Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 55: Penyelidikan Berlanjut



Tawa usil dikeluarkan Vallerie membayangkan sosok musuhnya pasti sudah mendapatkan hadiah ulang tahun istimewa yang sudah dibuatnya susah payah. Elliot juga tertawa sinis melihat istrinya ternyata bisa berbuat kejam, padahal selama ini bersikap polos dan manis di matanya.


Beginilah sikap Vallerie jika sudah ditindas orang apalagi sampai memakan nyawa, mustahil ia mudah memaafkan orang itu dan bahkan ingin membalas orang yang menindasnya merasakan penderitaan seiring berjalan waktu. Sama seperti halnya Sofia dipermalukan semua orang dan dikurung di balik jeruji besi selama puluhan tahun penjara.


Karena terlalu bahagia akibat berhasil menjalankan misinya, Vallerie tidak bisa tertidur, kepalanya terus bermanja di dada suaminya terutama sengaja dibuka satu kancing piyama suaminya sehingga membuatnya tergoda mengamati badan sexy suaminya.


“Sayang, kamu belum mengantuk?”


“Tadi pagi aku belum puas bermain bersamamu.” Bibir Vallerie sedikit memanyun.


“Saat kamu menindas Bertrand tadi, sebenarnya aku ingin merekam kamu, lalu kusimpan biar aku bisa menyaksikannya berkali-kali. Tidak kusangka Vallerie yang biasanya sangat manis bisa berbicara perkataan menohok juga.” Elliot mencubit pipi Vallerie gemas.


Vallerie meraba dada suaminya lambat laun. “Kamu suka kan caraku berbalas dendam pada orang-orang yang menghancurkan kehidupan kita? Bahkan tadi aku sebenarnya ingin menampar Bertrand karena lancang sekali dia masih tidak mau mengakui kesalahannya.”


“Jadinya, tadi siang kamu meminta bantuan Aria dan Jordan mengirimkan paket misterius untuk Bertrand? Tanpa sepengetahuan aku?”


Vallerie menunduk sambil menarik selimut menutupi bibir indahnya. “Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu. Aku meminta bantuan Jordan karena mustahil Aria bisa melakukan semuanya sendiri. Lagi pula, berbahaya juga Aria yang melakukannya tanpa ada yang membantu.”


Respons Elliot tersenyum lepas semakin mempererat pelukan menggulingkan tubuh mereka sehingga posisi tubuh mereka terbalik. Vallerie terbaring di ranjang sedangkan Elliot memposisikan tengkurap di hadapan Vallerie. Memajukan bibir sexy mengecup lekukan leher mungil sehingga Vallerie tertawa geli mengalungkan kedua tangan di leher Elliot.


“Tidak masalah kamu menyembunyikan misi rahasiamu. Aku lebih memedulikan kamu selalu membanggakan aku setiap merencanakan sebuah misi besar.” Elliot menghujani ciuman di area wajah Vallerie.


“Ini baru misi kecil, akan ada waktunya aku merencanakan misi besar kalau sudah terlihat jelas sikap kebusukan Bertrand sebenarnya.”


Kembali lagi mendiskusikan persoalan Bertrand saat jam makan siang. Elliot mengundang semua orang terdekatnya, kecuali Carla, Jordan, dan Aria. Karena misi ini membutuhkan orang yang paling dekat dengan Bertrand. Jika mengandalkan Carla, justru Vallerie merasa sungkan karena cemas hati Carla akan disakiti kedua kalinya. Sedangkan sepasang pegawai tidak diundang karena tugas mereka hanya membantu apa yang akan dilakukan Vallerie dan Elliot berikutnya.


Vallerie memperlihatkan rekaman kamera dasbor mobil Whitney saat sedang melakukan pengejaran terhadap mobil misterius yang mengejar Carla. Mengamati mobil sedan kuno terlihat asing, Erick dan Rachel menampakkan kerutan di dahi mereka.


Erick bertopang dagu. “Dilihat cara menyetir sih mirip seperti Bertrand. Aku pernah naik mobil dia beberapa kali karena saat itu aku mabuk, lalu meminta bantuan dia mengantarkan aku pulang. Memang dia menyetir seperti orang tidak waras. Jadinya hal kecil seperti ini terkesan mudah baginya.”


