Remarried My Husband

Remarried My Husband
Special Episode 9: Kedatangan Buah Hati



Begitulah awal mula kisah cinta Elliot dan Vallerie terbentuk. Mengingat momen manis itu, rasanya Vallerie masih sulit melupakan momen langka itu karena di saat dirinya dilanda masalah yang disebabkan Sofia dan rekan timnya, Vallerie masih memiliki seseorang yang bersedia menemaninya dan membantunya setiap saat tanpa harus merayu dengan trik murahan.


Elliot juga masih mengingat momen manis itu dengan jelas dalam pikirannya. Terutama semua momen yang mereka lakukan setiap berpacaran di tangga darurat sampai pada akhirnya hubungan mereka tertangkap basah. Elliot sangat menyesal beberapa saat lalu sempat mengalami amnesia, padahal ia sendiri tidak tega melupakan semua kenangan terindah itu dalam hidupnya meski dalam masa kelam.


Tidak disangka mereka saling bercerita selama satu jam di dalam kamar. Elliot mengelus pipi lembut istrinya sehingga membuat rasa mual istrinya semakin menghilang. “Jadinya, kamu masih ingin aku meninggalkanmu sendirian? Padahal dulu aku selalu memedulikanmu, tidak peduli aku terkena masalah atau jatuh sakit.”


Vallerie menggeleng pelan juga mengelus pipi lembut suaminya. “Kali ini aku tidak akan melarangmu menjagaku setiap hari. Tapi, kamu tetap harus laporkan pada ayahmu atau Erick bahwa kamu tidak bisa bepergian jauh.”


“Baiklah, aku menghubungi Erick dulu. Setelah itu, kita lanjut bermain lagi.” Elliot mengecup kening Vallerie sekilas kemudian mengambil ponselnya menghubungi Erick.


Percakapan bersama Erick melalui telepon tidak terlalu lama. Elliot menampakkan senyuman girang menandakan sinyal positif diberikan Erick membuatnya tidak perlu bersusah payah membujuk Erick.


Elliot kembali memeluk tubuh istrinya erat sambil menyelipkan beberapa helaian anak rambut ke belakang telinga istrinya. “Erick juga setuju dengan pendapatku. Erick tidak mau pergi karena cemas Rachel tidak bisa menjaga diri sendiri.”


“Lalu, siapa yang akan pergi?” Vallerie penasaran, mendongakkan kepala tepat di depan bibir suaminya.


“Ibuku yang mewakiliku dan Erick. Biasanya ibuku yang melakukan perjalanan bisnis bersama ayahku. Tapi, karena ayahku ada urusan penting, terpaksa ibuku pergi sendirian, nanti ayahku menyusul.”


“Apakah sungguh tidak masalah kamu dan Erick tidak pergi?”


“Sekarang teknologi sudah canggih. Aku dan Erick bisa melakukan conference call di saat ada rapat dan kebetulan rekan bisnis ini sangat mengerti kondisi kita.”


Sebenarnya Vallerie merasa sungkan merepotkan mertuanya, tapi ia juga sangat bahagia karena tidak akan merasa kesepian lagi. Sejujurnya, ia tidak rela membiarkan suaminya pergi jauh selama beberapa hari, secara tidak langsung suaminya sungguh membaca isi pikirannya sekarang tanpa diberitahukan terang-terangan.


Vallerie menggenggam tangan kiri sang suami erat. Menatap wajah tampan di hadapannya sangat menyegarkan membuatnya ngidam ingin menempel di tubuh suaminya sepanjang hari di ranjang. “Aku suka dengan wajahmu dan aroma tubuhmu.”


Elliot juga menatap istrinya dengan candu. Menempelkan hidungnya di pundak sang istri, terus mengenduskan aroma tubuh istrinya sangat harum baginya. “Aku juga sangat suka aroma tubuhmu. Sepertinya aku sedang ngidam ingin bersamamu sepanjang hari sambil mengemil kue cokelat.”


Vallerie tertawa gemas mencium pipi suaminya sambil meraba pipi. Begitu juga yang dilakukan Elliot meraba area wajah istrinya mengandalkan bibir sexynya merasakan manis dan kelembutan wajah cantik ini melebihi kue cokelat.


