Remarried My Husband

Remarried My Husband
Special Episode 3: Pelayanan Istimewa



Sudah beberapa hari di kota Paris, sekarang destinasi wisata yang Elliot dan Vallerie kunjungi adalah Pont des Arts atau biasa dikenal sebagai jembatan gembok cinta. Jembatan ini sering dikunjungi sepasang kekasih menuliskan nama di gembok kemudian mengaitkan gembok itu di jembatan.


Awalnya Elliot tidak terlalu memercayai berbagai mitos sering dibicarakan banyak orang. Namun, karena sudah terlanjur terlalu mencintai istrinya berlebihan, Elliot juga penasaran apakah mitos yang dibicarakan orang itu sungguh benar atau tidak.


Elliot dan Vallerie menuliskan nama mereka masing-masing di gembok cinta. Kemudian Elliot mengaitkan gembok itu di sedikit tempat kosong tersedia untuk gembok mereka terpajang di jembatan. Setelah itu, mereka berdiri saling berpelukan menghadap sungai sambil menggenggam kunci gembok cinta itu.


“Kata orang, kalau aku melempar kunci ini ke sungai, maka hubungan kita akan semakin dekat.” Elliot menatap kunci digenggamnya.


Vallerie mengernyitkan dahi. “Aneh sekali melihatmu sangat memercayai hal ginian. Biasanya kamu selalu melarangku jangan mudah memercayai perkataan omong kosong orang lain. Kamu selalu memamerkan kecerdasanmu berdasarkan teori yang kamu pelajari selama ini.”


“Mungkin aku bersikap bodoh karena aku terlalu mencintaimu.” Elliot tertawa usil, mencubit pipi Vallerie lambat laun.


Vallerie mengambek langsung melepas pelukan. “Jadinya, aku yang membuatmu bodoh?”


Elliot menggeleng, tersenyum usil mendekatkan bibirnya menuju bibir indah istrinya. “Sepertinya aku salah mendeskripsikan makna kata bodoh dalam kamus cinta. Lebih cenderung aku sangat tergila-gila padamu, Vallerie.”


Reaksi Vallerie tertawa gemas, dengan sengaja semakin mendekatkan bibirnya hanya berbeda sangat tipis dengan bibir suaminya. “Sejak kapan kamu menciptakan kamus cinta?”


“Sejak sebelum kita meninggal di kehidupan sebelumnya. Lalu, di kehidupan sekarang aku berusaha memperluas kosakata cinta dalam kamusku.”


Sepasang bibir saling memainkan pergerakannya dengan lembut, merasakan manis dan kelembutan cinta yang disalurkan sang pemilik membuat semakin candu ingin berdansa lebih lama lagi. Tangan kanan Elliot perlahan melempar kunci gembok cinta milik mereka ke sungai, kemudian tangannya berpindah meraba punggung lentik istrinya lambat laun.


Aksi ciuman diberikan jeda sejenak mengambil napas terlebih dahulu setelah melakukannya cukup nikmat, sekarang kembali melanjutkan permainan antar bibir entah sampai kapan mereka ingin melakukannya, sehingga udara musim semi juga terasa hangat berkat energi cinta mereka sangat berlimpah di area jembatan ini.


Puas melakukan permainan bibir, Elliot dan Vallerie saling melepas tautan bibir mereka. Lalu, Elliot memposisikan tubuhnya berjongkok membelakangi istrinya.


“Naiklah ke punggungku!”


Vallerie menunduk malu sambil mengamati sekelilingnya sekilas. “Kamu tidak malu dilihat banyak orang?”


Elliot menolehkan kepala sejenak. “Di sini tidak ada tempat duduk, kaki mungilmu pasti pegal karena kita sudah jalan kelamaan dari tadi.”


Meski sedikit malu, tentunya Vallerie tidak menolak pelayanan spesial ini. Tubuhnya naik ke punggung suaminya lalu melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya erat. “Badanku pasti berat karena belakangan ini aku makan banyak.”


Dengan sekuat tenaga Elliot mengangkat tubuh istrinya gaya piggyback. Berjalan santai menelusuri tempat ini sambil mengamati bangunan kuno.


“Kamu mau ke mana? Biar aku antarkan kamu ke tempat kamu sukai.”


