
Vallerie sangat panik melihat kondisi suaminya tidak stabil akibat semua ingatan kembali sekaligus. Vallerie juga bahagia mendengar kabar baik ini, tapi di satu sisi, efek samping dari pulihnya ingatan itu membuat Elliot semakin sesak napas dan keringat dingin terus membasahi leher.
Vallerie berinisiatif melepas mantel milik Elliot, kemudian kembali menghangatkan tubuh Elliot sekarang merinding ketakutan sampai buliran air mata terus membasahi kelopak mata.
Vallerie merangkul lengan suaminya terasa lemas seperti kehabisan tenaga sepenuhnya. “Sayang, kamu kuat jalan ke tempat parkir?”
“Kepalaku … sakit.” Elliot menangis terisak memijit pelipisnya perlahan, tapi rasa sakit itu sulit dihilangkan.
“Ikut aku! Aku yang menyetir mobilmu saja.”
Di tengah perjalanan pulang ke rumah, Vallerie fokus menyetir mobil sedan hitam milik Elliot, sedangkan Elliot tidak bisa melakukan apa pun karena rasa nyeri kepalanya ingin meledak. Kepalanya terus menunduk, sambil terus mengusap air matanya mengalir deras, sebenarnya ia malu karena pertama kali menangis lumayan lama, terutama di hadapan istrinya.
Seketika lampu merah menyala, Vallerie memberhentikan mobil di belakang zebra cross. Tangan kanannya langsung menyentuh punggung tangan kiri suaminya terasa panas dicampur dingin akibat mentalnya tidak stabil. Dengan tatapan sendu mengelus kepala suaminya lambat laun berusaha menenangkan pikiran untuk sementara.
“Vallerie ….” Akhirnya Elliot sedikit tenang, meski hati dan pikirannya tercampur aduk karena semua ingatan pulih itu.
“Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai.”
Akhirnya sampai di rumah setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit. Vallerie merangkul lengan suaminya memasuki rumah mewah milik mereka, berjalan menuju ruang tamu lalu Vallerie membaringkan tubuh suaminya di sofa ruang tamu sambil menyentuh dahi sang suami sedikit panas.
“Kamu demam. Aku ambil air hangat untukmu.”
Tangan kanan Vallerie tiba-tiba ditahan seketika ingin berdiri. Perlahan Vallerie berbalik badan, kemudian menduduki sofa.
“Aku takut … Sayang,” desis Elliot tersengal-sengal.
Lengan Vallerie melingkar pada tubuh suaminya terasa panas, membiarkan kepala sang suami bersandar manja pada dadanya, tangan kirinya mengelus lembut pipi suaminya sedikit basah karena tetesan air mata.
“Kamu hampir membuatku serangan jantung tadi! Nyaris saja kamu tertabrak motor karena menolongku,” oceh Vallerie sedikit berkaca-kaca.
“Aku ingat semuanya. Bahkan insiden kecelakaan waktu itu, aku mengingat dengan jelas.”
Deg..
Mengingat insiden kecelakaan itu membuat Vallerie ketakutan sampai gemetar tangannya. Namun, justru kondisi mental Elliot sekarang yang sangat tidak stabil karena insiden kecelakaan itu menewaskannya dalam sekejap.
“Sebenarnya aku kembali ke masa ini juga. Aku ditolong wanita itu.”
Bola mata Vallerie terbelalak, syok mendengar fakta suaminya juga kembali ke masa ini bersamanya. “Kamu … juga berasal dari dunia sebelumnya? Bukan karena ingatanmu saja yang masih terbawa?”
Elliot menggeleng pelan sambil mengelus pipi istrinya lembut. “Aku terlahir kembali demi bisa bertemu denganmu dan menikahimu lagi. Tujuanku terlahir kembali adalah aku ingin mencegah insiden itu supaya kamu dan aku hidup bahagia.”
Deg..
Hati Vallerie dalam sekejap tersentuh mendengar fakta suaminya sebenarnya masih mencintainya meski sudah tewas dibunuh. Namun, yang masih menjadi misteri adalah kenapa suaminya tidak mengingat apa pun, sedangkan ia mengingat semua kenangan di masa lalu dengan jelas.
“Melihat kamu menangis di rumah duka saat menggelar pemakamanku ….” Elliot tidak sanggup melanjutkan perkataannya seketika membayangkan hari terburuk itu.
“Kamu melihatku?” Vallerie ingin memastikannya karena sejujurnya saat ia menangis tidak berdaya di rumah duka sampai pingsan beberapa kali, ia merasakan kehangatan suaminya masih melekat pada tubuhnya.
“Kamu tidak bisa melihatku … tapi aku melihatmu dengan jelas. Dadaku sangat perih melihatmu pingsan beberapa kali. Maafkan aku.” Tangisan Elliot terisak, diusap lembut air matanya oleh sang istri.
Pandangan Vallerie dalam sekejap sedikit buram membayangkan suaminya menjadi arwah saat meninggal. Kepalanya terus menggeleng membuang pikiran negatif jauh sambil mengelus kepala suaminya dengan tatapan sendu.
“Seberapa jauh kamu mengingatnya?”
