
Gaya pacaran Vallerie dan Elliot berubah semenjak sekarang mereka hidup mewah. Namun, mereka tetap lebih suka berpacaran sederhana dan terkesan bermakna dibandingkan menghamburkan banyak uang belum tentu mereka menyukainya juga, akibat sudah terbiasa hidup sederhana di kehidupan sebelumnya. Begitu juga Elliot tidak terlalu suka memamerkan kekayaan, sebenarnya punya kartu hitam sangat diinginkan kaum hawa, tapi ia tidak pernah memamerkan langsung pada istrinya, kecuali dipakai untuk keperluan tertentu.
Elliot sungguh tidak asal bicara. Ia mengajak istrinya mengunjungi toko furniture melihat-lihat sofa berkualitas tinggi dan nyaman untuk mereka bermanja. Selain melihat sofa juga melihat ranjang yang lebih luas daripada miliknya di rumah. Seketika Elliot hendak membeli ranjang yang bisa dikatakan harganya mahal, Vallerie langsung menarik tangannya menjauhi penjaga toko ingin menuliskan nota.
“Bukankah kamu hanya ingin berbelanja beberapa perabot dan sofa? Kenapa kamu juga beli ranjang?” protes Vallerie berwajah cemberut.
Elliot berkacak pinggang. “Memangnya kamu mau kita tidur di ranjang sempit?”
“Ranjang di kamarmu lumayan luas! Pokoknya aku tidak mengizinkan kamu beli!”
Elliot tertawa usil memajukan bibirnya mendekati bibir indah istrinya. “Padahal aku sengaja belikan untukmu supaya kita bisa bermain lebih leluasa.”
Vallerie sudah bersiap mengepalkan tangan kanannya, tapi jika dipikir-pikir boleh juga mengganti ranjang supaya bisa menciptakan kenangan lebih indah lagi. “Baiklah, kalau itu keinginanmu.”
Tidak hanya belanja furniture, Elliot membeli beberapa perabot dan juga tanaman hias seperti taman anggrek untuk menghiasi ruang tamu lebih berwarna dan banyak bingkai foto kecil untuk memajang foto-foto kencan mereka.
Elliot mengajak Vallerie menonton film romantis di bioskop. Kali ini dengan suasana berbeda, Elliot sengaja memilih ruangan bioskop VIP sehingga hanya dinikmati mereka berdua saja, dengan fasilitas sofa multifungsi bisa dijadikan tempat tidur juga.
Vallerie terkejut dan sebenarnya tidak terbiasa menonton film hanya untuk mereka berdua dan fasilitas sangat lengkap. Berbagai aneka camilan seperti cookies cokelat, kue bolu cokelat, pop corn, dan makanan gorengan sudah disediakan juga. Tinggal mereka memilih ingin mengemil camilan yang mana sambil menikmati film romantis tanpa diganggu siapa pun.
“Sayang, apakah ini tidak berlebihan? Biasanya kamu suka nonton di bioskop bersama pengunjung lain.” Vallerie sedikit ragu memikirkan keadaan sekarang dan sebelumnya berbeda jauh.
“Sesekali ganti suasana. Lagi pula, sudah lama aku tidak menggunakan black card sejak menikahimu. Aku harus pergunakan dengan baik.” Elliot sengaja memutar kartu istimewa itu.
Vallerie mengerucutkan bibir. “Memang kamu tidak ada bedanya dengan pria kaya di drama yang aku tonton!”
“Pria kaya di drama itu suka memamerkan kekayaan! Sedangkan aku tidak pernah memamerkan padamu!”
Mata Vallerie menyipit, apa yang dibicarakan Elliot tidak sepenuhnya benar sebenarnya. Vallerie mulai kesal karena sikap suaminya sekarang berubah sedikit sombong. “Siapa yang awalnya ingin mengajak berbulan madu di negara Eropa? Saat aku mengajak berbulan madu di Pulau Jeju, kamu terlihat tidak bahagia.”
Benar juga! Elliot merasa payah selalu lupa ingatan terhadap hal kecil. Sekarang jadi malu sendiri, tapi tidak mau mengaku. Tangan kanannya terus menggenggam tangan kiri istrinya sedikit gugup, sehingga sang istri terus menertawakan dari tadi. Tertangkap basah sikap gugupnya.
“Mengaku saja deh, Elliot! Kamu gugup, ‘kan!” Vallerie memajukan kepalanya mendekati daun telinga suaminya.
“Sebenarnya … aku tidak bermaksud memamerkan kekayaanku saat itu. Hanya saja, aku merasa aneh. Aku sudah kaya, tapi kenapa kamu masih ingin hidup sederhana? Aku bisa mengajakmu mengunjungi tempat wisata yang selama ini ingin kamu kunjungi. Seingat aku, dulu kamu ingin pergi ke Paris melihat festival catwalk para model terkenal di dunia.” Elliot menjelaskan panjang lebar dengan tatapan percaya diri, tapi suaranya sedikit gemetar.
