
Vallerie memutar otak kembali berpikir mengenai satu hal yang masih belum diketahuinya persoalan tiba-tiba Elliot menjadi putra bungsu pendiri perusahaan ternama. Bagaimana bisa sejarah kehidupan Elliot berubah drastis sedangkan sewaktu dulu hanya anak yatim piatu. Apakah Elliot terpisah dari keluarga sebenarnya adalah rencana Erick juga? Rasanya kepala Vallerie ingin pecah memikirkan semua teori konspirasi terdengar tidak masuk akal.
“Kamu kenapa, Sayang?” Elliot memasang wajah lesu seketika mengamati raut wajah istrinya terlihat kusut akibat terlalu banyak berpikir.
“Pijit kepalaku.” Vallerie mengedipkan mata manja membuat Elliot meleleh.
Apa yang dilakukan Elliot berbeda dari ekspektasi Vallerie. Kecupan manis mendarat pada pelipis dan keningnya dalam durasi lama. Energi cinta yang disalurkan suaminya dalam sekejap membuat kepalanya tidak sakit lagi.
Vallerie tersipu malu. “Ciuman darimu jauh lebih efektif daripada pijatan.”
“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sampai sakit kepala begini? Dari aku selesai mandi sampai mau tidur, aku tidak suka melihat wajahmu murung begini.”
“Aku masih penasaran dengan identitasmu sebenarnya. Kenapa kamu tiba-tiba bisa terlahir sebagai keluarga kaya? Kamu masih ingat kan dulu kamu anak yatim piatu.”
Elliot bertopang dagu. “Aku curiga, di kehidupanku sebelumnya, aku adalah anak hilang yang sempat diberitakan. Anak hilang dari putra bungsu pendiri Clarity Star Company Limited saat berlibur keluarga.”
“Tapi … kenapa di kehidupan sekarang kamu tidak hilang?”
Elliot tersenyum manis. Anehnya ingatannya sewaktu kecil di kehidupan sekarang, ia ingat dengan jelas. “Aku hampir menghilang juga di kehidupan ini. Tapi, aku ditolong seseorang. Seorang gadis kecil berwajah ceria menolongku saat itu. Gadis itu tidak bisa berenang, dia tidak sengaja tergelincir sampai terjatuh di kolam. Aku langsung menolongnya dan meminta bantuan orang. Karena kejadian itu, orang tuaku jadi menemukan aku lebih mudah.”
Mendengar cerita singkat itu, tiba-tiba ada sepotong ingatan terlintas dalam pikiran Vallerie.
*****
Saat itu Elliot kecil sedang melarikan diri dari seorang pria dewasa berpenampilan misterius mengejarnya di sebuah tempat terpencil. Elliot tidak sengaja terpisahkan dari kedua orang tuanya karena beralasan ingin pergi ke kamar kecil sendirian. Napas Elliot tersengal-sengal, akhirnya ia bersembunyi di balik bangunan tua mencari tempat persembunyian strategis.
Tiba-tiba ia mendengar suara jeritan gadis kecil bersumber dari kolam. Ia langsung berlari secepat kilat menghampiri kolam, lalu menceburkan tubuhnya ke kolam yang tidak terlalu dalam. Dengan sekuat tenaga berenang mendatangi gadis mungil itu menangis menjerit karena tidak bisa berenang.
Gadis itu adalah Vallerie kecil. Ia berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya meraih dasar kolam untuk memposisikan tubuhnya stabil, tapi karena sudah terlanjur panik akibat syok, tubuhnya perlahan tenggelam menuju dasar kolam.
Hap!
Untungnya Elliot tepat waktu menangkap tubuh Vallerie. Sekarang giliran dirinya berenang sambil menarik tangan kanan Vallerie menuju permukaan kolam. Penuh perjuangan mengangkat tubuh Vallerie lumayan berat ke tepi kolam sampai tenaganya sepenuhnya telah habis.
