Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 48: Berita Lamaran



Sedangkan di ruangan lain, Vallerie sibuk berdiskusi dengan Aria persoalan proyek besar masih disusun rencananya untuk beberapa bulan ke depan. Sejak Elliot menyindir persoalan Jordan akan dijodohkan dengan wanita lain, ekspresi wajah Aria belakangan ini agak murung. Dibandingkan biasanya selalu terlihat ceria setiap berbincang bersama Jordan.


Vallerie merasa bersalah, karena suaminya selalu tidak peka pada orang lain, kini bertambah satu beban bagi Vallerie untuk membujuk hubungan Aria dan Jordan kembali baik seperti semula. Sepanjang diskusi, Aria tidak terlalu banyak berpendapat. Vallerie sudah tidak tahan mengamati pegawainya murung sepanjang hari.


“Aria, ada apa denganmu?”


“Aku baik-baik saja.” Aria menyahuti berwajah datar sambil mengetik sebuah laporan di laptop.


“Tidak biasanya kamu terlihat murung. Apa terjadi masalah? Ada yang menindasmu lagi?”


“Tidak. Semua orang berbuat baik.” Lagi-lagi Aria menjawab dengan ekspresi wajah datar.


“Apa mungkin karena Jordan?” Vallerie sengaja langsung berbicara pada intinya, penasaran dengan ekspresi wajah Aria akan seperti apa.


Dugaannya benar. Aria langsung menghentikan jarinya terus berlarian di keyboard laptop. Embusan napas lesu terus dikeluarkan dari mulutnya, menandakan bahwa apa yang ditebak Vallerie memang benar. Namun, setengah pikiran malu karena tidak menyangka Vallerie bisa mengetahui faktanya tanpa perlu diberitahukan langsung.


“Bagaimana kamu bisa tahu hubunganku dengan Jordan? Padahal selama ini aku tidak pernah bercerita langsung.”


Vallerie tersenyum tipis. Sudah pasti ia sudah tahu sejak lama. Bisa dikatakan sejak sebelum kembali masa ini. Vallerie selalu menyaksikan momen mesra Aria dan Jordan sewaktu dulu terkesan manis, meski diterpa berbagai badai ingin merusak hubungan mereka.


“Aku tahu saat kamu yang berbincang dengan Jordan di depan pintu. Kalian terlihat sangat mesra.”


Pipi Aria sedikit memerah. “Soal itu—”


“Kamu menyukai Jordan, ‘kan? Kamu sengaja membohongiku dan Elliot saat itu karena tidak mungkin kamu mengungkapkannya terang-terangan.”


Akhirnya Aria mengaku juga daripada menambah dosa berbohong lagi pada atasannya padahal tidak mencelakakan nyawa. Aria mengangguk malu sambil menyingkirkan helaian anak rambut ke belakang telinga. “Aku mengaku. Memang sebenarnya aku menyukai Jordan sejak lama.”


“Tapi, kalian sungguh berpacaran? Saat itu jika dilihat cara kalian berbincang, sebenarnya kalian terlihat sangat mesra.”


Aria menunduk menghembuskan napas lesu. “Kami belum berpacaran tapi dalam waktu dekat ini, aku berencana ingin menyatakan perasaanku padanya. Meski dia lebih memilih dijodohkan dengan wanita lain, aku merelakannya saja. Mungkin di matanya, aku masih banyak kekurangan.”


Tangan kanan Vallerie terkepal kuat memasang tatapan elang seolah-olah ingin mencabik suaminya habis-habisan, karena sudah merusak hubungan pegawainya sendiri hampir berakhir manis. “Memang Elliot tidak akan kumaafkan! Seandainya dia bisa mengendalikan mulutnya waktu itu, hubungan kalian tidak akan semakin rumit!” Ia menggesekkan kepalan tangan pada meja kerja.


“Jangan menyalahkan suamimu. Benar yang dikatakan suamimu. Mungkin Jordan bisa mencari wanita yang jauh lebih sempurna daripada aku.”


Dengan tatapan percaya diri, Vallerie menggenggam kedua tangan Aria. “Pokoknya aku akan mencari cara supaya hubunganmu dan Jordan kembali membaik seperti semula. Kalian sudah ditakdirkan sejak dulu dan tidak boleh dipisahkan. Nanti aku akan berusaha membujuk suamiku berubah pikiran.”


“Tapi aku tidak mau merepotkanmu karena mengurus urusan pribadiku. Aku jadi semakin sungkan.”