“Detik-detik terakhir sebelum aku kembali ke dunia ini. Akan aku ceritakan semuanya padamu.”
*****
Kembali ke masa lalu, Elliot dinyatakan tewas saat ditabrak truk demi melindungi istrinya, wujud Elliot menjadi arwah berdiri tepat di belakang istrinya, tapi ia tidak bisa menyentuh tubuh istrinya sama sekali.
Tidak bisa berbuat apa pun selain menyaksikan tangisan pecah Vallerie membuat dadanya sangat nyeri. Tangan kanannya berusaha menggapai pundak Vallerie, tetap saja usahanya tidak berhasil, justru sentuhannya menjadi menembus tubuh Vallerie.
“Kamu sudah meninggal, percuma berusaha menyentuhnya.”
Terdengar suara wanita tidak asing, Elliot berbalik badan dan tersentak mengamati wanita muda yang ditemuinya saat berkencan di taman bisa melihatnya. Apalagi dalam ingatannya, wanita ini hanya penjual buket bunga biasa. Yang membuat Elliot semakin bingung, penampilan wanita ini jauh lebih glamour, padahal sebelumnya hanya memakai dress sederhana seperti berasal dari keluarga kalangan bawah.
“Kamu bisa melihatku?” tanya Elliot dengan tatapan melongok.
Wanita misterius itu tersenyum lebar melipat kedua tangan di dada melangkah mendekati Elliot. “Aku bisa melihat apa pun. Kecuali, dalam tubuh manusia.”
“Kamu adalah wanita yang memberikan buket bunga mawar untukku. Sebenarnya kamu siapa? Mustahil kamu memiliki indera keenam bisa melihat arwah. Lalu, kamu bisa mengetahui masa depanku.”
“Memang aku yang memberikan buket bunga itu untukmu. Buket bunga itu sebenarnya bukan buket biasa.”
Sorot mata Elliot langsung terfokus pada buket bunga mawar sudah hancur berceceran di aspal. Dalam sekejap buket bunga itu menjadi butiran debu beterbangan bebas. Elliot sedikit berprasangka buruk melihat semua aktivitas yang dilakukannya hari ini seperti terencanakan. Apakah wanita ini adalah makhluk baik?
Wanita itu tertawa lepas sambil menggelengkan kepala. “Kamu masih penasaran dengan identitasku sedangkan sekarang istrimu tidak berdaya. Bukankah seharusnya kamu lebih mementingkan dia daripada aku?”
“Seharusnya kamu mengatakan yang jelas saat di taman! Kalau kamu memberitahukan insiden ini akan terjadi, aku dan istriku sudah berpesta di rumah kami!”
“Daripada kamu banyak bertanya, bagaimana kalau sebaiknya kamu mengikuti istrimu saja? Dia sedang bersiap-siap ingin menyiapkan upacara pemakamanmu di rumah duka.” Tatapan wanita ini terpaku pada tubuh Elliot sedang dibawa paramedis memasuki ambulans.
Suasana rumah duka terlihat sangat hampa karena jarang orang yang datang berkunjung memberikan penghormatan terakhir. Langkah kaki Elliot lambat laun mendatangi sebuah altar sudah dihiasi bunga krisan putih, buah, lilin, dupa, dan bingkai foto dirinya. Masih sangat syok menghadapi kenyataan dirinya berumur pendek hanya demi menolong nyawa istri yang paling disayanginya.
Mendengar suara tangisan sang istri sangat pecah sampai rasanya hatinya tersayat berulang kali lebih parah rasa sakitnya daripada terkena tabrakan truk, Elliot berjongkok di hadapan istrinya berusaha memberikan pelukan hangat untuk menenangkan sang istri, tapi usahanya terbuang sia-sia karena wujudnya sekarang adalah arwah.
Elliot ingin berteriak melampiaskan kemarahannya pada diri sendiri sangat payah meninggalkan istrinya sangat cepat padahal usia pernikahan baru memasuki dua tahun.
“Kamu sudah berjanji ingin membuat anak bersamaku! Kamu tega sekali meninggalkanku sendirian, bagaimana aku bisa bertahan hidup tanpa kamu, Elliot!” Tangisan Vallerie semakin pecah, hati Elliot semakin tertusuk berkali-kali lipat.
Ingin membalas langsung, tapi mustahil istrinya bisa mendengarkan perkataannya. Namun, tetap saja ia ingin melampiaskan isi hatinya juga karena semakin sesak jika dipendam terlalu lama dalam hati.
“Maafkan aku, Vallerie. Aku memang jahat mengingkari janjiku demi keegoisanku. Tapi, aku menolongmu bertujuan supaya kamu bisa hidup bahagia bersama pria lain jauh lebih baik daripada aku.”
Bibir Elliot mendarat pada puncak kepala Vallerie berdurasi lama. Hanya ini yang bisa dilakukannya menyatakan cintanya secara tidak langsung. Berharap energi cinta ini sungguh tersampaikan pada istrinya.
“I love you, My Vallerie.”
