Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 67: Kebahagiaan Dua Pasang Kekasih



Baru selesai makan malam dan membersihkan diri, Vallerie masih sibuk merapikan berkas yang akan dibawa ke kantor untuk keperluan rapat lagi. Vallerie terlihat bermondar-mandir mengambil beberapa berkas disimpan di rak buku lalu memasukkan ke dalam tas kerja.


Seketika ia ingin mengambil map cukup tebal di rak, tanpa sengaja menyenggol ordner terisi penuh sehingga ordner itu hampir menimpa kepalanya, langsung dilindungi punggung lebar suaminya dengan lincah.


PUKK


Ordner itu akhirnya terjatuh di lantai. Vallerie langsung panik memeriksa kondisi fisik suaminya, cemas akan terluka memar akibat melindunginya. “Sayang, bagian mana yang sakit? Kenapa kamu melindungiku sih?”


“Tadi hanya kena sedikit. Untung saja tidak kena kepalamu. Nanti kamu hilang ingatan, aku yang kesulitan.” Elliot memeluk tubuh Vallerie erat sambil mengusap kepala Vallerie hampir terbentur ordner lambat laun.


Vallerie langsung melepas pelukan, menggandeng tangan kanan suaminya menempati sofa di ruangan ini, kemudian mengambil sebuah kotak P3K di ruang tamu. Namun, aksinya langsung dicegah suaminya. Tangan kanannya ditarik sehingga tubuhnya sekarang kembali tertangkap dalam dekapan hangat suaminya.


“Punggungmu harus diobati! Lepaskan aku!” Vallerie berusaha memberontak, tapi kehabisan tenaga melawan suaminya.


Elliot mencium hidung Vallerie tiba-tiba membuat jantung Vallerie langsung menggebu-gebu sampai tatapannya tidak berkedip.


“Harus dicium dulu baru kamu menuruti aku.” Elliot tertawa mencubit pipi Vallerie gemas.


“Mau dicium atau tidak, aku tidak peduli.” Vallerie memelototi suaminya balik sambil menepuk lengan.


“Aku merasa tidak sakit sama sekali. Tadi hanya kena sedikit, mana mungkin sampai memar!”


Dahi Vallerie mengernyit. “Kamu yakin tidak merasa sakit? Sudah beberapa kali kamu menolongku seperti ini.”


“Tidak sakit kalau kamu tidak kesakitan juga.”


“Seandainya saja tubuhku tinggi seperti kamu. Kamu tidak perlu bersusah payah membantuku setiap aku ingin mengambil barang di rak tinggi.”


Tangan kanannya membelai rambut indah istrinya. “Justru kamu terlihat imut, aku sangat suka. Punggungku kuat seperti baja untuk dijadikan perisai melindungimu.”


Cukup lelah berdebat dengan suaminya. Lagi pula sudah terlanjur nyaman tubuhnya diberikan kehangatan cinta sampai semakin candu ingin bermanja terus.


“Kamu lelah bekerja sampai malam?” Elliot bertanya tiba-tiba membuat Vallerie bingung.


Vallerie mengedikkan bahu. “Tidak. Aku sudah terbiasa bekerja keras. Kenapa kamu mempertanyakan hal itu tiba-tiba?”


“Sebenarnya, bukan jawaban itu yang aku inginkan.”


Kecupan manis mendarat di punggung tangannya membuat Vallerie semakin tersipu malu.


“Aku ingin mengajakmu ke Paris.” Elliot berkata dengan tatapan percaya diri, sehingga hampir saja Vallerie terkena serangan jantung mendengarkan ajakan tidak terduga sepanjang hidupnya.


“Kamu … serius?”


“Bulan depan akan ada festival parade busana ditampilkan para model terkenal seluruh dunia di sana. Aku ingin mencari inspirasi rancangan pakaian yang cocok untuk proyek besar nanti, sekaligus aku ingin mengabulkan keinginanmu.”


Senyuman manis semakin menghiasi sudut bibirnya, ditambah deraian air mata bahagia membendung pada kelopak matanya. “Padahal aku sudah sempat melupakan keinginan konyol itu. Aku mengira hal itu sangat mustahil diraihku.”


“Kalau menikahiku, tidak ada sesuatu yang mustahil. Apa pun yang kamu inginkan, aku pasti bisa mengabulkannya sesulit apa pun. Sebagai permintaan maaf dariku karena aku selalu bersikap kasar padamu dan membuatmu selalu menangis di hari pernikahan kita.”


Vallerie menggeleng cepat, kedua tangannya langsung memeluk tubuh suaminya erat. “Kamu jangan meminta maaf terus karena sikap kasarmu. Aku tidak memedulikan hal itu lagi. Kamu selalu terlihat manis dan selalu menolongku setiap aku hampir celaka, aku sangat bahagia memiliki kamu dalam hidupku.”


