Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 49: Urusan Wanita



Sebelum tidur, masih ada utang yang harus dilunaskan Vallerie membicarakan sesuatu penting kepada suaminya. Masalah mengenai Aria yang masih belum terselesaikan karena ulah mulut sang suami tidak bisa dikendalikan saat berbicara. Sekarang Vallerie ingin suaminya bertanggung jawab atas semua kesalahan yang dilakukan mengakibatkan hubungan antar pegawai hancur.


Vallerie sudah menduduki ranjang dengan wajah dingin, melipat kedua tangan di dada menunggu suaminya selesai membersihkan diri sudah berlangsung beberapa menit.


Saat Elliot sudah menampakkan batang hidung keluar dari kamar mandi, sudah langsung disambut tatapan dingin istrinya membuat tubuhnya sedikit merinding.


Perlahan melangkah menuju ranjang, kemudian duduk di sebelah istrinya dengan tatapan gugup dan berwajah polos. “Sayang … kamu kenapa menatapku begitu?”


“Renungkan kesalahan apa saja yang kamu perbuat selama ini!”


“Aku tidak pernah berbuat kesalahan lagi padamu. Tadi sore aku sudah bawakan cookies untukmu. Apakah sikapku terkadang galak membuatmu merasa tidak nyaman?”


Tidak ada balasan dari istrinya. Elliot teringat dirinya sibuk rapat sehingga tidak bisa bermanja dengan istrinya hari ini. Apa karena alasan itu penyebab istrinya mengambek?


“Kamu marah karena kamu kesepian selama aku rapat?”


Vallerie berdecak kesal mencubit lengan suaminya sekuat tenaga.


“Aduh, sakit!” Elliot mengelus lengannya bekas dicubit.


“Kamu sudah merusak hubungan Jordan dan Aria. Tega sekali kamu secara tidak langsung menyakiti perasaan Aria! Tadi pagi wajah Aria sangat murung saat berdiskusi soal proyek denganku.”


Dahi Elliot mengernyit, ternyata pemikirannya berbeda jauh dibandingkan fakta. “Apa?”


“Ini akibat kamu bilang akan menjodohkan Jordan dengan wanita lain! Pokoknya kamu harus bertanggung jawab!”


“Tapi, maksudku bukan itu. Kalian semua salah paham. Aku justru ingin menjodohkan Jordan dengan Aria!” Elliot berwajah polos menutupi wajahnya dengan bantal.


“Benarkah?” Entah kenapa Vallerie masih sulit memercayai perkataan Elliot.


“Kalau tidak percaya, kamu harus cium aku!”


Vallerie mendekatkan bibirnya menuju bibir suaminya. Dengan senyuman centil mengusap bibir suaminya menggunakan jempol tangan, justru sengaja menggunakan trik ini untuk membuat suaminya semakin gugup. “Aku percaya. Maka dari itu, aku tidak perlu menciummu. Kamu kecewa?”


“Aku sangat kecewa, Vallerie!”


Bukan Vallerie yang mencium duluan, justru Elliot langsung menancapkan gas menautkan bibirnya dengan bibir indah Vallerie sambil membaringkan tubuh Vallerie perlahan di ranjang. Dalam posisi tubuhnya sendiri tengkurap di hadapan Vallerie, sejenak melepas tautan bibir mengambil jeda napas terlebih dahulu.


“Baiklah, besok aku akan memikirkan cara supaya hubungan Aria dan Jordan kembali seperti semula. Kamu puas?” Elliot meraba lekukan leher Vallerie sekilas.


Vallerie tertawa usil. “Aku masih belum puas.”


Elliot tahu maksud istrinya apa. Perlahan memajukan bibir sexynya sekarang sangat berbeda tipis dengan bibir Vallerie. “Jawaban yang sangat aku inginkan.”


Sepasang bibir kembali bertautan indah, saling meraba tubuh satu sama lain dan berguling-guling di ranjang karena terlalu bergairah melakukan ciuman semakin panas, terutama jari jemari Elliot ingin berbuat usil melucuti gaun tidur yang dipakai Vallerie. Tapi karena besok mereka harus bekerja, mustahil mereka melakukan banyak aktivitas di malam hari.


Tidak biasanya bangun tidur lebih awal. Rachel berniat ingin memasak sarapan, tapi lagi-lagi perutnya terasa campur aduk padahal semalam sudah sengaja tidak pesan minuman alkohol. Kali ini Rachel berlari ke kamar mandi memuntahkan seisi perutnya.