Sejenak membaringkan tubuhnya di tepi kolam mengatur pernapasannya kembali stabil, lalu berusaha melakukan pertolongan pertama sesuai pengetahuan yang telah dipelajarinya selama ini. Memompa-mompa dada Vallerie dengan tatapan panik sambil terus berteriak meminta pertolongan.
“Kumohon, jangan mati.”
Aksi pertolongan pertama berhasil. Vallerie menyemburkan air kolam mengenai wajah Elliot tanpa sengaja. Perlahan membuka matanya langsung disambut anak laki-laki berwajah tampan adalah penyelamat hidupnya.
“Kamu … menyelamatkan aku?”
“Kamu membuatku takut tadi! Bagaimana kalau seandainya kamu sungguh mati!” Tangisan Elliot sangat pecah, sontak ia merasakan sentuhan tangan hangat gadis ini membuatnya sangat nyaman.
“Terima kasih sudah menolongku. Kamu seperti malaikat.”
Rona merah menyala pada pipi Elliot. Elliot memeluk tubuh gadis yang ditolongnya ini penuh girang. “Namamu siapa? Aku ingin berteman denganmu.”
Vallerie tertawa girang mempererat pelukannya sangat nyaman. “Namaku–”
Tiba-tiba sekelompok polisi berhamburan memasuki bangunan ini. Padahal mereka ingin berkenalan supaya bisa berteman lebih dekat, malahan gagal karena mereka dipisahkan orang tua masing-masing.
Dari kejauhan saat Elliot digandeng ibu kandungnya, ia berekspresi putus asa mengira ini adalah momen terakhirnya bertemu seorang gadis yang berhasil membuatnya bahagia.
‘Aku ingin bertemu denganmu suatu hari. Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku.’
*****
Vallerie baru teringat, sebenarnya di kehidupan masa lalu, ia tenggelam di kolam karena tidak ada yang menolongnya sehingga membuatnya mengalami penyakit sejenis trauma. Penyakit itu agak sulit disembuhkan, sehingga membutuhkan waktu lama proses pemulihan dan menguras biaya cukup banyak. Itulah sebab kenapa di masa lalu, ibunya gagal mendirikan butik gaun pengantin. Karena semua biaya sudah digunakan untuk pengobatan Vallerie.
Buliran air mata sedikit membasahi kelopak matanya. Entah ini kebetulan atau tidak, memang benar perkataan malaikat maut itu. Hubungan mereka sudah terikat benang merah sejak awal. Ke mana pun mereka berpisah, pasti akan dipertemukan kembali. Terutama sekarang mereka berada di dunia berbeda dari dunia sebelumnya, tapi kenyataan memang mereka harus menikah. Vallerie sangat berterima kasih pada suaminya karena sudah berhasil menyelamatkannya dari trauma tidak diinginkan.
“Aku … yang menolongmu waktu itu,” bisik Vallerie terbata-bata.
Bola mata Elliot terbelalak. Tubuhnya langsung mendekati istrinya penuh penasaran. “Benarkah? Kamu adalah gadis yang hampir tenggelam itu?”
Vallerie mengangguk pelan. Elliot merasa bahagia dan lega gadis yang ditolongnya di kehidupan sekarang adalah istrinya sendiri. Lengan kekarnya langsung mendekap tubuh Vallerie dengan erat, melampiaskan rasa syukur dan bahagia bisa bertemu istrinya meski kebetulan.
“Terima kasih sudah menolongku, Vallerie. Berkat kamu, aku tidak kehilangan orang tuaku. Aku tidak perlu tumbuh di panti asuhan sampai remaja.”
“Kita memang sudah ditakdirkan bersama sejak dulu. Aku selalu menantikanmu. Berkat kamu, aku tidak perlu mengonsumsi obat penenang lagi.”
“Sedangkan aku tidak perlu trauma dengan air lagi. Aku tidak perlu melakukan terapi rutin, kamu tidak perlu repot menenangkan aku setiap kondisi mentalku tidak stabil. Selama ini aku juga ingin bertemu denganmu, akhirnya keinginanku terkabul dan pada akhirnya menikahimu.”