Waktu berlalu sangat cepat, padahal pasangan suami istri ini merasa baru dikaruniai anak dengan keajaiban yang diberikan Tuhan. Sekarang usia kandungan memasuki sembilan bulan, perut Vallerie sangat besar sehingga sedikit kesulitan bergerak leluasa sampai harus dibantu suaminya setiap kali ingin mengambil sesuatu.


Elliot yang melakukan pekerjaan rumah setiap hari. Sejak memasuki trimester tiga, Elliot lebih sering berada di rumah dibandingkan di kantor. Karena ia bisa berkomunikasi dengan pegawainya melalui aplikasi conference call. Itulah keunggulan yang dimiliki Elliot. Selain pintar merancang strategi bisnis perusahaan, ia juga pandai mengurus rumah tangga di saat istrinya tidak memungkinkan melakukan aktivitas berat.


Menurut perkiraan dokter kandungan, dalam waktu dekat ini seharusnya Vallerie melahirkan sang buah hati. Maka dari itu, Vallerie mengajak suaminya menemaninya mendatangi dokter kandungan untuk berjaga-jaga. Vallerie cemas jika terus bermalasan di rumah, mungkin akan merepotkan suaminya jika air ketuban pecah tiba-tiba.


Elliot siap siaga mengemas semua kebutuhan istrinya dan untuk dirinya ke dalam satu koper besar dengan peralatan lengkap. Terutama ia semakin tidak sabar menanti bayi perempuannya akan terlihat seperti apa wajahnya.


Sebelum berangkat, Elliot membiarkan pahanya dijadikan bantal untuk istrinya tidur bermalasan di sofa. Tangan kanannya terus mengusap perut istrinya sangat besar kemudian mengecup perut istrinya berdurasi lama untuk menyampaikan pesan manis kepada sang buah hati.


“Anakku, papa semakin tidak sabar menyapamu mendatangi dunia ini. Papa berdoa semoga saat persalinan nanti, kamu sangat sehat dan tertawa bahagia saat memasuki rumah ini. Papa sangat menyayangimu.”


Saat bersamaan, Vallerie merasakan sebuah tendangan cukup kuat yang dilakukan bayinya di dalam perut membuat kelopak matanya dibanjiri air mata kebahagiaan. “Sayang, barusan bayi kita menendang perutku. Tenaganya sangat kuat sampai perutku agak sakit.”


“Syukurlah, berarti dia juga tidak sabar pulang ke rumah ini bersama kita.” Elliot menangis terharu sambil menyeka air mata di pipi istrinya.


“Setiap kamu berbincang dengannya, dia pasti langsung merespons. Berarti bayi kita sangat menyayangimu.”


Perlahan Elliot membantu istrinya membangkitkan tubuh sangat berat. “Sebaiknya kita pergi sekarang saja.”


Di tengah perjalanan menuju rumah sakit keluarga, sambil menyetir mobil Elliot menatap istrinya sekilas mengelus perut istrinya perlahan. Semakin mendekati rumah sakit, semakin tidak sabar menanti kedatangan bayinya yang sudah ditunggu selama sembilan bulan.


Elliot mendaftarkan ruang inap VVIP untuk istrinya selama menetap di rumah sakit ini. Setelah melakukan semua prosedur, Vallerie mengganti pakaiannya menjadi seragam pasien dan membaringkan tubuhnya perlahan di ranjang pasien dibantu suaminya.


Tiba-tiba Vallerie merasakan perutnya sangat nyeri sampai napasnya sesak sambil terus memegangi perutnya. Elliot mulai panik langsung menekan tombol panggilan darurat memanggil dokter dan perawat segera menangani istrinya. Sambil menunggu para dokter dan perawat berhamburan, Elliot memeluk tubuh istrinya penuh kasih sayang untuk menenangkan istrinya sangat panik akibat rasa sakit yang dialami kali ini luar biasa.


“Sayang … air ketubannya … pecah.” Vallerie berbisik terbata-bata sambil mempererat pelukan suaminya merasakan ranjang yang ditempatinya sekarang basah.


“Bertahanlah! Sebentar lagi dokter dan perawat akan membawamu ke ruang persalinan.” Elliot mencium pelipis istrinya mendalam.


