
Misi pemecatan Sofia berhasil. Sekarang, langkah yang dilakukan Elliot adalah mengadakan konferensi pers mengenai masalah plagiarisme yang sudah ditangani dengan baik akibat permasalahan satu pegawai. Elliot juga memberikan kompensasi kerugian kepada Diva Fashion atas permintaan maaf karena tidak menangani pegawainya dengan baik.
Berkat aksi pahlawan yang dilakukan Vallerie hari ini, harga saham Clarity Star kembali normal. Elliot ingin membawa nama Vallerie yang berhasil menangani masalah besar ini, tapi Vallerie menolak dan ingin suaminya saja yang terlihat seperti pahlawan di mata semua orang. Karena dengan melihat komentar positif mengenai keberhasilan suaminya sudah membuatnya bahagia.
Selama makan siang, yang difokuskan Elliot adalah pandangannya tertuju pada sosok istri cantik berpenampilan sempurna hari ini, terutama bibir merah istrinya sangat menggoda sekarang sampai matanya sulit berkedip.
Vallerie tidak ingin membiarkan suaminya hanya memandanginya saja. Menaruh sendok dan garpu di piring, kemudian menopang kepala di telapak tangannya dengan senyuman manis.
“Kamu tidak bosan melihatku terus?” Vallerie sengaja mengeluarkan nada sexy untuk membangunkan lamunan indah suaminya.
Akhirnya Elliot baru tersadar dari lamunannya. Perlahan memundurkan kepala kembali melanjutkan menyantap mie kuah sedikit gugup.
“Tidak.”
Vallerie tertawa anggun. Pada akhirnya sang direktur berani menggombalnya terang-terangan saat di kantor. Berharap saja sikap manis direktur tidak akan pernah berubah.
“Lihat aku boleh, tapi kamu habiskan mie dulu. Nanti jadi tidak enak kalau dibiarkan terlalu lama.” Vallerie menasihatinya dengan lembut sambil menyesap kuah dengan anggun.
“Habisnya hari ini kamu ….” Pipi Elliot semakin memerah sampai kakinya terus gemetar sejak duduk di sini.
“Aku kenapa?” Vallerie merayu manja sengaja mengedipkan mata manis.
“Kamu … manis dan keren.”
Tertembak rasa cinta berkali-kali lipat dari Elliot. Hari ini Vallerie menang banyak karena melakukan aksi balas dendam. Seandainya saja ia melakukannya sedikit lebih cepat, mungkin suaminya akan mencintainya lebih awal juga.
“Terima kasih pujiannya, Elliot. Aku suka dipuji kamu seperti ini.” Vallerie tersipu malu menyelipkan beberapa helaian rambut ke belakang telinga.
“Kamu mau aku memuji kamu?”
“Tidak selalu sih. Aku hanya ingin kamu tidak ketus lagi. Setiap kamu ketus, aku merasa sedikit tertekan.”
Helaan napas lesu dihembuskan dari mulutnya. Hatinya tercabik-cabik lagi setelah mendengar keluhan dari istrinya. “Maaf, tapi aku pasti janji lain kali tidak akan kejam lagi. Karena aku galak ada sebabnya.”
“Aku tahu, maka dari itu, aku ingin sikap lembut kamu hanya diberikan untukku. Lebih baik kamu kejam di hadapan orang lain supaya mereka tidak akan merebutmu dariku.”
Keduanya saling melempar tawa lepas. Terutama Elliot tidak menyangka istrinya sangat menginginkannya berlebihan. Membayangkan dirinya bersama wanita lain, mungkin ia akan diterkam istrinya habis-habisan.
“Kamu sangat posesif, Vallerie.”
“Wajar aku posesif, kamu sudah menjadi milikku sejak lama. Pokoknya tidak boleh ada wanita lain mendekatimu. Titik!” Vallerie menghentakkan sumpit di dalam mangkuk berirama.
Vallerie mengambil sesendok mie cukup besar kemudian mengarahkan pada mulut suaminya. Elliot mengernyitkan dahi, tidak biasa diperlakukan manja seperti ini oleh siapa pun.
“Buka mulutmu, Elliot. Aku ingin menyuapimu, bolehkah?”
Dibalas senyuman manis, akhirnya Elliot menerima suapan cinta dari Vallerie. Tiba-tiba ia merasakan Vallerie pernah menyuapinya sewaktu dulu, dan lagi-lagi ia lupa kapan kejadian itu terjadi. Baru menerima suapan pertama, entah kenapa ia sangat menginginkannya lagi.
“Kamu mau disuapi lagi?” Reaksi Elliot tersentak, tidak menyangka Vallerie bisa membaca pikirannya sekarang.
