Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 59: Munculnya Clue Baru



Tentu saja Vallerie tidak akan berdiam kalau urusan dirinya ditindas lagi, apalagi kali ini lebih memalukan dibandingkan di kehidupan sebelumnya. Tidak perlu ditanya, Vallerie sudah melakukan selangkah tanpa sepengetahuan suaminya lagi dan dua temannya ini.


Menampakkan senyuman licik sambil menyesap minuman Matcha Latte dengan anggun. “Aku sudah membalas perbuatannya lagi.”


“Kamu mau berbuat jahil apa lagi?” Elliot mendongakkan kepala tepat di depan bibir Vallerie.


“Sebenarnya aku sempat membutuhkan bantuan Aria dan Jordan lagi.”


“Lagi? Kenapa kamu merahasiakan dariku? Mau aku kasih pelajaran supaya kapok?” Elliot mencubit pipi Vallerie sedikit bertenaga sehingga Vallerie sedikit kesakitan.


“Maafkan aku, Sayang. Habisnya keadaan sekarang genting, sedangkan kamu sibuk mengurus perusahaan. Jadinya, aku langsung meminta bantuan Jordan sebelum dia berkencan dengan Aria.” Vallerie memasang wajah polos menggarukkan kepala.


Elliot tersenyum santai, sebagai pengganti sudah mencubit pipi istrinya, sekarang ia mengecup area bekas dicubit tadi dengan penuh cinta. “Aku tidak memarahimu. Hanya saja setiap kamu merencanakan sesuatu, kamu harus lapor ke aku dulu! Aku cemas terjadi sesuatu padamu kalau seandainya rencanamu hancur.”


“Sebenarnya, rencanaku itu adalah ….”


Di sisi lain, Bertrand hendak memasuki mobilnya terparkir di basement penthouse khusus penghuni VIP. Saat ia ingin melajukan mobil sedannya, mobilnya tidak bisa bergerak dan bahkan ada yang aneh pada ban mobil.


Terpaksa Bertrand keluar dari mobil memeriksa ban mungkin mengalami masalah. Seketika memeriksa masing-masing ban bagian depan dan belakang, ban terlihat kempis akibat banyak bolong terlihat dilakukan seseorang sengaja. Bertrand langsung mengamuk berlari cepat menuju ruang pengendalian CCTV dan memanggil petugas keamanan yang biasanya mengawasi basement.


Anehnya di rekaman CCTV tidak terlihat seseorang mencurigakan melewati mobilnya dari kemarin malam sampai sekarang. Tatapan Bertrand terus terfokus pada rekaman CCTV sampai matanya sedikit perih, tapi tidak ada hasil membuktikan ada seseorang yang sengaja melakukannya.


Saat bertanya kejadian ini pada petugas keamanan, tapi dilaporkan memang tidak ada pengunjung atau penghuni penthouse terlihat mencurigakan selama berpatroli di basement. Sekarang tingkah Bertrand semakin menggila keluar dari ruangan ini kembali menuju basement.


Saat bersamaan, ada sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor tidak dikenal membuatnya semakin berteriak tidak waras di basement, membaca pesan itu adalah sebuah ancaman lagi.


“Bagaimana? Permainan ini seru, ‘kan? Pembunuh tidak pantas mendapatkan kehidupan yang layak.”


Dari kejauhan terlihat Aria dan Jordan bersembunyi di dalam mobil. Urusan ini justru mereka senang melakukannya demi atasan mereka selamat. Terutama Jordan semakin merasa bangga karena keahliannya dalam hal peretasan memanipulasi rekaman CCTV berhasil juga, meski dipergunakan untuk melakukan hal ilegal.


“Aku bangga punya pacar sangat jenius seperti kamu.” Aria mengacungkan jempol kanan untuk Jordan.


Jordan tersipu malu. “Sebenarnya kalau dipakai untuk melakukan ilegal bukan hal membanggakan, tapi karena kamu sudah memujiku tadi. Aku sangat tersanjung.”


“Sebenarnya kamu cocok jadi peretas terkenal atau bisa jadi pembuat aplikasi dan sistem keamanan komputer. Kenapa kamu hanya bekerja sebagai asisten direktur saja?”


