Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 38: Kehangatan di Tengah Hujan



Elliot dan Vallerie sangat puas melihat penderitaan Erick seiring waktu berjalan. Baru berjalan seminggu melakukan misi rahasia, tapi entah kenapa sudah cukup memuaskan bagi mereka. Sebenarnya jika direnungkan kembali perlakuan Erick di masa lalu, Erick pernah memarahi mereka sesekali mengenai permasalahan plagiarisme yang diciptakan Sofia sehingga membuat penjualan menurun drastis, dikarenakan tuntutan hukum terhadap Clarity Star Company Limited sampai diviralkan di berita.


Memang wajar Erick marah karena Erick tidak tahu kejadian sesungguhnya disebabkan Sofia. Tapi karena itu, Vallerie mengalami tekanan berat selama masalah itu berlangsung sampai jatuh sakit. Maka dari itu, sekarang Vallerie tidak segan menghukum orang-orang yang pernah membuat hidupnya sengsara di masa lalu.


Setelah melakukan rapat cukup lama karena terpaksa Erick mempresentasikan dokumen secara manual. Sekarang pekerjaan Elliot dan Vallerie tidak terlalu banyak. Daripada terus bermesraan di kantor, mereka berjalan santai di taman kantor menghirup udara segar. Vallerie menampakkan senyuman ceria menyentuh berbagai macam bunga di flower bed berwarna-warni, membuat Elliot ikut tersenyum bahagia hanya karena senyuman indah ditampilkan Vallerie berhasil menyihirnya.


Elliot mengayunkan tangan istrinya girang. “Hari ini kamu terlihat bahagia sekali. Apa karena kamu senang melihat Erick sengsara terus?”


“Lebih cenderung aku setiap hari selalu bahagia karena kamu.” Vallerie mengedipkan mata manja, jantung Elliot berdebar-debar dalam sekejap.


“Sayang, setelah kamu berhasil menindas Erick, kamu masih bisa menggombalku.”


Sorot mata Vallerie terfokus pada sebuah ayunan menyerupai sofa. Tanpa berbasa-basi berlari menuju ayunan itu, kemudian menduduki ayunan sambil menepuk pelan. Elliot langsung menduduki ayunan memeluk tubuh ramping Vallerie dengan penuh cinta sambil menggerakkan ayunan sedikit kuat.


“Dulu kamu sangat suka bermain ayunan di kantor sampai kamu tidak mau kembali kerja.” Elliot mengusap kepala Vallerie lembut.


“Anehnya, kenapa ayunan ini bisa tiba-tiba ada? Padahal seingatku, ayunan ini baru dibeli tidak lama sebelum kita meninggal. Seharusnya sekarang ayunan ini belum dibeli.” Pandangan Vallerie berbinar memandangi model ayunan ini sama seperti yang pernah ditempatinya di masa lalu sambil menggoyangkan ayunan.


Elliot tertawa santai memasukkan tangan kanan ke dalam saku celana. “Aku sengaja beli ayunan ini untukmu.”


Bola mata Vallerie membulat sampai mulutnya terbuka lebar. “Benarkah?”


Elliot menaikkan rambutnya dengan gaya agak angkuh. “Aku tidak mau kamu menunggu dua tahun lagi. Sekarang aku sudah bisa belikan apa pun yang kamu inginkan. Mulai hari ini sampai seterusnya, kalau kamu merasa bosan, kamu bisa bermain ayunan sesuka kamu.”


Rona merah menyala pada pipi Vallerie. Itulah alasan utama yang ia sukai dari Elliot. Setiap Vallerie menginginkan sesuatu tanpa perlu minta terang-terangan, pasti langsung dikabulkan keinginannya. Vallerie semakin terngiang-ngiang ingin berlama di tempat ini bersama suaminya entah sampai kapan bermanja di ayunan tidak memedulikan waktu.


Vallerie mencium pipi suaminya sekilas. “Terima kasih, Sayang. Padahal aku tidak terlalu berharap bisa bermain ayunan dalam waktu dekat ini.”


