
Urusan Erick sudah terselesaikan. Kini Elliot dan Vallerie akhirnya bisa berkencan seperti biasa tanpa perlu memedulikan persoalan pembunuhan dulu. Hari ini Elliot mengajak Vallerie mengunjungi sebuah taman bunga merupakan salah satu tempat kencan favorit Vallerie di kehidupan sebelumnya.
Di kehidupan sebelumnya, taman bunga ini terlihat ramai saat dua tahun kemudian, karena diadakan sebuah flower festival memperlihatkan berbagai aneka bunga dan juga banyak orang berjualan di sepanjang taman seperti menjual aksesoris wanita, photobooth, makanan camilan, dan masih banyak lagi. Mengingat masa itu, Elliot ingin kembali menciptakan kenangan indah lagi meski suasana sedikit berbeda.
Vallerie tampak kegirangan berjalan bergandengan tangan bersama suaminya mengamati flower bed berwarna-warni satu per satu. Sebenarnya tangan kanannya sudah gatal ingin memetik bunga mawar, tapi mustahil ia melakukannya karena ini tempat umum dan tidak ada sarung tangan melindunginya dari batang berduri.
“Kamu mau aku petik bunga mawar?” Elliot menawarkan tiba-tiba, membuat bola mata Vallerie membulat, tidak disangka suaminya memang sangat peka dalam hal urusan ini.
Vallerie membuang muka, meski suaminya peka terhadap keinginannya tapi ia merasa sungkan. “Tidak mau!”
“Benarkah? Tapi aku merasa kamu seperti menginginkan bunga mawar deh.”
“Aku tidak suka bunga mawar!”
Elliot memicingkan mata, memikirkan bunga kesukaan istrinya selain mawar warna-warni. “Kalau begitu, aku ingin petik bunga matahari. Dari dulu kamu sangat suka bunga matahari.”
Vallerie merentangkan kedua lengannya lebar berwajah cemberut. “Aku tidak mau kamu petik bunga apa pun.”
“Jangan jual mahal di hadapanku! Aku tahu sebenarnya kamu ingin bunga dariku.” Tatapan mata Elliot menyipit, perlahan mendekatkan wajahnya pada hidung Vallerie.
“Padahal sebelumnya sikapmu lebih parah. Kamu selalu gengsi dan jual mahal setiap aku mengajak kencan di tempat sederhana, kamu selalu mengeluh ingin pergi ke tempat mewah.” Wajah Vallerie cemberut, berbalik badan langsung menghindari tatapan suaminya sekarang sedang menggodanya.
“Kalau begitu, aku petik saja. Pasti kamu sangat suka.”
Saat Elliot ingin memetik satu tangkai mawar merah, Vallerie langsung menahan tangan kanannya erat. “Sudah kubilang jangan! Kenapa sih kamu keras kepala? Aku khawatir tanganmu terluka karena sembarangan petik tanpa memakai sarung tangan.”
“Kamu lupa? Jariku ini kebal terhadap apa pun. Mau kena benda tajam apa pun pasti tidak akan sakit.” Elliot mengedipkan mata kanan sekilas sambil memperlihatkan tangannya mulus.
“Taman ini adalah tempat wisata. Tidak boleh sembarangan petik bunga di sini!”
Elliot memutar bola mata bermalasan. Entah kenapa istrinya semakin jual mahal padahal sebenarnya sangat menginginkannya. Elliot sudah sangat mengenal karakter Vallerie sejak dulu tidak pernah berubah. “Jadinya, kamu mau bunga tidak sih? Dari tadi kamu seperti mencari segala alasan seolah-olah menolak tawaranku.”
“Sebenarnya mau, tapi aku tidak mengizinkan kamu petik bunga sembarangan di tempat seperti ini! Kamu mau diviralkan di media sosial karena sembarangan petik bunga di taman umum?” Vallerie mencubit pipi suaminya sedikit bertenaga.
“Aku tahu satu tempat umum memperbolehkan semua pengunjung memetik bunga sesuka hati mereka. Di area taman ini tapi dalam toko. Kamu mau ke sana?”
Kali ini Vallerie tidak perlu menolak lagi. Kepalanya mengangguk bersemangat mengayunkan tangan kanan suaminya. “Aku sudah malas mencari alasan lagi. Sudah pasti aku mau petik bunga bersamamu.”
Toko bunga ini menyediakan berbagai jenis bunga sudah disusun rapi di flower bed. Selain itu, juga menyediakan fasilitas duduk bersantai sambil minum kopi atau menyediakan photobooth khusus untuk para sepasang kekasih ingin berfoto bersama.
Karena situasi toko bunga ini masih sepi, kesempatan bagus untuk Elliot menikmati kencannya tanpa diganggu siapa pun, apalagi sejak dulu ia ingin berkencan di sini tapi tidak pernah tercapai keinginannya karena sibuk bekerja atau hal lainnya.
