
Perlahan Elliot mendatangi istrinya masih berdiri mematung, kemudian lengan kekarnya langsung menggendong tubuh istrinya kembali menuju sofa ruang tamu. Setiap istrinya terluka meski luka kecil, Elliot selalu bergerak sigap. Dengan lincah mengambil kotak P3K disimpan dalam lemari penyimpanan, kemudian duduk berjongkok di hadapan istrinya sambil membuka kotak mengambil beberapa peralatan obat seperti obat salep dan kapas.
Padahal kaki Vallerie masih terlihat mulus berkat dilindungi sandal rumah, Vallerie tertawa gemas melihat tingkah suaminya lagi-lagi berlebihan setiap ia dalam bahaya. Tangan kanannya perlahan mengelus kepala suaminya lambat laun dengan tatapan kasih sayang.
“Sayang, nanti saja elus kepalaku. Aku mau obati kakimu dulu.” Elliot menegurnya dengan lembut, memeriksa kondisi fisik kedua kaki Vallerie setiap sisi.
“Aku tidak terluka sama sekali. Kamu menggemaskan setiap kali bersikap berlebihan begini.” Vallerie menyahut dengan nada santai menghentikan aksi pengobatan yang dilakukan Elliot.
Elliot menatap ragu, kedua tangannya terus mengelus tumit kaki istrinya. “Benarkah kamu tidak kesakitan? Kakimu mungkin kena luka goresan akibat sedikit terkena serpihan kaca.”
“Aku kan pakai sandal. Kebetulan tidak pantul ke arah betis maupun tumit.”
Tetap saja Elliot masih cemas terhadap kondisi kaki istrinya. Mengamati ada beberapa tetesan air terlihat pada bagian tumit, Elliot berinisiatif ingin mengambil baskom kecil dan handuk.
“Tunggu sebentar.”
Elliot mengisi air dingin hingga baskom penuh, menggantungkan handuk milik istrinya di pundak lalu kembali mendatangi istrinya. Duduk berjongkok di hadapan sang istri lalu melepas sandal yang dipakai istrinya dan merendamkan sepasang kaki indah di dalam baskom. Memulai melakukan aksi pelayanan istimewa meraba tumit istrinya direndam dalam baskom perlahan.
“Kakimu tidak ada luka lecetan, tapi aku ingin membersihkan kakimu.”
Reaksi Vallerie tertawa girang mendongakkan kepala di depan hidung sang suami. “Kamu memang polos atau kamu bermaksud ingin modus?”
“Bagaimana kalau aku jawab dua-duanya?” Elliot memajukan bibirnya mendekati bibir Vallerie.
Vallerie mengernyitkan alis. “Kalau saat ujian, mana ada boleh memilih dua pilihan? Kamu memang bodoh setiap bersamaku!”
Elliot tertawa terbahak, sekilas mencium pipi Vallerie. “Aku bercanda. Anggaplah ini adalah pelayanan istimewa tambahan di malam hari.”
Tidak sampai lima belas menit, Elliot mengangkat kaki istrinya sejenak mengeringkan dengan handuk. “Lain kali kalau kamu tidak sengaja memecahkan benda kaca atau terkena air panas, kamu bisa panggil aku untuk melayanimu.”
Vallerie tersenyum santai menepuk sofa pelan. “Duduklah di sampingku. Aku butuh pelukanmu.”
“Sebelum itu, aku harus menyapu lantai dulu. Bahaya kalau tidak disapu secepatnya, nanti kakimu sungguh terluka.” Elliot berdiri cepat sambil membawa baskom, langsung mengambil sapu diletakkan di dekat dapur.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama menyapu lantai bersih seperti semula, akhirnya Elliot bisa bersantai bersama istrinya menikmati tontonan drama fantasi romantis masih ditayangkan di TV.
Tatapan Vallerie bukan terfokus pada adegan romantis diperlihatkan di drama itu, lebih cenderung tatapannya sangat manja memandangi wajah tampan suaminya menyegarkan di malam hari, terutama hatinya masih tersentuh mengamati sosok suaminya sungguh seperti malaikat yang menyelamatkannya tadi padahal tidak terluka sama sekali.
“Kamu memang pantas menjadi malaikatku.” Vallerie mengelus kepala suaminya lambat laun.
