
Erick mengamuk menancapkan pedal gas melajukan mobil sport dengan kecepatan tinggi menuju sebuah hotel yang tertera pada pesan misterius itu.
Erick memarkirkan mobil sport di lobby hotel tampak megah dari luar, berlarian ke dalam hotel menuju kamar hotel sudah ditentukan dalam pesan singkat. Saat pintu lift terbuka lebar, Erick berlari mencari nomor kamar hotel dengan panik di sepanjang koridor hotel.
Langkah kakinya terhenti di depan sebuah kamar hotel yang dituju. Tangannya terkepal kuat mengetuk pintu kamar seperti orang tidak waras, tidak peduli pengunjung lain memarahinya karena telah membuat keributan malam-malam begini.
“Keluarlah kamu sialan! Awas saja kamu membunuh kekasihku!”
Pintu kamar terbuka perlahan, tanpa berbasa-basi lagi, Erick memasuki kamar langsung disambut pemandangan tidak terduga sampai tubuhnya hampir terjatuh ke belakang.
Rachel masih berpenampilan elegan duduk di tepi ranjang bersama Elliot, sedangkan pelaku yang menjebaknya sekarang adalah Vallerie.
Vallerie tersenyum sinis, bertepuk tangan gaya angkuh melangkah menghampiri Erick. “Akhirnya kamu datang juga, Erick.”
“Kamu gila?! Selama ini kamu yang ingin mencelakai aku!” Erick memasang tatapan kejam mencolek pundak Vallerie kasar.
Elliot melakukan aksi sebagai pahlawan langsung berdiri di depan Vallerie sebagai perisai. “Lancang sekali kakak memperlakukan Vallerie kasar!”
Erick menunjuk-nunjuk wajah Elliot dan Vallerie. “Jadinya, selama ini kalian bersekongkol ingin menjebakku dengan trik murahan ini! Tidak akan kumaafkan kalian dengan mudah. Kalau sampai ayah tahu sikap kalian sebenarnya busuk, aku yakin ayah tidak akan mengampuni kalian!”
Tangan kanan Elliot sedikit mendorong tubuh Vallerie dengan pelan, sebenarnya mengisyaratkan Vallerie tidak perlu ikut campur lagi lebih jauh. Namun, tetap saja Vallerie ingin melawan Erick juga karena tujuan ia kembali adalah menjalankan misi menjatuhkan Erick.
“Tidak masalah kalau ayah tahu kami kejam padamu. Tapi kakak sebenarnya lebih kejam! Sikap kejam kakak di kehidupan sebelumnya, aku tidak akan pernah mengampuni kakak!” Elliot menarik lengan jas Erick dengan tatapan melotot.
Dahi Erick mengernyit, bingung dengan perkataan adiknya sama sekali terdengar tidak masuk akal. “Aku kejam? Apa aku tidak salah dengar?”
“Jangan bersikap munafik di hadapan semua orang! Sekarang aku akan melepaskan topeng yang selama ini menutupi kebusukan kakak!”
“Sialan! Berani sekali kamu bilang aku munafik! Padahal selama ini aku tidak pernah membuat hidupmu menderita!” Batas kesabarannya sudah habis, kedua tangannya menarik lilitan dasi mengikat leher adiknya
“Seandainya saja aku berada di kehidupan sebelumnya, aku akan membuat kakak mengakuinya karena kakak sudah membuat hidupku dan Vallerie menderita.”
Erick memutar bola mata bermalasan. “Aku tidak mengerti maksud ucapanmu dari tadi. Yang pasti, meski aku ingin meraih posisi direktur pelaksana keuangan, aku tidak mungkin berbuat sampai sejauh itu. Kamu berani sekali mengancamku belakangan ini dan sengaja menghilangkan dokumen yang sudah kubuat susah payah! Tidak bisakah kamu sedikit lebih cerdas jika ingin membunuhku?”
Vallerie menatap kejam mendorong tubuh Erick sedikit kasar. “Jangan menyalahkan, Elliot! Memang semuanya ideku ingin memusnahkan kamu! Kamu berusaha membunuhku dan Elliot selama ini!”
Awalnya Erick ingin menggunakan kekerasan melawan Vallerie, tapi karena Vallerie adalah seorang wanita, sebagai gantinya ia menonjok wajah Elliot sekuat tenaga sampai pipi Elliot memar.
Vallerie membelalakan mata, hatinya hancur berkeping-keping melihat suaminya jadi terkena imbasnya karena ide konyol ini. Vallerie berinisiatif berdiri di depan suaminya, merentangkan kedua tangannya lebar melindungi suaminya dengan mata mulai sembab. “Sebenci apa pun, lancang sekali kamu menyakiti adikmu sendiri! Memang terbukti kamu sangat jahat!”
Elliot memposisikan tubuhnya berdiri di depan Vallerie, tangan kanannya terkepal kuat menonjok pipi Erick sekuat tenaganya sambil mencengkeram kemeja Erick.
Para wanita mulai gelisah melihat para pria jadi bertengkar fisik. Rachel dari tadi berdiam saja karena memang dirinya sudah diancam sebelumnya tidak boleh ikut campur, sekarang ia terpaksa melanggar aturan itu.
“Hentikan!”
Suara teriakan Rachel berhasil membuat para pria menghentikan aksi baku hantam, meski posisi tangan mereka masih saling menarik kerah kemeja satu sama lain.
Rachel memasang tatapan kejam pada Vallerie, melipat kedua tangan di dada rasanya sudah muak dipermainkan. “Sebenarnya apa tujuanmu mengincarku dan Erick? Apa kamu masih dendam karena aku hampir mencuri ciuman pertamamu saat di kamar hotel?”