Erick langsung terbangun dari dunia mimpi berlari memasuki kamar mandi dan memeluk tubuh Rachel terus merinding sambil menahan perutnya terasa nyeri akibat dipaksakan muntah.


Pandangan Rachel sedikit kabur, tapi berkat pelukan kekasihnya berhasil membuat dirinya tersadar kembali, tapi napasnya masih sedikit tidak stabil.


“Rachel … kamu mual lagi?”


Rachel bernapas tersengal-sengal. “Aku tidak tahu kenapa belakangan ini aku selalu mual. Maaf, aku membangunkanmu pagi-pagi begini.”


“Untung saja kamu tidak tinggal sendirian di apartemenmu. Kalau kamu tinggal sendirian, siapa yang akan menjagamu nanti.”


Sejenak Rachel memijit pelipis. “Tapi … aku merasa aneh. Aku sudah tidak minum alkohol dan kemarin aku tidur cukup. Kenapa aku masih mual begini?”


Erick tahu alasannya kenapa. Sekarang semakin percaya diri merasakan firasat Rachel sungguh hamil. Tapi sengaja tidak mau memberitahukan secara langsung sampai hasil testpack menampakkan garis dua. Betapa bodoh ia masih belum membelikan alat itu untuk Rachel.


Napas Rachel kembali normal. Namun, tubuhnya masih lemas duduk bersandar di dada Erick. “Aku sudah tidak mual. Kamu masak sarapan dulu saja.”


“Kalau kamu merasa mual lagi, kamu harus panggil aku.” Erick mengelus kepala Rachel sekilas sambil membantu Rachel berjalan kembali menuju kamar.


Erick sibuk masak di dapur, sedangkan Rachel masih di dalam kamar sedang mengeluarkan sesuatu dari mini bag. Sebuah testpack yang sudah dibelinya kemarin, sengaja ia menyimpannya karena masih agak ragu gejala mual yang dialaminya belakangan ini karena hamil. Rachel memandangi alat testpack sedikit lesu sambil mengelus perut masih terlihat sexy dengan lekukan postur tubuh ideal yang selalu menggoda Erick.


“Apakah … aku sungguh hamil?”


Pasangan Elliot dan Vallerie sudah tiba di kantor lebih awal. Kali ini Elliot dan Vallerie sengaja mengajak Jordan mengunjungi taman kantor, sebenarnya ada rencana tersembunyi yang ingin dilakukan mereka terhadap Jordan yang berwajah murung juga belakangan ini. Elliot semakin merasa bersalah, sekarang yang bisa dilakukannya adalah memperbaiki kesalahannya sebelum menambah masalah semakin besar.


“Jordan, kamu masih ingat wanita yang akan aku jodohkan denganmu?”


“Masih ingat. Tapi sebenarnya aku tidak terlalu tertarik pada wanita lain.” Jordan menunduk lemas mengingat hubungannya dengan Aria terlihat hancur karena keegoisannya.


“Benarkah? Kamu yakin tidak menyesal dengan keputusanmu barusan? Padahal wanita yang ingin aku jodohkan denganmu adalah ….” Tatapan Elliot tertuju pada Aria baru saja mendatangi taman ini dengan wajah gugup.


Aria tersenyum malu, akhirnya langkah kakinya terhenti tepat di hadapan Jordan menggenggam tangan kanan Jordan.


Elliot tersenyum angkuh. “Bagaimana? Kamu masih menyesal?”


“Tidak. Aku tidak menyesal sama sekali. Wanita ini cantik sekali seperti yang kamu bilang sebelumnya.” Senyuman bahagia terukir pada wajah Jordan, tangan kanannya mengelus kepala Aria lambat laun.


“Baiklah, kalian selamat bersenang-senang. Aku dan istriku mau masuk dulu.”


Vallerie dan Elliot berjalan bergandengan tangan girang sepanjang taman. Melihat asisten mereka kembali berbaikan, mereka juga turut bahagia. Terutama Elliot terlalu bahagia sampai tidak bisa menahan bibirnya mengecup pelipis istrinya sekilas.


Vallerie sedikit terkejut diberi ciuman tiba-tiba, tapi justru membuat suasana hatinya semakin bermekaran lalu membalas ciuman itu di pipi suaminya. “Terima kasih sudah mendengarkan saranku.”


“Padahal aku sengaja tidak mau memberitahukan rencanaku terang-terangan. Akhirnya gagal juga karena kamu kecewa padaku.”


