
Pagi hari ini sangat cerah, tapi belum tentu menandakan hari ini adalah hari yang baik bagi sepasang suami istri tengah bahagia di pagi hari melakukan segala aktivitas penuh kemesraan. Menyikat gigi bersama, masak sarapan bersama, dan sekarang sedang melakukan breakfast romantis di meja makan saling suapan mesra.
Sejak bangun tidur sampai sekarang masih belum membuka ponsel sama sekali. Tidak peduli apa yang sedang terjadi di luar sana, karena semalam bermimpi buruk, Vallerie terus melekatkan tubuhnya pada tubuh sang suami dengan erat, menikmati suapan nasi omelet yang dimasak istimewa terasa sangat pas baginya sehingga ingin menambah porsi lagi. Namun, tidak berani meminta terang-terangan, cemas suaminya tidak akan dapat bagian.
“Kamu mau tambah lagi?” Elliot menawarkan tiba-tiba, sehingga reaksi Vallerie tersentak seperti pikirannya mudah dibaca.
“Tidak perlu. Satu porsi ini sudah sangat cukup bagiku.” Vallerie sedikit menunduk sambil menyingkirkan beberapa helai anak rambut ke belakang telinga.
Seketika suapan terakhir dimasukkan ke dalam mulut, Vallerie semakin mempererat pelukan manja. Mengedipkan mata sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut Elliot. “Semakin lama aku semakin candu menikmati nasi omelet spesial buatanmu, tapi kamu harus makan juga supaya kamu sehat.”
“Aku sudah pasti sehat kalau istriku selalu mencintaiku manis begini.” Elliot mengedipkan mata kanan sekilas, mencubit pipi istrinya gemas.
Balasan Vallerie adalah tawa anggun, sambil menyuapi beberapa sendok terakhir pada akhirnya dihabiskan dalam sekejap hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.
Sekarang berlanjut melakukan cuci piring bersama sebagai rutinitas mereka sejak dulu. Entah sampai kapan bisa menikmati momen penuh bahagia sebelum menghadapi medan perang lagi. Mimpi buruk semalam, sebenarnya Vallerie masih ingin membunuh Bertrand dengan mencabik-cabik sampai puas. Tapi, hatinya di dunia nyata terlalu lembut, mustahil ia bisa melakukannya dengan tangannya sendiri, padahal kedua tangan lentik ini sering kali dipergunakan memperlakukan suaminya penuh kasih sayang.
Jari telunjuk Elliot mulai berbuat usil, menggambarkan sebuah hati berukuran besar mengandalkan busa menempel di sarung tangan yang dipakai Vallerie.
Tawa girang menghiasi wajah cantik Vallerie, ia tidak ingin kalah menggambarkan hati juga di sarung tangan suaminya.
“Terima kasih sudah membawakan mimpi indah untukku semalam. Berkat kamu, aku tidur nyenyak.”
“Omong-omong, gambar hati buatanmu terlihat bagus juga. Apakah aku tidak usah mencuci sarung tanganku?” Elliot tertawa gemas mengamati hasil gambar hati kecil buatan istrinya.
“Kamu jorok sekali! Aku kan bisa gambar hati untukmu di mana pun!” Vallerie mencubit lengan Elliot agak bertenaga.
“Atau haruskah aku pajang di akun Pictagramku?”
Vallerie melipat kedua tangan di dada dengan tatapan sebal. “Sayang! Sejak kapan kamu semakin bertingkah usil begini? Siapa yang mengajarimu?”
Elliot mencium pelipis Vallerie sekilas. “Kamu.”
Rona merah menyala pada pipi Vallerie. Tubuhnya semakin gerah meski dari tadi bermain air bersama suaminya.
Satu piring terakhir sudah dicuci. Vallerie terburu-buru melepaskan sarung tangan, memeluk pinggang suaminya erat lalu mengecup pipi lembut suaminya selama beberapa detik. “Kamu menggombalku terus, aku jadi tidak mau mandi sendirian. Kamu harus bertanggung jawab!”
