Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 6: Hari Pertama Bekerja



Bulan madu di Pulau Jeju hanya berlangsung selama tiga hari. Bagi Vallerie sudah lebih dari cukup, mengingat suaminya masih harus sibuk bekerja di kantor ditambah selama ini ia selalu bersikap egois ingin mengadakan pernikahan duluan, maka dari itu, ia masih sedikit tahu diri tidak akan bersikap egois lagi demi kesenangannya. Menikahi Elliot saja sudah sangat bersyukur.


Masa-masa manis sudah selesai. Tidak terlalu manis juga karena seperti biasa Elliot terkadang bersikap gengsi meski saat hari pertama bulan madu ia menyukainya. Sekarang saatnya kembali ke dunia medan perang yang harus dihadapi Vallerie untuk mencegah kejadian buruk terulang kembali saat dua tahun kemudian, yaitu hari kematiannya dan suaminya.


Di kehidupan sekarang, Vallerie tinggal bersama Elliot di sebuah rumah mewah berukuran luas, tidak seperti di kehidupan sebelumnya mereka hanya tinggal di apartemen. Sebenarnya Vallerie masih belum terbiasa menyesuaikan diri bergaya hidup mewah bersama suaminya, tapi karena keadaan, ia harus menyesuaikannya perlahan.


Tidak peduli gaya hidup mereka berubah, tetap saja Vallerie ingin melakukan rutinitas di pagi hari sebelum berangkat kerja, yaitu memasak sarapan menu favorit suaminya. Membayangkan sewaktu dulu setiap kali memasak selalu diberi kehangatan tubuh suaminya penuh kasih sayang. Sedangkan sekarang keadaan berbanding terbalik. Apa yang dilakukan Elliot sekarang adalah sibuk membaca artikel berita di ponsel sambil menyesap secangkir kopi di ruang makan.


Vallerie sedikit sedih melihat sikap suaminya kembali cuek. Namun, ia berusaha memakai trik ini supaya hati suaminya sedikit luluh. Meski sebenarnya ia ragu masakannya akan disukai.


Vallerie menghidangkan dua piring nasi omelet di meja makan. Aroma masakan sangat harum berhasil menyihir hidung tajam Elliot sangat tergoda. Elliot langsung menaruh ponsel di meja, sorot matanya terpaku pada sepiring nasi omelet terlihat sangat sempurna di matanya.


Bisa dikatakan ini pertama kali Vallerie memasak sarapan untuk suaminya di kehidupan sekarang, meski sebenarnya selama dua bulan menjelang pernikahan, Vallerie sering memasak makan malam untuk suaminya di saat suaminya sibuk bekerja sampai tidak memiliki waktu beli makanan. Selama ini respons sang suami selalu suka masakannya, tapi kalau nasi omelet tidak tahu akan direspons seperti apa.


“Vallerie, bagaimana kamu tahu aku suka nasi omelet?” Suara Elliot sedikit gugup membuat kepala Vallerie sedikit terangkat.


“Karena selama ini aku suka sarapan nasi omelet. Sesekali aku coba masak menu ini untukmu, karena kamu selalu mencicipi masakanku yang bervariasi,” sahut Vallerie menyelipkan beberapa helaian anak rambut ke belakang telinga.


Elliot mengambil sendok sudah disediakan di meja. “Kamu jangan senang dulu. Siapa tahu nasi omelet buatanmu tidak lezat!”


“Silakan dicoba saja. Aku yakin kamu pasti ketagihan.” Vallerie sudah pasti percaya diri jika mendengar makanan favorit Elliot masih sama seperti dulu, tentu selera pasti juga tidak jauh berbeda.


Seketika memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut, lengkungan manis terukir indah di sudut bibir Elliot. Nasi omelet ini baginya justru melebihi nasi omelet buatannya selama ini. Namun, jika dirasakan sedikit lebih lama, ia merasa tidak asing dengan kelezatan nasi omelet buatan sang istri yang membuat dirinya ingin menumpahkan setitik air mata lagi.


“Baru pertama kali aku merasakan nasi omelet selezat ini.”


Akhirnya Vallerie tersenyum manis, perlahan memajukan kepala mendekati wajah Elliot. Benar dugaannya, pasti selera tidak akan berubah meski amnesia. “Kamu suka nasi omelet buatanku? Maukah aku memasak sarapan untukmu setiap hari mulai besok?”