“Habisnya aku tidak suka melihat kamu terluka, sedangkan aku hanya berdiam. Sudah pasti aku sebagai suamimu tidak akan membiarkanmu terluka apa pun itu, meski luka lecet.” Elliot menyentuh punggung tangan Vallerie dengan pandangan penuh makna.
“Pantesan setiap kali ada orang ingin melukaiku, kamu langsung marah besar. Aku suka sikapmu seperti itu. Pertahankanlah sikapmu selalu ketus.”
Elliot mengernyitkan dahi, melipat kedua tangan di dada sambil menggeserkan bokongnya sedikit miring menghadap istrinya. “Sebenarnya kamu lebih suka aku ketus atau tidak sih? Terkadang kamu suka aku ketus, tapi kamu juga tidak suka aku terlalu lembut.”
“Aku suka kamu ketus pada orang lain, bukan aku. Aku lebih suka kamu lembut padaku, bukan pada orang lain.” Vallerie memasang raut wajah cemberut, sedikit sebal karena suaminya tidak peka terhadap hal kecil begini.
Elliot tertawa kecil, membiarkan kepala istrinya bersandar manja di pundak lebarnya sambil merangkul erat pundak istrinya. “Tenang saja, sikap lembutku itu sangat mahal. Aku hanya ingin memberikan sikap lembutku untukmu saja.”
“Kalau begitu … aku punya satu permintaan.”
“Kamu mau mengemil macaroon lagi?”
Vallerie mengangguk cepat sambil mencium pipi suaminya. “Terima kasih sudah membelikan banyak macaroon untukku.”
“Bukankah tadi kamu sendiri yang melarangku beli banyak macaroon?” Elliot menyipitkan mata.
“Entah kenapa aku ngidam ingin makan macaroon rasa matcha. Awalnya aku memikirkan berat badanku akan naik drastis kalau aku makan terus. Tapi, aku tidak bisa menahannya.”
“Aku akan ambilkan dua kotak itu untukmu.”
Vallerie dari tadi hanya menikmati macaroon rasa matcha sendiri, karena suaminya sibuk menyuapinya tanpa henti. Disuapi terus membuatnya semakin ingin bermanja, tangan kanannya akhirnya mengambil sepotong macaroon berukuran paling besar kemudian memasukkan ke dalam mulut suaminya.
“Kamu juga harus makan.”
“Aku belikan untukmu, bukan untuk aku. Tadi kamu juga sudah suapiku lumayan banyak.” Elliot ingin memasukkan macaroon ke dalam mulut Vallerie lagi, tapi macaroonnya direbut Vallerie.
“Kalau begitu, aku ngidam makanan lain saja.”
“Kamu mau makan apa? Biar aku belikan sekarang juga.” Elliot sudah bersiap mengeluarkan ponsel ingin membuka sebuah aplikasi khusus memesan makanan secara daring.
Vallerie tertawa gemas sambil memasukkan sepotong macaroon ke dalam mulut suaminya. “Aku hanya bercanda. Kalau aku makan terlalu banyak malam-malam begini, aku bisa kesulitan tidur.”
Dibalas tawa usil dikeluarkan Elliot. “Kalau kamu tidak ngidam, sekarang justru aku yang ngidam.”
“Kamu mau aku buatkan saus asam manis untukmu?”
Jempol kanan Elliot mengusap bibir indah Vallerie dengan lembut. “Aku sedang ngidam ingin memeluk kamu.”
Elliot mengajak Vallerie mengunjungi sebuah toko tanaman bermaksud ingin membeli beberapa tanaman hias yang akan dipajang di taman rumah mereka dan ruang tamu. Di rumah hanya ada tanaman kaktus atau bunga anggrek, sebagai hiasan tambahan, Elliot memilih tanaman hortensia menjadi hiasan utama ruang tamu. Membeli berbagai jenis hortensia dan bunga lily putih, entah kenapa suaminya ingin membeli banyak tanaman hias.
Vallerie sedikit penasaran apa yang merasuki pikiran suaminya saat ini. “Sayang, kamu serius beli tanaman hias sebanyak ini? Kamu mau bangun rumah kaca di rumah kita?”
