Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 27: Penyusup



Erick tertawa sinis, merasa seperti dirinya tidak melakukan dosa apa pun seketika menginjak kaki ke ruangan adiknya. Masih bersikap angkuh, ia memasang tatapan kejam mendekati Elliot sambil menyeka butiran debu menempel pada lengan jas mahal milik Elliot.


“Aku ke ruanganmu karena ada dokumen penting sedang kubutuhkan.”


“Tetap saja kakak harus meminta izin dariku dulu. Memangnya Jordan memberikan izin?!”


Erick melangkah mendekati Elliot dengan tatapan elang. “Jordan dan kamu belum datang tadi. Aku kan sangat mendesak membutuhkan dokumen itu untuk menyusun laporanku. Memangnya aku tidak boleh masuk ke ruanganmu hanya untuk melihat dokumen itu?”


Elliot menautkan alisnya, memasukkan tangan kanan ke dalam saku celana. “Kakak masih tidak tahu karakterku tidak suka melihat orang memasuki ruanganku seperti pencuri!”


“Oh, jadinya kamu menganggap kakakmu sendiri adalah pencuri?”


“Kalau kakak menerobos masuk ke ruanganku lagi, aku akan menganggap kakak pencuri. Titik!” Elliot sengaja mendorong pundak Erick sedikit kasar.


Batas kesabaran Erick sudah habis. Tidak ingin berdebat terlalu lama di pagi hari membuat suasana hatinya memburuk, tanpa berpamitan langsung meninggalkan Elliot dan Vallerie, kemudian memasuki lift menuju lantai tempat para divisi keuangan bekerja.


Akhirnya Elliot sedikit lega setelah menghadapi sang pembunuh membuat tubuhnya terus gemetar di pagi hari. Seketika ia ingin memasuki ruangannya, istrinya masih terus menggenggam tangannya membuatnya semakin tidak tega membiarkan istrinya sendirian di dalam ruangan.


“Sayang, ini masih pagi. Aku ingin menemanimu di ruanganmu, bolehkah?” Vallerie menunduk mengayunkan tangan kanan suaminya pelan.


Sudah pasti hati Elliot kembali bersinar setelah berhadapan dengan penghancur yang sempat merusak suasana hatinya tadi. Tanpa berbasa-basi langsung menggandeng tangan Vallerie memasuki ruangannya.


Elliot dan Vallerie duduk di sofa masih saling berpegangan tangan. Sebenarnya Elliot ingin menyembunyikan perasaan keluh kesahnya, tapi tangannya yang gemetar tidak bisa menyembunyikan dari istrinya.


“Kamu masih marah?” Akhirnya Vallerie membuka mulut lebih dulu bermaksud memancing suaminya membuka mulut juga.


“Sedikit sih.” Helaan napas lesu dikeluarkan dari mulut Elliot.


“Aku merasa alasan yang diberikan Erick tadi bukan alasan biasa. Apakah dia sering berbuat begini diam-diam?”


Elliot sedikit membungkuk. “Entahlah. Hari ini baru tertangkap basah olehku tadi. Biasanya aku tidak tahu kalau dia menyelinap ke sini. Haruskah aku memasang kamera khusus di meja kerjaku?”


“Bagaimana kalau kita periksa rekaman CCTV? Aku yakin dia selama ini sering menyelinap ke ruanganmu saat Jordan tidak berjaga di depan pintu.”


“Ish dasar Jordan memang sesekali dia harus diberi pelajaran!”


Dasi Elliot sedikit terlihat miring memancing perhatian Vallerie dari tadi. Sejenak kedua tangan Vallerie bekerja merapikan dasi itu merusak pemandangan indah penampilan tampan suaminya.


Elliot tertawa kecil, sikap istrinya selalu memedulikan hal kecil seperti ini sejak dulu tidak pernah berubah. “Kamu tidak bosan merapikan dasiku setiap hari sejak dulu?”


“Daripada kamu tidak tampan karena penampilanmu berantakan.”


“Bicara soal penampilan, sebenarnya aku ingin tanya pendapatmu.”


“Pendapat apa?” Vallerie berkedip mata manja sambil membenamkan kepala pada dada Elliot.


“Dulu penampilanku tidak keren seperti sekarang. Lebih tampan penampilanku sewaktu dulu atau sekarang?”


