
Elliot yakin wanita itu adalah malaikat maut yang mengabulkan keinginannya terlahir kembali ke masa ini. Matanya terasa sedikit gatal akibat terlalu fokus melakukan pengamatan pencarian wanita itu menghilang dalam sekejap di antara kumpulan lautan manusia di area wanita itu berdiri tadi.
Saat giliran mereka dipanggil melakukan photoshoot, Elliot masih berdiri mematung penuh penasaran. Jika dilihat sekilas tadi, penampilan wanita itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Penampilan wanita itu terlihat seperti manusia biasa, terutama tadi masih berinteraksi normal dengan kerabat.
Vallerie bingung apa yang menyihir suaminya sampai tiba-tiba sikapnya berubah drastis. Sorot mata suaminya seperti sedang terfokus pada sesuatu, membuat bibir Vallerie terasa semakin gatal tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Apa yang kamu lihat, Sayang?”
Elliot baru tersadar dari lamunannya. Namun, entah kenapa ia masih penasaran dengan malaikat maut itu. “Kamu masih ingat wanita yang menghidupkan kita?”
“Kenapa kamu membicarakan hal itu tiba-tiba?” Dahi Vallerie berkerut, rasa cemas mulai timbul dalam dirinya jika mengingat malaikat maut ingin mencabut nyawa mereka.
“Tadi aku melihat dia dengan mataku sendiri. Dia berdiri di sana tadi.” Jari telunjuk Elliot menunjuk area wanita misterius itu sempat berdiri.
Sejenak Vallerie menyipitkan mata. Tidak ada siapa pun di tempat itu. Apakah suaminya sedang bermimpi di siang bolong karena ingatannya pulih sepenuhnya?
“Tidak ada siapa pun.”
“Aku melihatnya, Sayang. Mustahil aku salah lihat.”
“Kamu ingin mengajakku kencan, tapi kamu lebih fokus pada wanita lain. Sebenarnya kamu mau apa sih!” gerutu Vallerie dengan nada suara melengking sambil menggenggam sling bag erat.
Reaksi Elliot bukan marah atau sedih, tapi ia tertawa terbahak mendengar nada bicara istrinya terbakar api cemburu hanya karena membicarakan wanita lain di tengah kencan mereka. Apalagi wanita yang dibicarakan Elliot hanya seorang malaikat maut.
“Kamu cemburu?” Elliot sedikit membungkuk mendongakkan kepala tepat di depan bibir merah istrinya.
Vallerie membuang muka. “Bukan! Tapi, aku tidak suka kamu membicarakan wanita lain di saat kita kencan!”
“Cemburu dan tidak suka sama saja! Jujur saja deh, Vallerie!”
Tidak peduli berdebat sampai disaksikan seorang fotografer yang bertugas. Fotografer itu sampai menahan tawa melihat perdebatan sepasang kekasih ini justru terkesan sangat menggemaskan.
“Aku malas berdebat denganmu, Elliot! Tadi saat kamu menggombalku saja sudah membuatku malu, aku tidak ingin dipermalukan kedua kali!”
Elliot memasang wajah memelas menggandeng tangan Vallerie berdiri di tempat posisi melakukan photoshoot. Sebelum itu, Elliot memilih berbagai aksesoris wanita yang akan dipakai istrinya untuk berfoto nanti.
“Hmm aksesoris yang cocok dipakai untuk kamu apa, ya?”
“Tidak perlu memakai aksesoris berlebihan. Aku sudah memakai jepitan yang kamu beli kemarin.”
“Aha!” Elliot mengambil sebuah buket bunga matahari untuk Vallerie.
Vallerie merasa seperti sedang dilamar suaminya dilihat gaya suaminya saat memberikan buket bunga ini. Tetesan air mata bahagia ingin mengalir deras, tapi ia berusaha menahannya supaya tidak merusak hasil foto.
Elliot tersenyum manis. “Bunga terlihat cantik seperti wanitanya, tapi bagiku, kamu jauh lebih cantik dari bunga.”
Vallerie menerima buket bunga dari suaminya sambil menunduk malu merasakan detak jantungnya berdebar-debar. “Terima kasih pujiannya, Sayang.”
Saatnya Elliot dan Vallerie memperagakan berbagai pose mesra sesuai keinginan mereka. Bahkan fotografer itu tidak perlu bersusah payah mengarahkan mereka, hanya sedikit mengarahkan sesuai arah cahaya sorotan lampu jika posisi tidak sesuai.