Sorot mata Elliot teralihkan pada jarum panjang menampakkan sudah memasuki tengah malam. Sejenak lengan kekarnya menggendong tubuh istrinya keluar dari ruang kerja menuju kamar mereka yang letaknya hanya bersebelahan.


Perlahan membaringkan tubuh istrinya sambil membungkus tubuh menggunakan selimut, tidak lupa mencium kening istrinya selama beberapa detik. “Hari ini kamu bekerja keras sampai kelelahan. Sebaiknya kamu tidur saja.”


“Tapi, aku masih ingin berbincang denganmu. Bolehkah?” Vallerie mengedipkan mata manja.


“Aku tidak bermaksud melarangmu, tapi aku tidak ingin kamu sakit karena tidak beristirahat cukup.”


Bibir Vallerie sedikit memanyun, tapi apa boleh buat demi kebaikannya juga tidak mau ada kantung mata terlihat besok pagi karena kurang tidur, ia langsung menuruti perkataan suaminya.


“Baiklah, aku akan tidur sekarang.” Vallerie mencium pipi Elliot berdurasi lama menambah senyuman Elliot semakin mengambang.


Sementara pasangan Erick dan Rachel masih belum bisa tertidur lelap, karena pikiran mereka masih terusik mengenai permohonan restu orang tua Rachel, entah kenapa terkesan sedikit paksaan. Itulah yang membuat Erick terus berbalik badan berkali-kali sehingga Rachel juga kesulitan tidur akibat getaran ranjang terus mengganggunya.


“Kamu kenapa sih sebenarnya?” Rachel bertanya dengan nada sedikit ketus, meski tatapannya bermaksud mencemaskan Erick.


“Apakah orang tuamu sungguh merestui hubungan kita?”


“Sudah pasti. Kamu tadi tidak dengar ayah dan ibuku akhirnya menyetujui pendapatku karena aku sempat mengancam akan kabur tadi?”


“Memang sih ancamanmu terlihat efektif. Tapi, entah kenapa aku merasa mereka merestui hubungan kita karena terpaksa. Bisa jadi karena ancamanmu.”


“Maksudmu? Gara-gara aku membujuk orang tuaku dengan ancaman jadinya terkesan paksaan restu dari mereka?”


“Bukan. Tapi, orang tuamu tadi sungguh menakutkan saat aku mengakui kamu sedang mengandung anakku.”


Helaan napas lesu dikeluarkan dari rongga mulut. Masih menampakkan tatapan percaya diri, Rachel memeluk tubuh Erick erat. “Maaf, memang mereka suka menakuti semua orang, termasuk aku. Itulah sebabnya aku lebih mementingkan kamu daripada mereka. Aku yakin jawaban tadi sungguh tulus dari lubuk hati mereka. Karena orang tuaku tipikal menuntutku cepat memiliki cucu juga.”


Kepala Erick sedikit terangkat gugup. “Benarkah? Tapi apa yang kita lakukan adalah kesalahan.”


“Tidak apa-apa. Daripada aku tidak bisa menghasilkan keturunan sama sekali, kamu mau?”


“Tidak.”


“Selain itu, jangan berkata bayi kita adalah hasil dari kesalahan kita! Jangan membawa sial untuk bayi kita nanti!”


Perlahan tangan kiri Erick mengusap perut Rachel mulai sedikit terisi dibandingkan beberapa minggu sebelumnya masih terlihat sexy. Bibirnya mendarat sekilas di perut Rachel, lalu tidak lupa mencium pipi Rachel sekilas. “Aku selalu menganggap bayi kita adalah keajaiban dari Tuhan. Aku tidak sabar menantikan anak kita itu perempuan atau laki-laki.”


“Bukankah seharusnya kamu lebih fokus pada upacara pernikahan kita dulu? Orang tuaku meminta kita harus adakan pernikahan secepatnya.”


“Bulan depan, bagaimana? Perutmu seharusnya masih belum terlalu membesar dan ada gaun pengantin ukuran besar cocok untukmu sedang hamil.”


“Habisnya kalau memakai gaun pengantin sexy, nanti—”


“Tidak akan muat? Memangnya perutku sekarang sangat gemuk?”


“Demi kebaikanmu. Kamu mau bayi kita masuk angin hanya karena kamu mau pakai gaun pengantin terbuka?”


Hari ini adalah hari libur. Sudah lama dua bersaudara ini tidak menghabiskan waktu bermain tenis bersama. Elliot dan Erick memulai pemanasan meregangkan otot-otot sambil memamerkan penampilan menawan pada pasangan masing-masing.


