
Kondisi mental Vallerie mulai stabil berkat kasih sayang yang diberikan suaminya sekarang. Tubuhnya sudah tidak gemetar lagi, tapi insiden mengerikan tadi masih menghantuinya. Sebenarnya ia masih bingung, seingatnya, kejadian ini tidak pernah terjadi di kehidupan sebelumnya. Kenapa bisa ada seseorang mengincarnya tiba-tiba menggunakan cara murahan? Apakah Erick adalah dalangnya? Tapi penculik ini saat ditangkap dan diinterogasi polisi sekilas, penculik ini tidak mengaku ada orang lain yang memerintahkannya.
Vallerie sudah merasa kakinya cukup kuat berjalan ke lobby. Untungnya Elliot memarkirkan mobil di lobby hotel, sehingga Vallerie bisa langsung melemaskan tubuhnya sangat kaku di dalam mobil dengan santai.
Elliot masih mencemaskan kondisi istrinya masih tidak stabil. Selama ini ia tidak pernah menggenggam tangan istrinya saat menyetir mobil. Tapi, karena situasi hari ini juga menghantuinya dan takut kehilangan istrinya, tangan kanannya menggenggam tangan kiri sang istri.
Vallerie tercengang melihat apa yang dilakukan suaminya sungguh di luar dugaan lagi.
“Jangan lepaskan genggaman tanganku! Aku akan memarahimu kalau kamu memberontak aku!” Elliot memperingatkannya tegas sambil fokus menatap kaca depan.
Vallerie tertawa gemas, justru ia terlalu bahagia karena mendapatkan perlakuan istimewa. Untuk melampiaskan kebahagiaannya, ia memainkan tangan suaminya sangat berjasa saat menolongnya tadi. “Mustahil aku melepas genggaman tanganmu. Ini pertama kali kamu menggenggam tanganku.”
“Memangnya sebelumnya aku tidak pernah melakukannya padamu?” Elliot menatap senyuman manis istrinya sekilas membuat jantungnya sedikit berdebar.
“Dulu kita lebih sering naik bus umum daripada mobil. Setiap naik bus, kamu selalu menjadikan pundakmu sebagai bantal untukku.”
“Sekarang aku kaya, tidak perlu naik kendaraan umum lagi kecuali keadaan mendesak. Kalau naik mobil pribadi, kamu bebas ingin melakukan apa pun, asalkan jangan mengganggu konsentrasiku menyetir mobil.”
Di kediaman mewah mereka, Vallerie langsung merendamkan tubuh indahnya di dalam bathtub sambil membilas area tubuh yang sempat disentuh penculik menggunakan sabun berkali-kali. Membayangkan insiden mengerikan itu sampai membuatnya merinding sendiri. Namun, karena aksi pahlawan suaminya saat di hotel tadi sangat menawan, hatinya semakin luluh seolah-olah ditolong pangeran tampan di negeri dongeng.
Cukup lama berendam di kamar mandi, akhirnya Vallerie keluar dari kamar mandi dengan penampilan menyegarkan di mata Elliot, meski berpakaian piyama. Maksud menyegarkan adalah wajah Vallerie kembali manis setelah disiksa kejam oleh pria asing tiba-tiba, berkat obat kasih sayang berhasil menyembuhkan luka trauma Vallerie.
“Elliot, kamu tidak mandi?” Vallerie bertanya tiba-tiba sehingga merusak lamunan indah suami tampan dari tadi.
“Aku mau mandi sekarang.” Seperti biasa Eliot menjawab dengan nada sedikit galak tapi sebenarnya ia malu karena isi pikirannya dipenuhi wajah Vallerie terlihat manis.
Saat Elliot keluar dari kamar mandi, sudah disambut pelukan manja diberikan istrinya, membuat tubuhnya mematung di depan kamar mandi hingga handuknya hampir terjatuh ke lantai.
“Aku tidak bisa tidur, Elliot.”
“Maaf, aku mandi terlalu lama. Aku akan menemanimu tidur sekarang.”