“Apakah ada tarif per kilometer?” Vallerie bergurau tertawa gemas.


“Gratis hanya untuk istriku. Selain itu, pelayanan ini hanya berlaku untukmu saja.”


Vallerie mengatupkan bibir, menempelkan bibirnya di pelipis suaminya sekilas. “Bukankah kamu ingin mengajakku ke Menara Eiffel?”


“Baiklah, pegangan yang erat, Pelanggan kesayanganku. Aku akan tambahkan kecepatan menuju Menara Eiffel.” Dengan sengaja Elliot melangkahkan kaki semakin besar seolah-olah kendaraan mengebut, membuat Vallerie semakin melepaskan tawa bahagia. Meski sebenarnya mereka sedang menuju lahan parkir tempat taksi online akan menjemput mereka.


Elliot melangkahkan kaki lincah bagaikan sebuah motor dilajukan dengan kecepatan penuh sambil mengeluarkan suara deruan. Tidak peduli dilihat banyak orang, baginya ia ingin bermain bersama istrinya di saat mendapatkan kesempatan emas.


“Apakah masih jauh jarak menuju Menara Eiffel?” Vallerie mengayunkan tangan kanan ke atas dengan girang.


Langkah kaki Elliot terhenti sejenak sambil menolehkan kepala. “Sepertinya kita kehabisan bahan bakar.”


Vallerie tertawa gemas, mendaratkan bibirnya di bibir suaminya, menambah rona merah semakin menyala pada pipi suami tampan. “Kalau bahan bakar barusan apakah bisa mengisi energimu?”


Senyuman usil terpampang pada wajahnya. Elliot belum puas menerima ciuman dari istrinya, kini kembali menempelkan bibirnya di bibir mungil istrinya berdurasi lama sambil menggerakkan bibir lambat laun, menghisap energi kasih sayang yang membuatnya ingin melanjutkan permainan kekanak-kanakan ini sampai malam hari.


Sudah cukup penuh energinya, Elliot mengakhiri ciumannya kemudian kembali melangkahkan kaki perlahan. “Energi dalam tubuhku sudah penuh. Kamu tidak perlu khawatir energiku habis lagi.”


“Justru energimu kalau habis tinggal minta aku saja. Bahan bakar seperti ini tidak akan bisa ditemukan di mana pun.” Vallerie mengelus kepala suaminya.


Sebelum pergi ke Menara Eiffel, Elliot mampir sebentar ke sebuah toko roti panggang karena perutnya sudah mulai lapar akibat terlalu banyak bermain. Nomor satu pilihan Elliot adalah roti panggang rasa cokelat. Karena jika beli rasa keju, sejak dulu mereka tidak suka makan makanan berbau keju kecuali keju dilumeri di pizza, spaghetti, atau makanan berkarbohidrat lainnya yang cocok ditambahkan keju sudah matang.


Mereka menempati tempat duduk di dekat jendela sambil memandangi pemandangan bangunan klasik di luar. Elliot menghabiskan roti panggang miliknya berukuran jumbo secepat kilat. Vallerie memandanginya terus tertawa anggun sambil menikmati roti panggangnya juga sedikit terburu-buru karena lapar.


Tidak sampai sepuluh menit, Elliot berhasil menghabiskannya hingga sudut bibirnya dipenuhi bercak cokelat tanpa disadarinya. Harus Vallerie yang menyadarkannya tertawa terbahak, tapi Elliot masih tidak peka alasan kenapa istrinya terus menertawainya dari tadi.


“Sayang, kamu ketawa terus karena puas tadi bermain denganku?” Elliot berwajah polos masih belum tahu ada noda di bibirnya.


“Bibirmu banyak cokelat,” ejek Vallerie menggunakan jari telunjuk menunjuk bibir suaminya.


Elliot tersenyum malu ingin mengambil sapu tangan miliknya. Namun, aksinya kalah cepat, justru istrinya lebih cepat menyeka bercak cokelat berantakan di sudut bibirnya dengan tatapan fokus.


“Kamu selalu saja setiap rakus pasti belepotan.”


“Padahal kamu sendiri tidak ada bedanya. Bibirmu juga banyak cokelat.” Elliot tertawa usil menggunakan jari telunjuk menunjuk area sudut bibir istrinya sedikit dipenuhi cokelat.