Saat bersamaan, Vallerie terjatuh pingsan, sehingga semua pengunjung di sana panik langsung menolongnya. Sedangkan Elliot merasa semakin bersalah sampai terus memukuli ubin berkali-kali melampiaskan kekesalan, lagi-lagi tidak bisa berbuat apa pun setiap istrinya pingsan, karena mustahil ia bisa merasakan sakit dilihat wujudnya sekarang arwah.
Wanita misterius itu kembali muncul tiba-tiba di belakang Elliot. Menepuk pundak Elliot pelan kemudian mengisyaratkan Elliot mengikutinya menuju suatu tempat lebih tenang.
Perbincangan berlanjut di taman belakang rumah duka terlihat sangat sepi di tengah kegelapan. Elliot sangat muak merasa seperti dikutuk dewa, padahal bicara soal dosa, dosa besar apa yang telah diperbuatnya sampai kehidupan pernikahannya hancur dalam sekejap.
Wanita misterius itu memasang raut wajah serius. “Kamu sudah puas melihat istrimu untuk terakhir kalinya?”
“Karena kamu adalah malaikat maut, mustahil aku menghajarmu sekarang. Apakah ini bagian dari rencanamu memisahkanku dengan istriku?” bentak Elliot melotot sambil berkacak pinggang.
“Menurutku, tindakanmu menolong istrimu adalah tindakan bodoh! Dengan menolong istrimu, memangnya bisa menjamin hidupnya akan terus bahagia?!”
“Vallerie bisa menikahi suami yang jauh lebih mampu membahagiakan hidupnya. Kalau dia hidup bersamaku terus, mungkin hidupnya akan sengsara terus!”
“Inilah kenapa aku bilang bodoh tadi! Kamu justru membuat hidupnya semakin sengsara sekarang! Lihat saja istrimu sudah pingsan beberapa kali sejak kamu tewas di depan matanya!”
Hati Elliot terkena sambaran petir dahsyat. Meremas kemeja dipakainya sedikit erat dan memukuli dada berkali-kali melampiaskan tangisannya sangat pecah. “Seandainya aku bisa memutar waktu kembali, mungkin aku dan Vallerie bisa hidup bahagia.”
“Aku bisa mengabulkan permintaanmu sekarang.”
Bola mata Elliot terbelalak, bermaksud ia tidak memercayai perkataan sang malaikat maut sama sekali. Memutar waktu? Mustahil! Justru situasi sekarang lebih cenderung sebentar lagi ia akan diadili di dunia akhirat.
“Kamu berbohong?”
“Kamu ingin aku menambah dosa lagi? Lancang sekali kamu berprasangka buruk terhadap malaikat maut!” Wanita itu mengepalkan tangan.
“Anggap saja aku memang bisa memutar waktu, tapi bagaimana caranya?”
“Sebelum itu, kamu harus tahu. Sebenarnya kecelakaan yang dialami kamu memang disengaja. Seseorang mencoba membunuhmu.”
Dahi Elliot mengernyit, semakin bingung dengan situasi yang dialaminya sangat tidak masuk akal. “Siapa? Bagaimana kamu tahu? Haruskah aku memercayai perkataanmu?”
“Hanya kamu dan istrimu yang bisa menangkapnya. Aku sudah memberimu kesempatan hidup dua kali nanti, sebaiknya kamu persiapkan dengan baik menangkap pembunuh itu.”
“Sebenarnya … siapa pembunuh itu? Kalau kamu kasih tahu clue, pasti aku menangkap pembunuh itu lebih mudah!”
“Tugasku bukan ikut campur urusan manusia! Aku hanya memperingatkanmu saja supaya tidak terjadi kesalahan kedua kali!” bentak wanita itu dengan nada melengking.
Elliot tertawa remeh memposisikan berdiri bergaya angkuh memasukkan tangan kanan ke dalam saku celana. “Aku pasti akan menikahi Vallerie lagi demi bisa melindunginya. Bahkan aku ingin menggelar pernikahan lebih cepat supaya hidup kami jauh lebih bahagia.”
“Jangan senang dulu! Justru kamu dihidupkan kembali ada bayaran yang harus kamu korbankan!”
“Bayaran apa?” desak Elliot sedikit gugup.
“Saat kamu kembali nanti, semua kenangan indah bersama istrimu akan menghilang. Mungkin karaktermu sedikit berubah, yang pasti tidak semudah itu kamu berhasil bersatu kembali dengan istrimu!”
Embusan napas lesu dikeluarkan dari mulut Elliot. Apakah ia sanggup menjalani kehidupan dari nol lagi? Tanpa mengenal Vallerie dan menganggap Vallerie adalah wanita asing? Lalu, karakternya sedikit berubah? Apa maksudnya ini? Tapi, ia tetap harus menjalankan misinya meski harus berkorban banyak.
“Baiklah, aku akan bayar semuanya demi bisa kembali bersama Vallerie.”
“Benang merah di jari manis kalian masih terikat kuat, kamu pasti bisa mencintainya lagi meski harus membutuhkan perjuangan besar kali ini.” Tatapan wanita ini tertuju pada benang merah masih terikat kuat di jari manis Elliot terpasang cincin nikah, hanya ia yang bisa melihat wujud benang merah.