
Jika dikaitkan antara inisial nama Carla dan latar belakang keluarga Carla sesungguhnya, Carla adalah wanita muda yang sempat diberitakan tewas tiba-tiba di kehidupan masa lalu.
Kilas balik mengenai masa lalu Carla. Vallerie sempat membaca sebuah artikel memberitakan seorang wanita muda berinisial “CY” ditemukan tewas jatuh di taman belakang apartemen dan dinyatakan sebagai bunuh diri karena depresi yang dialaminya saat bekerja sebagai reporter. Inisial “CY” itu ternyata merupakan putri tunggal dari stasiun TV CYZ merupakan salah satu stasiun TV ternama di kota ini.
Mengingat artikel berita yang sempat dibaca Vallerie, Vallerie sangat syok dan merinding sendiri membayangkan tewasnya Carla justru membuatnya menjadi malaikat maut. Tidak disangka wanita ceria yang berbelanja bersamanya tadi bisa tewas karena bunuh diri.
“Carla adalah wanita yang tewas sempat viral di media sosial.”
“Carla ditemukan tewas tanggal ….” Elliot tidak ingin melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Vallerie juga teringat tanggal dirinya hampir diperkosa. Jika dicocokkan dengan tanggal kematian Carla di masa lalu, tanggalnya sama. Bola matanya terbelalak, entah kenapa semakin ada clue terpecahkan dan misteri terkuak, tubuhnya semakin merinding ketakutan.
Elliot semakin cemas mengamati kondisi istrinya sedikit terlihat tidak stabil sampai gemetaran. Memang kalau ia jadi istrinya, pasti akan mengalami syok berat juga. Insiden kematiannya di masa lalu masih membuatnya trauma sampai sekarang.
Lengan kekarnya langsung mendekap tubuh ramping Vallerie, mengecup pelipis Vallerie sekilas untuk menenangkan pikiran sangat kacau akibat terlalu banyak memikirkan kasus yang mereka hadapi saling terkait satu sama lain. “Sayang, kamu jangan terlalu memaksakan diri hanya memikirkan semua permasalahan ini.”
“Tanggal Carla tewas saat itu … sama seperti tanggal sewaktu aku hampir diperkosa di masa sekarang.” Mata Vallerie sedikit berkaca-kaca hingga tangannya semakin gemetar.
“Apa?” Dahi Elliot mengernyit.
“Waktu itu Erick bilang dia sempat menguping perbincangan Bertrand dengan seseorang. Bertrand memerintahkan orang lain melayani seorang wanita di hotel. Karena sejarah kehidupan kita berubah drastis, di masa sekarang aku yang hampir menjadi korban menggantikan Carla.”
Mengingat perkataan Carla mengenai pacarnya adalah seorang direktur, entah kenapa firasat Elliot sedikit tidak enak sampai sedikit berkeringat dingin. “Jangan-jangan yang dimaksud Carla pacarnya seorang direktur adalah Bertrand.”
“Tapi, kalau seandainya Bertrand adalah pacarnya Carla, kenapa di masa lalu Bertrand ingin membunuh Carla? Kenapa di masa lalu maupun masa sekarang, Bertrand juga masih mengincarku?”
Sejenak Elliot memijit pelipisnya semakin terasa sakit akibat berpikir terlalu jauh. “Sebentar! Kalau semua teori ini kita cocokkan dari saat pertama kali kita bertemu Carla di taman. Carla memberikan buket bunga untuk kita, lalu kita berdua tewas dibunuh dan akhirnya dihidupkan Carla kembali. Inilah yang aku merasa aneh.”
“Alasan Carla menargetkan kita sejak awal ada maksud tersembunyi. Carla sengaja menghidupkan kita kembali di masa ini karena sebenarnya kematian kita ada hubungan dengannya juga secara tidak langsung.”
Tatapan Elliot menjadi elang. “Pelakunya sama. Bertrand yang membunuh Carla dan kita.”
Kilas balik sejenak berdasarkan ingatan Vallerie detik-detik terakhir sebelum tenggelam di sungai. Memang saat itu terlihat Erick mengulurkan tangan kanan seolah-olah ingin mendorongnya. Tapi, bagaimana jika Vallerie salah paham? Justru Erick bermaksud mengulurkan tangan untuk menolongnya sebelum terjun ke sungai, tapi aksi penyelamatan terlambat.