Saat bersamaan para dokter dan perawat berhamburan memasuki kamar ini langsung mendorong ranjang yang ditempati Vallerie menuju ruang persalinan. Elliot terus menggenggam tangan istrinya dengan wajah panik, cemas akan terjadi sesuatu pada istrinya melihat napas istrinya semakin tidak stabil.


Di dalam ruang persalinan, semua petugas medis sudah berdiri di setiap sisi samping ranjang pasien. Didampingi Elliot juga dengan penampilan pakaian medis yang sudah disterilkan akan menemani istrinya sepanjang persalinan.


Sebelum memulai proses persalinan, Elliot mendaratkan kecupan manis di kening istrinya dengan penuh kasih sayang sekaligus memberikan sebagian energinya untuk istrinya supaya tidak kehabisan energi terlalu banyak.


Elliot mengelus kepala istrinya lambat laun dengan tatapan kasih sayang. “Kamu tidak perlu takut. Aku akan menemanimu sampai bayi kita lahir. Kalau kamu merasa kesakitan, kamu bisa mencubitku atau mencakarku sekuat tenagamu.”


Vallerie tertawa kecil, perlahan menempelkan bibirnya di pipi suaminya sekilas. “Maaf mungkin akan sedikit sakit kalau aku sungguh melakukannya.”


“Tidak masalah sampai tanganku terluka parah. Aku hanya ingin kamu dan bayi kita sehat sudah membuatku bahagia.”


Proses persalinan tengah berlangsung. Dengan penuh perjuangan Vallerie terus mendorong bayinya keluar dari perut sampai hampir kehabisan napas beberapa kali dan mengalami kram. Pelampiasannya ia mencubit lengan tangan suaminya sambil meminta maaf dalam hati karena menyakiti suaminya terus sepanjang persalinan.


Oe… oe…


Suara tangisan sang buah hati sangat indah membuat air mata bahagia spontan mengalir di kelopak mata Vallerie dan Elliot bersamaan. Memandangi bayi mereka terlahir sehat membuat mereka sangat lega, terutama Vallerie hampir sekarat akibat butuh perjuangan melahirkan anaknya sangat sulit.


Kepala dokter kandungan membungkus bayi mungil ini kemudian menyerahkan kepada Vallerie. “Selamat, Bu Vallerie dan Pak Elliot! Bayi Anda terlahir sehat dengan berat badan normal.”


Vallerie dan Elliot saling melempar senyuman terindah mereka sambil mengelus kepala anak mereka pelan.


“Bayi kita cantik sekali.” Vallerie memandangi sang buah hati dengan senyuman puas.


“Terima kasih sudah memberikan hadiah terindah dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu, Vallerie.”


Sepasang bibir saling bertautan mesra selama beberapa detik, tidak peduli dilihat para petugas medis di dalam ruangan persalinan ini.


Evania Jeanice adalah nama bayi perempuan yang diberikan Elliot dan Vallerie spesial, karena merupakan kombinasi nama Elliot dan Vallerie.


Elliot mengundang keluarganya serta teman-teman terdekatnya mendatanginya di rumah sakit memberikan berita kelahiran anak pertama mereka.


Erick dan Rachel juga mengajak bayi mereka menjenguk Vallerie dan bayi mungil yang baru lahir sedang tertidur lelap di ranjang bayi di samping Vallerie.


“Sekarang putraku sudah memiliki teman bermain. Usia putraku dan Evania hanya berbeda beberapa bulan.” Rachel menepuk-nepuk punggung putranya, bermaksud menenangkan putranya terus bergerak saat digendong.


Sedangkan Vallerie tertawa ledek mengamati pakaian yang dipakai bayi Rachel adalah pakaian yang sengaja dipilih Rachel meniru persis gaya pakaian Erick. Erick juga sengaja memakai model pakaian yang sama seperti bayinya.


“Ayah dan anak terlihat seperti kembaran.” Vallerie mengelus kepala bayi Rachel lambat laun.


“Inilah hasil jerih payah kita saat itu berkeliling di toko. Cocok kan dengan suamiku.” Rachel menjawab bernada angkuh sambil mengedipkan mata sekilas pada Erick.