Dibalas hujan ciuman diberikan Elliot di area pipi. “Menunggu terlalu lama itu tidak baik. Kalau bisa melakukannya sekarang, kenapa tidak? Tujuan kita kembali ke dunia ini selain menangkap pembunuh, kita juga bisa melakukan apa pun yang kita inginkan, tidak perlu menunggu kejadian itu sungguh terjadi.”


“Karena kamu, sekarang aku jadi malas bekerja. Kamu harus bertanggung jawab!”


Elliot tertawa gemas mengelus pipi lembut Vallerie lambat laun, mengecup bibir indah sekilas. “Aku juga jadi malas bekerja. Setiap kamu ingin bermanja denganku, aku pasti melakukannya.”


Dahi Vallerie mengernyit. Tangannya bergerak lincah ingin melepas pelukan, tapi sengaja semakin dipeluk erat berkat ulah suaminya. “Sayang, kenapa sikapmu semakin lama semakin manja? Sebenarnya siapa yang mengajarimu?”


“Dari aku.” Elliot mengedipkan mata sambil mencium lekukan leher Vallerie.


“Bisakah di kantor kamu bersikap biasa saja? Bukankah kamu dikenal direktur tegas di mata semua pegawai? Sikapmu jadi lembut begini sejak menikahiku! Nanti semua orang mengira karena aku terlalu sering merayumu, sikapmu jadi berubah drastis begini.”


“Berkat kamu, sekarang aku bisa mengendalikan sikap galakku. Aku tidak akan menjadi direktur tegas dan berhati dingin lagi. Karena kamu selalu memperlakukan aku dengan lembut, aku jadi terbiasa memperlakukan kamu dengan kasih sayang sangat besar.”


“Tapi aku tidak suka melihat kamu memperlakukan semua orang sama seperti memperlakukan aku. Setidaknya ada sedikit perbedaan. Berarti kamu juga menyayangi semua orang sama seperti aku.”


Elliot menggeleng pelan. “Tidak. Kamu pasti bisa membedakannya antara aku memperlakukan kamu dan semua orang, di mataku, kamu selalu spesial sepanjang masa. Ada secercah cahaya dalam jati dirimu selalu membangkitkan semangatku bertahan hidup.”


“Sudah cukup gombalan kata puitis! Aku mengakui kamu memang ahli dalam menggombal sejak dulu!”


“Itulah sebabnya saat aku bertanya soal ajaran gombalan, kamu menjawab asalnya dari aku.” Elliot mengedipkan mata sekilas.


Tiba-tiba hujan guyur deras. Semua orang berjalan di taman ini langsung berlarian kembali memasuki gedung. Sedangkan Elliot dan Vallerie masih terjebak di ayunan, untungnya ada kanopi kecil melindungi mereka dari tetesan air hujan.


“Sekarang kita tidak bisa ke mana pun. Kamu tidak boleh menolak kita terus bermain di sini sampai hujan berhenti!” Hati Elliot sangat bermekaran seolah-olah hujan memang tahu keinginannya sekarang ingin bermanja dengan istrinya cukup lama. Bahkan ia sangat mendoakan hujan guyur lumayan lama jika dilihat langit berwarna abu-abu tua. Merasa Tuhan sangat mendukung mereka untuk terus bersama.


“Mana mungkin aku menolak. Justru aku ingin menggunakan kesempatan emas bermain bersamamu hari ini.”


Vallerie mengulurkan tangan membiarkan tetesan air hujan jatuh di tangannya. Entah kenapa ia sangat suka membiarkan tangannya terkena air hujan sejak dulu. Senyuman girang terukir pada wajah cantiknya membuat pipi Elliot semakin memerah. Elliot juga mengulurkan tangan kanan membiarkan telapak tangannya dibasahi air hujan di samping telapak tangan istrinya..


Vallerie tertawa anggun melihat sikap suaminya selalu gemas tidak pernah berubah. “Kamu ingat dulu kita sering melakukannya saat kita banyak pikiran?”


Mengingat momen sebelum meninggal di kehidupan sebelumnya dan dua bulan menjelang pernikahan di dunia ini, Elliot sangat suka sebenarnya. Maka dari itu, setiap hari hujan di kehidupan sekarang, ia sangat suka karena bisa bermain seperti ini bersama istrinya. Hanya hal kecil ini yang bisa menjinakkan hatinya.