Apalagi Erick sudah siap mengalahkan adiknya yang jarang memenangkan pertandingan tenis sederhana. Erick menampakkan senyuman licik menatap adiknya sambil menatap tunangannya sedang bermain tenis bersama adik ipar.


Para wanita bermain tenis tidak terlalu kompetitif, Vallerie lebih memedulikan kesehatan bayi dalam kandungan Rachel. Karena sebenarnya wanita hamil tidak dianjurkan berolahraga berat, meski baru memasuki trimester pertama.


Cukup lelah bertanding dengan Rachel yang bergerak lumayan lincah meski sedang hamil, Vallerie dan Rachel beristirahat menempati bangku di tepi lapangan sambil menyesap air mineral dan menyaksikan para pria sudah bersiap ingin bertanding.


“Aku penasaran kemampuan suamimu apakah sudah berkembang atau belum?” sindir Rachel sambil melambaikan tangan pada Erick dari kejauhan.


Respons Vallerie menyipitkan mata, lalu merebut botol Rachel. “Kamu menyindir suamiku?”


“Habisnya kemampuanmu tidak ada bedanya dengan suamimu. Saat aku bermain denganmu tadi, kamu tidak bisa melakukan smash dan kamu kalah.”


“Aku menyesal mengalah padamu justru dapat sindiran. Padahal aku bermaksud baik supaya tidak terjadi sesuatu pada bayimu!” Bibir Vallerie mengerucut.


Rachel mencolek-colek lengan Vallerie sambil menunjuk area lapangan para pria. “Ayo, kita lihat mereka!”


Pertama, Erick yang melakukan serving bola tenis ke arah Elliot. Kemudian dibalas pukulan cukup kuat sehingga Erick pun kesulitan menangkap bola yang dipukul adiknya. Satu skor untuk Elliot pada pembuka pertandingan membuat Vallerie bersorak kegirangan dari kejauhan sambil membuat simbol hati menggunakan jempol dan jari telunjuk untuk suaminya.


Elliot tertawa lepas dari kejauhan membuat dua simbol hati juga. “Lihat, Sayang! Akhirnya aku bisa mengalahkan kakakku!”


“Pertahankan kemampuanmu sangat keren tadi!” Vallerie juga berteriak membuat Rachel menggeleng.


“Ini semua berkat kamu menontonku. Aku semakin bersemangat bertanding melawan kakakku.” Sorot mata Elliot kembali tertuju pada kakaknya tertawa remeh di hadapannya.


“Kalian berisik! Mau mesra-mesraan di rumah saja! Terutama kamu, Elliot! Tadi itu kamu hanya kebetulan, sekarang aku sungguh sudah siap!”


Giliran Elliot yang melakukan serving dulu, kali ini bola ditangkap Erick lincah. Seperti biasa Erick mengandalkan jurus istimewa setiap bermain tenis sehingga Elliot mulai kewalahan menangkap bola tenis berpantulan lincah, bahkan membuatnya hampir jatuh ke lapangan beberapa kali. Namun, Elliot tetap tidak ingin menyerah, demi istrinya bangga melihat kemampuannya berkembang seperti pembuka permainan, Elliot juga mengandalkan jurus bermain tenis andalannya sehingga Erick merasa lelah menangkap bola berpantulan lincah akibat dismash adiknya terus.


Hampir tiga menit berlalu, akhirnya Elliot dan Erick bergabung dengan para wanita duduk di bangku panjang. Vallerie langsung memberikan satu botol air untuk suaminya sambil memijit pundak suaminya pegal-pegal akibat terlalu banyak bermain smash.


Sedangkan Erick tersenyum tipis, tangan kanannya menepuk-nepuk lengan kiri Elliot, membuat Elliot menatap bingung, aneh saja sikap kakaknya tidak seperti biasa selalu mengomelinya setiap selesai bertanding.


“Kemampuanmu tadi pertahankan.”


“Kakak tidak memarahi aku?” Senyuman tipis terpampang pada wajah Elliot.


“Meski skor kita seri, tapi aku akui kemampuanmu sudah sama sepertiku. Sebenarnya apa yang memotivasimu bisa bermain sampai bersemangat seperti tadi?”


Pandangan Elliot berbinar memandangi penampilan istrinya terlihat sexy dengan balutan pakaian dress olahraga. “Karena aku tidak ingin mengecewakan Vallerie. Aku tahu istriku sangat bahagia setiap aku berhasil mengalahkan kakak.”


Vallerie tertawa kecil mengelus punggung tangan kanan suaminya. “Aku sangat bangga padamu.”