Kali ini Vallerie membiarkan suaminya petik bunga untuknya. Namun, kedua mata sengaja dipejamkan sesuai arahan sang suami ingin memberikan kejutan manis untuknya. Sambil berjalan dalam kondisi mata terpejam, tangan kanannya menggandeng tangan kiri suaminya. Rasa penasaran semakin membara ingin membuka kedua matanya langsung.
“Sayang, mau sampai kapan aku harus tutup mata?”
Elliot merespons tertawa usil. “Sampai aku mengizinkan kamu buka mata.”
Vallerie hanya bisa memanyunkan bibir. “Kalau kamu mengizinkan aku buka mata besok? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan? Aku tetap harus menurutimu?”
Tawa lepas sangat dahsyat memancing petugas toko bunga langsung memelototi Elliot dari kejauhan. Elliot tidak peduli mau digosipkan seperti apa, ia sangat gemas melihat ekspresi wajah istrinya seperti anak kecil sedang merengek.
Sambil menggenggam beberapa tangkai bunga, Elliot mengecup pipi Vallerie sekilas, sehingga hampir saja mata Vallerie terbuka akibat terkejut menerima asupan manis tiba-tiba. “Sayang! Hampir saja aku buka mataku.”
“Supaya kamu tidak merasa bosan karena tidak bisa melihat wajah tampanku.”
“Sudah cukup! Jadinya, kamu sudah selesai petik bunga belum?” Rasanya sepasang mata semakin gemetar dan gatal ingin terbuka lebar melihat kejutan apa yang akan diberikan suaminya sampai bertindak heboh.
“Sebentar lagi. Kamu pasti suka buket bunga buatanku.” Elliot memetik satu tangkai bunga mawar berwarna pink.
Cukup banyak memetik beraneka bunga mawar dengan nuansa warna-warni. Elliot sengaja tidak mau orang lain yang bantu membuatkan buket bunga. Elliot menempati sebuah kursi mulai menyusun semua bunga yang dipetiknya kemudian membungkus kumpulan bunga mawar menggunakan kertas berwarna cokelat muda. Tidak lupa ia sengaja memilih pita berwarna merah dicampur pink merupakan warna favorit Vallerie.
Masih belum selesai. Elliot menuliskan sebuah ucapan isi hatinya di kartu ucapan yang sudah disediakan dan dipilihnya dengan model unik. Terlihat dari kejauhan isi ucapan itu cukup panjang, kemudian memasukkan ke dalam sebuah amplop kecil berwarna cream dihiasi stiker hati untuk menutup amplop. Elliot menyelipkan kartu ucapannya di antara kumpulan bunga mawar lalu memposisikan tubuhnya berlutut di hadapan sang istri.
“Kamu sudah boleh buka mata, Sayang.”
Perlahan Vallerie membuka mata langsung disambut sebuah buket bunga mawar warna warni sudah dihiasi suaminya. Posisi Elliot sedang bertekuk lutut di hadapannya, rasanya deraian air matanya hampir menetes pada kelopak mata.
“Kamu suka? Buket bunga ini murni buatanku.” Elliot kembali menempati sebuah bangku lalu merangkul pundak istrinya.
“Kamu ahli juga dalam hal ini. Kukira kamu tidak bisa melakukannya. Kamu belajar dari siapa sih? Bukan dari wanita lain, ‘kan?”
Elliot tertawa terbahak mendengar tingkat cemburu istrinya sungguh di luar dugaan. “Aku belajar dari Wetube. Belakangan ini saat aku bosan bekerja, aku menonton video cara membuat buket bunga cantik. Lagi pula, kenapa kamu berpikiran aku belajar dari wanita lain?”
“Habisnya kamu di dunia sekarang sering kencan buta dengan para wanita sexy. Mustahil kamu tidak memberikan buket bunga untuk mereka.”
Senyuman usil terukir pada sudut bibir. Perlahan mendongakkan kepala tepat di depan bibir Vallerie sedikit lagi hampir bersentuhan, sehingga Vallerie sedikit gugup meremas buket bunga gemetar.
“Aku tidak pernah memberikan apa pun selama kencan buta dengan wanita lain. Sama satu hal lagi yang harus kamu tahu, wanita sexy di mataku hanya kamu, Vallerie. Jangan pernah menyebutkan wanita lain adalah wanita sexy.”
Awalnya sengaja menguji respons suaminya seperti apa, balasannya sekarang jantung berdebar-debar ditambah bibir sexy di hadapannya berbeda tipis, Vallerie ingin mencicipinya. “Terima kasih jawabannya.”