Vallerie sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan itu langsung. Lagi-lagi bersikap usil di hadapan suaminya setelah sekian lama tidak melakukannya sejak mendarat di kehidupan ini selalu diberi suasana menegangkan.


Satu menit berlalu hanya menunggu jawaban dari pertanyaan sederhana ini. Elliot semakin tidak sabar menunggu jawaban dari istrinya entah kenapa terasa sulit dijawab.


Alisnya terangkat sebelah dan melipat kedua tangan di dada. “Kenapa kamu tidak menjawab, Sayang?”


Vallerie tertawa usil. “Sebenarnya aku tahu jawabannya.”


“Lalu, jawabannya apa?”


Vallerie tersenyum manis menatap wajah tampan suaminya dengan pandangan berbinar. “Entah kamu yang dulu atau sekarang, kamu tetap Elliot suamiku. Kamu selalu tampan di mataku.”


Ekspresi wajah Elliot berseri-seri mendengar jawaban itu dalam sekejap membuat cinta terhadap istrinya berkembang pesat. Lengan kekarnya semakin mempererat pelukan istrinya dan mengecup kelopak mata sang istri sekilas.


“Sedangkan menurutku, entah penampilanmu, pekerjaanmu, sikapmu, hobimu berubah atau tidak, yang terpenting kamu tetap Vallerie istriku terbaik sepanjang masa.”


“Jangan gombal pagi-pagi deh! Kalau aku tidak ingin kembali ke ruanganku gara-gara kamu, kamu harus bertanggung jawab!” Vallerie menepuk dada suaminya sedikit bertenaga.


“Bukankah bagus supaya kamu tidak kesepian di ruanganmu?” Bibir Elliot sedikit memanyun sambil menyentuh dadanya.


“Aria kan harus fokus kerja di mejanya. Mustahil kamu memanggilnya terus!”


Vallerie mengangkat kepala angkuh. “Dia asistenku. Aku berhak memanggilnya kapan pun aku mau.”


Elliot berdecak kesal. Melepas pelukan dan menggeserkan tubuhnya sedikit menjauhi Vallerie. “Aria bukan pendamping hidupmu! Kenapa kamu harus mengandalkannya daripada aku? Aku tahu, dulu kalian sangat akrab, tapi sekarang situasi berbeda!”


Vallerie tertawa puas melihat sikap cemburu suaminya selalu menggemaskan di matanya. Sengaja mendekatkan tubuhnya pada sang suami lagi, kemudian memeluk erat. “Teruslah cemburu seperti ini. Jangan gengsi lagi seperti dulu!”


Elliot tidak bisa menahan diri di situasi tepat tidak akan diganggu para asisten. Perlahan Elliot memajukan bibirnya mendekati bibir istrinya.


Tok…tok…


Terdengar suara ketukan pintu sangat lembut, menandakan bahwa sang asisten yang mengetuk pintu seperti biasa selalu sopan. Ciuman ditunda dulu. Vallerie dan Elliot kembali memposisikan tubuh duduk profesional sebelum tertangkap basah, Elliot berteriak mengisyaratkan asistennya diperbolehkan masuk.


Wajah Jordan terlihat agak berkeringat banyak dan napas sedikit tersengal-sengal. Rasanya Elliot ingin memarahi asistennya sudah datang terlambat karena penyusup berhasil menyusup ruangannya tadi, selain itu ingin marah karena asistennya datang di saat tidak tepat.


“Maaf, tadi aku sempat terjebak macet.”


“Sebenarnya aku ingin memarahimu hari ini. Tapi karena suasana hatiku sedang baik, aku tidak akan memarahimu.”


Dahi Jordan mengernyit bingung. Tidak biasanya atasannya bersikap baik, padahal selalu bersikap ketus setiap ada kesalahan kecil.


Sebenarnya ada maksud lain ingin dilakukan Elliot bersama Jordan nanti. Baginya, mustahil ia tidak membutuhkan Jordan untuk menyingkirkan Erick nanti.


Elliot memasang tatapan serius. “Jordan, apakah selama aku berada di luar kantor, kakakku pernah memasuki ruanganku diam-diam?”


Jordan mengedikkan bahu. “Aku juga kurang tahu. Selama ini setiap kita pergi selalu bersama. Lalu, setiap jam istirahat, aku selalu di luar kantor.”