Memikirkan soal aksi balas dendam terhadap Erick, Vallerie semakin merasa berdosa karena sudah berprasangka buruk terhadap orang yang salah. Justru berkat Erick, ia jadi tahu pelaku sebenarnya siapa tanpa perlu cari tahu sendiri. Tinggal melakukan aksi pembalasan dendam saja. Tapi entah kenapa, besok hari kerja, Vallerie merasa tidak nyaman saat berpapasan dengan kakak iparnya akan seperti apa. Apakah Erick menyimpan dendam besar padanya?
Embusan napas lesu dikeluarkan dari mulut Vallerie, membuat Elliot semakin mencemaskan isi pikiran istrinya dipenuhi pikiran negatif sampai stress.
“Sebenarnya … aku salah melihat orang saat aku tenggelam di sungai. Erick sebenarnya berniat menyelamatkanku. Tapi, aku mengira dia sungguh ingin mendorongku.” Vallerie berbicara pelan memainkan kuku jari.
Dengan tatapan percaya diri Elliot menyentuh pundak istrinya. “Sayang, tidak apa-apa kamu salah lihat waktu itu. Wajar kamu tidak bisa melihat jelas karena pandanganmu kabur. Jangan terus menyalahkan dirimu.”
“Besok saat kita kerja dan berpapasan dengannya, pasti dia masih marah karena aku sudah menjebaknya selama ini apalagi mengancam pacarnya juga.”
Elliot sudah tidak tahan mendengar keluh kesah istrinya yang mungkin akan terus dibahas sepanjang malam sampai besok pagi. Lengannya bergerak lincah membaringkan tubuh istrinya kemudian memeluknya erat.
Saat menerima pelukan hangat, pikiran Vallerie langsung teralihkan pada sosok suaminya terlihat manis di saat genting begini. Mengamati wajah tampan suaminya berhasil menyihir semua hal negatif dalam pikiran menghilang sekejap.
“Akhirnya kamu tersenyum juga. Sulit sekali menenangkan dirimu dari tadi berkeluh kesah.” Elliot mencubit pipi Vallerie lembut.
Vallerie mengelus pipi sang suami. “Hanya kamu yang pantas menjadi pendamping hidupku. Tidak salah aku memilihmu sebagai suamiku sepanjang masa.”
Semakin bahagia rasanya setelah mendengar gombalan istrinya, Elliot menghujani ciuman pada pipi lembut di depannya, membuat sang istri tidak ingin kalah menghujani ciuman juga.
“Sayang, cukup aku mau tidur!” Vallerie memundurkan kepala dengan lincah setelah puas bermain.
“Baiklah, aku juga ngantuk. Urusan Erick, tenang saja. Meski kakakku selama ini selalu kasar di matamu, tapi sebenarnya dia punya hati nurani juga.”
“Kamu salah paham. Sebenarnya memang aku bertengkar dengan Erick beberapa kali, tapi dia—”
“Sikapmu aneh sekali sejak mengetahui fakta sebenarnya. Sedangkan selama ini kamu yang sengaja menjebak dia dengan segala cara.”
“Aku sudah lupakan soal itu. Besok kalau berhadapan dengan dia lagi, kita harus minta maaf karena sudah membuat hidupnya kacau belakangan ini.”
Masih pagi-pagi sekali Erick mengendarai mobil sport miliknya menuju suatu tempat sedikit terpencil, jika dilihat kondisi pemandangan di luar terlihat banyak pohon dibandingkan bangunan.
Erick tidak pergi sendirian, Rachel juga mendampinginya menempati kursi di sebelah Erick, menggenggam sebuah buket bunga krisan putih.
Erick mengunjungi rumah abu merupakan tempat abu ibu kandungnya dititipkan. Di depan lemari kaca menampakkan foto Erick saat masih kecil bersama keluarganya, Erick menaruh buket bunga krisan putih di depan lemari lalu mengelus kaca kecil, sebenarnya bermaksud ingin menyentuh foto ibunya terlihat ceria saat menggendongnya.
Mata Erick sedikit sembab, Rachel berinisiatif menepuk-nepuk punggung Erick pelan memasang tatapan cemas.
Erick kembali tersenyum tipis berkat kasih sayang yang diberikan Rachel. Sekilas menatap Rachel lalu merangkul lengan Rachel terang-terangan di hadapan foto ibunya.