Drrt…drrt…
Suara getaran ponsel memecah suasana kencan sudah terlanjur manis. Terpaksa Vallerie menitipkan buket bunga pada suaminya, lalu mengeluarkan ponsel dari mini bag mengangkat panggilan telepon dari Whitney yang tidak pernah bosan mengganggunya.
“Kamu ada di mana?” Suara Whitney terdengar sedikit ketus.
“Aku sedang kencan bersama suamiku. Kenapa?”
“Kamu tidak lupa nanti malam aku mau traktir makan?”
Vallerie baru teringat lalu menepuk jidat. Entah di masa lalu maupun masa sekarang, Whitney diberikan apresiasi atas kinerjanya selalu bagus di perusahaan. Maka dari itu, gaji Whitney bulan ini dikasih bonus, lalu berencana merayakan bersama teman terdekatnya.
“Aku tidak lupa. Nanti aku dan suamiku bisa hadir.”
“Baiklah, aku tunggu nanti malam, ya. Pokoknya kamu harus tepati janji!”
“Iya, aku tutup telepon dulu.”
Vallerie terburu-buru mematikan panggilan telepon. Tangannya kembali meraih buket bunga raksasa warna-warni merupakan hasil jerih payah suaminya selalu membuat pandangannya bersinar-sinar saat mengamati buket ini.
Elliot tertawa manis melihat istrinya bersikap kegirangan hanya sebuah buket bunga sederhana. Terutama ia sangat penasaran reaksi istrinya akan seperti apa saat membaca kartu ucapan yang ditulisnya.
Vallerie menggerakkan tangan kanannya mulai jahil, tidak sabar baca kartu ucapan masih utuh diselipkan di kumpulan bunga. Saat ingin meraih kartu itu, Elliot langsung mencegahnya dengan mengecup kelopak mata sekilas.
“Jangan dibaca dulu, Sayang. Bacanya pas di rumah saja.”
“Memangnya kalau dibaca sekarang, kenapa?” Dahi Vallerie mengernyit.
“Lebih enak suasananya kalau baca di rumah. Banyak gula di dalam kartu ucapan. Kalau kamu senyum terus selama di luar rumah, nanti semua orang akan mengira kamu tidak waras, padahal penyebabnya adalah kartu ucapanku yang membuatmu tersenyum.” Elliot sengaja memperbaiki posisi kartu ucapan supaya sulit dijangkau Vallerie.
Benar perkataan Elliot. Bisa dikatakan bahkan sebelum baca saja, senyuman Vallerie semakin lepas sambil mengayunkan tangannya pelan. Hanya senyuman yang diberikan Vallerie berhasil menularkan virus senyuman untuk Elliot.
“Vallerie, baru saja aku bilang, kamu sudah tersenyum sekarang.”
“Sudah kukatakan sejak awal. Hanya kamu yang bisa membuatku tersenyum. Tidak perlu digombal, dilayani, ditolong, aku sudah berhasil tersenyum berkat kamu.”
Sebenarnya hati Vallerie masih sedikit gelisah karena beban hidupnya semakin bertambah dan nyawa mereka masih terancam karena penjahat sesungguhnya hidup gentayangan di dunia ini.
‘Aku pasti melindungi nyawamu suatu hari nanti, Elliot. Jika terjadi sesuatu padamu, aku harus mengorbankan nyawaku.’
Tidak terasa waktu kencan berlalu cepat. Saatnya Elliot dan Vallerie harus ikut berpesta merayakan keberhasilan Whitney selama bekerja sebagai reporter di stasiun TV ternama. Elliot dan Vallerie tidak iri melihat Whitney dari tadi bermesraan bersama Harry, karena kembali ke prinsip awal, tidak peduli apa pun atau siapa pun asalkan di dunia ini hanya mereka berdua saja sudah bisa bertahan hidup.
“Untung kamu datang, Vallerie. Bagaimana makanan hari ini? Aku sengaja traktir makanan favoritmu,” Whitney menyambut dengan nada ejekan.
“Kamu harus berterima kasih padaku karena aku dan Elliot sudah luangkan waktu untuk merayakan keberhasilanmu. Bahkan seharusnya sekarang kita bisa dinner romantis!” Vallerie menikmati daging panggang melahap.
“Pacarku ini memang dia selalu sibuk, tapi dia sungguh sangat hebat di mataku.” Harry mengelus kepala Whitney pelan.
“Sebenarnya, aku mengundang salah satu teman terdekatku. Sepertinya dia terjebak macet, kita tunggu saja.”
Tak lama kemudian, teman yang diungkit Whitney baru datang dengan penampilan casual tapi berpakaian berkelas atas. Saat melihat sosok teman terdekat Whitney, Elliot dan Vallerie hampir serangan jantung, tatapannya melotot seketika mengamati wanita ini adalah sang malaikat maut yang menyelamatkan hidup mereka di masa lalu.