“Baiklah, kita mandi bersama sekarang!” Elliot percaya diri menggandeng tangan Vallerie menaiki tangga menuju kamar mereka.
Bola mata Vallerie terbelalak. Rasanya ingin menendang dan mencubit kaki suaminya karena sudah berpikiran mesum di pagi hari. Apalagi hari ini mereka masih harus bekerja, mustahil melakukan banyak aktivitas sampai membuat tubuh mereka kelelahan dulu sebelum berangkat kerja.
Sungguh apa yang dibicarakan Elliot tadi akan dilakukan tanpa diajak berbasa-basi lagi. Sejenak memasuki walk in closet mengambil bathrobe mereka masing-masing kemudian kembali melangkah menuju kamar mandi.
Langkah kaki Vallerie tiba-tiba terhenti di depan kamar mandi. Dengan ekspresi wajah malu melepas genggaman tangan, akhirnya membuka bibir juga. “Kamu sungguh ingin mandi bersamaku?”
“Sesekali aku ingin melakukannya di hari kerja. Tenang saja, aku tidak akan berbuat apa pun di dalam sana.” Elliot menyunggingkan senyuman usil mendekatkan bibir sexynya di bibir Vallerie.
Kepala Vallerie terangkat ringan. Menampakkan senyuman percaya diri kembali menggandeng tangan suaminya memasuki kamar mandi. “Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu.”
Di dalam kamar mandi, sambil mengisi air di bath tub, Elliot melepaskan piyamanya, hanya sisa celana panjang masih dipakainya. Sedangkan Vallerie tidak ingin membuka piyamanya, hanya bisa berdiri mematung melihat tubuh kekar suaminya pagi-pagi sudah menggodanya.
Elliot mengernyitkan dahi, tidak biasanya istrinya bersikap malu-malu, padahal mereka sudah terbiasa saling melepas pakaian di dalam walk in closet. “Kenapa kamu tidak buka baju?”
“Aku … lebih nyaman pakai baju.”
Elliot menyunggingkan senyuman usil, menggendong tubuh istrinya lalu menceburkan tubuh mereka ke dalam bath tub.
Tubuh Vallerie basah kuyup. Untuk membalas keusilan suaminya, Vallerie mencipratkan air mengenai wajah suaminya. “Dasar nakal deh!”
“Hukuman karena kamu tidak mau lepas piyama!” Elliot tertawa puas mencipratkan air berkali-kali ke arah istrinya.
Belum puas kalau hanya mencipratkan air, Elliot mengandalkan telapak tangannya menampung sedikit air lalu membiarkan mengalir membasahi rambut indah sang istri.
Vallerie justru tidak marah, ia merasa sangat senang bermain air bersama suaminya terus. Karena sudah lama sekali mereka tidak melakukannya. “Sudah lama aku tidak bermain bersamamu saat mandi sejak kita diganggu terus.”
“Maka dari itu, kamu tidak boleh menolak setiap aku mengajakmu mandi bersama. Apalagi nanti siang aku ada rapat, aku ingin bersenang-senang denganmu dulu sebelum jadi direktur galak.”
Sepasang bibir saling berciuman dengan nikmat, dengan posisi sang majikan berpelukan erat.
Kini penampilan mereka berpakaian pakaian kerja profesional. Tapi, di mata Elliot, penampilan istrinya masih belum sempurna jika dilihat kerah blazer istrinya sedikit kusut. Tangannya berinisiatif merapikan kerah blazer cokelat lalu mendaratkan ciuman manis di kening sang istri sekilas.
“Bagiku masih belum sempurna.” Giliran Vallerie mencium pipi lalu mengelus kepala suaminya.
Respons Elliot tertawa kecil memeluk tubuh istrinya erat. “Tiba-tiba aku punya ide cemerlang akan aku diskusikan saat rapat nanti. Terima kasih sudah menyebarkan racun cinta untukku.”
