Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 10: Pengusir Mimpi Buruk



Sedangkan di sisi lain, Elliot dan Erick menikmati minuman alkohol di salah satu bar ternama di kota ini setelah melakukan rapat cukup lama membahas persoalan proyek terbaru. Sebenarnya mereka sangat jarang berinisiatif ingin berkumpul seperti ini, karena hubungan mereka sejak dulu tidak pernah akur. Elliot sebenarnya tahu maksud tujuan berkumpul adalah ingin membicarakan sesuatu menyinggung lagi.


Kejadian tadi siang saat Erick melaporkan soal Vallerie yang bertanggung jawab atas proyek besar, sebenarnya Elliot tahu maksudnya itu sedang menekankan Vallerie bertindak seenaknya di hari pertama bekerja. Begitulah sikap Erick selalu bermulut manis di hadapan semua orang, sehingga membuat semua orang berprasangka baik padanya, sedangkan Elliot selalu dikenal direktur sangat tegas dibandingkan kakaknya selalu baik.


Elliot membuang pandangannya memilih menikmati pemandangan sekelilingnya, tempat duduk bar dipenuhi semua pengunjung sebagian besar berasal dari keluarga kalangan atas.


“Kamu tahu sebenarnya aku malas minum bersamamu.” Erick tertawa remeh menyesap bir miliknya berkadar alkohol paling rendah.


“Maka dari itu, aku tidak suka berbasa-basi dengan kakak. Sebenarnya ada apa lagi yang kakak ingin bicarakan denganku? Membuang waktuku saja!” Elliot menyesap sedikit bir bersikap angkuh.


“Menurut kamu, apakah Vallerie adalah wanita baik?”


Alis Elliot terangkat sebelah. Mendengar nada bicara Erick bermaksud ingin berkata kasar, apalagi menyeret nama sang istri, sudah pasti darah Elliot langsung mendidih. “Kakak sedang menyindir istriku?”


“Lihat saja, baru hari pertama bekerja sudah bersikap seenaknya ingin mengambil alih proyek. Dia memang tidak ada etikanya!”


BAMM


Elliot semakin mengamuk menggertakkan meja dengan kasar sehingga mengejutkan beberapa pengunjung duduk di dekatnya ikut terkejut. Elliot sakit hati mendengar istrinya dijelek-jelekan. Meski tadi siang ia sempat berkata hal yang sama, sebenarnya ia tidak bermaksud mengucapkannya.


“Jaga ucapan kakak!” Elliot mengulurkan jari telunjuk menunjuk wajah Erick.


“Kenapa kamu marah tiba-tiba? Bukankah tadi siang kamu juga memarahinya karena memang dia sangat keterlaluan?” Erick bingung dengan perubahan sikap adiknya cukup drastis dalam sehari.


“Tapi, kakak tidak berhak mengatakannya tidak memiliki etika! Memang sikap istriku sedikit egois, tapi dia tidak pantas diberi ucapan negatif!”


Sejenak Erick melipat kedua tangan di dada, merasa aneh dengan perubahan sikap adiknya. “Sikapmu sedikit aneh. Apa mungkin karena kamu mudah terpengaruh rayuannya?”


Elliot merasa semakin gerah, melonggarkan lilitan dasi sambil menyesap segelas bir kecil sedikit terburu-buru. “Sudah kuduga kakak sengaja mengajakku ke sini pasti ingin mencari kelemahanku. Tenang saja, aku tidak akan mewarisi perusahaan ayah. Aku ingin membangun perusahaanku sendiri.”


Erick tertawa remeh sambil mencengkeram lengan kiri Elliot sedikit kasar. Elliot sedikit kesakitan, tapi ia berusaha menahannya supaya terlihat tetap kuat. Apalagi menyindir istrinya, Elliot juga ingin melakukan perbuatan yang sama seperti dilakukan Erick.


Dengan tatapan kejam, Elliot menarik kerah kemeja Erick. “Awas saja kakak berani menyeret nama Vallerie! Aku akan mematahkan leher kakak dulu!”


“Maka dari itu, bujuk istrimu sebaik-baiknya supaya dia tidak bertindak seenaknya. Padahal dia hanya asistenmu.” Erick melepas cengkeraman dengan kasar.


“Aku sangat mendukung keinginannya. Kakak tidak berhak mengaturnya!” Elliot juga melepas cengkeraman tangannya.


“Bukankah kamu agak membencinya? Sebenarnya aku tahu kamu sebenarnya tidak mencintai Vallerie. Jika dilihat hubungan kalian sangat kaku. Kalian tidak bisa membodohiku!” sarkas Erick sehingga rasanya Elliot ingin menonjok habis-habisan.


“Aku tidak pernah membenci Vallerie. Dalam lubuk hatiku yang tulus, meski terkadang aku sebal dengannya, tapi aku tidak bisa membencinya. Maka dari itu, kakak jangan sembarangan menilai hubungan kami!”


