
Jarum panjang jam dinding di kamar menampakkan hari semakin siang, ditambah sinar matahari menembus kaca jendela kamar sama sekali tidak efektif bagi sepasang suami istri sudah melakukan aktivitas berolahraga sepanjang malam menguras energi mereka sampai habis.
Masih dalam dunia mimpi indah masing-masing, posisi tidur saling berpelukan mesra terutama Vallerie memeluk tubuh suaminya dengan manja menempelkan hidung mancungnya pada dada bidang suaminya, menampakkan senyuman manis tanpa disadarinya. Kondisi tubuh mereka hanya dibaluti selimut tebal, sedangkan semua pakaian berserakan di lantai karena terlalu menikmatinya dengan penuh gairah.
Sinar matahari terus menyoroti kaca jendela meski sudah ditutupi tirai, akhirnya membangunkan Vallerie sudah terlanjur nyaman di dunia mimpi. Vallerie mengerjapkan mata sambil mengamati sekeliling kamar menunduk malu. Lalu pandangannya beralih pada wajah tampan suaminya sangat menawan membuat jari telunjuknya ingin berbuat usil mencolek wajah lembut itu.
Jari mungilnya meraba wajah tampan suaminya sangat halus, menambah senyuman di pagi hari semakin melebar, bibirnya masih ingin merasakan sentuhan bibir manis suaminya. Seketika ingin melakukan ciuman diam-diam, aksinya kalah cepat. Tidak disangka sebenarnya sang suami sudah bangun tidur, tapi hanya berpura-pura memejamkan mata. Bibir suaminya mendarat di bibirnya berdurasi lama membuat dirinya tercengang. Meski dikejutkan adegan tidak terduga ini, Vallerie sangat menyukainya sampai tubuhnya rasanya ingin bermanja dengan suaminya lebih lama di ranjang.
“Jangan pernah menciumku di saat aku sedang tidur!” Elliot mengomel dengan nada lembut.
Vallerie tersipu malu sambil menutupi bibirnya dengan selimut. “Aku mengira kamu masih tidur sedangkan aku tidak bisa menahan diri. Jadinya, aku sengaja melakukannya diam-diam.”
“Kalau kamu menciumku diam-diam, aku tidak bisa merasakan bibirmu.”
Sorot mata mereka teralihkan pada lantai kamar dipenuhi pakaian mereka berserakan akibat terlalu nikmat melakukannya sepanjang malam. Sebenarnya mereka tidak merasa malu sama sekali, memang keinginan mereka ingin menciptakan sang buah hati akan menghiasi keluarga kecil yang mereka ciptakan semenjak dulu.
Bahkan masih bisa memancarkan senyuman terindah mereka menandakan bahwa mereka sungguh menikmatinya sepanjang malam tanpa ada keluhan apa pun. Tatapan Elliot semakin candu memandangi senyuman cantik istrinya sudah sangat menyegarkan di pagi hari, berhasil menyihir tubuhnya semakin ingin bermalasan di ranjang.
“Aku masih mengantuk.” Elliot merayu dengan nada sexy menempelkan bibirnya pada lekukan leher istrinya.
“Untung saja hari ini hari Minggu. Kalau hari ini hari Senin, mungkin aku harus menghukummu karena semalam kamu sedikit berlebihan melakukannya.”
“Bukankah kamu sendiri suka melakukannya? Saat malam pernikahan kita, kamu sebenarnya ingin melakukannya, tapi karena saat itu aku jahat, malam pertama jadi ditunda.”
Pipi Vallerie memerah dalam sekejap sampai merasa tubuhnya semakin lengket akibat berkeringat terlalu banyak. “Habisnya, aneh saja kalau kita tidak melakukannya padahal jelas-jelas kamu mencintaiku.”