Sebelum berangkat kerja, akhirnya mereka membuka ponsel mereka terlebih dahulu, memeriksa apakah ada seseorang yang mengirimkan pesan singkat untuk mereka atau tidak.
Saat bersamaan entah ponsel Vallerie maupun Elliot muncul pesan singkat dari asisten masing-masing. Dengan sigap membaca pesan singkat itu sedikit membingungkan sehingga terlihat kerutan di dahi mereka.
Tanpa berbasa-basi lagi, mereka langsung menekan tautan yang diberikan mengenai sebuah artikel skandal panas.
Awalnya suasana hati Elliot menyegarkan karena bermain bersama istrinya di pagi hari, kini berubah drastis menjadi darahnya mendidih melihat nama istrinya tercemar hanya karena tuduhan skandal ini. Tangan kanannya terkepal kuat rasanya ingin menonjok pelaku yang menerbitkan artikel ini. Meski ia tidak tahu pasti siapa pelakunya, bisa jadi dari salah satu haters yang membencinya sejak dulu.
Mata Vallerie sedikit berkaca-kaca. Jika dilihat foto tertera dalam artikel ini saat pertemuan pertama mereka terasa mencekam. Vallerie memang terlihat seperti pihak ketiga yang merebut Elliot dari Rachel, meski untungnya foto ini tidak memperlihatkan adegan di kamar hotel.
Selain itu, banyak komentar negatif yang menghujatnya, membuat tubuhnya semakin gemetaran dan napas tersengal-sengal.
Spontan Elliot langsung memeluknya erat sambil menempelkan bibir di pelipis Vallerie mendalam. “Lancang sekali keparat itu! Padahal kamu bukan penjahat! Kenapa mereka semua menuduhmu hanya berdasarkan bukti aneh ini?!” Elliot memukuli sandaran sofa berkali-kali.
“Maafkan aku. Seharusnya malam itu aku tidak agresif. Nama baikmu menjadi hancur karena aku.” Suara tangisan Vallerie memecah keheningan di ruang tamu, tangan kanannya disentuh tangan hangat suaminya penuh cinta.
Elliot terus menggeleng menepuk-nepuk punggung Vallerie berkali-kali. “Aku justru sangat suka kamu agresif saat itu. Kalau kamu tidak agresif, mungkin sampai sekarang kita tidak akan menikah. Jangan menyalahkan dirimu karena skandal aneh ini! Mereka saja yang masih belum tahu betapa agresifnya aku di masa lalu. Aku selalu memedulikanmu diam-diam!”
Hati Vallerie sangat tersentuh mendengar perkataan itu justru di luar dugaannya. Bola mata membulat, perlahan mengangkat kepala dengan malu. “Kamu … sungguh memedulikan aku diam-diam? Tapi, dulu kamu juga tidak ada bedanya dengan dunia sekarang. Dulu kamu sedikit cuek padaku sampai aku mengira kamu sungguh tidak tertarik padaku sama sekali.”
“Hampir setiap hari aku menaruh kopi favoritmu di mejamu setiap kamu tidak ada. Aku selalu membantu pekerjaanmu diam-diam. Semua hal yang kusebutkan tadi hanya diberikan untukmu saja. Kamu yang tidak peka!”
Vallerie semakin tercengang sampai tidak bisa berkata-kata. Rona merah menyala pada pipinya, tangan kanannya mengelus punggung tangan suaminya. “Padahal kamu di dunia sekarang juga tidak peka dan selalu galak.”
“Di dunia sekarang, aku juga perhatian padamu! Terkadang aku belikan makanan untukmu di saat kamu sibuk bekerja sebelum kita menikah. Lalu ….”
Reaksi Vallerie tercengang, perlahan menggeserkan tubuhnya mendekati suaminya dengan penuh penasaran kelanjutan perkataan yang akan disampaikan suaminya.