Vallerie langsung membuang muka. “Bantu aku bersihkan.”


Bibir sexynya sudah bersih, giliran Elliot membersihkan bibir istrinya dengan tatapan fokus apalagi bibir di hadapannya ini menggodanya ingin melakukan asupan bibir lagi.


“Seandainya tadi aku beli rasa keju, mungkin bibir kita tidak akan belepotan.” Elliot sengaja mengalihkan pikirannya supaya tidak terlalu fokus pada bibir.


“Kamu bisa beli kalau mau. Tapi sejak dulu kamu tidak suka keju.”


“Pokoknya aku tidak mau beli rasa keju tanpa dicampur cokelat. Aku selalu ingat perkataanmu persoalan tidak suka keju karena membuatmu ingin mual.” Elliot sengaja memperlambat aksi pembersihan bibir, meski bibir istrinya sudah bersih sekarang.


“Seleramu selalu sama sepertiku. Bahkan aku semakin jatuh cinta padamu karena kamu selalu peka tidak beli rasa keju, meski kamu amnesia.” Vallerie mengelus kepala suaminya lambat laun.


Tangannya sudah puas menyentuh bibir istrinya berdurasi lama, sekarang giliran bibirnya kembali bersentuhan di sudut bibir istrinya sempat kotor sekilas. “Aku sudah pernah bilang di buku diaryku. Meski aku amnesia dan selalu ketus, tapi sebenarnya aku perhatian padamu diam-diam. Aku mempelajari apa yang kamu suka dan tidak kamu suka.”


“Omong-omong, kamu sengaja mengalihkan perbincangan bermaksud ingin menciumku diam-diam, ‘kan!” Vallerie mengerutkan dahi sambil menyentuh sudut bibirnya bekas dicium.


“Anggapan seperti manisan tambahan untuk mengusir bakteri dari mulutmu.” Elliot menggombal sambil menyesap minuman Hazelnut cokelat miliknya sampai habis.


Vallerie mengunyah makanan sambil memandangi pemandangan kota Paris dari menara terlihat berkelap-kelip, pandangannya semakin berseri-seri memandangi keindahan pemandangan ini. Sekilas menatap suaminya tersenyum lebar mengamatinya terus, dalam sekejap pipinya sedikit memerah sambil menyelipkan beberapa helaian anak rambut ke belakang telinga.


“Ada apa dengan wajahku?” Vallerie tersipu malu mengunyah sayur dengan anggun.


“Sebenarnya aku tidak terlalu suka melihat pemandangan kota di malam hari, terutama di Menara Eiffel.”


Vallerie menaruh sendok di piring kemudian melipat kedua tangan di dada. “Lalu, kenapa kamu mengajakku ke sini padahal kamu tidak suka. Jangan bilang karena aku! Padahal sebenarnya aku biasa saja sih.”


“Aku lebih suka melihat pemandangan jauh lebih indah daripada Menara Eiffel. Pemandangan di hadapanku sekarang sangat indah dan hanya aku yang bisa menikmati pemandangan ini.” Elliot menggombal sambil membelai rambut indah Vallerie lambat laun.


Dikira ingin berkata serius, ternyata hanya sebuah gombalan diucapkan dari bibir manis suaminya membuat Vallerie ingin mencubit lengan suaminya sekuat tenaga. Namun, gombalan sang suami sangat menyentuh hatinya, Vallerie juga tidak ingin kalah menggombal suaminya balik.


“Tidak perlu terbang jauh-jauh ke Paris demi bisa melihat pemandangan indah perkotaan di Menara Eiffel, hanya suamiku yang bisa menerangi kehidupanku tanpa bantuan cahaya lampu atau sinar matahari.”


Elliot dan Vallerie tertawa lepas akibat tidak menyangka mereka bisa saling menggombal di tengah dinner romantis. Untungnya semua orang di sini tidak mengerti perkataan mereka, mungkin akan risih jika mengerti gombalan itu.


Alunan instrumen romantis favorit mereka dimainkan sekelompok musisi andalan restoran ini tiba-tiba. Vallerie menikmati keindahan instrumen ini sambil menggerakkan kepalanya kiri kanan berirama.