Embusan napas lesu dikeluarkan dari mulutnya. Merenungkan perkataan sangat mengejamkan saat itu sampai rasanya ingin memutar waktu kembali ke masa itu untuk menyadarkan dirinya. Malam pernikahan yang seharusnya manis bagi sepasang pengantin baru, tapi diakhiri kenangan pahit bagi mereka.
“Omong-omong, aku tidak pernah menganggapmu jahat.” Vallerie meluruskan perkataan suaminya tiba-tiba, daripada melihat wajah suaminya terus bersedih setiap mengingat momen itu.
“Tapi, kamu menangis saat malam pernikahan kita.” Elliot memainkan rambut indah istrinya sedikit bergelombang bagian bawah.
Vallerie menggeleng pelan. Mempererat pelukan sengaja dan membenamkan kepala pada dada suaminya merasakan detak jantung berdebar-debar berhasil melebarkan senyumannya. “Aku sudah lupakan masalah itu. Yang penting, aku sungguh bahagia kita melakukannya tadi malam. Aku tidak sabar memiliki anak bersamamu, Sayang.”
Akhirnya senyuman ceria kembali terpampang pada wajah tampannya. Bibirnya kembali mendarat di bibir indah sang istri melakukan pergerakan bibirnya dengan lembut sambil meraba lekukan pinggang istrinya sangat sexy apalagi tidak dibaluti apa pun.
Ciuman mesra berakhir singkat karena mereka sudah melakukannya cukup lama sepanjang malam. Elliot mengakhirinya dengan mendaratkan bibirnya pada kening sang istri selama beberapa detik.
“Aku mau masak sarapan untukmu. Kamu mau makan apa?” Elliot mengelus pelipis Vallerie lambat laun.
“Aku mau makan nasi omelet saja.” Vallerie menjawab dengan nada lembut, mengedipkan mata manis.
“Kamu tidak bosan setiap hari kita sarapan itu? Padahal aku sudah punya banyak uang bisa belikan makanan lezat untukmu.”
Bibir Vallerie kembali memanyun. Lagi-lagi suaminya memamerkan kekayaan lagi padahal ia sama sekali tidak terlalu menyukainya. “Kamu pamer lagi! Sejak kamu menjadi orang kaya, selalu saja kamu jadi tukang pamer!”
“Aku bisa beli makanan lezat untukmu. Bahan makanan lainnya untuk sarapan kita bervariasi setiap hari. Dulu karena kita tidak kaya jadinya aku masak nasi omelet untukmu.”
“Pokoknya aku mau makan nasi omelet! Titik, tidak pakai protes! Sejak dulu aku selalu ketagihan menikmati nasi omelet spesial buatanmu.” Tatapan Vallerie melotot sambil mencubit pipi suaminya sedikit bertenaga.
Bibir Elliot bahkan tidak berani protes setelah dipertegas Vallerie. Memang benar perkataan Vallerie, meski setiap hari hanya menikmati nasi omelet, tapi justru ia sangat menyukainya entah terlahir sebagai keluarga kaya atau anak yatim piatu.
“Baiklah, aku akan masak nasi omelet super spesial untukmu. Kamu mandi dulu saja sambil menunggu aku selesai masak.”
Entah kenapa rasanya kakinya masih ingin bermalasan bersama istrinya. Sontak ada ide cemerlang yang bisa dijadikan alasan ingin bermanja lebih lama lagi. Kedua tangan bergerak lincah mengambil pakaian tidur milik istrinya, lalu kembali membungkus tubuhnya di dalam selimut.
“Sebelum itu, aku bantu kamu pakai baju dulu.”
Sedangkan pasangan lainnya merayakan pagi mereka berbeda dari pasangan sebelumnya. Kencan mereka sempat batal karena dihancurkan Elliot dan Vallerie beberapa hari lalu. Sekarang Erick tidak ingin melewatkan kesempatan emas berkencan dengan kekasihnya di hari libur berenang bersama.