Elliot sedikit memalingkan mata malu. “Kalau kamu tidak keberatan … aku mau disuapi lagi.”
Dengan senang hati Vallerie menyuapi suaminya sehingga tidak sampai lima belas menit mie kuah dilahap habis.
Namun, Vallerie belum menghabiskan mie karena sibuk menyuapi suaminya tanpa henti.
Elliot berinisiatif merebut mangkuk milik Vallerie, kemudian mengambil sesendok mie mengarahkan pada bibir Vallerie.
Giliran Vallerie membelalakan mata, setengah hati ia merasa déjà vu disuapi suaminya tiba-tiba seperti dulu. Tidak biasanya suaminya berinisiatif melakukan tindakan manis padahal sebelumnya selalu berkata ketus.
“Vallerie, kamu dari tadi menyuapiku sampai lupa makan. Sebagai gantinya, aku akan menyuapimu juga.” Elliot berbicara dengan santai sambil menggenggam sumpit.
Vallerie bersiap membuka mulut lebar membiarkan suaminya memasukkan sesendok mie ke dalam mulutnya. “Mie sangat lezat jika disuapi kamu, Elliot.”
“Kamu belajar gombal dari siapa sih? Pria lain pernah mengajarimu?” Elliot bertanya dengan nada sedikit ketus.
Vallerie tertawa terbahak membayangkan pikiran suaminya selalu cemburu jika membicarakan pria lain. Bertemu Bertrand saja sudah terbakar api cemburu, apalagi mengarang cerita kalau belajar gombal dari pria lain. Namun, Vallerie kasihan juga kalau suaminya cemburu berlebihan, cemas terkena serangan jantung tiba-tiba.
“Dari kamu.”
“Aku? Memangnya aku pintar gombal sewaktu dulu?” Elliot memasang raut wajah bingung sambil menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.
“Bagaimana kalau aku menggombalmu terus mulai sekarang?” Elliot tertawa manis sambil mengusap bibir istrinya sedikit berminyak dengan tisu.
Vallerie tertawa lepas. Memang sikap suaminya sangat polos sejak dulu sampai rasanya ingin mencubit pipi berkali-kali. Apalagi pertanyaan itu terdengar mustahil jika dilihat karakter suaminya selalu cuek.
“Tidak usah terlalu memaksakan dirimu. Kamu tidak galak saja aku sangat bahagia.”
“Tetap saja, aku ingin menggombalmu mulai sekarang. Mungkin aku akan cepat mencintaimu jika terus menggombalmu.”
Kali ini Elliot mengatakannya tanpa rasa malu. Hatinya ingin mengatakan hal manis terus karena perbuatan sederhana yang dilakukan Vallerie berhasil membuatnya tersentuh sejak pertemuan pertama mereka.
Rasanya Vallerie ingin mencubit pipi berkali-kali untuk memastikan ini bukan mimpi. Sayangnya tidak direkam pakai recorder supaya bisa mendengar pernyataan suaminya berulang kali.
“Pertahankan sikapmu seperti ini. Semakin kamu lembut, aku semakin menyayangimu.” Vallerie tersenyum malu.
“Cukup gombalannya, Vallerie! Kamu mau disuapi aku tidak?” Sejenak Elliot memundurkan tangannya menjauhi wajah Vallerie.
“Mau, memangnya kamu tidak suka mendengar gombalanku?”
“Justru suka, maka dari itu, cepat lambat aku akan mudah terbawa suasana karena kamu.”
Tidak terasa langit sudah menampakkan warna jingga, misi Vallerie tidak hanya sampai menghancurkan Sofia, tapi sekarang yang difokuskan adalah membalas dendam pada kakak ipar. Jika dilihat sikap Erick tadi siang terlihat kesal, Vallerie semakin yakin Erick pasti akan membunuhnya lebih cepat, bukan dua tahun kemudian karena misinya yang berhasil membanggakan mertuanya.
Terpaksa Vallerie ingin membohongi suaminya karena ia harus membuntuti pergerakan Erick mulai sekarang. Seketika Elliot memasuki ruangan ini, Vallerie sengaja bersandiwara terburu-buru membawa sling bag miliknya menuju pintu. Elliot sedikit penasaran apa yang akan dilakukan istrinya jika dilihat sikap istrinya tidak seperti biasa.
“Sayang, hari ini kamu pulang sendiri saja. Aku ingin makan malam bersama Whitney.” Vallerie berekspresi wajah polos, sebenarnya ia merasa sangat berdosa berbohong pada Elliot.
Bibir Elliot sedikit memanyun, teringat insiden di hotel masih membuatnya trauma sebenarnya. Namun, mustahil ia mencegah keinginan istrinya ingin bersenang-senang dengan teman sendiri. Terpaksa ia menurutinya.