“Kalau kamu mau … aku tidak masalah.” Elliot membuang muka dan menunduk malu dengan gugup. Apa yang merasuki pikirannya tiba-tiba ingin bersikap lembut lagi hanya karena masakan istrinya sangat langka dan tidak asing baginya.


Begini saja Vallerie merasa ada benih-benih cinta mulai bertumbuh dalam hati suaminya. Sikap Elliot sekarang sangat mirip seperti di kehidupan sebelumnya setiap kali mencicipi masakan istrinya selalu membuatnya rakus.


Hati Vallerie semakin bermekaran di pagi hari, tangan kanannya lambat laun mengelus kepala sang suami dengan tatapan penuh cinta. “Semoga masakanku mampu membuat sikapmu kembali lembut seperti semula. Kamu terlihat menggemaskan sekarang.”


“Masakanmu selalu membuat hatiku tenang. Selama ini kamu selalu memasak makan malam untukku diam-diam di saat aku mengalami masalah pekerjaan kantor. Semua menu makanan yang kamu pernah masak, aku sangat menyukainya.” Rona merah sedikit menyala pada pipi Elliot, karena suasana hatinya semakin ceria berkat pertama kali menikmati sarapan istimewa.


Deg..


Jantung Vallerie berdebar-debar sampai sulit dikendalikan.


‘Kamu juga mengatakan hal yang sama sewaktu dulu, Elliot.’


Vallerie dan Elliot berangkat kerja bersama ke gedung yang tidak asing bagi Vallerie, merupakan tempat kerja lama di kehidupan sebelumnya. Seketika memasuki gedung elit itu, mata Vallerie berbinar memandangi sekelilingnya tidak ada yang berubah. Hanya saja sekarang ia bekerja di tempat sedikit berbeda bagiannya.


Karena Vallerie merupakan perancang busana eksekutif, Elliot sengaja menempatkannya di ruang khusus, yakni tepat di sebelah ruangannya. Vallerie terngiang-ngiang dan merasa dirinya sedang bermimpi, pada akhirnya keinginannya tercapai bekerja di perusahaan ternama dan memiliki ruangan pribadi. Meski sebelum menikah, ia terus bekerja di butik gaun pengantin milik ibunya.


Meski dekorasi ruangan terlihat sederhana, namun terkesan mewah, Vallerie tidak meminta apa pun lagi. Yang ia fokuskan adalah berbalas dendam pada seseorang yang selalu membuat masalah saat menyusun proyek besar, sehingga membuat dirinya atau suaminya selalu kena teguran habis-habisan.


“Kamu suka ruanganmu?” Elliot berwajah datar membawa sebuah map hitam.


“Mau didekor apa pun, aku tetap suka. Terima kasih sudah memercayaiku bergabung di perusahaanmu.” Vallerie kegirangan berjabat tangan dengan suaminya.


Seperti biasa, Elliot adalah tipe direktur profesional selalu menampilkan wajah dingin selama di kantor. Bukan bermaksud bermusuhan dengan istrinya, tapi ia takut ada pegawai lain menerobos masuk ruangan ini di saat dirinya bersentuhan fisik dengan istrinya yang nantinya akan dijadikan bahan gosip.


Bagi Vallerie, jika suaminya adalah atasannya, sudah pasti tidak perlu dipastikan lagi surat kontrak itu. Tanpa membaca satu halaman, ia langsung membuka halaman terakhir menandatangani kontrak kerja dibuat suaminya.


“Tidak perlu dibaca. Aku yakin kamu tidak akan mengubah klausal kontrak mempersulit aku.” Vallerie menyilangkan kaki dengan elegan.


Elliot tertawa remeh. Tidak disangka baru pertama kali melihat pegawainya tidak membaca kontrak dengan teliti. Ya, memang Vallerie sebenarnya bukan pegawai, lebih cenderung bekerja sebagai asistennya. “Kamu jangan mengeluh kalau suatu hari pekerjaanmu akan merugikanmu.”


“Aku tidak akan menyesal. Karena aku yang memintamu bekerja di sini,” bantah Vallerie mengedipkan mata kanan.


Sejenak sorot mata Elliot terfokus pada arloji mahal miliknya. “Nanti kamu ada rapat dengan tim perancang busana. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka semua sekilas sebelum rapat.”


“Kamu akan ikut rapat nanti?”