Helaan napas dihembuskan dari mulut Jordan. “Karena … memang ada satu alasan aku tidak bisa melanjutkan studi di luar negeri untuk memperdalam ilmu teknologi. Tapi, tidak masalah. Asalkan aku sudah punya wanita yang sangat menyayangiku, aku tidak perlu melanjutkan studiku lagi. Kita bisa berpacaran di kantor diam-diam setiap kita ada waktu luang.”


Aria mengatupkan bibir sambil mengelus punggung tangan kekasihnya, menampakkan senyuman tipis. Entah kenapa jawaban yang diberikan Jordan tidak memuaskan, tapi ia tetap merasa bersyukur. “Aku mendukung kehendakmu saja. Aku juga senang berpacaran denganmu setiap hari kerja di tangga darurat.”


“Karena atasan kita sudah memberikan hadiah tidak terduga untuk kita, sekarang tugas kita adalah berbalas jasa pada mereka. Di dunia ini tidak ada yang gratis.”


Jordan tersenyum tipis membayangkan sosok karakter sang direktur yang selalu memotivasinya sejak dulu sehingga sampai sekarang Jordan menjadi penggemar Elliot diam-diam. “Elliot pernah menyelamatkan aku saat sebelum aku bekerja sebagai asistennya. Sebagai bayarannya meski dia tidak memintaku membayarnya, aku harus membantunya melakukan apa pun, meski pekerjaan sulit.”


Sementara Vallerie dan Elliot masih berbincang santai dengan sepasang reporter di Kafe. Vallerie kembali mengeluarkan chip nomor sementara kemudian memasangkan chip nomor asli miliknya setelah melakukan aksi teror pada Bertrand baru saja.


“Pasti dia sekarang sudah menggila karena aku sudah lumayan sering mengancamnya belakangan ini.” Vallerie tersenyum licik sambil menatap chip nomor sementara.


“Wah, ternyata teman baikku ini seram juga kalau sedang balas dendam!” Harry bertepuk tangan terkagum.


“Demi aku, suamiku, dan Carla, tidak akan kubiarkan dia hidup tenang kali ini atas perbuatannya di masa lalu! Apalagi berani sekali sekarang dia menggunakan media menyebarkan gosip aneh ini.”


“Tidak masalah. Justru aku sengaja meminta bantuanmu karena hanya kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan. Kalau meminta Harry, tugasnya sudah terlalu banyak dan bidang kalian sama. Hanya berbeda tempat bekerja saja. Aku percaya kamu bisa menulis artikel ini.”


Akhirnya Whitney mengaku menyerah saja daripada berdebat tiada akhir sampai mulut pegal-pegal. “Baiklah, aku akan melakukan sebaik mungkin supaya semua orang memihakmu lagi.”


“Sebenarnya aku juga ingin merilis artikel mengenai perbuatan kotor yang dilakukan Bertrand selama ini.” Harry memperlihatkan laporan yang diberikan temannya mengenai aktivitas kotor yang dilakukan Bertrand selama ini.


Laporan itu mengenai Bertrand sebenarnya memiliki akun rekening rahasia berisi dana gelap mengenai aktivitas yang dilakukannya memerintahkan seseorang melakukan tindakan ilegal di hotel. Selama ini Bertrand bekerja sama dengan beberapa anak dari politikus, Bertrand dibayar mencari seorang wanita melayani mereka setiap malam. Itulah alasan kenapa terkadang Bertrand bermain golf dengan beberapa anak muda itu, seperti biasa menggunakan janji akan mendukung diam-diam demi melawan orang tua mereka di masa depan.


Itulah sekilas info laporan yang disampaikan Harry. Semua orang yang membacanya sampai mengamuk, terutama Elliot teringat istrinya selalu didekati seorang pria berengsek selama ini. Teringat juga insiden di kamar hotel saat istrinya hampir diperkosa, batas kesabaran Elliot hampir habis jika dilihat tatapannya sangat kejam sekarang.


“Haruskah membunuhnya sekarang juga? Dia sungguh berengsek!” Elliot berdiri lincah sambil memukul meja.


Vallerie menarik tangan kiri suaminya kembali menempati kursi sambil merangkul pundak. “Sudahlah, kita jangan bertindak gegabah! Aku akan membuatnya terus menderita seiring berjalan waktu.”