Jordan sebenarnya sedikit penasaran kenapa sikap Elliot berubah drastis dalam sekejap. Apalagi tidak biasanya menanyakan pergerakan sang kakak yang selama ini selalu dipercayainya. “Kalau boleh tahu, kenapa kamu menanyakan hal ini?”


Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulut Elliot. Memikirkan kembali aksi Erick tiba-tiba menyelinap ke dalam ruangannya masih membuatnya ingin marah besar. “Kamu sendiri tahu aku tidak suka melihat siapa pun masuk ke ruanganku diam-diam termasuk keluargaku sendiri. Maka dari itu, mulai sekarang kamu harus perketat pengawasan ruanganku!”


“Baiklah, aku mengerti.”


“Sebentar lagi kita ada rapat dengan tim legal, ‘kan? Kita harus bersiap-siap sekarang.”


Jordan tidak ingin terlalu lama berdiam di ruangan ini merusak suasana romansa sepasang suami istri sudah terlanjur manis. Dengan sigap berpamitan sopan sekilas langsung berjaga di depan ruangan.


Vallerie juga bersiap-siap kembali ke ruangannya menyelesaikan sketsa rancangan yang belum diselesaikannya sejak Jumat lalu. Seketika Vallerie ingin beranjak dari sofa, tangan kirinya ditarik sehingga tubuhnya langsung tertangkap dalam dekapan hangat suaminya lagi.


Elliot menyunggingkan senyuman usil membelai rambut indah Vallerie perlahan sambil mengecup puncak kepala dengan penuh cinta. “Supaya kamu bersemangat bekerja di ruanganmu.”


“Sejak kamu menjabat sebagai direktur, tingkahmu ini memang menyebalkan!” ketus Vallerie, meski sebenarnya suka asupan manis suaminya.


“Lebih suka aku bersikap usil atau aku selalu galak?”


“Sudah pasti lebih suka kamu usil! Kalau kamu galak terus, nanti kamu cepat darah tinggi!”


Sekarang Vallerie kembali melanjutkan merancang sketsa gaun dipersiapkan untuk festival catwalk nanti. Memikirkan perkataan suaminya beberapa saat lalu mengenai usulan rancangan gaun ini, Vallerie semakin bersemangat ingin cepat menyelesaikannya dengan hasil maksimal.


Tok…tok…


Terdengar suara ketukan pintu, Aria memasuki ruangan sambil membawa beberapa map berisi dokumen proposal mengenai proyek besar. Aria menaruh semua dokumen itu di meja Vallerie, tatapannya sedikit aneh seperti tidak berani menatap mata atasannya.


Vallerie menatap bingung terhadap asistennya terlihat gugup, padahal baginya, asistennya tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. “Aria, ada apa denganmu?”


“Begini … soal pemecatan Sofia, aku sangat berterima kasih. Tapi jabatan Sofia sebelumnya, aku tidak pantas mendapatkannya, Vallerie. Aku merasa sedikit keberatan.”


“Kenapa? Bagiku, kamu pantas mendapatkan posisi sebagai asisten manajer perancang busana eksekutif. Di antara semua pegawai, hanya kamu yang memiliki kemampuan terbaik. Lagi pula, aku memang sudah mengandalkanmu sejak lama.”


Tetap saja hati Aria merasa sungkan menerima hadiah cukup besar dari Vallerie. Sebenarnya ia juga penasaran kenapa Vallerie sangat baik padanya sejak hari pertama bergabung dengan tim, padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.


“Kalau boleh tahu, kenapa kamu memilihku di antara semuanya? Aku hanya seorang gadis menengah hidup sederhana. Aku merasa tidak pantas bersikap akrab dengan istri direktur.”


Vallerie tersenyum santai. Perlahan mendekati Aria kemudian memeluk tubuh Aria dengan hangat selayak seperti sahabat sejatinya. “Karena, selain Elliot, hanya kamu yang selalu mendukungku setiap aku mengalami masalah. Dulu, kamu selalu menolongku dan berjuang melawan Sofia juga. Selain itu, kamu juga dalam bahaya karena Sofia sempat ingin mencelakakanmu. Sebagai hadiah karena sekarang kamu sangat membantuku, aku ingin menjadikan kamu sebagai orang kepercayaanku selama bekerja di kantor.”