“Baiklah, aku mengizinkanmu. Tapi, dengan syarat, jangan pulang terlalu malam. Aku masih trauma dengan insiden mengerikan itu.” Tangan kanan Elliot membelai rambut indah Vallerie, sehingga pipi Vallerie sedikit memerah.
“Kamu yakin, ‘kan? Padahal aku sudah berjanji denganmu, ke mana pun aku pergi, kita harus pergi bersama.”
“Kalau kamu pergi bersama Whitney, aku tidak akan khawatir. Kalau pergi sendiri, aku harus membentakmu lagi.”
“Tenang saja, kali ini aku tidak akan nakal lagi.” Vallerie tersenyum gemas mengelus kepala Elliot.
“Makan malam bersamaku bisa dilakukan kapan-kapan, sebaiknya kamu pergi saja. Jangan biarkan Whitney menunggumu terlalu lama.”
Bola mata Vallerie terbelalak. Ia merasa semakin bersalah terlanjur berbohong, padahal sebenarnya suaminya ingin mengajak kencan tiba-tiba. Kapan lagi menikmati momen manis sangat langka di saat suasana hati suaminya sedang baik.
“Kamu … mau ajak aku kencan?” Vallerie bertanya gugup.
Elliot membuang muka sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. “Lupakan saja. Besok kita bisa melakukannya.”
“Aku bisa—”
“Kamu pergi bersama Whitney saja. Aku tidak melarangmu.”
Akhirnya Vallerie menyerah, daripada menjadi bahan pertanyaan kenapa mengincar Erick sampai bertindak sendiri diam-diam. Vallerie memutuskan merahasiakan dari suaminya sampai waktu yang tepat tiba untuk membicarakannya.
Sebelum berpamitan, Vallerie mengecup pipi suaminya memberikan energi cinta selama beberapa detik. “Aku pergi dulu, Elliot.”
“Sampai bertemu di rumah, Vallerie. Hati-hati di jalan.” Elliot mengelus kepala istrinya sekilas.
Dalam lubuk hatinya, sebenarnya Vallerie terus meminta maaf karena kencan mereka jadi tertunda tiba-tiba gara-gara ingin memantau pergerakan Erick. Vallerie ingin berkata jujur, tapi ia cemas Elliot akan semakin ketakutan jika mendengar kakak kandungnya merupakan seorang pembunuh.
Sekarang saatnya melakukan misi rahasia memantau pergerakan Erick. Vallerie tahu Erick biasanya memarkirkan mobil di lobby perusahaan, karena Erick merasa tidak nyaman jika memarkirkan di basement.
Saat Vallerie menunggu di lobby, tiba-tiba sosok Erick muncul terlihat terburu-buru keluar dari lobby kemudian memasuki mobil sport miliknya.
Untungnya Vallerie sudah memesan taksi dulu, sehingga tidak perlu menunggu taksi terlalu lama. Ia langsung memasuki taksi dan memerintahkan sopir taksi mengikuti mobil Erick dari belakang. Jika dilihat arahnya, Erick bukan ingin pulang ke rumah. Justru itu yang membuat Vallerie penasaran dengan aktivitas lain yang dilakukan Erick saat pulang kerja.
Hanya berjarak beberapa kilometer dari kantor, Erick menyalakan lampu sen kanan mobilnya memasuki sebuah bar tidak asing bagi Vallerie. Lalu, Vallerie memerintahkan sopir taksi mengikuti arahan mobil Erick.
Seketika Erick keluar dari mobil berlarian memasuki bar yang biasanya dikunjungi kalangan keluarga elit, Vallerie juga keluar dari taksi terburu-buru memasuki bar. Sekarang yang dilakukannya adalah mencari keberadaan Erick di antara kerumunan banyak pengunjung di sini. Bagus untuk Vallerie juga karena dengan begini, keberadaannya tidak akan tertangkap basah. Tapi sisi buruk, semakin mempersulit mencari sosok Erick.
Langkah kaki Vallerie terhenti, akhirnya terlihat juga penampakan Erick sedang menikmati minuman alkohol bersama dengan seorang wanita. Vallerie sengaja memilih tempat duduk sedikit lebih dekat untuk mengamati sosok wanita itu sangat tidak asing bagi Vallerie, jika dilihat postur tubuhnya sangat sexy.
Perlahan Vallerie menggeserkan kursi karena terlalu penasaran dengan wanita yang ditemui Erick. Tubuh Vallerie dalam sekejap kaku seketika melihat Erick sedang bercumbu diam-diam dengan Rachel.