Sesi pemotretan sudah selesai. Hasil foto-foto dicetak dan juga disimpan dalam softcopy. Vallerie mengambil hasil cetak foto ini berkualitas tinggi seperti foto di studio foto, mengamati foto ini kegirangan apalagi yang difokuskannya sebenarnya adalah wajah Elliot terlihat sangat bahagia di foto.
“Kamu sangat manis di foto. Begini baru suami kesayanganku.”
Alis Elliot terangkat sebelah. “Memangnya sebelumnya aku tidak terlihat seperti suamimu?”
“Kamu seperti ingin menyiksaku!” Vallerie memelototi suaminya tanpa segan.
Elliot tertawa lepas sampai wajahnya sedikit memerah. “Baiklah, lain kali kita akan melakukan pemotretan foto pernikahan kita lagi. Kamu pasti marah melihat wajahku seperti sangat terpaksa menikahimu.”
“Tidak perlu. Membuang biaya saja dan harus atur waktu dengan pihak studio. Lagi pula, mereka pasti bingung melihat kita melakukan pemotretan ulang padahal hasil foto sebelumnya sudah sempurna.”
Vallerie mengulurkan tangan kanan suaminya, memberikan kumpulan hasil foto tadi. “Foto ini kamu simpan saja. Selama ini kamu selalu kesepian, kamu bisa melihat foto ini kalau merindukan aku. Tidak perlu simpan fotoku lagi diam-diam di ponselmu.”
Sorot mata Elliot terpaku pada senyuman cantik Vallerie membuat hatinya semakin tersentuh. Sekilas mengecup pelipis Vallerie, kembali menggandeng tangan. “Terima kasih, Sayang. Sebagai gantinya, aku ingin mengajak kamu dinner romantis nanti.”
Sebelum itu, Vallerie dan Elliot mampir ke lapak penjual menjual minuman cokelat dingin untuk beli minuman cokelat favorit mereka sejak dulu sampai sekarang. Meski Elliot sempat amnesia dan terlihat seperti orang berbeda, tapi seleranya suka cokelat dan minuman cokelat masih sama.
“Tidak kusangka kita bertemu di tempat seperti ini,” sapa Whitney.
“Dunia memang sempit. Apakah kita sebenarnya berjodoh?” Vallerie tertawa ledek, sengaja membuat suaminya terbakar api cemburu, meski berinteraksi sesama jenis.
Benar dugaan Vallerie. Percakapan sederhana itu langsung membuat Elliot merasa tubuhnya gerah seperti cacing kepanasan terus menghentakkan kaki di dalam lift pelan.
“Sayang, kamu memang menyebalkan! Sudah bertemu teman, sekarang melupakan aku!” Elliot menatap Whitney dengan tatapan melotot.
“Vallerie, sejak kapan suamimu menjadi sangat posesif? Sebelumnya dia tidak terlalu posesif.” Whitney memelototi Elliot tanpa rasa takut sambil mempererat rangkulan bersama kekasihnya.
Vallerie merespons tertawa anggun, sengaja mengayunkan tangan kanan suaminya bermaksud memamerkan hubungan mereka kini resmi telah menjadi sepasang suami istri sudah bercinta, meski di mata Whitney dan Harry, temannya ini memang sudah mesra sejak dulu.
“Sejak dulu memang dia selalu posesif. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati jika ingin bicara.” Vallerie menutup mulut anggun.
“Tapi, tidak biasanya aku melihat kamu tersenyum terus, Elliot. Biasanya wajahmu selalu kaku.” Harry menyipitkan mata melangkah perlahan mendekati Elliot dengan tatapan fokus seperti scanner.
Ting..
Saat pintu lift terbuka lebar di basement, Harry kembali memundurkan kepala dan lebih dulu melangkahkan kaki keluar dari lift bersama kekasihnya, diikuti Vallerie dan Elliot.
“Pokoknya aku selalu mendoakan kehidupan pernikahan kalian semoga terus berjalan lancar. Kalau ada bantuan, kalian bisa meminta bantuan kami,” sambung Harry.
“Sudah pasti. Aku juga mendoakan semoga kalian menikah secepatnya.” Sebenarnya Elliot tahu tanggal pernikahan Whitney dan Harry kapan. Karena ia dan istrinya sudah pernah menghadiri pernikahan Whitney dan Harry berlangsung meriah di kehidupan sebelumnya.
“Tinggal tunggu undangan pernikahan kami mendarat di depan rumah kalian,” sahut Harry percaya diri membuat pipi Whitney semakin memerah.
Langit malam disinari bulan purnama sangat indah. Elliot mengajak Vallerie dinner romantis di sebuah restoran sangat diinginkan Vallerie semenjak dulu. Restoran ini sangat istimewa, pengunjung restoran bisa menikmati dinner romantis diiringi para penyanyi dan musisi ternama menyanyikan berbagai lagu romantis.
