Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 12: Aku Memercayaimu



Vallerie tidak merasa takut pada Erick, meski sikap Erick berubah drastis dalam sehari padahal kemarin masih bersikap ramah. Sudah Vallerie duga, memang sikap bijak Erick tidak bisa dipercaya jika diingat perbuatan busuk yang dilakukan Erick di kehidupan sebelumnya.


Tidak peduli dilihat penjaga pintu ruangan, Vallerie juga bersikap sombong menyapa Erick dengan tatapan serius. “Erick, sedang apa kamu ke sini?”


“Ada sesuatu yang sebenarnya aku ingin bicarakan denganmu.” Erick berkacak pinggang.


“Baiklah, silakan masuk dulu.”


Vallerie mempersilakan kakak iparnya memasuki ruangannya. Erick yang kemarin terlihat ramah, dalam sekejap menjadi kejam membuat Vallerie sedikit penasaran sebenarnya.


“Apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya?” Vallerie bertanya berbasa-basi, duduk bergaya angkuh menyilangkan kaki.


“Kamu yakin bisa menangani proyek sebesar itu? Kamu harus mengadakan pameran di berbagai wilayah, lalu kamu juga harus mengadakan festival catwalk para model profesional dan masih banyak lagi.” Erick mulai melampiaskan omelannya, tapi justru tidak membuat Vallerie takut.


“Aku sanggup melakukannya, memang kenapa?”


Erick berdecak kesal memukuli sandaran sofa sedikit kasar sehingga mengejutkan Vallerie.  “Kamu memang tidak ada bedanya dengan Elliot. Kalian berdua selalu bertindak seenaknya tanpa meminta izin dariku.”


“Bukankah kemarin kamu sendiri setuju aku yang mengambil alih proyek itu?” Dahi Vallerie mengernyit, semakin bingung sikap Erick ternyata labil.


“Kemarin dan hari Ini pasti berbeda suasana hatiku. Apalagi sebenarnya aku tidak mudah memercayaimu bekerja di perusahaan. Bisa jadi kamu akan menciptakan masalah besar yang akan merugikan perusahaan.”


Vallerie memutar bola mata bermalasan. Justru dalam hatinya terus mengumpat Erick yang akan menciptakan masalah itu sampai menghabisi nyawa adiknya sendiri.


Vallerie hanya bisa tertawa remeh sambil mengibaskan rambut panjang. “Kamu salah menilaiku. Tujuanku ingin mengambil alih proyek itu supaya mencegah masalah yang tidak diinginkan nanti.”


“Aku harus memercayaimu? Jika dilihat Elliot juga membentakmu kemarin, sepertinya dia setuju dengan pendapatku.” Erick membentak hingga seisi ruangan sedikit bergema, tapi Vallerie tidak peduli dan masih mengamati kuku jarinya.


“Tidak. Justru Elliot sangat mendukungku bertanggung jawab atas proyek ini. Kalau tidak percaya, tanyakan saja langsung.”


Tangan kanan Erick terkepal kuat rasanya ingin menghantam meja kaca di depannya sampai hancur. Sedangkan Vallerie menyimak santai sikap asli Erick memang sebenarnya sangat busuk dan egois. Maka dari itu, ia tidak bisa bersabar ingin menjatuhkan Erick sekarang juga.


“Memang kalian sangat cocok. Pantesan saja adikku ingin menikahimu karena sifat kalian sama!”


Elliot memasuki ruangan ini langsung disambut suasana menegangkan sampai merasa tubuhnya menggigil kedinginan.


Sorot matanya langsung terpaku pada istrinya seperti sedang dibentak habis-habisan. Dengan sigap Elliot berdiri di depan Vallerie, kini bertindak sebagai perisainya Vallerie melindungi bentakan dari Erick.


“Kakak memarahi Vallerie?!” Elliot membentak dengan suara melengking.


“Aku justru meringankan bebanmu supaya kamu tidak perlu menegurnya lagi seperti kemarin. Dia masih saja bersikeras ingin menangani proyek.” Erick menjawab berpura-pura tidak bersalah.


“Tapi, aku memang mengizinkan Vallerie menangani proyek. Kakak tidak usah membentaknya lagi!”


Perlahan Erick memajukan langkahnya mendekati Elliot dengan gaya angkuh, kemudian mendorong pundak Elliot sedikit kasar sehingga tubuh Elliot hampir terjatuh ke belakang. Untungnya ditahan Vallerie.


“Kamu bertindak seenaknya sekarang, Elliot! Apakah mungkin istrimu merayumu dengan segala cara meluluhkan hatimu?” Erick mengulurkan jari telunjuk terus menunjuk Elliot seperti sedang menusuk.


“Urusan itu, kakak tidak perlu ikut campur! Aku memang memercayai Vallerie sejak awal. Bahkan aku lebih memercayai Vallerie daripada kakak!”


Deg..


Jantung Vallerie berdebar-debar mendengar ungkapan manis suaminya sangat lantang. Senyuman manis semakin melebar pada wajahnya, tangan kirinya mempererat genggaman tangan suaminya sebenarnya sedikit gemetar menghadapi Erick.