Sebelum menceburkan diri ke kolam renang, Rachel sudah berpenampilan sama seperti sebelumnya, begitu juga Erick sudah bertelanjang dada hanya memakai celana renang sambil melakukan pemanasan di pinggir kolam.
“Tumben, tidak biasanya kamu mengajakku pagi-pagi berenang sampai menyuruhku jangan mandi dulu.” Rachel berbasa-basi sambil meregangkan kedua lengan ke atas.
“Aku tidak ingin kencan kita diganggu adikku. Memang mereka saat itu kurang ajar sudah membuatku darah tinggi saja!” Erick mengangkat kaki kiri sepuluh detik.
“Seharusnya saat itu kamu membentaknya dan menghajarnya lebih kasar lagi. Kamu memang kasar di matanya, tapi bagiku, kamu punya hati nurani.”
“Sudahlah, aku mau berendam dulu. Aku sudah selesai pemanasan.” Saat Rachel ingin melepas pita outer yang menutupi tubuhnya, tangannya langsung dicegah Erick.
“Tunggu sebentar, Rachel! Belum saatnya kamu berenang dulu!”
Dahi Rachel mengernyit. “Memangnya kenapa?”
Erick tidak membalas perkataan Rachel. Dengan sigap mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya kemudian bertekuk lutut di hadapan Rachel membuka kotak itu isinya berupa cincin berlian.
Rachel sampai membuka mulut lebar. Bahkan tubuhnya sangat kaku dan mungkin akan mengalami kram saat berenang nanti akibat dikejutkan spesial tiba-tiba.
“Menikahlah denganku. Aku sudah bertekad ingin menikahimu, tanpa peduli aku kalah dari adikku. Jabatanku di perusahaan hanya sebagai manajer, tapi kamu tetap masih memedulikan aku selama ini. Aku tidak mengharapkan mendapatkan posisi direktur dulu lalu menikahimu. Kita sudah berpacaran hampir setahun, hatiku sudah matang sebenarnya, aku tidak mau kamu mendekati adikku lagi seperti sebelumnya. Untungnya adik iparku melaporkan kamu hampir mencium adikku.”
Entah kenapa bagi Rachel ungkapan cinta Erick yang awalnya manis jadi terkesan lucu membayangkan dirinya memang saat itu bertekad ingin berciuman dengan Elliot, padahal sebenarnya pikirannya bertolak belakang.
“Tenang saja, aku hanya ingin menciummu. Saat itu, sebenarnya aku tidak berniat mencium Elliot. Adik iparmu saja yang salah paham. Aku hanya ingin mencium pria yang akan aku nikahi.” Rachel mengungkapkannya dengan senyuman percaya diri mengulurkan tangannya memberikan kode pada kekasihnya memakaikan cincin.
Erick tersenyum lepas, memakaikan cincin berlian itu pada jari manis Rachel kemudian memposisikan tubuhnya sekarang berpelukan mesra. “Aku pasti akan membahagiakanmu, Rachel. Terutama merawatmu selama kamu hamil anak kita.”
“Aku ingin secepatnya menikahimu sebelum aku melahirkan anakmu nanti.”
“Tapi, apakah orang tuamu akan merestui hubungan kita? Orang tuamu lebih menyukai adikku daripada aku.”
“Tenang saja. Aku akan membujuk mereka sebisa mungkin. Yang penting sekarang ….”
Rachel melepas pelukan, tangan kanannya melingkar di kepala Erick melakukan ciumannya sedikit agresif sambil meraba punggung lebar Erick lambat laun. Sedangkan Erick semakin memperdalam ciumannya sambil melepaskan pita pada outer Rachel sehingga outer tipis itu merosot ke lantai.
Erick menggendong tubuh Rachel masih dalam posisi berciuman tanpa jeda sambil melangkah menuju kolam lalu menceburkan diri mereka ke dalam kolam.
Kencan dilakukan Elliot dan Vallerie lebih berkelas dibandingkan pasangan sebelumnya. Karena sebelumnya keinginan Vallerie ingin melakukan perawatan spa bersama suaminya, sekarang Elliot mengabulkan keinginannya.