Akhirnya keinginan Vallerie terkabul menikmati dinner romantis di restoran ini bersama suaminya. Sebelum mereka meninggal di kehidupan sebelumnya, sempat berjanji ingin dinner romantis di sini tapi tidak sempat melakukannya.
Mendengar lagu romantis favoritnya, Vallerie menggoyangkan kepalanya kegirangan sambil memotong daging steak menjadi beberapa bagian untuk suaminya.
Elliot juga ikut bahagia melihat istrinya bisa tersenyum lepas begini setelah menghadapi badai besar menimpa mereka. Tangan kirinya terus menggenggam tangan istrinya menampakkan pandangan berbinar, semakin candu menikmati pemandangan indah di hadapannya. Seandainya sejak awal ia bersikap lembut terhadap Vallerie terutama di malam pernikahan dan pertemuan pertama mereka, mungkin Vallerie akan terus tersenyum seperti ini sejak lama.
“Seharusnya aku mengajakmu ke sini sejak lama. Aku suka melihatmu selalu tersenyum begini.”
“Maka dari itu, kamu jangan galak terus! Mungkin aku akan memasukkan daging steak ini sekaligus ke dalam mulutmu.” Vallerie memberikan beberapa potongan daging yang sudah dipotongnya.
“Aku ingin kita besok pergi berkencan lagi seharian. Kamu ingin pergi ke mana? Sudah pasti aku juga bahagia berkencan di tempat favoritmu.”
Sejenak Vallerie menaruh garpu dan pisau di piring. Memasang tatapan percaya diri meraih tangan suaminya melekat pada pipinya. “Aku tidak membutuhkan apa pun lagi. Kita hidup bahagia terus sampai menua sudah cukup membuatku bahagia. Jangan meninggalkan aku lagi seperti sebelumnya!”
Vallerie mengatupkan bibir, mendengar lagu romantis ini sangat pas momennya untuk mengungkapkan isi hatinya sekarang. “Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Elliot. Aku sama seperti kamu. Entah di kehidupan sekarang atau sebelumnya, aku selalu kesepian. Aku hanya memiliki kamu yang bisa menemaniku setiap saat.”
Elliot tertawa gemas. Meraih tangan kiri sang istri mendaratkan kecupan manis selama beberapa detik pada punggung tangan istrinya dihiasi cincin pernikahan mereka berkilauan akibat terkena sorotan lampu. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Aku juga tidak akan bisa hidup sendirian tanpa kamu, Vallerie.”
“Omong-omong, kamu sengaja mengajakku ke sini tidak memakai black card lagi, ‘kan?” Vallerie melipat kedua tangan di dada, mengingat tadi siang suaminya memakai black card demi bisa memesan ruangan bioskop khusus.
Elliot menggeleng polos. “Tidak. Kali ini tanpa black card. Berkencan di sini adalah hadiah istimewa yang kuberikan untukmu. Kamu sudah sangat berjasa selama ini, masih banyak utang yang harus aku lunaskan untukmu.”
“Ssstt! Jangan bicara lagi! Aku jadi tidak bisa menikmati lagu romantis ini.”
Elliot bergeming, sambil terus mengelus pipi istrinya dengan tatapan penuh cinta. Kalau tidak diperbolehkan bicara, satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah menyentuh istrinya.
Rumah mewah mereka kini telah disulap dipenuhi berbagai hiasan yang mereka telah belanja sewaktu di pusat perbelanjaan. Sofa dan ranjang sudah diganti jadi yang baru, sedangkan ruang tamu dihiasi tanaman anggrek, lampu kelap-kelip mengitari foto-foto kencan mereka selama ini. Tidak lupa hiasan bunga matahari tiruan dipajang di meja ruang tamu.
Merasa lelah merapikan semua barang belanjaan mereka, Elliot menggendong tubuh istrinya menuju kamar mereka lalu membaringkan tubuh istrinya di ranjang baru sambil mengusap keringat.
“Kamu suka rumah baru kita sekarang?” Elliot memposisikan tubuhnya tengkurap di hadapan Vallerie.
“Hanya ubah hiasan ruang tamu dan kamar, entah kenapa melelahkan juga. Padahal aku merasa tadi kita belanja tidak terlalu banyak.” Vallerie juga mengusap keringat mengalir di wajah suaminya dengan jempol kanan.
Elliot membaringkan tubuhnya di ranjang lalu memeluk tubuh istrinya erat sambil berguling-guling girang. “Nah begini baru enak bermain bersamamu di ranjang yang luas.”