“Awalnya aku masih ingin memarahimu, tapi karena kamu sangat kreatif dalam hal pakaian, aku memuji pola pikirmu bisa kepikiran ide menarik ini.” Erick mengelus kepala Rachel lambat laun dengan pandangan berbinar.


Seketika semua orang sudah pulang, saatnya Vallerie kembali beristirahat karena hari ini adalah hari paling melelahkan sekaligus dihadapi ujian sangat berat memperjuangkan hidup demi sang buah hati terlahir dalam keadaan selamat dan dirinya juga.


Sedangkan Elliot baru selesai membersihkan diri, melangkah keluar dari kamar mandi dengan tampilan wajah menyegarkan meski lengan dan pergelangannya sedikit terluka akibat disiksa istrinya sepanjang persalinan berjam-jam.


Sebenarnya Vallerie sudah tidak tahan melihat luka lecet di pergelangan tangan suaminya sangat mengganggu pemandangan. Memasang wajah cemberut sekaligus tatapan iba duduk bersandar lemas di ranjang.


“Sayang, kemarilah!”


Elliot menampakkan senyuman manis langsung menduduki tepi ranjang. “Kamu kenapa sedih? Padahal dari tadi kamu selalu tersenyum.”


Vallerie menyisingkan lengan piyama dikenakan suaminya, memeriksa luka lecet yang diciptakannya sampai memerah membuat hatinya semakin bersalah mengelus bagian luka dengan lembut. “Tanganmu terluka karena aku.”


“Ini tidak sakit sama sekali, jangan cemaskan aku.” Elliot berbisik, ingin merapikan lengan piyamanya lagi, tapi langsung dicegah istrinya diberikan tatapan elang.


“Tanganmu harus diobati. Ambilkan kotak P3K untukku!”


“Tapi, aku sungguh baik-baik saja.”


Vallerie membuang napas perlahan. “Ambilkan saja! Kamu turuti aku saja daripada kamu membangunkan anak kita!”


Elliot memutar bola mata, terpaksa menuruti perintah istrinya yang keras kepala sejak hamil. Untungnya Elliot adalah tipe pria penyabar dan penyayang terhadap istrinya. Elliot mengambil kotak P3K di rak penyimpanan lalu menyerahkan untuk Vallerie.


Dengan sigap Vallerie mengambil berbagai obat salep dan juga kapas. Mulai melakukan aksi pengobatan terhadap suaminya meski sebenarnya ia merasa tubuhnya kelelahan. Tatapannya terfokus pada luka cakaran cukup dalam sehingga bekas luka cakaran di punggung tangan kanan suaminya terlihat parah. Tentunya Vallerie ingin memarahi suaminya habis-habisan karena menganggap hal kecil, tapi tidak tega juga karena suaminya terlalu baik di matanya.


“Maafkan aku. Gara-gara aku mencakarmu berlebihan, kamu jadi terluka parah begini.” Vallerie berkata dengan nada lirih sambil memasangkan perban di punggung tangan suaminya.


Reaksi Elliot tertawa gemas, menempelkan bibirnya di dahi istrinya dengan penuh kasih sayang. “Aku justru suka melihat kamu mencakar dan mencubitku sampai memar. Daripada kamu tidak bisa menahan rasa sakit sampai kamu sekarat.”


Vallerie menghela napas lesu sambil menutup kotak P3K. “Tapi aku tidak suka melihat kamu terluka karena aku melukaimu. Tanganmu jadi jelek.”


Elliot menggeleng, lengan kekarnya mendekap tubuh istrinya erat sambil mengusap rambut istrinya menggunakan bibir, tidak memedulikan rambut istrinya berminyak karena sudah lama sekali tidak keramas. “Aku tidak peduli tanganku banyak luka atau tidak. Aku lebih mengutamakan istriku melahirkan anakku dalam kondisi selamat. Kalau sampai kamu sekarat, aku justru lebih sedih. Hari ini adalah hari paling bahagia sepanjang hidupku. Sekarang aku bingung ingin mendeskripsikan rasa cintaku terhadapmu seperti apa.”


Vallerie kembali menampakkan senyuman indah. Kedua tangannya semakin melingkar manja di leher suaminya. “Terima kasih sudah menemaniku selama berjam-jam di ruang persalinan. Berkat kehadiranmu, aku tidak perlu mencemaskan nyawaku akan melayang karena kehabisan napas. Aku memiliki malaikat pelindungku yang selalu menyalurkan energinya untukku.”