“Mereka sangat peka tahu instrumen kesukaan kita dan aku ingin mendengarnya dari tadi.”


“Aku jadi cemburu. Lebih cenderung aku yang peka, maka dari itu, aku yang request ke mereka tadi saat pura-pura ke kamar kecil.” Elliot mengerucutkan bibir sambil memutar-mutar daging panggang dengan garpu.


Senyuman manis semakin melebar di sudut bibirnya. Vallerie menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga menatap suaminya penuh cinta. “Terima kasih kamu selalu peka selama ini, Sayang. Tapi bukan berarti tadi membohongi aku demi memberikan kejutan.”


Elliot mendaratkan bibirnya di punggung kanan istrinya sambil mengelus pelan. “Aku pesan pada para musisi itu bahwa mereka harus tampilkan yang terbaik karena istri kesayanganku sangat ingin mendengarkan instrumen ini.”


Bibirnya terkatup rapat, tangan kanannya sekarang bertindak menyuapi makanan untuk istrinya. “Aku juga tidak lupa menyuapimu.”


Cinta dalam lubuk hati Vallerie rasanya sudah tidak terhingga sampai terus mengayunkan kakinya kegirangan. “Aku sangat menyukai pelayanan spesial darimu hari ini. Penilaian dariku lebih dari sepuluh bintang.”


Seminggu kemudian…


Bulan madu penuh romansa sangat manis telah berakhir. Namun, belum saatnya pasangan suami istri ini kembali bekerja. Ada satu tugas yang harus mereka selesaikan akibat merepotkan Erick beberapa saat lalu membantu mempersiapkan pesta pernikahan sederhana. Sebagai imbalan, Elliot dan Vallerie harus menghadiri pesta pernikahan salah satu rekan bisnis kenalan Erick daripada Erick bersikap kejam lagi seperti dulu.


Penampilan Elliot dan Vallerie sudah terlihat glamour. Sebelum menuruni mobil sedan, sejenak Elliot merapikan gaun yang dikenakan istrinya sedikit kusut bagian atas. Kedua tangan bekerja merapikan gaun, tapi tatapannya justru terfokus pada bibir indah istrinya sangat berkilauan, meski situasi di dalam mobil gelap dan hanya mengandalkan cahaya lampu dari lobby hotel bintang lima.


Pipi Vallerie tersipu malu, awalnya juga berniat merapikan dasi kupu-kupu suaminya agak miring, sekarang tangan kanannya gemetaran akibat sorot mata suaminya terlalu fokus membuatnya gelagapan. “Sayang, bisakah kamu jangan menatapku terlalu fokus? Nanti matamu sudah pegal duluan.”


“Mau menatapmu selama berjam-jam, mataku tidak pernah terasa pegal.” Tangan kanan Elliot menyisir rambut istrinya lambat laun.


Atmosfer di dalam mobil semakin hangat. Mengingat waktu berjalan cepat, Elliot melangkah keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya dan mengulurkan tangan kanan.


Vallerie tersenyum anggun menggenggam tangan suaminya, lalu berpindah merangkul lengan suaminya mesra memasuki hotel menuju ballroom tempat pesta pernikahan itu berlangsung.


Seketika memasuki ballroom, masih percaya diri Elliot memamerkan kemesraan istrinya saat menempati salah satu meja bundar sudah tertulis nama mereka. Apalagi bagi Elliot, pesta ini bukan hal menyenangkan baginya mengingat di masa lalu selalu dipermainkan para wanita, Elliot bisa memprediksi para mantan wanita yang sempat kencan buta dengannya akan hadir.


Elliot tidak ingin menampakkan wajah kusut. Yang terpenting sekarang ia memiliki seorang istri bagaikan malaikat langka dalam hidupnya. Tangan kirinya terus bergerak lambat laun menelusuri punggung tangan kanan istrinya, membuat sang istri tertawa girang.


“Kamu bosan?” Vallerie juga mengelus punggung tangan suaminya.


“Sebenarnya aku malas menghadiri acara besar seperti ini. Biasanya aku selalu sendirian. Untungnya sekarang ada kamu.” Mata Elliot berkedip sebelah.