Vallerie tidak memedulikan adegan film yang sedang berlangsung. Menampakkan senyuman manis untuk suaminya, mengelus pipi lembut sang suami penuh perasaan. “Itu memang keinginanku. Tapi, aku lebih suka gaya hidup sederhana seperti semula. Cukup ke Pulau Jeju saja, aku merasa bulan madu kita terkesan istimewa. Lagi pula, kamu juga sangat menyukainya saat bersepeda bersamaku saat itu.”
Mengingat momen bulan madu mereka terkesan sederhana tapi sangat manis, sebenarnya Elliot ingin menikmatinya lagi lebih lama. Betapa bodoh saat itu tidak menerima cinta dari istrinya sangat tulus, sekarang ia sungguh menyesal.
Elliot menyuapi istrinya sepotong kue bolu cokelat. “Seandainya saja saat itu aku menerima cinta darimu, mungkin aku bisa perpanjang masa bulan madu kita. Aku menyesal karena selalu bersikap dingin saat bulan madu.”
Vallerie juga menyuapi kue bolu untuk suaminya. “Tidak perlu perpanjang masa bulan madu sudah cukup membuatku bahagia. Kita bisa melakukannya kapan pun kita mau. Tidak perlu jauh-jauh ke Pulau Jeju. Aku bisa menikmati matahari terbenam bersamamu di taman atau atap gedung kantor.”
Kecupan manis mendarat sekilas pada pipi Vallerie, membuat Vallerie tersenyum manis. Padahal awalnya Vallerie sempat mengantuk akibat kurang tidur karena sepanjang malam merawat suaminya sedang demam.
Elliot menekan sebuah tombol di sandaran sofa, sehingga posisi sofa sekarang berfungsi dijadikan ranjang sementara untuk mereka. Lalu Elliot mengambil sebuah selimut tipis menyelimuti tubuh mereka dari udara AC cukup dingin membuat tubuh Vallerie sedikit menggigil.
Menerima pelukan kasih sayang dari suaminya, rasa kantuk semakin menghilang, meski masih merasa sedikit lelah karena kurang tidur. Tangan kanan Vallerie mengelus pipi suaminya lambat laun, ditambah sebuah lagu romantis dari film masih ditayangkan itu memperindah suasana romansa di antara mereka.
“Aku suka tubuhmu hangat sekarang. Saat kamu meninggal … tubuhmu sangat kaku dan dingin seperti di freezer.” Bibir Vallerie sedikit memanyun memikirkan sosok mayat suaminya di dunia masa lalu sangat mengerikan melihat warna kulit pucat.
“Insiden saat itu pasti kamu masih trauma. Maafkan aku. Akan kupastikan tubuhku selalu hangat untukmu.” Elliot semakin mempererat pelukan dan menempelkan bibir pada kelopak mata istrinya.
Vallerie menggeleng pelan. “Insiden itu aku akan lupakan perlahan, meski agak sulit. Yang terpenting, sekarang kamu masih hidup sehat di mataku.”
Melihat mata istrinya semakin sulit dibuka, Elliot mengusap lembut kelopak mata istrinya. “Kamu tidur dulu saja. Gara-gara merawatku sepanjang malam, sekarang kamu kurang tidur. Seharusnya aku tidak mengajakmu berkencan hari ini.”
“Aku masih ingin lanjut nonton filmnya. Aku saja hampir lupa karena terlalu asyik berbincang denganmu.” Saat Vallerie ingin membangkitkan tubuh, tapi justru pelukannya semakin erat sehingga ia tidak bisa bergerak.
“Jangan keras kepala! Lagi pula, kita sudah pernah menonton film ini sebelumnya. Kamu tidur saja. Nanti akan aku bangunkan kalau sudah selesai penayangan filmnya.”
Bermanja di dalam ruang VIP bioskop berdurasi lama sudah cukup bagi Elliot dan Vallerie menyalurkan energi cinta mereka sampai terisi penuh sekarang. Akibat terlalu lama bermanja, mereka sampai tidak tahu isi cerita apa yang mereka dapatkan dari film itu. Seandainya mereka tidak pernah menonton film ini sebelumnya, mereka akan sungguh tidak tahu alur ceritanya seperti apa dan endingnya apakah bahagia atau tidak.
Sekarang yang mereka lakukan adalah menjelajahi festival aneka cokelat sedang diselenggarakan pihak pusat perbelanjaan. Sebenarnya sewaktu dulu mereka tidak pernah berkunjung ke tempat ini karena suatu keadaan mendesak menghalangi mereka saat itu. Sedangkan sekarang keinginan Vallerie dan Elliot terkabul akhirnya bisa menikmati aneka camilan cokelat di sini sambil berbelanja berbagai merk cokelat mahal.
“Vallerie, kamu cobain cokelat ini deh!” Elliot memasukkan sepotong kecil cokelat susu ke dalam mulut Vallerie.