Sorot mata Elliot tertuju pada luka memar dan goresan di leher dan pergelangan tangan istrinya yang merusak pemandangan. Tatapannya menjadi sendu langsung menyentuh pergelangan tangan istrinya. “Berani sekali dia melukai istriku!”
“Ini hanya luka kecil.” Vallerie langsung menutup lukanya dengan lengan piyama, tapi aksinya gagal karena suaminya langsung menuntunnya menduduki tepi ranjang.
“Jangan bilang luka kecil! Aku tidak suka! Aku akan mengobati lukamu.”
Vallerie terus menampakkan senyuman manis selama diberi pengobatan istimewa oleh suaminya. Elliot mengoleskan obat pada luka-luka itu sambil meniup dengan lembut. Vallerie tidak bisa berkata-kata selain mengelus kepala suaminya mengisyaratkan ia berterima kasih memiliki suami yang penyayang, meski selama ini terlihat cuek.
“Jangan banyak bergerak! Nanti aku kesulitan mengoleskan obatnya.” Elliot menegur tegas, meski mimik wajah menampakkan senyuman dan telunjuknya meraba luka istrinya dengan lembut.
“Padahal aku berniat menyingkirkan debu di rambutmu.” Vallerie mengerucutkan bibir sedikit mengambek.
“Jangan hanya sekali pakai obat dalam sehari! Supaya cepat pulih kamu harus rutin pakai obat, kalau sampai aku tahu kamu malas, siap-siap aku akan memperlakukan kamu kasar lagi supaya kapok!”
Vallerie semakin melebarkan senyumannya mendengar suaminya semakin lama semakin overprotective, kemudian berpindah tempat menempati meja rias mengambil hair dryer.
Seketika Elliot menaruh kotak obat di rak penyimpanan, ia langsung merebut hair dryer milik istrinya dengan sigap. “Biarkan aku yang keringkan rambutmu.”
“Sebentar lagi kering, tidak masalah aku–”
“Jangan keras kepala!”
Hari ini meski dihadapi musibah besar, Vallerie menang banyak mendapatkan perlakuan ekstra cinta dari suaminya seharian penuh. Terutama baru kali ini suaminya berinisiatif mengeringkan rambutnya.
Entah kenapa semakin sayang terhadap istrinya, Elliot semakin merasa nyaman dan suka melayani istrinya daripada menyesal lagi. Melihat istrinya terus menampakkan senyuman indah lagi membuat hatinya sangat bahagia dan bernari-nari girang.
Vallerie langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, bersamaan dengan Elliot juga membaringkan tubuh. Kali ini Elliot mendekap tubuh Vallerie dengan penuh cinta, membuat Vallerie tercengang sampai mulutnya terbuka lebar. Ia masih ingat Elliot mempertegas persoalan larangan tidur berpelukan, sedangkan sekarang Elliot sendiri yang melanggar aturan itu duluan.
“Vallerie, sebenarnya aku takut tubuhmu sungguh disentuh pria berengsek itu duluan. Apalagi saat aku masuk ke kamar ….” Elliot menghentikan pembicaraannya seketika membayangkan adegan terlarang itu terlihat jelas di depan matanya sampai membuat dadanya sesak sekarang.
Vallerie tersenyum tipis, sikap Elliot yang selalu dingin di kehidupan sekarang ternyata memang ada sisi lembutnya juga yang bukan berasal dari sepotong ingatan.
Tangan kirinya menyentuh pipi lembut suaminya menatap dengan pandangan berbinar. “Kamu sungguh mencemaskan aku?”
“Sudah pasti! Aku tidak suka tubuh istriku disentuh pria lain! Kamu adalah wanita paling istimewa dalam hidupku, mustahil aku membiarkan tubuhmu dinodai siapa pun.”
Vallerie membulatkan mata sampai rahangnya terasa kaku mendengar pernyataan suaminya seperti sedang menyatakan cinta secara halus.
“Elliot ….”
“Saat aku baru menyelesaikan urusanku, aku mencarimu ke mana-mana tadi. Di ruanganmu tidak ada, di kantin, dan di taman kantor juga tidak ada kamu. Apa yang kurasakan saat itu … aku ingin menangis. Aku merasa terjadi sesuatu buruk menimpamu dan ternyata firasatku benar.” Mata Elliot mulai berkaca-kaca, spontan langsung dibersihkan Vallerie sebelum tetesan air mata jatuh ke pipi.