Pesta pernikahan keluarga konglomerat berlangsung meriah. Para tamu undangan menyapa sepasang pengantin baru saja resmi menikah. Termasuk Elliot dan Vallerie akhirnya bisa berbincang dengan pasangan pengantin, sebenarnya bermaksud ingin memberitahukan kehadirannya menggantikan Erick. Lagi pula, sebenarnya hubungan mereka tidak terlalu akrab.


Usai berbasa-basi hanya berdurasi singkat, Elliot dan Vallerie kembali menempati kursi mereka menikmati minuman jus lemon yang sudah disediakan. Sengaja mereka tidak ingin minum minuman alkohol karena memang tujuan mereka hanya sekadar setor muka.


Minum saja masih bisa saling berpegangan tangan di bawah meja. Tidak memedulikan pesta pernikahan, mereka hanya merasakan dunia milik berdua saja.


“Sayang, setelah ini kamu mau berkencan denganku? Sebenarnya aku tidak nyaman menghadiri pesta pernikahan begini.” Elliot mengajak tiba-tiba, tangannya membelai rambut istrinya dengan tatapan penuh cinta.


“Malam-malam begini? Kamu mau kita kencan di mana?” Vallerie mendongakkan kepala sambil menaruh gelas kaca di meja.


“Aku dengar hotel ini ada permainan labirin. Kamu mau main petak umpet bersamaku?”


Semakin gila mendengar ide suaminya, Vallerie semakin bahagia langsung mengangguk. “Aku mau, asalkan ada kamu menemaniku di saat aku tersesat.”


Seketika mereka ingin berdiri dari kursi, tiba-tiba sekelompok wanita berpakaian gaun sexy menghampiri Elliot. Raut wajah Elliot berubah drastis menjadi kejam melihat para wanita ini adalah wanita yang mempermainkan dan mengkhianatinya sewaktu dulu.


Salah satu wanita berpakaian gaun merah sexy terbelah bagian paha mendekati tubuh Elliot. Membuat Elliot langsung menjauh dari wanita itu kemudian berpegangan tangan pada istrinya.


“Mau apa kamu? Saat itu kamu masih belum puas mendengar jawabanku?” Elliot membentak percaya diri menampilkan tatapan elang, tapi wanita itu tidak ada rasa takut.


“Hari ini aku tidak ingin mengajak ribut denganmu. Aku hanya ingin menyapa, tapi kamu sudah mengomporiku!” protes wanita itu tersenyum sinis sambil menatap Vallerie dengan rasa iri.


“Dari dulu memang sikap Elliot tidak pernah berubah selalu ketus!” Wanita lain sengaja mengompori Elliot, ingin meraih dada Elliot, tapi langsung ditepis Elliot lincah.


Batas emosi Elliot semakin tidak stabil menatap para wanita satu per satu dengan ekspresi kejam. Vallerie juga ingin marah besar melihat suaminya masih ditindas di saat seperti ini.


“Cukup basa-basinya! Mau apa kalian menggangguku?!”


“Kamu sungguh mencintai istrimu? Mendengar berita pernikahan kalian berlangsung sangat cepat. Aku mengira karena hubungan satu malam. Aku sempat berpikir ternyata kamu mengabaikan aku karena kamu lebih suka bermain kotor!”


Elliot tertawa licik sambil menajamkan tatapannya pada wanita itu. Percuma saja baginya mau disindir dalam bentuk apa pun, justru Elliot merasa semakin wanita ini sering menyindirnya menunjukkan sikap busuk wanita ini sebenarnya. Kali ini ia tidak akan diam saja, terutama membawa nama istri.


“Aku bermain kotor? Bukankah justru kamu yang selama ini terlihat seperti murahan?”


“Apa? Lancang sekali!”


Elliot mengeluarkan ponsel memperlihatkan bukti-bukti yang didapatkannya mengenai foto para wanita ini melakukan hubungan satu malam dengan pria lajang di hotel setiap malam. Sebenarnya ia sering menyelinap bersama Jordan saat sebelum menikah demi mencari bukti mengalahkan para wanita yang pernah mengkhianatinya.


Para wanita ini sampai tidak bisa berkata-kata dan hampir terjatuh lemas. Sedangkan reaksi Vallerie tersenyum cerdas sambil mengacungkan dua jempol untuk suaminya.