Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 50: Bekas Luka Mencurigakan



Kesempatan emas bagi Vallerie untuk menjatuhkan Bertrand saat hari ulang tahun. Apalagi tahun ini Vallerie yang diajak, bukan Erick. Padahal jika dilihat hubungan Erick dan Bertrand sebenarnya cukup akrab karena terkadang mereka minum bersama di bar saat pulang kerja.


Sebelum itu Vallerie mencemaskan keadaan Carla yang selama ini selalu berpacaran dengan Bertrand padahal karakter Bertrand sungguh kejam. Kecuali kalau Bertrand di dunia sekarang sungguh mencintai Carla dengan tulus, Vallerie tidak perlu mencemaskan terlalu berlebihan.


Lagi-lagi Elliot harus menunda kencan demi membantu istrinya menjalankan misi rahasia. Namun, Elliot tidak marah karena dengan begini, masalah akan cepat terselesaikan dan hidup mereka kembali tenang seperti biasa.


Tidak seperti tadi siang Vallerie berkeliaran sendirian menemani Rachel makan siang, sekarang Elliot mendampingi Vallerie bertemu Whitney dan Harry di salah satu restoran elit dekat gedung stasiun TV tempat Whitney bekerja.


Vallerie sengaja mengajak berkumpul bersama, karena ini merupakan salah satu bagian dari rencana rahasianya sengaja tidak mengundang Carla.


“Aku ingin meminta bantuan kalian berdua.” Vallerie memasang raut wajah serius pada kedua temannya duduk berhadapan dengannya.


“Tumben sekali kamu mau minta bantuan pada kami. Bantuan apa?” Harry mulai penasaran.


Whitney menyipitkan mata. “Kamu tidak meminta bantuan mencari informasi mengenai Erick lagi, ‘kan?”


“Bukan!” Vallerie langsung membantah sebelum suaminya terbakar api cemburu. Padahal itu rencana sebelumnya ingin berbalas dendam pada Erick.


“Memangnya istriku pernah meminta bantuan menggali informasi kakakku?” Elliot menginterogasi dengan nada ketus sambil memelototi istrinya.


“Itu dulu sih. Aku mengira istrimu sempat memiliki perasaan istimewa terhadap Erick.” Whitney tertawa terkekeh sambil menatap Vallerie.


Bukan marah, tapi justru reaksi Elliot tertawa terbahak sambil merangkul pundak Vallerie terang-terangan. Awalnya Vallerie gugup karena ditatap tajam dari kejauhan, sekarang sedikit lega menyesap jus jeruk perlahan.


“My Vallerie bukan tipe wanita yang hatinya suka goyah. Mustahil kalau istriku menyukai kakakku juga.”


“Lagi pula Erick bukan tipe pria idealku. Untuk apa aku mengincarnya?” Vallerie mempererat rangkulan manja.


“Jadinya, sekarang kamu mau minta bantuan apa lagi?” Whitney mengalihkan perbincangan ke topik utama.


Vallerie mengamati sekeliling restoran penuh waspada. Cemas Bertrand sebenarnya sedang menikmati makan malam di restoran ini juga.


“Bolehkah kamu memantau pergerakan Carla?” pintanya kepada Whitney.


“Memantau pergerakan? Untuk apa?”


“Maksudku, lebih cenderung mengawasinya. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kamu harus melindunginya dan melaporkan langsung padaku.” Semakin lama suara Vallerie semakin mengecil.


Dahi Whitney mengernyit. Entah kenapa sejak meminta bantuan mencari informasi mengenai Erick, Whitney merasa sikap Vallerie sungguh berubah drastis. Padahal sebelumnya tidak pernah memedulikan urusan orang lain. Apakah kepala Vallerie terbentur tembok jadinya sikapnya berubah drastis?


“Tapi, kamu baru mengenalnya. Kenapa kamu tiba-tiba memintaku mengawasinya?” Whitney masih belum puas dengan jawaban Vallerie.


“Karena Carla adalah teman terdekatmu saat di kantor. Selain itu, sejak dulu aku sangat mengandalkanmu. Pokoknya jangan sampai Carla terluka.”


“Kenapa kamu berbicara seolah-olah mengetahui masa depan?”