‘Vallerie, sebagai permintaan maaf aku menyakiti hatimu kemarin, sekarang aku harus melindungimu dari segala fitnah semua orang termasuk Erick.’


Erick berdeham penuh amarah. Batas kesabarannya semakin habis menarik lengan kemeja Elliot sedikit kasar. “Seandainya saja aku anak tunggal, mungkin aku yang akan berkuasa menangani semua urusan kantor. Seharusnya aku yang berhak mendapatkan posisi direktur daripada kamu. Selama ini kamu selalu bertindak seenaknya!”


Elliot tertawa remeh, kemudian ia menarik kerah kemeja Erick dengan tatapan melotot. “Kakak tidak usah meremehkan aku! Justru karena pekerjaan kakak kurang bagus, maka dari itu, ayah lebih memercayai aku. Aku yang berhasil menyukseskan bisnis ayah menjadi besar sampai sekarang.”


“Diam kamu! Jangan menyeret ayah di tengah perdebatan kita! Aku tahu selama ini kamu selalu disayang ayah dan ibu. Sebenarnya aku sangat iri melihatmu bisa hidup tenang di dunia ini!”


Bola mata Vallerie terbelalak dan hatinya hancur berkeping-keping mendengar perkataan menyakitkan itu secara langsung. Terbukti jelas bahwa dua tahun kemudian, Erick akan menjadi seorang pembunuh karena selalu iri dengan kehidupan Elliot terlihat bahagia. Tapi, yang masih menjadi misteri adalah di kehidupan sebelumnya, Elliot dan Erick bukan saudara kandung. Kenapa Erick ingin membunuh seorang pegawai yang tidak ada hubungan darah dengannya?


Sebenarnya Vallerie ingin ikut melawan Erick, tapi Elliot mengisyaratkan jangan ikut campur urusannya karena ia sendiri tidak ingin melibatkan istrinya terjebak dalam masalahnya juga.


“Aku tidak peduli kakak iri denganku atau tidak. Kalau sampai kakak membawa nama istriku ke dalam masalah kita, aku tidak akan mengampuni kakak!” Elliot mengancam sambil mencolek lengan Erick sedikit kasar.


Akhirnya Erick menyerah juga berdebat dengan Elliot. Tanpa berpamitan langsung keluar dari ruangan ini dan menutup pintu sedikit kasar sehingga mengejutkan Vallerie.


Hati Vallerie terngiang-ngiang membayangkan perkataan terakhir Elliot tadi membuatnya semakin tersentuh. Rasanya sangat sulit melepas genggaman tangan cukup erat selama perdebatan. Namun, Vallerie tidak mungkin membiarkan Elliot terus menggenggam tangannya.


Seketika Vallerie ingin melepas genggaman tangan, Elliot langsung mencegahnya dan bahkan semakin mempererat supaya Vallerie tidak bisa melepaskannya.


Vallerie semakin melepas senyuman terindahnya, inilah sebenarnya yang ia inginkan tanpa perlu diberi kode keras. “Biasanya kamu tidak suka aku menyentuhmu. Aku mengira kamu tidak akan nyaman kalau kita berpegangan tangan terus.”


“Sekarang aku membutuhkanmu, Vallerie. Aku ingin kamu berada di sisiku terus.”


Pipi Vallerie sedikit memerah. “Tumben kamu manis di kantor.”


Elliot menghela napas lesu sambil memijit pelipisnya sedikit sakit akibat masalah besar yang dihadapinya hari ini. “Perusahaan kita sedang mengalami masalah besar. Banyak investor mengamuk karena harga saham anjlok kurang dari setengah jam akibat artikel disebarluaskan di internet.”


Sebenarnya Vallerie ingin memberitahukan rencananya menangkap Sofia diam-diam, tapi ia tetap membungkam mulut rapat karena sebagai kejutan untuk suaminya melawan Sofia sendirian.


Sejenak Vallerie memainkan jarinya memijit pelipis Elliot, membuat senyuman menawan kembali terukir pada sudut bibir Elliot. “Aku yakin kita bisa menangkap pelakunya. Meski banyak yang menyindir Clarity Star, aku akan membantumu menangkap pelaku itu sebisa mungkin. Aku tidak ingin Clarity Star yang sudah kamu bangun bertahun-tahun selalu kokoh akan hancur begitu saja karena satu pegawai pengacau.”


Elliot semakin melebarkan senyumannya menyentuh pundak istrinya dengan kedua tangan. “Aku ingin mengajakmu makan siang. Tapi di tempat berbeda dari kemarin, kamu mau?”


“Tapi kalau ada reporter menyerangmu?”


“Aku sudah meminta bantuan Jordan menghubungi reporter untuk membantah artikel itu dan mencari pelaku yang merusak citra nama baik Clarity Star. Tenang saja, tidak ada yang akan berani mengganggu kita.”


Vallerie mengangguk cepat. “Mau makan di mana pun, asalkan ada kamu pasti aku suka.”


