Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 53: Asupan Manis Saat Hujan



Pagi hari telah disambut awan keabu-abuan berkerumunan di seluruh kota ini. Hujan berguyur deras disertai suara petir cukup keras membangunkan Erick dari dunia mimpi. Saat Erick mengerjapkan mata, tangan kirinya entah kenapa tidak bisa merasakan kehadiran kekasihnya di sebelah.


Dengan panik Erick langsung bangkit dari ranjang kemudian berlari menuju pintu kamar mandi tertutup rapat. Daun telinga menempel di pintu, tapi tidak mendengar suara apa pun di dalam kamar mandi. Erick sangat yakin kekasihnya di dalam kamar mandi lagi karena mengalami gejala mual.


Saat ingin menerobos pintu, pintu terkunci dari dalam. Erick mengetuk pintu pelan tapi tidak terdengar respons dari kekasihnya, sehingga menambah rasa panik.


“Rachel, kamu ada di dalam, ‘kan? Kamu tinggal menjawabku supaya aku tidak menganggapmu pingsan di dalam!” Erick berteriak sambil mengetuk pintu berkali-kali.


“Aku baik-baik saja! Jangan panik!” Rachel berteriak dari dalam, tapi nada bicaranya terdengar lemas.


Erick sedikit lega mendengar suara kekasihnya. Tapi, ia juga cemas apa yang dilakukan kekasihnya di dalam kamar mandi tidak terdengar suara apa pun. Apakah sebenarnya sedang menangis?


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka perlahan. Rachel melangkah keluar dari kamar mandi dengan berpenampilan gaun tidur elegan berbahan tipis, menatap Erick dengan tatapan lesu sambil menggenggam sebuah benda di dalam plastik kecil transparan.


“Rachel, apa yang sedang kamu lakukan di dalam kamar mandi? Aku sangat mencemaskanmu. Aku mengira kamu sungguh pingsan di dalam!” Erick mengomel tanpa segan supaya kekasihnya kapok membuatnya selalu panik dan cemas.


Rachel mengeluarkan alat testpack dari plastik, kemudian memperlihatkan hasil testpack pada Erick dengan wajah setengah bahagia dan setengah sedih.


Bola mata Erick membulat seketika mengamati hasil testpack memperlihatkan dua garis merah. Di pagi hari hujan deras, Erick sangat terngiang-ngiang mendapatkan sebuah hadiah istimewa dari Tuhan.


Rachel tersenyum tipis. “Aku hamil, Erick. Ada anakmu di dalam perutku.”


Erick tertawa lepas langsung memeluk tubuh Rachel sangat erat sampai napas Rachel sedikit tersengal-sengal. “Sudah kuduga. Dilihat gejalamu selama ini selalu mual, aku yakin kamu pasti hamil.”


Tatapan Rachel sedikit melotot, respons kekasihnya sungguh di luar dugaannya. “Kamu tidak mempermasalahkannya? Aku hamil anakmu sebelum kita menikah karena kesalahan yang telah kita perbuat waktu itu. Kamu masih menginginkan anakmu?”


“Kamu jangan pernah berpikir ingin mengaborsi bayi kita! Aku tidak masalah sama sekali. Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Aku ingin kamu menjadi ibu yang baik merawat bayi kita selalu sehat.”


Hati Rachel tersentuh mendengar calon suaminya sungguh sangat menyayanginya meski telah melakukan kesalahan besar. Kedua lengannya melingkar di punggung lebar sang calon suami dengan manja menampakkan senyuman bahagia. “Aku pasti akan menjaga bayi kita sampai persalinan nanti. Tapi, aku cemas orang tua kita sangat menentang pernikahan kita karena aku hamil lebih awal.”


Sejenak Erick melepas pelukan, menampakkan senyuman percaya diri sambil membelai rambut Rachel. “Tenang saja, aku akan membujuk orang tua kita supaya merestui hubungan kita. Hamil di luar nikah sebenarnya tidak terlalu dipermasalahkan, asalkan aku bertanggung jawab dan masih mencintaimu.”


Sedangkan suasana pagi bagi pasangan Elliot dan Vallerie sedikit berbeda dari sebelumnya. Hujan lebat di luar rumah menambah rasa malas bagi Elliot mengendarai mobil. Maka dari itu, ia memutuskan menunggu hujan berhenti sambil menenangkan pikiran istrinya masih kacau setelah mendengar cerita Carla sesungguhnya sangat menyakitkan.


Tangan Vallerie masih sedikit gemetar jika terus memikirkan kejadian yang dialami Carla. Seandainya ia menjadi Carla, mungkin ia bukan sekadar membenci Bertrand sepanjang hidupnya, tapi sungguh ingin menyiksa Bertrand habis-habisan sebagai pembalasan karena sudah menyakiti semua orang terdekatnya.