“Ajaran darimu sungguh langsung menenangkan pikiranku dalam sekejap.”


“Sebenarnya aku ingin bermain hujan bersamamu. Tapi karena kita sedang di kantor dan aku memakai stiletto, tidak mungkin kita bermain dengan penampilan seperti ini.”


Angin sepoi-sepoi ditambah percikan air hujan sedikit menetes pada tubuh Vallerie. Elliot langsung melepaskan jasnya kemudian membungkus tubuh Vallerie dengan rapat mengancing satu per satu. “Sebenarnya aku tidak mengizinkan kamu bermain air hujan lagi. Nanti kamu bisa terserang flu kalau bermain air terus. Udara sekarang saja sangat dingin.”


“Tapi, kenapa kamu melepaskan jasmu kalau kedinginan?” Vallerie memasang wajah polos.


“Meski aku kedinginan, tapi aku lebih memprioritaskan kamu. Tidak masalah aku sakit, yang penting aku tidak ingin kamu sakit.”


“Tapi, aku tidak mau membiarkan kamu terserang flu juga.” Dengan lincah Vallerie ingin melepaskan jas, tapi sengaja dipakaikan Elliot kembali dan diberikan pelukan erat.


Menunggu hujan sampai berhenti di ayunan menghabiskan waktu sekitar setengah jam. Sekarang mereka kembali memasuki gedung, lalu melanjutkan perbincangan mereka di ruangan perancang busana eksekutif.


Bola mata Vallerie membulat seketika memasuki ruangan pribadinya disulap menjadi lebih banyak hiasan. Entah sofa khusus mereka biasanya berbincang disediakan bantal kecil berwarna pink, bunga matahari dipajang di rak pajangan serta foto-foto kencan mereka dan juga berbagai peralatan gambar digital maupun manual disusun rapi warna-warni. Tidak lupa mini robot AI di meja kerja untuk melaporkan ramalan cuaca dan bisa memutar lagu.


Perlahan Elliot melingkarkan lengannya pada punggung istrinya dari belakang sambil menempelkan bibirnya di telinga sang istri. “Kamu suka semua hadiahku?”


“Sejak kapan kamu mempersiapkan semua ini?”


“Saat kita terjebak di taman tadi. Aku meminta bantuan Jordan dan Aria menyusun ruanganmu sesuai hasil rancanganku.”


Yang membuat Vallerie terngiang-ngiang adalah sebuah mini robot AI diletakkan di meja kerjanya membuatnya ingin bermain sepanjang hari. Sejenak Elliot mengambil robot itu menekan salah satu tombol untuk memprediksi ramalan cuaca.


“Perkiraan cuaca nanti malam akan berawan. Jangan lupa mengatur temperatur udara AC ke suhu yang hangat supaya tidak sakit. Semangat bekerja, Bu Vallerie.”


Vallerie tertawa lepas meraba mini robot ini. “Aku suka robot ini sangat perhatian padaku!”


“Robot ini juga bisa putar lagu favoritmu setiap kamu banyak pikiran.” Elliot menekan sebuah tombol memutar salah satu lagu romantis favorit mereka.


“Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap robot ini. Dia sangat peka padaku”


Bibir Elliot memanyun, padahal hanya robot, api cemburu rasanya ingin meledak dalam dirinya. “Aku menyesal beli robot ini untukmu. Nanti kamu akan selingkuh dariku.”


Cup..


Bibir Vallerie menempel pada pipi lembut suaminya sekilas. “Terima kasih sudah memberikan hadiah terbaik untukku. Tentunya aku lebih memilih suamiku sendiri karena kamu adalah pria yang paling perhatian yang pernah kutemui selama ini.”


Dibalas kecupan manis menempel di bibir Vallerie. “Nanti aku akan belikan lebih banyak hadiah lagi supaya kamu tidak stress karena pekerjaan. Aku ingin kamu selalu tersenyum seperti sekarang.”