“Kamu–”
“Masalah hari ini, aku akan meminta bantuan Jordan menyelidikinya. Aku tidak mau kamu terlibat masalah ini, padahal kamu tidak bersalah!” Elliot sengaja memotong perbincangan ini, sebenarnya ia ingin berkata jujur sepenuhnya, tapi situasi sekarang bukan saat yang tepat membicarakannya.
Tiba-tiba ada satu hal terlintas di pikiran Vallerie. Jika dilihat skandal aneh ini tiba-tiba dirilis di saat seperti ini, tanpa membutuhkan waktu sehari mencari tahu siapa pelakunya, Vallerie sudah tahu jawabannya.
Akhirnya senyuman sinis kembali terukir di sudut bibirnya. “Aku tahu siapa pelakunya tanpa perlu bantuan Jordan.”
“Apa mungkin kamu mencurigai Bertrand?”
Vallerie mengangguk dan bertopang dagu. “Saat hari ulang tahunnya, aku menyakiti perasaannya. Sudah pasti dia tidak akan berdiam saja. Pasti dia ingin balas dendam padaku.”
Drrt…drrt…
Suara getaran ponsel membuat Elliot ingin membuang ponselnya ke laut karena sudah merusak momen manis bersama istrinya, meski sedang berujung mendiskusikan persoalan serius. Seketika mengamati nama sang ibu pada layar ponsel, tensi darah kembali stabil lalu menggeser layar mengangkat panggilan telepon.
“Halo ibu, ada apa meneleponku?”
“Elliot … ayahmu dilarikan ke rumah sakit.”
Bola mata Elliot terbelalak. Tangan kanannya dengan lemas menahan genggaman erat memegangi ponsel sambil menatap istrinya dengan tatapan sendu.
Sedangkan di apartemen elit, Erick dan Rachel masih belum tahu kabar sang ayah dirawat di rumah sakit tiba-tiba. Sekarang yang mereka fokuskan adalah membaca artikel mengenai skandal panas. Bagi Rachel, meski ia diuntungkan dalam artikel ini, tapi ia tidak suka melihat adik iparnya yang jadi penjahat. Hubungan mereka sewaktu dulu tidak akur, tapi Rachel masih memiliki sisi hati nurani tidak mau semua orang terdekatnya terseret dalam masalahnya.
“Sial! Vallerie dituduh sebagai pelakor! Aku tidak bisa menerimanya.” Rachel menonjok bantal sofa berkali-kali membuat Erick cemas akan berdampak pada kesehatan bayinya dalam kandungan Rachel.
“Bukankah dulu kamu sangat membenci Vallerie? Sudahlah kamu harus kendalikan amarahmu. Jangan sampai bayi kita tidak sehat hanya karena kamu mudah marah!” Erick mengelus punggung lentik Rachel.
“Itu dulu aku masih belum berpikir jernih. Memang sih dulu aku selalu berpikir pernikahan mereka hanya sandiwara. Tapi jika dilihat lama, sebenarnya mereka sudah cocok satu sama lain. Aku yang terlihat seperti perusak hubungan mereka sebenarnya.” Bibir Rachel memanyun, langsung diberikan pelukan hangat calon suaminya membuat hatinya sedikit tenang.
“Kita harus bantu Vallerie dan adikku menangkap pelaku yang menyebarkan rumor aneh ini. Aku juga tidak mau nama adikku dan adik iparku rusak karena masalah skandal.”
Kepala Rachel terangkat, menatap Erick dengan tatapan agak gugup. “Omong-omong, lusa jadi mengadakan pertemuan keluarga, ‘kan?”
Di tengah perbincangan mesra mereka, tiba-tiba muncul sebuah notifikasi pesan dari ibunya Elliot. Awalnya Erick ingin mengabaikannya demi menikmati momen berharga bersama tunangannya di pagi hari, tapi karena berhubungan ayahnya dilarikan ke rumah sakit tiba-tiba, dirinya langsung syok sekarang.