“Luka di tanganku akan cepat pulih tidak sampai seminggu. Kamu tidak perlu mencemaskan aku berlebihan. Urusan anak, sudah pasti aku akan merawat anak kita sepenuh hatiku supaya kamu tidak kelelahan.”


Elliot bukan tipe suami hanya bermulut manis di awal. Memang Elliot sungguh mempraktikkan mengurus anaknya yang selalu rewel sepanjang malam sampai penampilannya semakin hari sangat berantakan dan jarang tidur cukup. Elliot belum berani masuk kantor selama bayinya belum berumur satu tahun dan tidak ingin semua urusan rumah tangga diurus istrinya.


Tidak terasa hari ini memasuki malam natal. Belakangan ini mereka jarang sekali pergi berlibur akibat sibuk mengurus anak. Pada akhirnya mereka bisa berjalan-jalan keluar rumah melihat usia sang buah hati sudah diperbolehkan keluar rumah asalkan tidak berkerumun dengan orang lain.


Sudah lama tidak melihat pohon natal bersama di taman kota. Akhirnya mereka bisa mengamati keindahan pohon natal terbaik di kota ini. Karena hari ini orang tua mereka ingin bermain bersama Evania di rumah, kesempatan emas dan langka bagi Vallerie dan Elliot bisa berkencan sepuasnya tanpa diganggu anak mereka yang selalu rewel dan manja.


Vallerie terus menertawai suaminya dari tadi sambil berjalan santai bergandengan tangan, membayangkan penampilan suaminya sangat berantakan belakangan ini terlihat konyol di matanya, padahal biasanya selalu berpenampilan profesional dan menawan hingga membuat para pegawai wanita di kantor terpesona. Setelah menunggu sekian lama akhirnya bisa menikmati keindahan penampilan suaminya sangat menawan.


Terlalu asyik saling melempar pandangan bahagia, tidak sengaja Vallerie hampir tersandung, untungnya tangan kirinya digenggam erat suaminya. Vallerie menunduk malu sambil menyelipkan beberapa helai anak rambut ke belakang telinga.


“Terima kasih, Sayang.”


“Apa karena wajah tampanku membuatmu jadi mabuk?” Elliot menggoda istrinya sambil mengedipkan mata.


Vallerie mencubit lengan suaminya. “Kalau mau gombal di rumah saja deh!”


“Kalau di rumah nanti diganggu Evania. Aku rindu menggombalmu sepuasnya seperti dulu.”


Sorot mata Vallerie terpaku pada keindahan pohon natal berkelap-kelip dengan ornamen-ornamen unik nuansa natal. “Sudah lama aku tidak melihat pohon natal bersamamu.”


Lengan kekarnya melingkar di pinggang istrinya dari belakang. Dagunya bertopang di pundak istrinya. “Kalau tidak bisa melihat pohon natal, aku bisa melihatmu setiap hari. Kamu lebih indah dari pohon natal.”


Vallerie ingin melayangkan protes. Kepalanya menoleh sejenak langsung disambut bibir suaminya menempel di bibirnya sekilas.


“Aku tidak bisa menahan diri, Sayang. Habisnya kamu terlihat gemas sejak kita berkencan dari tadi.” Elliot sengaja semakin menggoda istrinya, mengelus kepala istrinya.


“Kamu tahu alasan kenapa dari tadi aku menertawaimu?”


“Karena kamu sangat bahagia akhirnya kita berkencan.”


Vallerie menempelkan jari telunjuknya di bibir sexy suaminya. “Jawabannya adalah akhirnya aku bisa melihat wajah tampanmu lagi. Karena kamu terlalu sibuk mengurus Evania, penampilanmu berantakan.”


Elliot menghela napas lemas sambil melepas pelukan, kedua tangannya menggenggam tangan istrinya. “Maaf belakangan ini aku jarang mengajakmu pergi berkencan karena sibuk mengurus anak di rumah. Kamu tidak kesal, ‘kan?”