“Tapi, kalau sampai dia bertindak lebih jauh terhadapmu, aku cemas. Insiden masa lalu yang menimpa kita, aku masih takut.” Alis Elliot menurun dan bibirnya memanyun.


Sudah cukup lama berdiskusi soal pembalasan dendam di hari libur. Vallerie juga tidak ingin hari libur mereka tidak terkesan manis karena masalah yang dihadapi mereka. Terutama suasana hati suaminya memburuk mendengar informasi itu.


Dengan senyuman manis dan tangan kanannya terulur menggenggam tangan suaminya erat, bermaksud mengalihkan isi pikiran negatif sejenak. “Kamu mau kencan denganku?”


Elliot mengangguk cepat. “Ayo, kita kencan! Aku rindu kencan bersamamu.”


“Iya, kalian selamat bersenang-senang. Urusan masalah ini serahkan pada kami saja.” Whitney memutar bola mata dengan nada sedikit tertekan. Sebenarnya ia iri juga karena ingin kencan tapi harus membantu temannya dulu.


“Terima kasih, Whitney. Aku akan mentraktir kalian berdua makanan enak di lain waktu.” Vallerie memeluk Whitney kegirangan sampai Whitney sedikit sesak napas.


Bukan tempat kencan glamour yang akan dikunjungi Vallerie. Ia sengaja mengajak ke suatu tempat tidak asing bagi suaminya, yaitu tempat tinggal mereka di kehidupan masa lalu. Meski mereka tidak tahu apakah apartemen ini sudah ditempati penghuni lain atau tidak, Vallerie merindukan semua momen indah yang mereka ciptakan di kehidupan masa lalu selama tinggal di tempat ini. Pandangannya berbinar memandangi wujud apartemen masih terlihat sama, hanya saja beda penghuni.


“Kamu ingin kita berpindah ke sini lagi?” Elliot melihat istrinya terlihat girang saat kembali ke kediaman lama mereka dibandingkan rumah baru sekarang.


“Aku rindu tempat ini. Setiap kamu pulang lembur, aku selalu menunggumu di balik pintu ini. Banyak hal yang telah kita lakukan, aku masih menyimpan semua kenangan indah itu dalam pikiranku. Tapi, aku tidak mau pindah ke sini.”


“Karena sekarang aku terlahir dari keluarga kaya?”


Vallerie menggeleng pelan, kedua tangan melingkar di pinggang suaminya. “Tinggal di mana pun, mau semewah apa pun atau sederhana saja, asalkan aku tinggal bersamamu sudah cukup membuatku nyaman. Saat kamu meninggal, yang kulakukan di rumah ini terakhir kalinya adalah aku menggila sampai hampir kehilangan akal sehat.”


Alis Elliot menurun. “Aku tahu, karena aku terus mengikutimu saat itu sampai kamu mengadakan upacara pemakaman di rumah duka. Kamu juga hampir pingsan beberapa kali di apartemen ini. Memang tidak hanya kenangan manis tertinggal di sini.”


“Maka dari itu, alasan aku tidak mau tinggal di sini karena aku mau menghindari kejadian yang sama terulang kembali. Kamu mau aku sungguh tidak waras?”


Elliot tertawa gemas sambil mengelus kepala istrinya. “Setelah semua masalah yang kita hadapi terselesaikan, aku ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi bersamamu. Aku tidak mau melihat kamu menangis terus. Matamu setiap bengkak sangat menyeramkan.”


Bibir Vallerie memanyun langsung melepas pelukan. “Seberapa seram? Apakah lebih seram dari film horor?”


Senyuman usil terpampang pada wajah Elliot. “Sejenis sih. Maka dari itu, aku tidak ingin membuatmu menangis lagi. Sekarang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat menyenangkan untuk mengusir pikiran negatif.”


Sedangkan di kediaman Whitney, semua orang sibuk berkencan, Carla sendirian menetap di apartemen mengerjakan sebuah berita yang akan dibawakannya dalam waktu dekat ini. Menggunakan headset mendengar rekaman suara percakapannya bersama narasumber di lapangan.


Dahinya sedikit menampakkan kerutan. Tiba-tiba rekaman percakapan narasumber teralihkan menjadi percakapannya bersama Bertrand di malam saat ia disiksa.