“Belakangan ini aku merasa rumah kita terlihat hampa kalau hanya ada kaktus dan anggrek. Lagi pula, aku sengaja beli hortensia karena adalah favorit kamu. Apalagi kamu suka berwarna pink dan biru.”
“Tapi menurutku, ini agak banyak.” Vallerie menggarukkan kepala kebingungan, hanya bisa menatap suaminya memasukkan beberapa kantung plastik berukuran besar berisi semua tanaman hias yang dibeli.
Elliot menyusun tanaman hias yang dibelinya di rak buku ruang tamu dan juga beberapa ditaruh di taman rumah. Cukup lama menyusun pola tanaman hias, Elliot beristirahat sejenak di ruang tamu sambil mengambil pot tanaman hortensia berwarna biru untuk Vallerie.
“Kamu tahu alasan kenapa aku beli hortensia biru untukmu?”
Vallerie melipat kedua tangan di dada. “Jangan-jangan kamu ngidam ingin menghirup aroma tanaman setiap hari! Maka dari itu, hari ini sikapmu sedikit aneh!”
Elliot tertawa terbahak sambil menaruh pot itu di meja. “Aku memang ngidam ingin menghirup aroma tanaman hias. Tapi, aku sengaja pilih hortensia biru untukmu karena punya makna khusus.”
“Bisa dikatakan, aku hanya tahu makna tanaman hortensia karena kesukaanmu, jadinya aku sengaja pelajari maknanya di internet. Hortensia biru bermakna penyesalan atau permintaan maaf seorang pria terhadap wanitanya.”
Alis Vallerie terangkat sebelah. “Lalu, kenapa kamu beli untukku?”
“Sebagai permintaan maafku karena aku terlalu banyak menyakiti perasaanmu selama ini. Saat kita hidup di kehidupan sebelumnya, aku pernah menyinggung hatimu beberapa kali, apalagi di kehidupan sekarang aku sering membuatmu menangis. Dengan aku berikan tanaman ini, aku harap kamu sungguh menerima permintaan maafku setulus hatimu.”
Mendengar perkataan suaminya lagi-lagi membosankan, Vallerie mencubit pipi suaminya sedikit bertenaga, menampakkan senyuman usil. “Aku sudah bilang berkali-kali, aku sudah melupakan semuanya dan memaafkan kesalahanmu.”
“Tapi, sebenarnya tujuan utamaku beli tanaman hortensia bukan untuk itu. Aku tahu terkadang kamu suka lihat bunga anggrek di saat bosan. Sekarang ada hortensia yang jauh lebih cantik dari anggrek. Bahkan warnanya bisa berubah-ubah, supaya kamu tidak bosan melihat warna yang sama setiap hari. Ada waktunya berubah warna.”
Vallerie tidak ingin mendengar penjelasan mengenai tanaman hias. Kedua lengannya langsung memeluk tubuh suaminya erat sambil mengelus punggung lebar perlahan. “Terima kasih sudah memberikan tanaman indah ini. Tapi, sekarang aku sedang ngidam ingin dipeluk kamu seharian.”
“Akan aku lakukan sampai besok pagi.” Perlahan Elliot membaringkan tubuh mereka di sofa, kemudian mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala istrinya penuh cinta.
Seiring waktu berjalan, Elliot tidak mengizinkan istrinya bekerja sampai larut malam kecuali ada rapat sampai malam. Dua minggu telah berjalan, memasuki masa penanganan salah satu event penting dalam proyek, Elliot jarang berkomunikasi dengan istrinya di saat jam kerja karena harus mengadakan pertemuan bersama rekan bisnis.
Belakangan ini Elliot sering pulang malam sampai kurang tidur, Vallerie sangat mencemaskan kondisi kesehatan suaminya menurun akibat terlalu memaksakan diri bekerja. Maka dari itu, Vallerie tidak ingin berdiam saja di rumah. Berperan sebagai istri yang baik membawakan makan malam untuk suaminya.
Vallerie meminta bantuan Aria mengantarkannya ke kantor karena suaminya melarangnya menyetir mobil di saat hamil. Vallerie melangkah anggun menuju ruangan suaminya sambil merapikan rambut panjangnya sedikit kusut bagian bawah.
Langkah kakinya terhenti di depan pintu. Mengetuk pintu pelan sambil berteriak. “Paket makanan datang!”
