? Apakah Bertrand merupakan tipe pria sangat pemilih untuk memilih wanita yang akan dijadikan istrinya di masa depan? Lalu, kenapa Bertrand sempat menyatakan perasaan pada wanita sederhana seperti dirinya?
“Kamu makan sendirian lagi?” Vallerie berbasa-basi sekaligus memancing reaksi Bertrand akan seperti apa.
“Lebih seru makan sendirian daripada makan bersama temanku,” timpal Bertrand dengan percaya diri, membuat Vallerie semakin penasaran alasannya kenapa.
“Kenapa? Padahal menurutku, makan sendirian juga lama-kelamaan kita akan merasakan kesepian.”
Helaan napas lesu dikeluarkan dari mulut Bertrand. “Kamu ingat sewaktu aku menyatakan perasaanku padamu? Menurutku, saat itu aku lebih merasa kesepian dibandingkan makan siang sendirian.”
Hati Vallerie sedikit terkena setruman listrik mendengar isi hati Bertrand sebenarnya masih memiliki perasaan cinta sampai sekarang. Rasanya sangat berdosa menolak cinta Bertrand, tapi apa boleh buat Vallerie tidak mencintai Bertrand sama sekali, tentu saja ia memiliki hak menolak Bertrand entah di kehidupan sebelumnya atau sekarang.
“Maaf, kamu pasti masih sakit hati karena aku menolakmu waktu itu.”
Bertrand menggeleng pelan sambil menyesap secangkir teh hangat. “Aku sudah tidak menyimpan perasaan istimewa lagi padamu. Sekarang aku bertekad akan mencari wanita yang jauh lebih sempurna daripada kamu.”
“Benarkah? Aku jadi sedikit tersinggung mendengar perkataanmu seperti sedang menyindirku.” Dahi Vallerie mengernyit, baru pertama kali mendengar perkataan itu diucapkan dari seorang pria sepanjang hidupnya, meski hanya Elliot yang selalu memuji kehebatannya selama ini.
“Memang banyak orang berkata sebaiknya kita lupakan wanita masa lalu dan mencari wanita yang jauh lebih sempurna lagi. Masih banyak wanita di dunia ini belum mendapatkan pasangan, aku tinggal pilih salah satu dari mereka menjadikan sebagai istriku.”
Senyuman tipis terbit pada sudut bibir Vallerie. Akhirnya ia tidak perlu merasa bersalah lagi karena menolak Bertrand mentah-mentah padahal Bertrand adalah salah satu orang yang dipercayai juga.
Sedangkan Elliot baru tiba di restoran ini langsung disambut pemandangan tidak enak dilihat membuat tubuhnya sangat gerah sekarang. Sudah pasti ia marah melihat istrinya asyik berbincang bersama pria lain tanpa sepengetahuannya.
Langkah kakinya sangat lincah mendatangi meja ditempati Bertrand, sengaja memasang tatapan kejam seperti semula merusak suasana perbincangan sesama teman terlihat sudah terlanjur nyaman.
“Sayang, kenapa kamu duduk di sini?” Elliot sengaja menyapa dengan nada ketus, posisi tangannya melipat di dada.
Vallerie menunduk malu langsung berdiri menggandeng tangan suaminya terasa kaku seperti dari freezer. “Habisnya kamu lama sekali, jadinya aku berbincang dengan Bertrand sebentar.”
“Bukan karena kamu rindu berbincang dengannya?” Nada bicara Elliot semakin ketus sehingga suasana sekarang seperti perang di tengah badai pasir.
Vallerie sudah menduga suaminya pasti akan cemburu jika setiap bertemu pria lain. Awalnya ingin bersikap manis, sekarang tatapannya juga sebal. “Bisakah kamu jangan terlalu kekanak-kanakan? Padahal kami hanya berbincang biasa.”
Bertrand pun jadi merasa canggung menyaksikan perdebatan sepasang suami istri karena kehadirannya seolah-olah menjadi tembok penghalang hubungan mereka. Tidak ingin terlalu berlama di restoran ini dan sudah selesai makan siang juga, Bertrand terburu-buru memakai jas kerjanya kembali sambil mengeluarkan dompet dari saku jas bersiap ingin membayar tagihan makanan di kasir.
“Kalau begitu, aku kembali ke kantor sekarang. Aku tidak ingin merusak suasana kencan kalian,” pamit Bertrand.
“Tunggu sebentar!” Elliot menahan pundak Bertrand sedikit kuat sengaja menajamkan tatapannya membuat Bertrand semakin gugup.
“Ada yang ingin kamu bicarakan lagi?” Bertrand berbalik badan memaksakan ekspresi wajah polos, meski sebenarnya sangat gugup berhadapan dengan pria posesif.
Elliot memasukkan tangan kanan ke dalam saku celananya, menggerakkan kaki pelan membuat Bertrand melangkah mundur spontan. “Kenapa kamu selalu bermunculan setiap aku dan istriku sedang berkencan? Apakah kehadiranmu adalah suatu kebetulan?”