Suara petir cukup keras beberapa kali membuat Vallerie semakin merinding ketakutan. Elliot merentangkan kedua lengannya, lalu menyentuh pelipis Vallerie menggunakan dua tangan sambil mendaratkan bibir di puncak kepala Vallerie dari belakang selama beberapa detik.


Dalam sekejap senyuman indah kembali terukir di sudut bibirnya. Sekarang Vallerie merasakan tubuhnya diberikan pelukan hangat suaminya membuat pikirannya langsung melupakan semua permasalahan berkaitan dengan Bertrand. Ia lebih memilih bermanja dengan suaminya di saat hujan deras tanpa ada seseorang tidak akan mengganggu lagi.


“Aku takut ….”


“Kamu masih takut petir dari dulu sampai sekarang? Itulah alasan kenapa saat aku meninggal, aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian di sini. Siapa yang akan melindungimu kalau kamu ketakutan begini setiap ada petir?” Elliot menempelkan bibirnya di pelipis istrinya mendalam.


Vallerie tertawa imut memainkan jari jemari suaminya. “Sebenarnya sejak aku menikahimu, aku tidak takut petir lagi. Itu kalau ada kamu, saat aku sendirian atau bersama orang lain, mungkin aku masih takut.”


“Sekarang sudah ada aku menemanimu, ada apa lagi yang membuatmu takut?”


“Aku takut Bertrand akan mencelakai kita setelah mendengar cerita Carla kemarin.” Tangan Vallerie kembali gemetaran, langsung diberi sentuhan bibir manis sang suami tampan sekilas di punggung tangannya membuat tangannya tidak gemetar.


“Vallerie, kalau sampai Bertrand ingin membunuh kita lagi, jangan menghalangiku melindungimu. Aku tidak mau kamu tewas lagi.”


Vallerie menggeleng cepat. “Tidak boleh! Pokoknya di masa sekarang, aku ingin kita hidup bahagia sampai menua. Aku masih ingin memiliki anak bersamamu.”


“Tapi, Bertrand adalah orang yang sangat berbahaya. Apalagi malam ini kamu harus merayakan ulang tahunnya tanpa aku menemanimu.”


“Tenang saja, aku punya trik bagus supaya pesta ulang tahunnya nanti akan terkesan pahit dalam hidupnya.” Senyuman licik terpampang pada wajah Vallerie menambah rasa penasaran Elliot.


“Kamu merencanakan apa?” Elliot menyunggingkan senyuman usil menempelkan hidung di hidung Vallerie.


“Rahasia!” Vallerie tertawa usil menjulurkan lidah.


“Kamu sungguh nakal sekali, Vallerie!” Elliot mengeluarkan jurus menggelitik tubuh Vallerie tanpa hentinya sampai napas Vallerie mulai tersengal-sengal.


“Sudah lama kamu tidak menggelitik aku. Apa yang merasuki pikiranmu tiba-tiba?” Vallerie juga tidak ingin kalah menggelitik tubuh suaminya terus.


“Aku hanya ingin melampiaskan selama ini jarang sekali menghabiskan waktu bersamamu.”


Awalnya duduk santai di sofa, kini posisi tubuh mereka terbaring di sofa akibat terlalu menikmati bermain saling menggelitik tanpa peduli penampilan mereka terlihat berantakan sebelum berangkat kerja.


“Di luar masih hujan deras, mau sampai kapan kamu mau di sini terus?” Vallerie memajukan kepala sengaja menempelkan bibirnya di hidung Elliot.


“Sampai hujan berhenti. Kamu sendiri kan tahu aku tidak suka menyetir mobil saat hujan deras. Kaca buram sulit melihat jalan.” Pandangan Elliot tertuju pada kaca jendela terus menampakkan kilatan petir di luar rumah tanpa henti.


“Kalau siang hari masih belum berhenti? Kamu tetap ingin bermain?”


“Tentu saja. Rapat hari ini aku bisa meminta bantuan Jordan menundanya.” Dengan santai Elliot tertawa terbahak.


Vallerie memutar bola mata memukuli lengan Elliot pelan. “Sejak kapan kamu jadi malas begini? Padahal dulu kamu rajin bekerja tidak peduli apa pun.”


“Sejak aku menikahimu.”


“Aku yang membuatmu malas?”


“Tidak. Tapi, prinsip utamaku adalah bermain bersama istriku lebih diprioritaskan daripada urusan pekerjaan. Pekerjaan bisa ditunda sebentar, tapi menghabiskan waktu bersama wanita yang sangat aku sayangi tidak bisa ditunda. Karena aku tidak mau menyesal di akhir nanti karena aku jarang bermain bersamamu.”


Vallerie tertawa anggun mendengar ungkapan manis suaminya berhasil membuat seisi ruang tamu menjadi hangat, meski hujan badai masih melanda di luar rumah.


“Bolehkah aku meminta satu permintaan darimu?”


“Kamu mau cokelat panas? Akan kubuatkan sekarang.” Seketika Elliot terburu-buru berdiri, tangan kanannya ditahan istrinya.