Di dalam ruangan khusus, mereka melakukan perawatan bersama sambil bergandengan tangan meski mereka memposisikan tubuh terbaring tengkurap di papan berjarak sedikit berjauhan. Masih ingin bermesraan tidak peduli petugas spa yang melayani mereka sampai iri melihatnya.
“Bagaimana rasanya pertama kali menikmati perawatan ini?” Elliot mengelus punggung tangan Vallerie.
Mata Vallerie menyipit sebal. “Kamu bermaksud ingin memamerkan kekayaanmu lagi?”
“Tidak. Aku hanya ingin menanyakan pendapatmu saja. Dulu karena kita selalu sibuk bekerja dan mengalami banyak masalah sampai tidak punya waktu melakukan hal kecil ini. Apalagi telapak tanganmu sampai agak kasar karena kamu terlalu bekerja keras dan kulitmu sedikit kering.”
Vallerie tersenyum manis, entah di masa lalu maupun masa sekarang suaminya selalu mencemaskan kondisi telapak mungil ini. Sekarang ia sangat bersyukur menerima perawatan yang sejak dulu diinginkannya berkat suaminya. “Menurutku menyenangkan juga mendapatkan perawatan istimewa begini. Aku jadi bisa merasakan apa yang dilakukan kalangan keluarga kaya seperti di dalam drama yang biasanya aku tonton.”
Aksi menerima pijatan sudah selesai. Elliot memberikan isyarat pada dua petugas secepatnya meninggalkan mereka sendiri di ruangan ini. Karena ada maksud tersembunyi yang ingin dilakukan Elliot bersama istrinya di dalam ruangan khusus ini.
Sepeninggal dua petugas, Elliot sengaja menggeserkan papan mendekati istrinya seolah-olah sekarang mereka sedang terbaring bersama di satu papan. Vallerie hanya bisa menggelengkan kepala melihat suaminya selalu modus di setiap ada kesempatan dalam kesempitan.
Vallerie menyipitkan mata. “Kamu sengaja mengusir mereka?”
“Mereka sudah selesai memijat kita. Masih ada waktu sampai kita sungguh diusir dari sini, aku ingin tidur bersamamu dulu.” Elliot tersenyum usil membelai rambut indah istrinya lambat laun.
Vallerie memutar bola mata sambil memposisikan tubuh duduk dan melipat kedua tangan di dada. “Inilah alasan terkadang aku sebal saat berkencan denganmu. Kamu lupa nanti kita harus ikut lomba demi bisa dapatkan hadiah jackpot?”
Elliot langsung membangkitkan tubuh dengan lincah sambil menepuk jidat berkali-kali. “Astaga! Kenapa aku melupakannya!”
“Kebiasaan deh selalu lupa setiap mau melakukan hal penting!” Vallerie mencubit lengan suaminya sedikit bertenaga.
“Aduh, sakit! Ampun, Vallerie! Sebaiknya kita ganti baju dulu saja sekarang.”
Vallerie dan Elliot berjalan cepat menuju tempat diselenggarakan lomba makan ramen. Namun, kaki Vallerie tidak sengaja salah langkah hingga hampir tersandung. Untungnya langsung ditahan Elliot dengan sigap.
“Sayang, kakimu terluka?” Elliot panik langsung berjongkok di hadapan Vallerie memeriksa kondisi fisik kaki Vallerie masih belum ada luka lecet.
“Tidak apa-apa. Maaf, aku sudah membuatmu panik. Kebiasaan dari dulu aku selalu ceroboh.” Vallerie menunduk malu menyingkirkan anak rambut ke belakang telinga.
“Vallerie?”
Suara wanita terdengar tidak asing membuat Vallerie dan Elliot spontan menoleh ke arah sumber suara berasal dari Carla dari kejauhan menyapa.