Sejenak Vallerie mematikan power, membuat suasana ruangan kembali hening. “Sekarang aku ingin fokus bekerja lagi.”


Sekarang pikiran mereka teralihkan persoalan aksi balas dendam untuk Erick. Sebenarnya ada satu hal yang masih mengganggu pikiran Elliot selama ini. Apakah bisa dijadikan senjata untuk melawan Erick nantinya?


“Sayang, sebenarnya aku masih penasaran persoalan masalah di hotel. Saat kamu hampir diperkosa pria asing.” Helaan napas lesu dikeluarkan dari mulut Elliot.


“Memangnya ada apa? Kamu ingin berbalas dendam juga pada pria itu?”


“Aku curiga pria itu ada kaitannya dengan Erick. Bisa jadi Erick sengaja memerintahkan pria itu untuk memerkosa kamu.”


Dahi Vallerie mengernyit. “Tapi, saat diinterogasi pihak kepolisian, orang itu mengaku bahwa memang dia sengaja melakukannya sendiri tanpa disuruh orang lain.”


“Bisa jadi Erick sengaja mengancam orang itu. Kalau sampai orang itu membocorkan rencananya, maka nyawa orang itu akan terancam juga.”


Tubuh Vallerie langsung merinding ketakutan. Membayangkan kakak ipar sungguh kejam di dunia sekarang sampai menyewa orang lain untuk perkosa. “Kakakmu sungguh kejam jika dia sungguh melakukannya padaku!”


“Maka dari itu, aku punya rencana bagus untuk dia.” Senyuman usil terbit pada sudut bibir Elliot.


Lagi-lagi Elliot sengaja berbisik mengenai rencana liciknya sampai Vallerie tercengang mendengar rencana itu menampakkan senyuman sinis.


“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Elliot dengan nada sexy.


“Memang rencanamu tidak terlalu kejam, tapi boleh juga. Aku selalu suka dengan rencanamu.” Vallerie bertepuk tangan girang dan mengacungkan jempol kanan.


“Bagiku, ini bukan pemanasan lagi. Kalau sampai dia masih belum merasakan penderitaan besar, aku akan merencanakan sesuatu lebih kejam lagi.”


Tidak terasa sekarang langit sudah menampakkan bulan bersinar terang. Seperti biasa Erick selalu mengajak Rachel tidur bersama meski hubungan mereka masih sebatas pacaran. Sekarang Erick tidak merasa malu di hadapan Rachel lagi,karena sudah sangat percaya diri memastikan Rachel akan segera menjadi pendamping hidupnya di masa depan setelah melakukan kesalahannya beberapa saat lalu.


Rachel sengaja memakai gaun tidur sangat tipis sehingga sedikit terlihat pakaian dalamnya untuk menggoda kekasihnya setiap malam. Di ranjang mereka terus bermesraan memposisikan tubuh saling menempel satu sama lain.


“Besok saat pulang kerja, mau berenang bersamaku?” Erick mengajak tiba-tiba membuat senyuman usil terukir pada wajah Rachel sambil meraba dada bidang Erick.


“Tumben, dalam rangka apa?”


“Hanya saja memang ingin melakukannya bersamamu. Belakangan ini aku terlalu sibuk bekerja dan banyak masalah di kantor, aku ingin menenangkan pikiranku.”


“Mmm karena kamu mau, sudah pasti aku ingin melakukannya.”


Sebenarnya alis Erick sedikit menurun, memikirkan masalah yang dihadapinya belakangan ini, entah kenapa ia semakin penasaran siapa pelaku yang selalu mengirimkan pesan misterius untuknya. Tapi, ia sengaja tidak ingin memberitahukan Rachel, supaya Rachel tidak terlalu mencemaskannya.


Tiba-tiba terdengar suara getaran sekilas dari ponsel Rachel. Terpaksa aksi bercumbu ditunda, Rachel langsung mengambil ponsel miliknya. Sebuah pesan singkat misterius dari nomor tidak dikenal membuat dirinya langsung syok.


“Hati-hati. Erick bukan orang yang baik. Jangan mudah terpengaruh rayuan darinya.”