Sedangkan di dalam ruangan, Elliot berpenampilan kemeja disisingkan dengan wajah kusut akibat kelelahan bekerja langsung membuka pintu ruangannya seketika mendengar suara teriakan. Tatapannya terbelalak, tidak disangka yang mendatanginya adalah istrinya.
“Sayang, kamu kenapa datang ke kantor?” Elliot langsung menyambut istrinya dengan girang memeluknya penuh kerinduan.
“Aku masak makan malam untukmu. Belakangan ini kamu kerja lembur terus sampai waktu makan jadi tidak teratur.” Vallerie melepas pelukan, menggerakkan paper bag.
Tanpa basa-basi, Elliot menggandeng tangan istrinya memasuki ruangannya lalu menempati sofa. Vallerie mengeluarkan semua kotak makanan berisi berbagai lauk dan sup membuat mulut Elliot terbuka lebar.
“Bagaimana pelayanan istimewaku?” Vallerie membuka kotak makanan berisi nasi putih.
“Seharusnya kamu tidak perlu repot masak menu sebanyak ini. Aku bisa makan di restoran juga, aku tidak ingin kamu kelelahan.” Elliot memasang tatapan cemas menyentuh pundak istrinya, sebenarnya ia tidak ingin merepotkan istrinya melakukan banyak aktivitas di malam hari.
Sorot mata Vallerie tertuju pada mata suaminya terlihat lesu. Jempol kanannya perlahan mengusap lembut. “Kasihan suamiku. Aku cemas kamu akan sakit kalau bekerja terlalu keras sampai kurang tidur.”
Elliot tersenyum tipis, tangannya menyentuh punggung tangan istrinya. “Maaf, belakangan ini kamu kesepian karena aku terlalu sibuk. Kamu selalu menungguku di sofa sampai ketiduran, aku merasa berdosa sebenarnya.”
Vallerie menggeleng sambil mengambil sesendok sup iga buatannya. “Justru hari ini aku ingin menemanimu di sini supaya kamu semakin bersemangat bekerja. Aku sengaja masak sup iga untukmu supaya kamu selalu sehat.”
Elliot membiarkan istrinya memasukkan sesendok sup ke dalam mulutnya. Dalam sekejap energinya jadi lebih kuat berkat kasih sayang diberikan istrinya. “Mmm lebih lezat dari masakan restoran!”
Berkat Vallerie menyuapi suaminya, dalam sekejap isi semua kotak makanan tidak tersisa.
Sejenak Vallerie menaruh kotak makanan di meja, membiarkan kepala suaminya bersandar di pundaknya. “Beristirahat dulu saja. Biasanya saat aku kelelahan, kamu membiarkan aku bersandaran, sekarang giliran aku melakukannya untukmu.”
Elliot menghela napas lemas. “Sebenarnya hari ini aku tidak akan pulang tengah malam. Aku rindu bermain bersamamu seperti biasa sebelum tidur.”
“Pekerjaan lebih penting daripada bermain. Kamu tidak perlu mencemaskan aku, aku akan menemanimu bekerja.”
Elliot mendaratkan bibirnya di pelipis istrinya. “Terima kasih paket makanannya. Berkat makan masakanmu, energiku terisi penuh sekarang. Pelayananmu jauh lebih bagus dibandingkan pelayanan yang selama ini kuberikan untukmu.”
Dibalas kecupan manis diberikan istrinya mendarat di pipi. “Semangat bekerja, Sayang. Entah kamu dihadapi pekerjaan memberatkan, aku selalu mendukungmu. Kamu bisa meminta bantuanku kalau kamu mengalami kesulitan.”
Pada akhirnya Vallerie tertidur lelap di sofa di saat menemani suaminya masih bekerja. Waktu menunjukkan menjelang tengah malam, Elliot meregangkan kedua tangannya lemas sambil mematikan lampu meja.
Mengamati sang istri tidur nyenyak di sofa, perlahan ia berjongkok sambil menyelimuti tubuh istrinya menggunakan selimut tipis. Sekilas mendaratkan kecupan manis di kening sang istri menyalurkan energi cintanya sangat besar membuat senyuman manis terukir pada sudut bibir istrinya.