“Tidak masalah. Justru aku sangat senang membantumu daripada melihatmu kesulitan kedua kalinya. Kamu kan temanku, jadinya kamu jangan selalu merasa sungkan pada temanmu sendiri.” Vallerie menepuk pundak Aria menampakkan senyuman santai.


Vallerie merasa bosan di dalam ruangannya sendirian. Seketika memutuskan ingin mengunjungi ruangan direktur, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, sosok suaminya memasuki ruangannya seperti tahu isi pikirannya.


“Sayang, kamu mau ke mana?” Elliot menatap bingung sambil menggenggam paper bag.


“Aku … mau mengunjungimu. Tidak kusangka, ternyata aku kalah cepat.” Vallerie tersenyum malu, menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga.


Elliot menggoyangkan paper bag kecil dibawanya, lalu menuntun istrinya menempati sofa sambil mengeluarkan sebuah kotak isinya adalah cookies cokelat.


“Aku bawakan camilan untukmu. Sebenarnya aku ada rapat tiba-tiba sebentar lagi. Maaf, aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”


“Tidak apa-apa. Sambil menunggumu, aku bisa berbincang dengan robot pemberianmu.”


Elliot mengerutkan dahi memasang tatapan sebal. “Jangan terlalu mengandalkan robot! Robot tidak bisa menciummu atau membawakan camilan untukmu.”


Vallerie tertawa puas sambil menepuk paha. Belum mengucapkan sepatah kata, suaminya sudah bermanja menjadikan pahanya sebagai bantal. Sedangkan jari jemarinya mulai bekerja melakukan pelayanan istimewa memijit dahi suaminya sebelum berpikir kritis saat rapat.


“Aku juga tidak bisa memijit robot. Wujud robot itu keras.”


Elliot memajukan kepalanya mengecup sudut bibir istrinya sekilas. “Pelayanan darimu, aku beri dua puluh bintang.”


Langit malam terlihat indah, sangat pas untuk momen dua pasang kekasih menikmati makan malam bersama di sebuah restoran mewah yang sudah dipesan Erick. Penampilan Erick dan Rachel masih sama sejak tadi pagi memakai pakaian nuansa hitam karena mereka mengunjungi rumah abu sejenak.


Elliot sedikit curiga melihat pakaian yang dikenakan pasangan di hadapannya terlihat senada. Entah kebetulan atau tidak, Elliot sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Menaruh garpu dan pisau di piring.


“Tadi kakak mengunjungi ibunya kakak?”


Erick tersenyum tipis. “Ketahuan juga.”


“Jangan memanggil ibuku ‘tante’! Panggil ‘ibu’ saja!” Erick memberikan beberapa sendok sayuran untuk Rachel.


Semua orang terkejut mendengarnya, terutama Elliot sampai mematung. Sudah pasti, biasanya Erick tidak terlalu suka dengan ibunya Elliot, justru sekarang dengan santai mengizinkan adiknya memanggil panggilan ibu.


“Kakak sungguh demam? Dari tadi pagi sikap kakak sangat aneh!” Elliot menyentuh dahi Erick, tapi langsung dihindari cepat.


“Aku bersikap biasa. Hanya saja selama ini aku memanggil ibumu adalah ibu. Seharusnya aku mengizinkan kamu memanggil ibuku adalah ibu juga.”


“Aneh sekali melihat sikap kakak hari ini berubah drastis.” Elliot tertawa kecil kembali memotong daging steak.


“Jadinya, kamu mau kita bermusuhan lagi?”


Elliot menggeleng cepat. “Tidak! Aku lebih nyaman kalau kakak selalu baik padaku.”


“Sebenarnya ada satu hal penting yang ingin kuberitahukan pada kalian.”


Tiba-tiba Erick menggenggam tangan Rachel sudah terpasang cincin berlian pada jari manis. Bola mata Elliot dan Vallerie membulat.


“Aku dan Rachel akan menikah dalam waktu dekat ini.” Erick menatap tunangannya dengan tatapan cinta.


“Wah, selamat ya untuk kalian berdua! Akhirnya kalian menyusul kami juga!” Vallerie berjabat tangan dengan Rachel dan Erick.


“Kalau seandainya kalian tidak merusak kencan kami waktu itu, mungkin pacarku akan melamarku lebih awal.” Rachel menggerutu, tapi sebenarnya ia bermaksud bergurau saja.


Vallerie terkekeh. “Maafkan aku. Soal masalah itu sebaiknya kita lupakan saja. Yang penting aku senang kalian berdua sudah bertunangan sekarang.”