Elliot menggeleng cepat. “Seharusnya aku yang minta maaf karena aku sudah membuatmu bosan. Seandainya aku menemani kamu terus, mungkin kamu tidak akan celaka seperti tadi.”
Hati Vallerie semakin berbunga melihat sikap Elliot sekarang sangat mirip dengan Elliot yang dulu. Masalah membenci suaminya sekarang, Vallerie langsung melupakannya dan bahkan semakin sayang. Membenamkan kepala di dada suaminya dengan manja merasakan debaran jantung suaminya sangat jelas.
‘Kamu bohong selalu mengatakan aku keterlaluan. Padahal hatimu masih mencintaiku.’ Vallerie menggerutu dalam hati.
Melihat istrinya tiba-tiba sangat manja, Elliot justru sangat bahagia dan membiarkan istrinya terus memeluknya. Merenungkan perbuatannya selama ini selalu kasar dan cuek, Elliot tidak bisa membayangkan tetesan air mata disumbangkan istrinya sukarela karena bentakan kasar selalu diberikannya selama ini.
“Vallerie, kamu keberatan tidur berpelukan seperti ini sampai besok pagi?” Elliot mengusulkan sebuah ide yang sudah dipendamkan cukup lama membuat istrinya semakin melebarkan senyuman.
Tentu saja, Vallerie langsung menggeleng bersemangat. “Aku sangat menginginkannya.”
“Syukurlah. Mulai hari ini sampai seterusnya kamu harus selalu bersamaku, tidur berpelukan begini, ke mana pun kamu pergi, kamu harus mengajakku.”
“Kalau aku pergi bersama Whitney?”
“Tidak masalah. Asalkan dia juga tahu diri tidak membiarkanmu pulang terlalu malam. Kalau seandainya kamu ada urusan penting, kamu harus menyetir mobil sendiri. Jangan jalan kaki atau naik kendaraan umum!” Elliot ceramah panjang lebar seperti seorang ibu menasihati anak.
Vallerie tertawa gemas. Tidak biasanya mendengar suaminya overprotective, padahal sebelumnya sempat memperlakukannya kasar. Sekarang sudah menganggap sebagai sebuah harta karun.
“Omong-omong, apa yang merasuki pikiranmu hari ini? Kenapa kamu sangat menginginkanku?” Vallerie tersenyum manis memajukan kepalanya mendekati wajah Elliot.
Elliot menelan saliva gugup dan memalingkan mata. “Aku tidak nyaman setiap kamu mengalami penderitaan.”
“Benarkah? Bukan karena kamu sekarang menyayangiku sampai kamu install aplikasi GPS khusus untuk sepasang kekasih zaman sekarang?”
Rona merah semakin menyala pada pipinya. Soal sayang, apakah Elliot harus menjawabnya sekarang? Tengah malam begini?
“Aku—”
“Aku sangat ngantuk. Yang pasti aku sangat menyukaimu hari ini. Kamu memang pahlawan terbaikku sejak dulu. Terima kasih sudah menolongku, Sayang.” Vallerie mengecup pipi Elliot penuh cinta dalam durasi agak lama.
Elliot tersenyum malu sambil menyentuh pipinya bekas dicium, kemudian bibirnya menyentuh puncak kepala Vallerie sebagai pengantar tidur. “Lupakan soal masalah tadi, Vallerie. Aku ingin kamu memikirkan aku saja.”
“Setiap detik apa yang dipikirkan aku selalu kamu.”
“Kalau sampai terbawa mimpi buruk lagi, aku sudah siap menjadi pengusir mimpi burukmu.”
Sebenarnya Vallerie masih penasaran kenapa ada pria lain mengincarnya tiba-tiba. Apakah sungguh Erick adalah dalangnya sebagai peringatan akan membunuh di masa depan? Gara-gara insiden ini, Vallerie semakin pusing merencanakan misi balas dendam dan penangkapan Erick sebelum nyawa suaminya melayang lagi.