“Sudahlah, kamu tinggal turuti perkataan Vallerie saja! Kalau kamu menjalankan tugasmu dengan baik, aku akan mentraktir kalian berdua makan enak.” Elliot menyilangkan kaki.


Akhirnya Whitney mengangguk demi mendapatkan traktiran istimewa daripada hangus karena bertindak gegabah. “Urusan Carla serahkan saja padaku.”


“Sedangkan untuk kamu, Harry. Bolehkah kamu menggali informasi apa pun terkait Bertrand? Kamu punya teman yang bekerja di perusahaan Bertrand, ‘kan?” pinta Vallerie menatap Harry dengan tatapan serius.


Harry mengangguk. “Iya sih, apalagi temanku bekerja sebagai asisten Bertrand.”


Vallerie menepuk tangan sekilas. Semangatnya semakin menggebu-gebu menindas Bertrand jika dilihat situasi seperti ini lebih mudah mendapatkan informasi penting yang diinginkannya. “Minta bantuan temanmu itu melaporkan apa saja aktivitas yang dilakukan Bertrand. Aktivitas aneh yang tidak biasanya dilakukan Bertrand. Lalu, kamu juga bisa membantunya menggali informasi penting, entah Bertrand punya rahasia lain dalam kehidupannya atau tidak.”


“Omong-omong, sebenarnya apa yang merasuki pikiranmu? Kenapa tiba-tiba kamu bertindak seolah-olah musuhnya Bertrand?” Lagi-lagi Whitney tidak bisa menahan rasa penasaran karena tingkah Vallerie semakin mencurigakan.


“Pokoknya kalian tinggal turuti keinginan istriku saja kalau mau ditraktir makanan enak!” Elliot memasang tatapan kejam pada kedua temannya daripada temannya masih terus penasaran apa yang akan direncanakan Vallerie sesungguhnya.


Lagi-lagi Elliot tidak bisa berkencan dengan Vallerie jika masalah sungguh belum selesai sepenuhnya. Makan siang mereka digunakan untuk bertemu Carla. Sesungguhnya semalam pesan singkat yang diberikan Carla untuk Vallerie adalah mengajak makan siang bersama tanpa mengundang Whitney dan Harry.


Vallerie dan Elliot merasa ada yang aneh dengan penampilan Carla. Biasanya Carla selalu terlihat rapi dan berpenampilan cantik, sekarang entah kenapa ada yang berbeda. Kantung mata Carla sedikit membesar seolah-olah tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam dan penampilan Carla sedikit kusut. Vallerie sedikit curiga terjadi sesuatu pada Carla, maka dari itu, Carla tiba-tiba mengajaknya makan siang bersama.


“Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian. Maaf, aku pasti merusak momen kencan kalian.” Carla menatap gugup, jika dilihat ekspresi wajah Elliot seperti ingin menerkamnya.


“Tidak apa-apa. Justru sesekali kita harus berkumpul begini. Benarkah begitu, Sayang?” Vallerie mengedipkan mata manja pada Elliot.


“Iya, sesekali tidak masalah.” Elliot menjawabdengan nada sedikit ketus. Sebenarnya bukan sesekali, bisa dikatakan belakangan ini mereka tidak bisa berkencan dengan tenang, pasti ada saja yang mengganggu mereka tiba-tiba.


Carla tersenyum lega. “Vallerie, tujuan aku mengajakmu makan siang karena aku ingin berterima kasih padamu soal kamu sudah membantuku mencarikan hadiah yang cocok untuk pacarku.”


Bisa dikatakan Vallerie sedikit menyesal karena secara tidak langsung memberikan hadiah istimewa untuk musuhnya. Namun, mustahil ia berkata langsung terang-terangan di hadapan Carla bahwa Bertrand adalah penjahat.


“Kalau kamu meminta bantuan lagi, tinggal ajak aku saja.” Sebenarnya Vallerie lebih cenderung memberikan kode keras ingin melindungi Carla dari bahaya.


“Pacarku senang mendapatkan hadiah itu, meski sebenarnya aku merasa sedikit bersalah karena bukan aku yang memilih. Tapi kamu yang memilihkan untukku.”