“Terima kasih sudah menemaniku, Vallerie. Karena urusan pekerjaanku sedikit lagi selesai, dalam waktu ini aku berencana akan mengajakmu kencan.” Elliot berbisik, mengelus kepala istrinya perlahan.
Sekarang usia kandungan Vallerie memasuki trimester dua, Elliot semakin tidak ingin membiarkan istrinya bekerja di kantor terlalu sering atau menemaninya setiap bekerja lembur karena cemas istrinya akan sakit akibat bekerja terlalu kelelahan. Kecuali ada kaitannya dengan urusan proyek, Vallerie harus mendatangi kantor menghadiri rapat bersama anggota timnya.
Lagi-lagi mereka jarang berkomunikasi akibat ada sedikit masalah terjadi pada perusahaan sehingga Elliot dan Erick saling membantu menangani masalah itu bersama. Baik Elliot maupun Erick sibuk bekerja, maka dari itu, istri mereka belakangan ini sering berbelanja bersama di pusat perbelanjaan di hari kerja daripada sendirian di rumah.
Akhirnya masalah terselesaikan juga. Hari ini Elliot bisa pulang ke rumah lebih awal ingin bermain bersama istrinya sebelum tidur. Menyetir mobil sedan dengan kecepatan agak kebut karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya setelah sepanjang hari tidak berkomunikasi, mereka berkomunikasi hanya saat jam makan siang sekilas.
Baru membuka pintu utama sudah disambut istrinya menampilkan senyuman girang. Melepas kerinduannya, Elliot berlari cepat langsung memeluk tubuh istrinya erat. “Maafkan aku, pasti kamu merasa kesepian hari ini.”
“Hari ini aku menemani Rachel berbelanja, aku ingin menceritakan kegiatan apa saja yang dilakukannya.” Vallerie tertawa gemas sambil mengelus pipi lembut suaminya.
“Apakah Rachel merepotkanmu lagi? Memang wanita itu tidak pernah berubah sejak dulu!” Elliot menggerutu, melepas pelukan dan berkacak pinggang.
“Sudahlah, jangan membahas dia dulu! Yang terpenting sekarang kamu harus mencicipi masakan buatanku.” Vallerie menarik tangan suaminya berjalan menuju ruang makan.
Usai makan malam dan membersihkan diri, Vallerie menceritakan semua aktivitas yang dilakukannya bersama Rachel selama berjam-jam di pusat perbelanjaan. Mendengar cerita istrinya persoalan Rachel sengaja memilih model pakaian sama seperti Erick, Elliot tertawa terbahak sampai hampir terjatuh dari sofa.
“Sikap Rachel meski menyebalkan tapi dia sangat menyayangi kakakku sampai berlebihan begini.”
“Bahkan beberapa kali aku kasih saran untuknya soal pakaian bayi, dia tidak mau menerima saranku dan berkata baju pilihanku jelek di matanya. Kalau begini, lebih baik aku menonton drama atau baca komik romantis di rumah sepanjang hari.” Vallerie melampiaskan keluhannya, memanyunkan bibir merangkul lengan suaminya erat.
“Bahkan Erick tadi memintaku berpesan padamu, jangan terlalu memanjakan Rachel karena Rachel akan memperlakukanmu lebih parah jika kamu terlalu memanjakannya.”
“Tapi, reaksi Erick seperti apa setelah melihat hasil fotoku dengan Rachel?”
“Dia langsung berubah pikiran. Memang pasangan suami istri itu kalau sudah terlalu cinta, mereka pasti tidak bisa berpikir jernih.” Elliot menggelengkan kepala bermaksud meledek kakaknya secara tidak langsung.
“Sama seperti kamu tidak ada bedanya dengan Erick.” Vallerie menjulurkan lidah tertawa usil.
Raut wajah Elliot berubah drastis seketika teringat ada satu hal penting yang dibicarakan saat rapat tadi siang bersama Erick. Sebenarnya masalah perusahaan sudah terselesaikan. Tapi ada satu masalah baru lagi muncul, kali ini ada kaitannya dengan istrinya. Elliot bingung ingin menceritakannya seperti apa. Kepalanya menunduk sejenak sambil menggenggam tangan istrinya erat.
“Sayang, sebenarnya ada satu masalah kecil yang harus aku bicarakan denganmu.”