Elliot melepas rasa bahagianya memeluk tubuh istrinya kegirangan. Begitu juga Vallerie melampiaskan tangisan haru sambil meraba leher suaminya.
Sontak Vallerie berdeham dan melepas pelukan sejenak. Meluruskan perkataan suaminya sekaligus memberitahukan fakta yang mereka alami berdasarkan teori konspirasi dalam pikirannya. “Sebenarnya dunia yang kita tempati sekarang bukan dunia asal kita. Aku merasa kita terlahir kembali di dunia berbeda.”
“Untuk mendapatkan posisi ini, aku harus membayar sesuatu paling berharga dalam hidupku. Mungkin wanita itu yang mempertemukan kita menggunakan energi sihirnya atau sewaktu dulu ada halangan yang mempertemukan kita saat masih kecil. Di dunia ini tidak ada halangan sehingga kita bisa bertemu meski tidak saling kenal.” Elliot tersenyum simpul sambil menatap sebuah bingkai foto kecil memperlihatkan foto masa kecilnya.
Masih ada satu hal yang mengganggu pikiran Vallerie saat melihat foto masa kecil Elliot memperlihatkan Erick berdiri girang di sebelah Elliot. Kenapa Erick sangat ingin membunuh mereka entah di kehidupan ini atau kehidupan sebelumnya? Apalagi Elliot dinyatakan hilang, mustahil Erick mengetahui adik kandungnya masih hidup lalu ingin menghabisi nyawanya.
“Untuk sementara ini, aku ingin kamu jangan mudah memercayai Erick. Apalagi dia ingin membunuhmu dengan segala cara.” Vallerie memperingatkannya.
“Sampai sekarang aku juga merasa menjadi misteri. Erick kenapa ingin membunuh kita sedangkan aku dinyatakan menghilang? Aku yakin, Erick selama ini berpura-pura menganggapku orang asing, padahal aku adalah adik kandungnya.”
“Yang membuatku bingung juga adalah di kehidupan kita sekarang, Rachel adalah orang terdekatmu sebelum aku menemuimu. Padahal sebelumnya, kita tidak mengenal Rachel.”
Dahi Elliot mengernyit mendengar perkataan istrinya tadi sedikit menyinggung hatinya. “Apa aku tidak salah dengar? Rachel adalah orang terdekatku? Aku saja selama ini sangat ogah menemuinya!”
“Sebenarnya, aku masih belum memercayainya sepenuhnya. Saat di kamar hotel waktu itu, kamu dan dia terlihat sangat mesra. Seandainya saja aku tidak menolongmu waktu itu, apakah kamu akan berakhir dengannya? Melayaninya sepanjang malam?” Vallerie meraba dagu suaminya perlahan.
Elliot tidak bisa berkata-kata mendengar istrinya selalu berprasangka buruk karena sejarah kehidupan mereka sedikit berubah. Dari tadi berusaha menahan tawa, akhirnya tidak bisa juga. Sekarang melampiaskan tawa sangat puas sampai wajahnya memerah.
“Aku melayani Rachel? Sayang, sejak kapan pikiranmu sangat kotor?”
“Kalau seandainya aku tidak mencegahmu saat itu, mungkin kamu akan berakhir berciuman dengannya.” Mata Vallerie semakin terlihat lesu.
Dibalas kecupan manis diberikan Elliot menempel pada bibirnya selama beberapa detik. Vallerie sedikit terkejut, tapi hatinya sangat terngiang-ngiang berciuman dengan suaminya di saat hatinya gelisah.
“Kamu salah. Aku tidak mungkin berciuman dengan wanita tidak kucintai. Kamu lupa dengan prinsipku selalu menjaga bibirku supaya tidak ternodai bibir siapa pun?”