“Aku sudah meminta bantuan kenalanku seorang detektif. Katanya sih mobil itu disewa dari tempat pembuangan, lalu pada hari itu juga mobil itu dihancurkan setelah mengejar Carla.” Whitney juga ikut berpendapat.


“Apa ada hal lain yang mencurigakan? Bagaimana soal nama penyewa mobil itu?” Elliot bertanya sambil menatap Whitney.


“Kata kenalanku, anehnya tidak tertera nama penyewa. Bahkan nama inisial juga tidak ada. Saat kenalanku memperlihatkan foto Bertrand, kata pemiliknya itu, dia tidak bisa melihat jelas karena penampilan penyewa mobil itu tertutup.”


Bagi semua orang itu merupakan kabar buruk, tapi bagi Vallerie tidak masalah. Karena mengingat aksi yang dilakukannya semalam sungguh berjalan sukses, semangatnya berkobar-kobar ingin menyusun rencana lain.


“Oh ya, soal pergerakan Bertrand. Kata temanku yang bekerja di perusahaan Bertrand, semalam Bertrand panik dapat paket misterius. Lalu menyuruhnya mencari pelaku pengirim paket sampai ketemu.” Harry melaporkan informasi yang didapatkannya.


Vallerie tersenyum licik menghentakkan kaki berirama dengan gaya duduk bersilang anggun. “Padahal yang mengirim paket itu adalah aku. Ternyata dia mudah tertipu aku juga.”


“Tapi, kalau sampai Bertrand mengetahui pelakunya adalah kamu suatu hari nanti, kamu bisa dihabisi dia,” sanggah Rachel menatap cemas pada Vallerie.


“Itulah tujuanku mengajak kalian semua berkumpul di sini. Aku ingin kalian terus memantau pergerakan Bertrand. Kalau sampai dia berbuat mencurigakan lagi, kalian harus melaporkannya padaku. Terutama kalian, Rachel dan Erick. Selama ini hubungan kalian lumayan dekat dengannya.” Vallerie terfokus menatap Rachel sedikit pucat wajahnya, karena sebenarnya Rachel sedang menahan rasa sakit timbul dalam perutnya.


“Padahal lebih cenderung Erick yang akrab dengan Bertrand. Aku mengenal Bertrand karena dari Erick.” Rachel mengoreksi perkataan Vallerie.


Sejenak Harry menatap arloji miliknya di pergelangan tangan kiri. “Maaf, sepertinya aku tidak bisa berbicara terlalu lama karena harus meliput berita di lapangan.”


“Tidak apa-apa. Yang penting kalian sudah berniat ingin bertemu denganku.” Di balik senyuman Vallerie, sebenarnya ada rasa penasaran terhadap Rachel dari tadi bersikap tidak biasanya.


Sepeninggal Harry dan Whitney, Vallerie kembali terfokus menatap wajah Rachel sedikit pucat meski sudah dipoles lipstik merah tua. Tidak hanya Vallerie, Elliot juga semakin curiga apa yang ditebaknya beberapa saat lalu sungguh benar. Kali ini tidak akan bersikap malu-malu di hadapan kakaknya lagi.


“Kamu hamil, Rachel?” Sudah tidak pakai basa-basi, sehingga membuat Erick batuk tersedak sampai hampir menyemburkan air dari mulut.


Mata Rachel membulat sempurna. “Bagaimana kamu tahu? Padahal aku baru hamil.”


Elliot tertawa ledek. “Gejala kamu alami selama ini sangat cocok dengan wanita hamil. Meski kamu memakai riasan wajah, tapi kamu tidak bisa menutupi wajahmu pucat.”


“Pantesan saja saat itu kita tidak minum champagne saat merayakan pertunangan kalian. Ternyata Rachel hamil.” Vallerie tersenyum lega, turut bahagia mendengarkan kabar baik ini padahal sudah sempat berdiskusi permasalahan ini sebelumnya, meski sebenarnya ia ingin hamil lebih awal dari Rachel.