Kemarin makan siang di restoran sederhana, sekarang Elliot mengajak makan siang di salah satu restoran langganannya terkesan elit di mata Vallerie. Sedikit tidak terbiasa saja makan siang di tempat berkelas, padahal dulu makan siang sederhana saja sudah cukup membuat mereka bahagia.


Saat mereka ingin memasuki restoran, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Bertrand baru menyelesaikan makan siang. Vallerie dan Bertrand saling menyapa dengan ramah, tapi tidak berlaku untuk Elliot sedikit kesal melihat istrinya terlihat akrab dengan pria lain.


“Kamu makan siang di sini juga, Vallerie.” Bertrand menyapa.


“Suamiku yang mengajakku makan di sini. Sebenarnya aku belum pernah makan di tempat seperti ini.”


“Makanan di sini lezat semua. Pokoknya kamu harus coba satu per satu.”


“Maka dari itu, aku sengaja mengajak istriku ke sini karena biasanya aku selalu makan di sini.” Elliot sengaja memotong pembicaran dengan nada kesal menatap menyeringai pada Bertrand.


Vallerie tertawa kikuk. Ia sebenarnya tahu suaminya terbakar api cemburu hanya karena percakapan sederhana ini. Padahal bukan saling mengungkapkan perasaan, mungkin kedua pria ini akan saling baku hantam.


“Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian. Selamat makan siang.” Bertrand terburu-buru meninggalkan Elliot dan Vallerie, sebenarnya justru ia yang cemburu melihat wanita yang sempat ia sukai sedang kencan.


Elliot kembali tersenyum lega. Kemudian menggandeng tangan Vallerie memasuki restoran ini sengaja memilih tempat duduk sedikit terpojok, supaya tidak ada seseorang yang mengganggu momen makan siang mereka lagi.


Saat menunggu pesanan makanan mereka datang, Vallerie terus melampiaskan tawa ledek membuat Elliot sedikit tersinggung. Sebenarnya Elliot tidak tahu apa yang merasuki pikiran istrinya terus, apa mungkin istrinya bahagia bertemu dengan pria lain secara kebetulan? Ah, kenapa rasanya jadi cemburu sekarang? Kenapa bawaannya selalu marah setiap istrinya berpapasan dengan Bertrand?


“Vallerie, kamu sebenarnya menertawakan apa sih?” Kali ini Elliot bertanya langsung pada intinya dengan nada sedikit ketus.


“Kamu cemburu?” Vallerie mengejek balik sekaligus menguji respons Elliot seperti apa.


Elliot membelalakan mata, langsung membantah pertanyaan istrinya. “Cemburu? Untuk apa aku cemburu? Aku kan menikahimu karena terpaksa.”


“Lalu, kenapa kamu kesal tadi? Aku tahu kamu tidak suka aku akrab dengan pria lain.” Vallerie bertanya balik melipat kedua tangan di dada.


“Aku tidak kesal. Memangnya nada bicaraku terdengar kesal?”


Vallerie mengangguk polos.


“Astaga, Vallerie! Kamu masih belum mengenal karakterku selalu galak?” Elliot menggarukkan kepala kesal.


“Gaya bicaramu saat galak karena cemburu dan kesal dengan sikapku sangat berbeda. Aku bisa membedakannya.”


“Aku tidak cemburu!”


“Baiklah, sekarang aku akan mengujimu. Seandainya saja Bertrand mengetahui hubungan kita bukan sepenuhnya karena cinta, lalu dia melamarku tiba-tiba. Apa yang akan kamu lakukan?” Vallerie tersenyum sinis pada suaminya sehingga suaminya menampakkan wajah bingung sekarang.


Rasanya Elliot ingin berteriak membayangkan kejadian itu sungguh terjadi. Tidak peduli semua orang menganggapnya tidak waras, tapi hatinya ingin menangis tiba-tiba bagaikan didorong ke dasar jurang putus asa.


“Aku tidak akan mengizinkan kamu menikahi pria lain! Kamu adalah istriku dan selamanya menjadi milikku!”


Inilah jawaban yang sangat diinginkan Vallerie. Meski nada bicara Elliot ketus lagi, tapi ia tahu itu jawaban langsung dari lubuk hati Elliot. Karena sejak awal mereka sudah terikat benang merah kuat.


“Tapi kamu sendiri mengaku terpaksa menikahiku tadi. Sebenarnya yang benar yang mana?” Dahi Vallerie berkerut, sebenarnya setengah pikirannya juga bingung mendengar jawaban Elliot masih agak ambigu.


Salivanya sulit ditelan dan tangan semakin gemetar. Jawaban yang diberikannya justru menjadi boomerang. Elliot menunduk kesal sambil memikirkan alasan lain supaya terkesan bukan pria agresif di mata istrinya.


“Maksudku … aku sudah terpaksa menikahimu, lalu hatimu berpindah pada pria lain. Kalau tahu begini, lebih baik aku tidak usah menikahimu sejak awal!”