Berdebat cukup lama di bar membuat Elliot merasa muak. Ia melampiaskan kemarahannya saat perjalanan menuju rumah. Memukuli setiran mobil dan berteriak kasar merupakan salah satu kebiasaannya setiap bertengkar dengan Erick. Sebenarnya, ia ingin mencurahkan isi hatinya pada Vallerie, namun seperti biasa ia selalu jual mahal dan tetap menyimpan rahasia sampai dadanya sesak.


Baru menginjak kaki di ruang tamu sudah disambut pemandangan Vallerie tertidur lelap di sofa ruang tamu karena kelamaan menunggunya pulang.


Rasa bersalah berkali-kali lipat timbul dalam dirinya. Perlahan Elliot melangkahkan kaki menghampiri sang istri tidur merengkuh tanpa dibungkus selimut, kemudian lengannya spontan menggendong tubuh lentik ini menaiki tangga menuju kamar.


‘Seharusnya kamu tidak perlu menunggu aku pulang. Kamu memang keras kepala.’


Elliot membaringkan tubuh Vallerie perlahan di ranjang, kemudian menyelimuti tubuh Vallerie dengan selimut sampai menutupi leher.


Sepasang mata gagah merasa terganggu melihat kancing piyama istrinya terbuka satu. Tangannya perlahan mengancing piyama kemudian berpindah meraba dahi istrinya sedikit berkeringat.


‘Ceroboh. Nanti kamu bisa sakit.’


Seketika ia ingin membersihkan diri tubuhnya sedikit lengket karena banyak beraktivitas sepanjang hari, tiba-tiba timbul suara erangan berasal dari bibir indah istrinya. Terlihat sang istri masih tertidur lelap tapi bibirnya terus bergerak dengan penuh kegelisahan.


“Elliot … jangan tinggalkan aku.” Air mata berlinang menetes pada kelopak mata Vallerie.


Deg..


Mendengar namanya dipanggil dengan suara parau, hati Elliot entah kenapa rasanya sangat perih mendengarnya. Apa yang dikatakan Vallerie seolah-olah seperti sedang memperingatkannya dengan lembut.


Kaki Elliot rasanya sulit beranjak dari ranjang. Lengan kekarnya mendekap tubuh Vallerie terasa sangat tegang kemudian menempelkan bibir di kening Vallerie selama beberapa detik. Sebenarnya ia tidak bermaksud mencium, tapi ia berniat menenangkan Vallerie sedang terjebak di dunia mimpi buruk. Bisa dikatakan sebagai permintaan maaf karena sudah membentak habis-habisan tadi siang.


“Aku ada di sini, Vallerie. Aku akan jadi pengusir mimpi burukmu,” ucapnya lembut.


Tidak disangka ia bisa mengucapkan perkataan manis itu dari mulutnya selalu pedas. Semakin bingung kenapa ia bisa mengucapkan perkataan itu. Apakah dari hatinya? Bisa jadi karena hati, karena saat memeluk Vallerie, Elliot merasa sangat nyaman dengan kehangatan tubuh Vallerie sampai membuatnya tidak ingin melepas pelukan.


Namun, triknya itu justru berhasil membuat Vallerie kembali tersenyum manis. Perlahan Vallerie membuka matanya menyambut kedatangan suaminya akhirnya pulang setelah berjam-jam menunggu.


“Seharusnya kamu langsung tidur di kamar saja. Kamu membuatku merasa semakin berdosa membiarkanmu menunggu aku sampai ketiduran di sofa.” Elliot mempertegas sambil meremas selimut dengan tangan gemetar.


Vallerie menggeleng pelan dan mengelus pipi Elliot dengan ekspresi wajah berseri-seri karena berkat kecupan manis yang diberikan Elliot berhasil membuatnya terlepas dari mimpi buruk. Bahkan sebenarnya ia tidak menyangka Elliot akan berinisiatif melakukannya jika dilihat situasi tadi siang sangat mencekam.


“Terima kasih sudah menjadi pengusir mimpi burukku, Elliot.”


Rona merah menyala pada pipi Elliot. “Kamu … mendengar perkataanku?”


“Tidak sih. Tapi apa yang kamu lakukan tadi sama seperti sebelumnya. Setiap aku bermimpi buruk, kamu berhasil menenangkanku.”


Sorot mata Elliot sedikit lesu memandangi mata istrinya sedikit bengkak akibat menangis tadi. Jempol kanannya mengusap kelopak mata istrinya sedikit basah lambat laun. “Kamu bermimpi aku meninggalkanmu?”


Raut wajah Vallerie kembali lesu. Membayangkan kembali mimpi buruknya mengenai insiden kecelakaan yang dialami suaminya sampai tewas. Tubuhnya semakin kaku, dengan tangannya gemetar ingin meraih tangan suaminya.


Elliot langsung peka. Ia semakin mempererat pelukan memberikan kehangatan untuk tubuh istrinya dipenuhi keringat dingin. Entah kenapa ia merasa sering melakukannya sebelumnya dan ia penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi padanya sehingga belakangan ini selalu merasakan déjà vu.


Senyuman manis kembali terbit pada wajah Vallerie. Hatinya semakin terngiang-ngiang mendapatkan kasih sayang dari suaminya berkali-kali lipat seperti sebelumnya.