Saat Carla menyingkirkan beberapa helaian rambut panjang menghalangi mulutnya ingin menikmati mie kuah, tiba-tiba ada satu hal yang membuat tatapan Vallerie dan Elliot melotot. Ada beberapa titik luka memar membekas di pergelangan tangan kiri dan leher Carla, meski terlihat tidak terlalu jelas karena Carla sengaja menutupinya dengan berbagai cream.


Vallerie dan Elliot saling melempar pandangan sedikit panik. Melihat bekas luka di beberapa titik area yang terlihat dengan kasat mata, mereka sangat yakin Carla sempat disiksa Bertrand sampai menimbulkan bekas luka. Hanya saja kenapa Carla tidak memberitahukan hal penting ini? Itulah yang menjadi pertanyaan bagi mereka.


“Omong-omong, pergelangan tanganmu kenapa?” Vallerie sengaja menguji respons Carla seperti apa.


Carla sedikit gugup langsung menutupi bekas luka yang dialaminya menggunakan lengan kemeja. “Oh, tidak sengaja semalam pergelangan tanganku terbentur siku tembok.”


“Lalu, bagaimana dengan lehermu?” Vallerie bertanya lagi karena masih belum puas, kali ini Carla mencari cara menutupi luka yang dialaminya supaya tidak tertangkap basah.


Carla sedikit memalingkan pandangan sambil menyentuh leher. “Sejak dulu memang sudah ada. Karena aku sempat jatuh dan terbentur benda keras, sampai sekarang lukanya masih membekas.”


Dilihat tingkah Carla berubah drastis saat membicarakan luka, Vallerie sangat yakin sebenarnya ada sesuatu yang tidak beres antara Carla dan Bertrand tanpa sepengetahuannya. Apakah Bertrand sungguh mulai pergerakannya?


“Sudahlah, kamu jangan terlalu berlebihan. Sebenarnya tidak terlalu sakit karena kecerobohanku sendiri yang menciptakan luka itu.” Carla mempertegas daripada masalah kecil menjadi rumit.


“Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, jangan diam saja. Sebaiknya kamu ceritakan pada Whitney, Harry, atau aku. Karena kamu adalah teman terdekatku juga.”


Hati Carla semakin tersentuh mendengar ucapan teman barunya sungguh membuatnya tercengang. Apalagi baru pertama kali ada teman yang sangat memedulikannya, bahkan Whitney tidak pernah mencemaskannya sampai berlebihan begini.


“Jangan hanya menceritakan pada istriku. Ceritakan padaku juga. Istriku tidak akan cemburu kalau kamu hanya ingin curhat padaku saja,” Elliot bergurau dengan nada sedikit tegas.


Vallerie mengeluarkan jurus andalannya menginjak kaki suaminya sedikit bertenaga. Di saat seperti ini masih bisa bercanda, inilah hukuman akibat bercanda di saat tidak tepat.


Elliot memasang wajah memelas sambil menahan rasa sakit akibat kakinya terkena ujung hak stiletto dipakai istrinya. Mendekatkan bibirnya perlahan pada daun telinga di sebelahnya. “Aku kan tidak berkata hal aneh, kenapa menginjak kakiku sih? Apakah itu hobi barumu?”


“Aku tahu kamu bermaksud baik, tapi bukan berarti bercanda di saat begini! Dasar tidak peka!”


Bibir Elliot mengerucut. “Kan yang penting kamu memang tidak cemburu kalau seandainya aku hanya berbicara berdua saja dengan Carla.”


“Haruskah aku menyuapimu supaya kamu diam?” Vallerie sudah bersiap mengambil sesendok penuh.


“Boleh. Justru aku membutuhkannya dari tadi.” Elliot mengedipkan mata usil.


Vallerie melipat kedua tangan di dada. “Kamu tidak malu dilihat Carla?”


“Carla kan teman baik kita. Untuk apa malu?”


Setelah makan siang, Carla, Vallerie, dan Elliot berjalan keluar dari restoran. Tanpa sengaja berpapasan dengan Bertrand, sosok pria yang baru saja mereka bicarakan membuat reaksi mereka bertiga sedikit terkejut.