“Mmm rasanya manis sekali.” Senyuman mengambang terukir pada bibir Vallerie.
Elliot menyunggingkan senyuman usil mendongakkan kepala di hadapan Vallerie. “Lebih manis aku atau cokelat yang barusan aku suapi?”
Mata Vallerie sulit berkedip. Mengamati bibir sexy suaminya sangat dekat dengan bibirnya, lidahnya sampai bergetar. “Pertanyaan aneh! Sudah pasti lebih manis kamu.”
Elliot tertawa puas mendengar jawaban itu sangat diinginkannya sehingga memancing perhatian beberapa pengunjung memelototinya sekilas.
Vallerie menunduk malu sambil mengayunkan tangan kanan suaminya bermaksud memberikan kode isyarat. “Kamu tidak malu dilihat banyak orang? Biasanya kamu selalu cuek dan dingin seperti kulkas!”
“Bukankah kamu lebih suka aku menggombalmu daripada berkata kasar terus? Aku lakukan sesuai keinginanmu.” Elliot mengedipkan mata sekilas.
“Tapi, bukan berarti menggombalku sampai semua orang mengetahuinya! Memang kamu harus diberi pelajaran!”
Pandangan Elliot teralihkan pada sebuah cookies cokelat berbentuk hati dipajang di etalase untuk tester. Sebelum direbut orang lain, Elliot langsung mengambil dua cookies cokelat hanya tersisa lima, lalu menyerahkan sebungkus cookies itu untuk Vallerie sambil membuka bungkusannya.
“Bentuk cookies ini sangat lucu. Melihat teksturnya, aku punya ide menggombalmu lagi sebelum kamu mencicipi cookiesnya.”
Bibir Vallerie cemberut. Cukup bosan tingkah suaminya semakin berlebihan dalam hal gombalan, sedikit menyesal juga mengiyakan suaminya beberapa saat lalu boleh menggombal sepuasnya.
“Sudah cukup deh! Aku tidak membutuhkan gombalanmu! Aku tidak sabar ingin mencicipi rasa cookies ini!”
Elliot menyuapi cookies cokelat ke dalam mulut Vallerie. Dirasakan manisnya cookies ini sampai Vallerie berdiri mematung dengan tatapan terbelalak. Manis cookies ini hanya ia bisa rasakan, semua orang belum tentu mengerti maksud rasa manis spesial bagi Vallerie seperti apa.
“Mmm manis sekali! Aku semakin suka cookies ini karena disuapi kamu.”
Elliot memajukan bibirnya mendekati wajah Vallerie. “Kalau begitu, kamu juga suapi aku. Aku penasaran rasa cookies ini seperti apa sampai kamu senang begini.”
Giliran Vallerie membuka bungkusan cookies, kemudian memasukkan sepotong cookies ke dalam mulut Elliot. Reaksi Elliot justru lebih berlebihan daripada Vallerie. Senyumannya semakin lebar sambil terus mengayunkan lengan tangan Vallerie kegirangan.
“Pantesan kamu terlihat senang. Memang makanan apa pun kalau disuapi kekasih sendiri jauh lebih manis.”
“Aku ingin egois. Bolehkah kamu—”
“Aku belikan semua cookies ini untuk kamu.” Dengan sigap Elliot mengambil banyak bungkusan cookies cokelat ini memasukkan ke dalam keranjang.
Vallerie memutar bola mata bermalasan. Mengambil beberapa cookies di keranjang mengembalikan ke rak semula. “Jangan ambil semuanya! Kamu mau gigiku rusak karena kebanyakan makan cookies?”
“Habisnya kamu ingin egois. Jadinya aku mengira kamu ingin beli semuanya.” Elliot tertawa terkekeh sambil menggarukkan kepala.
“Rasanya aku ingin mencubitmu tapi tidak sekarang! Sikap polosmu memang tidak pernah berubah semenjak dulu!”
Sorot mata Elliot tiba-tiba terpaku pada sebuah lapak photobooth dengan latar seperti berada di negeri musim gugur. Apalagi melihat semua aksesoris wanita cocok dipakai untuk istrinya, tanpa berbasa-basi langsung menarik tangan istrinya menuju lapak itu sambil menunggu pasangan lain sedang berfoto.
“Sejak kita menikah, kita tidak pernah berfoto.” Elliot menunduk lemas merenungkan sikapnya selama ini selalu jual mahal justru tidak membawakan kenangan indah.
“Tidak apa-apa. Kita punya foto pernikahan dan saat bulan madu kita pernah berfoto.”
“Tapi hasilnya jelek karena terkesan terpaksa. Kali ini aku ingin hasil foto terlihat manis.”
“Meski terpaksa, bagiku masih sempurna.”
Pandangan Elliot langsung teralihkan. Dari kejauhan, sekilas ia mengamati sosok wanita muda sangat tidak asing baginya sampai tubuhnya mematung.