“Kamu masih takut?” Elliot bertanya dengan nada lembut.


“Cara kamu memelukku sama seperti sebelumnya. Aku sangat nyaman, mungkin aku akan bermimpi indah setelah ini.” Vallerie melingkarkan kedua lengannya manja, rasanya semakin ingin memaafkan perbuatan buruk suaminya tadi.


“Kalau begitu, aku ingin meminta izinmu dulu.”


Dahi Vallerie mengernyit. “Minta izin apa?”


“Bolehkah aku tidak mandi? Entah kenapa aku sudah terlanjur nyaman memelukmu seperti ini.”


Vallerie tertawa lepas mendengar betapa polosnya suaminya yang biasanya selalu bersikap kasar, sekarang sikapnya berubah drastis menjadi menggemaskan. Vallerie sangat penasaran, apakah perubahan sikap suaminya dipengaruhi oleh sepotong ingatan perlahan pulih lagi?


“Tentu saja boleh. Tubuhmu tidak bau, aku suka aroma tubuhmu.”


Elliot tertawa kecil. “Baiklah, aku akan memelukmu sampai kamu sungguh tenang. Melihatmu seperti tersiksa, aku merasa sakit hati sebenarnya.”


Sebenarnya Vallerie lebih mengharapkan dipeluk sampai besok pagi. Namun, apa boleh buat ia harus menunggu sabar sampai Elliot sungguh mencintainya sepenuhnya.


“Bolehkah aku meminjam tanganmu? Aku kesulitan tidur tanpa bersentuhan denganmu.” Perlahan Valerie mengulurkan tangan kanan meraih tangan kiri suaminya.


“Bukankah tadi kamu menungguku sendirian sampai ketiduran?” Elliot berkacak pinggang.


Lagi-lagi Vallerie agak kecewa melihat suaminya bersikap cuek. “Bisakah kamu sedikit peka? Aku baru mengalami mimpi buruk. Sesulit itukah membiarkanku menyentuhmu?”


Justru yang dilakukan Elliot bukan mengulurkan tangan. Tapi lebih cenderung mendekap tubuh Vallerie dalam kondisi terbaring di ranjang membuat bola mata Vallerie terbelalak. Ia tidak menyangka realita di luar dugaannya.


“Kamu bisa bermimpi buruk lagi kalau hanya menggenggam tanganku. Biarkan aku memelukmu sampai kamu tidur nyenyak,” bisik Elliot dengan nada manis.


Perlahan Vallerie melingkarkan lengannya erat di punggung lebar suaminya. “Bukankah … kamu berjanji tidak akan memelukku selama belum mencintaiku?”


“Entah kenapa hari ini aku ingin memelukmu terus. Apalagi masalah tadi siang, aku masih merasa bersalah.”


“Masalah itu sebaiknya—”


Tiba-tiba ada sepotong ingatan kembali terlintas di pikiran Elliot. Kali ini menampakkan adegan saat dirinya sedang menenangkan istrinya saat mengalami mimpi buruk cukup parah sampai trauma. Di dalam potongan ingatan itu, Elliot menenangkan istrinya dengan segala cara sampai membuat istrinya kembali tersenyum girang.


Potongan ingatan itu berakhir sekilas. Tanpa disadari air matanya terus membanjiri kelopak mata sampai napasnya sedikit sesak.


“Vallerie ….” Elliot semakin mempererat pelukan sampai membuat Vallerie ikut cemas.


“Ingatanmu … kembali lagi?” Sekarang giliran Vallerie menepuk-nepuk punggung lebar Elliot berirama.


Elliot tidak bisa menjawab. Kepalanya kini terasa seperti ditinju berkali-kali. Dengan segala cara memijit pelipis tetap tidak efektif.


Satu-satunya cara menenangkan hati Elliot, Vallerie mengecup pelipis Elliot selama beberapa detik. Akhirnya senyuman tipis kembali terpampang pada wajah tampan Elliot. “Sejujurnya, selama ini aku sering bermimpi buruk. Aku selalu memimpikan hal yang sama seperti … nyawaku dalam bahaya.”


Vallerie membelalakan mata mengangkat kepala menatap raut wajah suaminya lesu. Sebenarnya suaminya pernah menceritakan soal mimpi buruk saat sebelum menikah, tapi tidak secara rinci. Entah kenapa Vallerie merasakan mimpi buruk dialami suaminya itu seperti sebuah peringatan.  “Jangan-jangan ….”


Elliot berusaha tetap mempertahankan senyumannya, tangan kanannya mengelus pipi istrinya. “Sejak aku menikahimu, aku tidak pernah bermimpi buruk lagi. Kamu juga pengusir mimpi burukku. Maka dari itu, sekarang aku ingin membalas kebaikanmu.”


Elliot semakin mempererat pelukan, tidak peduli istrinya kesulitan bernapas. “Aku akan menemanimu tidur, Vallerie. Aku tidak suka melihatmu bermimpi buruk. Terutama aku tidak suka kamu memimpikan aku meninggalkanmu.”