“Lalu, kenapa kamu menciumku saat itu? Padahal kamu membenciku sampai mengusirku saat acara perjamuan makan malam waktu itu.” Vallerie menampilkan senyuman percaya diri mengusap bibir lembut Elliot dengan jempol.
“Karena sejak awal hatiku sudah sangat mengenalmu. Saat itu, hatiku ingin merasakan energi cintamu,” ungkap Elliot dengan nada sexy sengaja mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya lagi.
Vallerie tersenyum usil, sekarang gilirannya menautkan bibirnya dengan bibir suaminya lagi. Kali ini melakukan pergerakan bibirnya cukup lincah membuat jantung Elliot semakin menggebu-gebu ingin melakukannya lebih lama sampai mereka puas. Dari awalnya kondisi duduk bersandar, kini posisi tubuh mereka terbaring di ranjang karena sudah terlalu candu berciuman entah sampai kapan ingin melakukannya.
Kembali memasuki dunia medan perang menghadapi musuh terbesar. Sejak ingatan Elliot kembali pulih seperti semula, sekarang mereka terus bergandengan tangan setiap bepergian, tidak peduli dilihat para pegawai karena tingkah mereka dalam sekejap mesra. Sedangkan biasanya bersikap profesional.
Saat berpapasan dengan Erick saat memasuki lantai khusus direktur, Elliot dan Vallerie menampilkan raut wajah percaya diri. Bahkan mereka masih bisa menyapa Erick dengan santai setelah berdebat cukup dahsyat saat makan malam keluarga.
Erick tertawa remeh melipat kedua tangan di dada. “Tidak biasanya kamu bermesraan dengan istrimu di kantor. Bukankah selama ini kamu selalu merasa tidak nyaman kalau memamerkan momen kemesraan kalian?”
Elliot tertawa mengejek juga, dengan santai mendekati Erick sambil merapikan dasi Erick sedikit terlihat kusut. “Sesekali aku ingin mengubah suasana kerja. Menjadi direktur eksekutif juga tidak perlu terlalu serius. Nanti istriku merasa tidak nyaman kalau bekerja dengan direktur kaku seperti aku.”
“Begitu rupanya. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu bekerja lagi. Pekerjaan direktur memang selalu sibuk dibandingkan manajer.” Erick sengaja menekankan nada bicaranya bermaksud menyindir Elliot.
“Kakak tidak perlu bertarung denganku. Kita lihat saja, siapa yang akan menang nantinya.”
Tatapan Erick sekilas memelototi Vallerie bergaya angkuh juga. Elliot langsung berdiri di depan istrinya, lagi-lagi bertindak sebagai perisainya Vallerie.
“Kakak barusan memelototi istriku?”
“Aku merasa istrimu hari ini lebih cantik dari biasanya. Beruntung sekali kamu menikahinya, aku jadi iri melihat kamu sudah hidup bahagia bersamanya.”
Elliot tersenyum sinis. “Kalau Rachel mendengar perkataan kakak barusan, aku yakin dia akan meminta putus hubungan.”
“Jaga ucapanmu, Elliot! Rachel tidak akan pernah meminta putus denganku!” Erick tanpa segan mendorong bahu Elliot kasar.
“Ya … ya … aku hanya doakan semoga kisah percintaan kakak tidak kalah indah denganku.”
Cukup muak berbincang berbasa-basi dengan kakaknya lumayan lama. Elliot ingin bertanya langsung pada intinya mengenai kakaknya sempat mendatangi ruangannya tanpa meminta izin dulu. Ia dari tadi menahan kemarahannya, karena ia bukan tipe orang mudah mengizinkan seseorang memasuki ruangan pribadinya. Apalagi Elliot tahu kakaknya seperti sedang ingin merencanakan sesuatu jika dilihat ekspresi wajah kakaknya sedikit gugup.
“Omong-omong, kakak ngapain pergi ke ruanganku? Padahal kakak sendiri tahu terkadang aku datang lebih siang.”