“Ibu, bagaimana kabar ibu di sana? Maaf, sudah lama aku tidak datang berkunjung karena belakangan ini aku sibuk bekerja.”
Erick mengambil napas panjang kemudian membuang perlahan. “Ibu, kemarin aku melamar Rachel sebagai tunanganku. Aku akan mengadakan pernikahan secepat mungkin supaya ibu bisa melihatku dan Rachel dari atas sana. Rachel adalah satu-satunya wanita yang selalu menemaniku di saat aku mengalami masalah pekerjaan.”
Mendengar ungkapan isi hati kekasihnya, hampir saja Rachel tidak bisa menahan deraian mata bahagia ingin membasahi pipinya. Terlalu bahagia sampai sengaja semakin mempererat rangkulannya. “Sudahlah, jangan terlalu puitis. Kamu tidak cocok menggodaku dengan kalimat puitis.”
“Entah aku puitis atau tidak. Aku ingin memperlihatkan pada ibu, sosok tunanganku terlihat sangat cantik. Ibu tidak perlu mencemaskanku lagi. Aku tidak akan kesepian selama Rachel selalu mendampingiku.”
Sorot mata Erick tertuju pada Rachel, menunduk pelan memberikan isyarat Rachel juga harus menyapa calon ibu mertuanya yang sudah tiada sejak lama.
“Aku Rachel, pacar dan sekarang menjadi tunangan Erick. Sebenarnya aku ingin meminta restu dari ibu. Aku pasti akan selalu menemani Erick dan memarahinya jika dia selalu keras kepala ingin bekerja lembur sampai tengah malam.”
Alis Erick terangkat sebelah. Entah kenapa ia merasa tunangannya seperti sedang menyindirnya sekarang. “Aku selalu menuruti perkataanmu. Jangan melaporkan aneh-aneh pada ibu deh! Nanti ibu tidak akan tenang.”
“Kalau aku tidak mengatakan hal itu terang-terangan, kamu semakin keras kepala nanti! Kamu selalu lebih memedulikan pekerjaan daripada aku sampai terkadang menelantarkan aku sendirian di bar.”
Rasanya Erick ingin memarahi Rachel habis-habisan. Dengan gaya gerakan mulut kesal bermaksud memarahi Rachel secara halus. “Bisakah kamu jangan ember?”
“Berjanjilah padaku. Jangan menelantarkan aku lagi!”
Sorot mata Erick melihat jarum jam arloji mahal miliknya menampakkan hari semakin siang. Spontan ia menggandeng tangan Rachel berjalan menuju lahan parkir.
Di dalam mobil sport dalam kondisi mesin mobil menyala, Erick masih tidak ingin berpisah dengan Rachel secepat mungkin. Mengingat momen lamaran kemarin sangat manis ditambah hari ini penampilan kekasihnya sangat sempurna meski memakai dress hitam, Erick semakin bahagia memiliki seorang kekasih sangat perhatian padanya.
Lengan kekarnya mendekap tubuh Rachel dengan erat, dibalas elusan lembut mendarat di punggung lebarnya membuatnya candu ingin bermanja lebih lama.
“Hari semakin siang, aku harus kembali bekerja.” Sebenarnya Rachel lebih menginginkan dipeluk berdurasi lama, tapi ia tidak ingin egois.
“Lima menit lagi.”
“Baiklah, aku akan berikan waktu lima menit lagi. Kalau sampai aku telat hadir rapat, kamu harus bertanggung jawab!” Rachel menggunakan jari telunjuk menyentuh pipi Erick.
Erick tertawa puas melepas pelukan perlahan. Tangan kanannya mengusap bibir sexy Rachel sangat menggodanya dari tadi. Memajukan bibirnya mendekati bibir sexy itu sambil memejamkan mata bersiap ingin melakukan ciuman di dalam mobil sebelum berangkat kerja.
Namun, sikap Rachel tiba-tiba aneh. Rachel membungkam mulut rapat sambil terus memegangi perutnya sampai sedikit membungkuk.
“Rachel, kamu kenapa?” Erick mulai cemas mengelus punggung Rachel.
Erick panik melihat napas Rachel semakin sesak. Mau pergi ke rumah sakit, tapi di sini jarang ada rumah sakit. Yang bisa ia lakukan adalah mendekap tubuh Rachel dipenuhi keringat dingin terus mengalir.