Namun, Vallerie harus menyelesaikan masalah plagiarisme rancangan gaun setiap musim yang sengaja dilakukan Sofia demi keuntungan sendiri. Setiap hari, Vallerie terkadang mewawancarai beberapa pedagang pasar terkait penjualan ilegal yang dilakukan Sofia, sekaligus Vallerie juga menginterogasi bagian produksi soal pembuatan gaun yang dirancang Sofia tanpa persetujuan.
Sedangkan Elliot sudah mendapatkan clue juga bahwa Sofia adalah pelakunya. Perbedaannya adalah ia masih belum cukup memiliki bukti yang kuat. Sampai sekarang Elliot masih belum tahu rencana Vallerie sesungguhnya, ia masih terfokus ingin melakukan penangkapan terhadap Sofia secepatnya sebelum masalah semakin rumit.
Besok adalah hari yang paling dinantikan Vallerie sekian lama setelah mengumpulkan bukti yang cukup untuk menjatuhkan Sofia. Memasuki malam hari, Vallerie masih sibuk bekerja di ruang kerja rumah mewahnya menyusun strategi agar Sofia tidak bisa membantah lagi.
Vallerie sibuk mengurus misi rahasianya sampai tubuhnya sangat kelelahan. Tanpa disadari matanya perlahan terpejam dan pada akhirnya tertidur lelap di ruang kerja dalam posisi tangannya masih memegang setumpuk berkas.
Elliot baru selesai membersihkan diri langsung mendatangi istrinya ketiduran sampai hampir terjatuh dari kursi. Elliot langsung menangkap kepala istrinya, kemudian perlahan menarik sebuah kursi mendekati istrinya, menopang kepala di meja sambil memeluk istrinya dengan erat bertujuan menghangatkan tubuh mungil istri istimewa hanya dibaluti gaun tidur tipis ditambah angin AC sangat dingin.
Kepalanya terasa sakit tiba-tiba. Sepotong ingatan lagi-lagi terlintas dalam pikirannya, kali ini memperlihatkan sebuah momen saat dirinya setia menemani istrinya bekerja lembur di kantor sampai tengah malam. Tetesan air mata jatuh membasahi pipi Vallerie tidak sengaja. Mengingat momen itu, Elliot merasa dadanya mulai sesak dan tidak tega membiarkan istrinya bekerja sampai kelelahan begini, sedangkan ia tidak bisa berbuat apa pun.
Vallerie mengangkat kepala perlahan sambil membuka matanya lebar. Ia sedikit terkejut disambut suaminya juga memposisikan diri sama seperti dirinya dan jarak bibir mereka sangat berbeda tipis.
“Kamu tidur di kamar saja. Jangan sampai kamu sakit karena bekerja terlalu keras.” Elliot mengusap kelopak mata Vallerie lembut.
“Tidak apa-apa. Besok misiku harus berhasil. Pokoknya besok kamu pasti semakin sayang padaku karena aku menolongmu dari masalah besar.”
“Tapi, tetap saja aku tidak suka melihatmu bekerja sampai ketiduran begini. Jangan membuatku merasa berdosa terus!”
Vallerie tertawa kecil dan menggenggam tangan kiri Elliot dengan pandangan berseri-seri. “Kamu sangat protektif hari ini, aku akan menuruti kamu daripada dimarahi lagi.”
Elliot sedikit memalingkan mata merasa bersalah. “Kamu … masih sebal aku memarahimu terus?”
“Tidak. Terkadang sikap marah itu sangat spesial bagiku.”
“Kalau begitu, aku ingin memarahimu sekarang. Selalu saja kamu terlalu memaksakan diri sampai terlihat kelelahan. Jangan berkata melakukannya karena aku lagi!” Elliot menegur tegas, tapi mimik wajah memperlihatkan perkataannya itu bermaksud bergurau juga untuk menghibur istrinya bekerja sampai kelelahan.
Reaksi Vallerie tertawa lepas dan mencium pipi suaminya sekilas. “Baiklah, aku akan tidur sekarang.”