“Jadi tidak seru deh! Padahal aku sudah terbiasa mengoceh setiap kamu kalah!” Erick mengambek meneguk air mineral terburu-buru sampai awalnya botol terisi penuh, sekarang tidak tersisa satu tetes.


“Aku bosan dimarahi kakak terus! Lagi pula, dengan begini, aku bisa pertahankan posisiku di perusahaan tanpa harus berdebat dengan kakak lagi.” Elliot tertawa usil menepuk-nepuk paha Erick.


“Tapi, aku akui kamu hari ini terlihat keren, Elliot!” Rachel mengacungkan jempol untuk Elliot, dalam sekejap Erick terbakar api cemburu langsung mendongakkan kepala tepat di depan bibir Rachel.


“Jadinya, aku tidak hebat di matamu?” protes Erick bernada ketus.


Elliot dan Vallerie tertawa ledek melihat Erick ternyata bisa cemburu berlebihan. Sedangkan Rachel sedikit merasa bersalah karena sudah mempermalukan calon suaminya, sebagai gantinya ia mencium pipi calon suaminya dengan penuh cinta.


“Aku belum selesai bicara. Elliot hebat di mataku, tapi kamu jauh lebih sempurna di mataku.”


Akhirnya Erick kembali menampakkan senyuman ceria, mencium pipi Rachel mendalam berdurasi lama. “Akan kupastikan di pertandingan selanjutnya aku berhasil mengalahkan Elliot, supaya kamu memujiku seperti Vallerie memuji Elliot.”


Sebulan kemudian…


Hari ini adalah hari kebahagiaan untuk Erick dan Rachel. Pesta pernikahan diadakan lebih mewah dibandingkan pernikahan Elliot dan Vallerie, karena tuntutan pihak keluarga Rachel ingin pesta pernikahan putri tunggal mereka terlihat sempurna.


Elliot dan Vallerie menempati meja khusus untuk para keluarga terdekat berkumpul bersama. Melihat pesta pernikahan berlangsung manis dan meriah, Vallerie sedikit iri. Seandainya saja pesta pernikahannya meriah begini, mungkin akan selalu diingat sepanjang hidupnya.


Terlihat sepasang pengantin baru mengucapkan sumpah pernikahan dan melakukan pemasangan cincin satu sama lain pada jari manis sangat bahagia, Elliot dan Vallerie turut menangis bahagia melihat kakak mereka akhirnya menyusul juga membentuk keluarga kecil. Apalagi ada sang buah hati dalam perut Rachel, keluarga Erick yang lebih terlihat bahagia dibandingkan Vallerie masih belum hamil sampai sekarang.


Erick membuka wedding veil yang menghalangi pemandangan indah wajah istrinya sangat manis. Memajukan bibirnya mendekati bibir merah istrinya terlihat berkilauan. “Aku sangat mencintaimu dan bayi kita.”


“Aku juga mencintaimu, Erick.” Rachel tersenyum anggun.


Seketika sepasang pengantin baru berciuman mesra menandakan sekarang mereka resmi berstatus sebagai sepasang suami istri, entah kenapa Vallerie semakin gelisah teringat momen pernikahan di masa sekarang sangat mencekam. Teringat ciuman mereka saat hari pernikahan, malahan suaminya tidak terlalu bahagia melakukannya dan hampir hancur karena saat itu sepotong ingatan kembali satu per satu.


Mengamati istrinya terus melamun, Elliot bisa baca isi pikiran istrinya seperti apa. Tangan kirinya mencium punggung tangan kanan istrinya sehingga mengagetkan sang istri masih memeriahkan pesta pernikahan ini.


“Kamu tidak iri, ‘kan?”


“Kenapa kamu menganggapku sedang iri?”


Elliot mengedikkan bahu. “Habisnya raut wajahmu sangat gelisah dari tadi. Kamu teringat pesta pernikahan kita terkesan tidak menyenangkan?”


Vallerie menggeleng pelan, sengaja menampakkan senyuman tipis supaya suaminya tidak berpikir berlebihan. “Aku menganggap hari pernikahan kita sangat istimewa saat itu. Hanya saja dari tadi aku iri karena tidak kusangka Erick memperlakukan Rachel penuh kasih sayang sangat besar.”


Kepala Elliot menunduk sambil mengelus punggung tangan istrinya pelan. “Maafkan aku, Sayang. Seandainya saja aku bisa memutar waktu kembali dan memperingatkan aku saat itu jangan bersikap ketus padamu di hari pernikahan kita.”


Bibir Vallerie memanyun, kedua tangannya menyentuh pipi Elliot. “Jangan berbicara memutar waktu lagi! Aku sudah sangat menyukai kehidupan sekarang.”