Tatapan Elliot langsung menajam seperti menusuk mata Vallerie tepat sasaran. “Kamu mau pacaran atau mau rapat? Sudah pasti aku tidak ikut. Kalau sudah mendekati hasil akhir proposal, aku akan ikut.”


Bibir Vallerie memanyun. Sudah diduga sikap dingin itu akan kembali merasuki Elliot lagi kalau soal pekerjaan. “Tidak usah galak juga kali! Padahal aku sudah bersusah payah masak sarapan untuk kamu!”


Elliot mengajak Vallerie ke lantai bagian khusus pegawai tim perancang busana bekerja. Hati Vallerie semakin berbunga, mengamati semua mantan rekan kerjanya masih bekerja di sini. Sebenarnya tidak perlu perkenalan lagi, karena ia sudah mengenal semua nama rekan kerjanya.


Sesi perkenalan diri singkat saja. Sekarang yang dilakukan Vallerie adalah rapat bersama asisten manajer tim perancang busana dan manajer perancang busana di ruang rapat. Membahas persoalan model busana wanita yang akan diluncurkan dalam waktu dekat sesuai tren zaman sekarang.


Sebenarnya suasana hati Vallerie sedikit perih. Melihat posisi dirinya sewaktu dulu, sekarang ditempati sosok wanita penghancur hidupnya setiap kali bekerja. Di kehidupan sebelumnya, wanita itu yang bertanggung jawab atas proyek besar ini karena bakatnya sangat hebat sehingga segala proyek apa pun selalu dipercayakan padanya.


Namun, di balik kehebatan wanita ini, sebenarnya ada sisi kebusukan. Wanita ini membuat masalah besar sehingga Vallerie hampir dipecat, karena masalah itu hampir merusak citra nama baik perusahaan. Elliot juga kena imbasnya saat itu karena Elliot bertanggung jawab atas penjualan produk itu.


Sekarang Vallerie akan balas dendam pada wanita itu. Keuntungan kembali ke masa lalu, ia sudah tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Maka dari itu, mempermudah dirinya menjatuhkan wanita licik itu.


“Saya yang akan bertanggung jawab atas proyek ini.” Vallerie terlihat percaya diri menatap para pegawai satu per satu.


Kedua pegawai itu terkejut langsung memelototi Vallerie, apalagi Vallerie baru mulai bekerja tapi sudah berani mengambil alih.


“Maaf, Bu Vallerie. Tapi Pak Elliot sudah menyerahkan proyek ini sepenuhnya pada saya.” Wanita licik itu berpura-pura bijaksana.


“Saya sudah berpengalaman besar dalam bidang busana. Jadinya, segala sesuatu terkait urusan desain, saya yang akan memberikan usulan mulai saat ini. Saya akan berbicara langsung pada Pak Elliot.” Vallerie tersenyum sinis pada wanita itu.


“Tapi Anda baru bekerja di sini, mustahil Anda—”


“Bagi saya, sesuatu tidak ada mustahil jika terus mencoba,” sanggah Vallerie kali ini membuat wanita itu tidak bisa berkata-kata.


Di tengah rapat, tiba-tiba sosok musuh besar memasuki ruangan ini. Vallerie sedikit terkejut dengan kehadiran Erick merusak suasana rapat. Ia baru teringat, posisi Erick di kehidupan sekarang menggantikan posisi Elliot. Maka dari itu, tidak heran mereka akan sering bertemu karena urusan pekerjaan.


Erick tersenyum ramah pada Vallerie, tapi Vallerie merasa sangat jijik dengan senyuman itu dan sebenarnya malas merespons. Tapi karena Erick adalah kakak ipar, terpaksa ia harus bersikap sopan.


“Tidak kusangka kamu terlihat hebat juga, Vallerie. Memang adikku tidak salah mempekerjakan kamu di sini.”


“Tidak juga. Sebenarnya aku masih harus banyak belajar, meski aku sering merancang gaun pengantin, tapi aku harus menyesuaikan suasana bekerja di sini sedikit berbeda.” Vallerie merespons dengan lembut, meski sebenarnya isi hatinya berbeda jauh apa yang dibicarakan.


Sejenak Erick tertawa kecil dan mengulurkan tangan dengan tatapan seperti pemimpin hebat. “Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik seterusnya.”


Vallerie tersenyum simpul, berjabat tangan dengan musuh terbesarnya membuat muak. Ia berusaha menahan rasa muak itu, karena ia akan menyusun rencana untuk menghancurkan Erick suatu hari nanti.