“Habisnya aku tidak tahan melihat Aria selalu murung setiap bekerja.”


“Urusan mereka sekarang sudah selesai, kamu tidak membenciku lagi?” Elliot memajukan kepala mendekati wajah Vallerie.


Vallerie tertawa gemas. Menghentikan langkah kaki mengelus kepala Elliot penuh kasih sayang. “Aku semakin mencintaimu.”


“Kamu jangan menggombalku dulu! Di sini panas, nanti aku semakin kepanasan!” Elliot mengibaskan kerah jas mahal dipakainya.


“Biarkan saja. Bukankah kamu suka aku menggombalmu?”


“Sebagai gantinya aku mau mengajak kamu kencan nanti siang.”


Drrt…


Vallerie merasakan getaran ponsel menampakkan sebuah notifikasi pesan singkat dari Rachel muncul pada layar ponsel.


“Vallerie, nanti siang bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Tanpa mengajak suamimu. Ini urusan wanita.”


Baru saja ingin mengiyakan kencan sudah diganggu. Apakah ini karma karena telah merusak kencan Erick dan Rachel sebelumnya?


“Maaf, nanti siang aku harus makan siang bersama Rachel,” desis Vallerie sambil membalas pesan singkat Rachel.


“Apakah dia masih dendam pada kita karena waktu itu aku merusak kencan mereka?” Elliot menggerutu menggaruk kepala kesal.


“Yang pasti aku harus bertemu dengannya hanya berdua saja. Kamu tidak boleh ikut campur urusan wanita.”


Saat makan siang bersama Rachel, Vallerie sedikit bingung melihat semua menu makanan yang dipesan Rachel tidak terlalu banyak dan kebanyakan makan sayur-sayuran atau sup. Terutama Rachel yang biasanya suka minum champagne atau whisky, sudah dua hari berturut-turut memesan minuman teh herbal.


Rachel tersenyum tipis. “Maaf, aku hanya memesan makanan ini saja.”


“Tidak apa-apa. Tapi, kenapa kamu hanya mengajakku makan? Kenapa tidak ajak Elliot dan Erick? Apa karena hal lain yang tidak boleh diketahui mereka?” Sebenarnya Vallerie sengaja berbasa-basi. Mau menguji jawaban apa yang akan diberikan Rachel, jika dilihat wajah Rachel sedikit pucat meski sudah dipoles berbagai riasan wajah.


Embusan napas lesu dikeluarkan dari mulut Rachel. “Sepertinya aku hamil.”


“Apa?!” Bola mata Vallerie membulat sambil menutup mulut dengan anggun.


“Belakangan ini aku terus mual dan setiap bersama Erick, entah kenapa aku sulit melepaskannya.”


“Tapi … kamu kan belum menikah, bagaimana bisa?”


Kepala Rachel sedikit menunduk. “Selama ini aku tidur bersama Erick dan beberapa saat lalu aku melakukan kesalahan dengannya sebelum dia melamarku. Alasan Erick melamarku bukan karena aku hamil di luar nikah, tapi memang cinta kami sudah sangat matang untuk melanjutkan hubungan kita lebih dalam lagi.”


Vallerie sampai tidak berselera makan akibat dikejutkan kabar baik seperti ini. Namun, di satu sisi, ia masih penasaran apakah orang tua kedua belah pihak merestui hubungan Rachel dan Erick setelah mendengar kabar baik ini?


“Memangnya kamu sudah pakai testpack?”


Rachel menggeleng. “Belum sih. Tapi aku sudah beli buat jaga-jaga. Kalau besok aku muntah lagi, aku harus melakukan tes.”


“Tapi, kamu yakin kamu sungguh hamil? Siapa tahu kamu memang tidak enak badan.”


Rachel mengangguk dan memasang wajah memelas pada Vallerie. “Aku sedikit yakin. Karena gejala yang kualami selama ini adalah gejala seorang wanita hamil. Karena kamu adalah adik iparku, aku hanya menceritakan hal ini padamu. Tolong kamu rahasiakan perbincangan kita dari Elliot dan Erick.”


Vallerie tersenyum tipis menggenggam tangan kanan Rachel. “Aku pandai menjaga rahasia, tenang saja.”


Drrt…


Tiba-tiba muncul sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar ponsel Vallerie. Vallerie sedikit terkejut seketika membaca pesan ini dari musuh utamanya.


“Kamu masih ingat hari ulang tahunku? Aku ingin kamu merayakannya bersamaku.”