“Selamat, Kak! Kakak sebentar lagi akan menikahi Rachel dan menjadi seorang ayah. Perasaan aku yang menikah lebih dulu, tapi tunangan kakak yang hamil duluan daripada istriku.” Elliot bersorak girang menepuk-nepuk pundak Erick.


Vallerie merasa sedikit tersinggung mendengar perkataan suaminya mengenai keinginan memiliki anak. Sejak dulu entah kenapa ia sulit ditakdirkan memiliki anak, padahal hal itu adalah salah satu keinginan terbesar dalam hidupnya sejak menjalin hubungan dengan pria yang sangat dicintainya.


“Kamu kesal karena aku tidak hamil?” desis Vallerie berwajah serius.


“Bukan itu, Sayang—”


“Maaf, aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu selama ini.” Alis Vallerie semakin menurun.


Rachel memasang tatapan iba mengelus tangan Vallerie. “Pasti kamu akan menyusulku cepat lambat. Jangan bersedih lagi.”


Bukan suaminya yang membujuknya, justru Rachel yang membujuknya sehingga Vallerie sedikit tersentuh mengamati sikap Rachel ada sisi manisnya ternyata.


“Omong-omong Rachel hamil. Tapi apakah ayah dan ibu merestui pernikahan kalian?” Elliot sedikit cemas menatap Erick dan Rachel.


Raut wajah Rachel kembali gelisah. Apakah benar orang tua kedua belah pihak akan merestui pernikahannya meski hamil di luar nikah?


Sedangkan Erick masih terlihat santai dan percaya diri. Tangan kiri mengelus punggung tangan Rachel sedikit berkeringat akibat terlalu banyak berpikiran negatif. “Mereka pasti mengerti situasi yang dialami Rachel. Aku yang berbuat kesalahan dan akan bertanggung jawab. Kalau seandainya aku meninggalkan Rachel, maka aku akan menjadi pria pengecut.”


“Kakak harus ingat perkataan kakak barusan! Meski aku tidak pernah mencintai Rachel dan sempat kencan buta dengannya, aku hanya ingin kakak merawat bayi di dalam kandungan Rachel dengan baik.”


Erick tertawa lepas, setengah hati juga kesal kenapa harus adiknya yang lebih perhatian dibandingkan dirinya. “Kenapa kamu jadi perhatian pada Rachel? Bukankah sebelumnya kamu selalu kesal setiap bertemu dengannya?”


“Kakak cemburu? Padahal aku sebagai adik iparnya bermaksud menasihatinya demi bayi kakak sehat nanti.” Elliot tertawa ledek mempererat genggaman tangan istrinya, bermaksud memberitahukan sebenarnya ia masih jauh lebih memedulikan istri sendiri daripada wanita yang sempat ia kencani.


“Pokoknya kalian berdua kurangi minum minuman alkohol. Lalu, jangan pulang terlalu malam. Nanti akan berpengaruh pada kesehatan bayi.” Vallerie menatap tegas pada Erick dan Rachel.


“Terima kasih sarannya, Vallerie. Aku tidak pernah menyesal menyerahkan Elliot untukmu saat itu. Memiliki adik ipar sangat baik seperti kamu sangat langka bagiku.” Rachel menyahutinya tersenyum ceria mengayunkan kedua tangan Vallerie.


Semua sudah beres berkaitan dengan berita kehamilan, hanya saja ada satu hal penting yang masih kurang dalam benak Elliot. “Omong-omong, kakak tidak mengadakan pertemuan keluarga?”


“Hari libur nanti aku harus persiapkan semuanya demi orang tua Rachel merestui kami.”


Seketika pulang kerja, Carla memasuki kediamannya mengambil beberapa peralatan yang diperlukan untuk menginap di rumah Whitney sampai keadaan menjadi kondusif. Baru saja ia memasuki kamarnya, tiba-tiba disambut sang penjahat sedang menunggu kedatangannya dari tadi di ranjang. Tas selempang digenggamnya sampai merosot ke lantai. Kedua tangannya semakin gemetar melangkah mundur perlahan menghindari tatapan Bertrand berubah menjadi kejam.