Entah kenapa Elliot yang bereaksi berbeda sendiri. Tadi pagi menanyakan soal Rachel hamil di luar nikah, Erick tetap terus membantahnya sehingga akhirnya Elliot menyerah juga. Sedangkan sekarang, tatapannya terfokus pada meja makan, tidak ada satu pun minuman alkohol yang dipesan Erick di saat merayakan momen bahagia ini. Apakah Rachel sungguh wanita yang diungkit Erick tadi pagi? Apalagi Erick dan Rachel sangat menyukai wine, whisky, atau champagne. Mustahil mereka sengaja tidak ingin menikmati minuman alkohol dalam sehari.


“Selamat ya, Kak! Aku doakan semoga hubungan kakak dan Rachel selalu lancar.”


“Maka dari itu, kamu jangan mengganggu hubungan kami lagi!” Erick mengepalkan tangan kanan sekilas.


Sebenarnya dari tadi Rachel sibuk mencari minuman alkohol, entah kenapa tidak biasanya kekasihnya tidak membeli satu pun minuman alkohol, bibirnya sedikit cemberut. “Erick, kamu tidak pesan champagne atau wine?”


Bibir Erick terkatup rapat. Sebenarnya ia masih bingung soal tunangannya sungguh hamil atau tidak. Maka dari itu, ia sengaja tidak ingin beli minuman alkohol dulu untuk memastikan hasilnya nanti jika Rachel mengalami mual terus-menerus.


Erick menampakkan senyuman hangat, tangan kiri mengelus pipi Rachel lambat laun. “Aku sengaja tidak mau beli.”


“Kenapa? Bukankah dari dulu kamu suka? Apalagi hari ini kita ingin merayakannya bersama Elliot dan Vallerie.”


Erick menyentuh pundak Rachel. “Minuman alkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Aku ingin kamu dibiasakan jangan terlalu mengandalkan minuman alkohol.”


Apa boleh buat, terpaksa Rachel menuruti perkataan kekasihnya. Sebenarnya ia tahu maksudnya apa tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, karena kejadian tadi pagi mual berlebihan tiba-tiba padahal bukan karena masuk angin.


“Tapi, apakah orang tua Rachel akan merestui hubungan kalian? Seingatku, orang tua Rachel lebih menyukaiku daripada kakak.”


“Orang tuaku pasti langsung merestui hubungan kami. Nanti aku akan berusaha membujuk mereka. Apalagi sikap Erick sangat baik di mataku, orang tuaku pasti sangat menyukai Erick juga.” Rachel tersenyum percaya diri menggenggam tangan kiri Erick.


Sebenarnya Vallerie ingin bertanya mengenai Bertrand, apakah ada cara lain bisa mencegah Bertrand sebelum melakukan percobaan pembunuhan lagi? Tapi jika dilihat situasi suasana hati Erick sedang bahagia bersama Rachel, terpaksa mengurungkan niat dan menikmati pesta sederhana terkesan manis.


“Vallerie, kamu kenapa? Dari tadi kamu terlihat murung.” Erick tiba-tiba cemas mengamati tingkah adik iparnya tidak seperti biasa.


“Oh, aku tidak akan mengungkitnya sekarang. Aku tidak mau merusak momen kalian.”


“Apa karena Bertrand?”


Vallerie membelalakan mata. “Bagaimana kamu bisa baca pikiranku?”


Erick memutar bola mata, menaruh sendok dan garpu di piring. “Sebentar lagi hari ulang tahun Bertrand dan tumben sekali Bertrand tidak mengundangku makan bersamanya. Mengetahui dia adalah pelaku sebenarnya ingin mencelakaimu, aku jadi kamu juga pasti akan merencanakan sesuatu untuk menghancurkannya.”


“Apa yang harus kulakukan? Apakah Bertrand memiliki kelemahan?”


Erick bertopang dagu. “Bicara soal kelemahan, sebenarnya setiap membicarakan seorang wanita, dia pasti sudah tidak bisa berpikir jernih. Tapi aku pernah berbincang dengannya dan dia membicarakan kamu, memang sih dia sudah melupakanmu tapi aku masih tidak memercayai omongannya. Kamu hati-hati saja setiap bertemu dengannya.”


Embusan napas lesu dikeluarkan dari mulut Vallerie sambil memutar cangkir teh perlahan. Diam-diam Elliot menyentuh punggung tangan Vallerie di bawah meja kemudian mendekatkan bibirnya pada daun telinga Vallerie. “Sayang, jangan pikirkan dia dulu! Kamu pikirkan aku saja. Aku cemas kamu mengalami stress berat hanya karena dia.”


“Aku tidak pernah stress sejak ada kamu. Kamu adalah penyembuhku.” Vallerie mengecup punggung tangan suaminya.