Vallerie menggeleng. “Menurutku kita berdua mengurus anak di rumah sudah termasuk kencan bagiku. Kencan itu tidak harus keluar rumah. Kita juga sering melakukan apa pun di rumah bersama. Justru aku tidak ingin merepotkanmu lagi karena selama ini kamu kurang tidur akibat mengurus anak kita selalu menangis setiap malam.”


Elliot menatap istrinya dengan pandangan penuh cinta sambil mendaratkan bibirnya di bibir istrinya berdurasi beberapa detik. “Aku sangat suka mengurus pekerjaan rumah apalagi membantu meringankan pekerjaanmu. Aku seorang lelaki sekaligus suamimu, pokoknya aku tidak ingin membiarkan tanganmu jadi kasar karena terlalu banyak melakukan pekerjaan berat.”


Senyuman bahagia terpampang pada wajah cantiknya. Bagi orang lain, perkataan itu sudah basi. Tapi bagi Vallerie, ia sangat menyukainya karena memang suaminya sungguh melakukannya dengan tulus meski terkadang mengeluh kelelahan karena mengurus pekerjaan rumah dan anak sekaligus. Belum lagi urus pekerjaan kantor, meski bekerja secara daring.


“Aku sangat mencintaimu, Sayang. Pertahankanlah sikapmu yang selalu berjuang mengurus rumah tangga. Tapi, aku tetap tidak ingin membiarkanmu melakukan semuanya sendirian. Nanti kamu bisa sakit.”


“Aku tidak akan sakit selama memiliki istri sangat perhatian seperti kamu, aku semakin sayang berkali-kali lipat.”


Puas melihat pohon natal dan pada akhirnya mereka bisa kencan di luar rumah setelah sekian lama, Elliot mengajak makan malam romantis di sebuah restoran mewah menyediakan menu makanan hotpot terbaik salah satu langganannya sejak menikahi Vallerie di kehidupan sekarang. Mereka bersulang bersama menikmati minuman wine untuk merayakan malam natal romantis.


Sebagai hadiah suaminya telah melakukan pekerjaan berat, Vallerie memberikan banyak bakso dan sayuran ke mangkuk milik suaminya.


Elliot memasang wajah cemberut, melihat istrinya memberikan bakso terlalu banyak baginya. “Sayang, bagaimana aku menghabiskan semuanya kalau kamu terus berikan bakso untukku!”


“Bukankah selama ini kamu tidak ada bedanya denganku selalu rakus?” Tanpa aba-aba, Vallerie langsung memasukkan bakso udang berukuran besar ke dalam mulut suaminya.


Elliot mengunyah bakso sedikit kesulitan, bibirnya semakin mengerucut sambil memajukan kepala. “Seharusnya kamu menyuapiku dengan lembut. Barusan kamu seperti menyiksaku!”


Tawa bahagia menghiasi suasana dinner romantis. Sejenak Elliot menaruh sumpit di mangkuk, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jas.


“Ini hadiah natal untukmu.”


Pandangan Vallerie bersinar-sinar membaca isi dari buku ini adalah bucket list yang sudah dipersiapkan Elliot sejak dulu. Tidak hanya tulisan saja isinya, banyak ilustrasi mengenai penggambaran adegan romantis yang mereka lakukan terlihat menggemaskan, membuat Vallerie tidak bisa menahan deraian air mata haru.


“Vallerie, aku ingin kita melakukan semua hal yang ada di ilustrasi yang aku gambarkan.”


Vallerie menampakkan senyuman girang, berdiri dari kursi lalu duduk di paha suaminya dan berpelukan manja. “Sudah pasti aku kabulkan keinginanmu. Ilustrasi yang kamu gambarkan, aku sangat suka.”


“Seandainya kamu ada permintaan lain, kamu bisa gabungkan keinginanmu ke dalam bucket list ini.”


Vallerie memanyunkan bibir, memainkan jemari suaminya diam-diam. “Omong-omong, maaf aku tidak memberikan hadiah natal untukmu. Karena aku sibuk mengurus Evania, aku lupa belikan hadiah natal untukmu.”


Respons Elliot tertawa lepas, memeluk istrinya dan mengecup pipi dengan penuh cinta. “Tidak masalah. Aku hanya ingin semua keinginan kita dalam bucket list terwujud selama kita masih hidup sampai menua.”