“Aku mau cokelat panas dan aku ingin bermain bersamamu sepuasnya sampai hujan berhenti.”


Elliot tertawa gemas mengelus kepala istrinya perlahan. “Itulah yang kuinginkan juga.”


Tidak perlu menunggu lama, Elliot membawa dua gelas berukuran besar berisi cokelat panas. Satu gelas diberikan untuk istrinya dari tadi tidak sabar ingin mencicipinya.


Vallerie menyesap cokelat panas buatan suaminya dengan senyuman lebar. “Cokelat panas buatanmu memang sangat diandalkan.”


“Setiap kamu kedinginan di hari hujan, sudah pasti akan kubuatkan cokelat panas yang manis, supaya kamu semakin manis.” Gombalan suaminya membuat pipinya merah merona, Vallerie menggenggam gelas agak gugup.


“Memangnya selama ini aku tidak manis?”


“Kamu sangat manis, tapi jika aku memberikan asupan manis spesial dariku, pasti kamu terlihat semakin manis di mataku. Meski di mata orang, kamu terlihat biasa.” Elliot menaruh gelas miliknya dan juga gelas istrinya, kemudian membaringkan tubuh mereka berpelukan erat di sofa.


“Aku penasaran saat kamu belum menikahiku. Kalau hujan deras begini, kamu juga bermalasan di kamar sampai hujan berhenti?”


Dengan sengaja Elliot menempelkan bibirnya di sudut bibir sang istri sambil mengusap kepala istrinya. “Aku kan seorang direktur, mustahil aku bermalasan di rumah. Kamu lupa prinsipku selalu kejam setiap kerja? Biasanya Jordan yang selalu menyetir mobilku ke mana pun aku pergi. Kecuali aku ingin sendirian, aku tidak membutuhkan bantuannya.”


Vallerie memanyunkan bibir. “Bisa disimpulkan, memang aku yang memberikan racun malas untukmu.”


Elliot memainkan bibirnya mendarat di pipi istrinya berkali-kali. “Bukan racun malas, tapi kamu memberikan racun cinta yang selalu membuatku membayangkan wajahmu setiap aku bosan.”


Akhirnya hujan berhenti setelah menunggu lumayan lama. Sebelum berhadapan dengan musuhnya, Vallerie menyaksikan rekaman kamera dasbor mobil Whitney. Dengan tatapan fokus menyaksikan pergerakan mobil misterius mengikuti mobil Carla diam-diam. Jika dilihat model mobil dan plat mobil, dalam ingatan Vallerie itu bukan mobil Bertrand. Apakah Bertrand punya kaki tangan? Atau Bertrand sengaja menyewa mobil lain supaya jejaknya tidak bisa terdeteksi?


Aria memasuki ruangan ini sambil membawa tablet miliknya, menghampiri Vallerie masih sibuk memelototi rekaman dasbor.


“Kamu sudah melakukan apa yang kuminta?” Vallerie menghentikan penayangan video rekaman itu.


Aria tersenyum cerdas. “Semua sudah beres. Nanti malam pasti akan sampai. Tenang saja, aku tidak memberitahukan identitasku dan kamu terang-terangan.”


“Kerja yang bagus, Aria. Aku sangat mengandalkanmu hari ini.” Vallerie mengacungkan dua jempol kegirangan.


“Apakah masih ada yang bisa kubantu?”


Vallerie menggeleng. “Tidak ada. Tugas lain akan kuserahkan pada temanku. Kamu bisa kembali mengurus proposal proyek. Terima kasih banyak, Aria.”


“Aku masih banyak berhutang budi karena suamimu menjodohkan Jordan denganku. Seperti tahu saja aku menyukai Jordan semenjak dulu dan Jordan menyukaiku juga. Bukan karena permintaan kamu, ‘kan?”


Vallerie mengedikkan bahu berwajah polos. “Bukan. Memang sejak awal Elliot ingin menjodohkan kalian, tapi cara penyampaiannya membuat kalian salah paham.”


Tibalah saatnya Vallerie berhadapan dengan musuh terbesarnya entah di masa lalu maupun masa sekarang. Vallerie melangkah memasuki restoran berbintang lima ini di dalam hotel ternama, mencari keberadaan sang pembunuh yang membuatnya tidak sabar ingin menghabisi pembunuh itu secara halus.


Bertrand melambaikan tangan dari kejauhan. Vallerie menyahutinya dengan senyuman palsu, melangkah anggun menuju meja yang ditempati Bertrand. Kemudian duduk berhadapan dengan gaya sedikit angkuh menyilangkan kaki. Dalam hatinya, ia sudah bersiap ingin menyakiti perasaan Bertrand di hari ulang tahun ini. Melihat Bertrand hanya mengundangnya, Vallerie tahu tujuan Bertrand mengajak makan malam berdua saja karena apa.