Vallerie tertawa remeh melangkah gaya angkuh mendekati Rachel. “Sekitar dua minggu lalu, aku hampir diperkosa pria asing. Apakah kekasihmu adalah dalang di balik semua ini? Mengincar sebuah impian tapi membuat hidupku dan Elliot menderita!”
“Kalian berdua memang keterlaluan! Itulah alasan kenapa sejak dulu aku tidak setuju kalian mendapatkan posisi tinggi di perusahaan.” Erick melepas cengkeraman.
“Aku tidak ingin berbasa-basi dengan kakak lagi. Katakan padaku sebenarnya! Kenapa kakak sangat mengincarku dengan Vallerie sejak dulu? Kalau kakak sangat menginginkan posisi direktur eksekutif, aku bisa menyerahkan pada kakak.”
“Untuk apa aku mengincar posisi itu? Yang kuinginkan hanyalah posisi direktur pelaksana keuangan. Lalu, aku tidak mungkin mencelakai adik iparku sendiri! Sebenarnya, aku tahu selama ini ada yang mengincar kalian. Pelakunya bukan aku!”
Vallerie dan Elliot saling melempar pandangan bingung. Entah kenapa mereka tetap masih tidak memercayai perkataan Erick, jika dilihat sikap Erick selama ini selalu kasar dan jelas-jelas Vallerie melihat Erick yang mendorongnya sewaktu di sungai.
Vallerie memasang wajah tegas, dengan santai melangkah mendekati Erick, sangat penasaran perkataan yang disampaikan Erick terkesan sedikit ambigu. “Memangnya kamu tahu siapa yang ingin memerkosa aku?”
“Aku mencurigai Bertrand adalah pelakunya.”
Vallerie semakin syok mendengarnya sampai pandangannya sedikit kabur. Untungnya langsung ditahan suaminya sebelum tubuhnya hampir terjatuh ke lantai. Vallerie memijit pelipis lambat laun, tetap saja ia masih tidak percaya Bertrand adalah pelakunya padahal Bertrand adalah salah satu temannya sewaktu kuliah.
“Kakak tidak sedang membohongi kami, ‘kan!” Elliot membentak sambil mengelus punggung tangan Vallerie perlahan.
“Untuk apa aku membohongi kalian! Justru aku tidak ingin nyawa istrimu dalam bahaya! Maka dari itu, aku memperingatkannya sekarang supaya kalian tidak mengincarku dan Rachel terus!”
Vallerie melangkah pelan mendekati Erick. “Sebenarnya aku pernah menguping perbincangan kalian sewaktu di bar sekitar dua minggu lalu setelah insiden aku hampir diperkosa. Kalian berencana ingin menghancurkan hidup kami. Apakah benar?”
Erick dan Rachel saling melempar tawa puas. Mendengar perkataan Vallerie sungguh berbeda jauh dari apa yang mereka maksud sebenarnya, bahkan rasanya sulit menghentikan tawa sudah terlanjur puas sampai sakit perut.
“Vallerie … Vallerie … sebenarnya kami memang ingin bersaing. Tapi bukan menggunakan cara sampai menghancurkan hidup kalian. Kamu salah paham.”
“Benarkah? Tapi kenapa saat makan malam di rumah ayah, kakak bilang ingin membunuhku kalau aku bertindak kelewatan!” Elliot, juga tidak ingin melewatkan kesempatan emas menginterogasi kakaknya daripada ke depannya salah menduga.
“Padahal aku bermaksud bercanda. Mana mungkin aku membunuh adik kandungku sendiri. Meski aku masih tidak menyukai sikapmu kadang keterlaluan, tapi aku masih menganggapmu sebagai adik terbaik.”
Deg..
Entah kenapa hanya kalimat sederhana itu membuat hati Elliot tersentuh. Bisa dikatakan, jarang sekali kakaknya mengucapkan kalimat pujian terang-terangan, padahal selama ini sering bertengkar entah karena masalah pekerjaan atau hal lain.
“Barusan … kakak memujiku?”
“Sebenarnya aku malas memujimu setelah baku hantam denganmu. Lihat saja! Wajahku jadi jelek begini karena kamu memukul aku kasar!” Erick menunjuk bekas luka memar di beberapa titik wajah.
“Aneh saja kakak memujiku berlebihan begini,” desis Elliot menggaruk malu.
“Justru apa yang didengar istrimu itu belum selesai. Aku bermaksud ingin taruhan bermain tenis bersamamu. Kalau sampai kamu kalah, siap-siap saja kamu kehilangan posisimu. Karena sampai sekarang kamu masih belum mahir main. Aku sudah muak menjadi pelatihmu.”
“Kenapa kamu selalu mengancam kami memakai nyawa?” Vallerie masih belum puas dengan jawaban Erick.
“Kalau sampai kalian malas bekerja, aku kasih kalian tugas sepuluh kali lipat. Kamu mau? Aku kan tidak suka melihat kerjaan banyak kesalahan dan tidak sesuai keinginanku. Alasan sejak awal aku tidak memercayai kamu saat itu adalah kamu belum berpengalaman bidang ini, aku takut kamu menghancurkan proyek. Siap-siap aku keluarkan kamu dari tim kalau kamu berbuat ulah! Maksudku tamat riwayatmu adalah kamu tidak akan diakui dalam tim proyek atau perusahaan!”
Sorot maa Elliot tertuju pada Rachel. “Lalu, soal menggodaku di hotel dan beberapa kali menggangguku, sebenarnya apa motifmu, Rachel?!”
“Aku memang sengaja memberimu pelajaran supaya kamu tidak jatuh cinta padaku. Aku sudah berpacaran dengan Erick sejak lama. aku tidak mau menikahimu hanya karena perjodohan!” Rachel mempertegas dengan nada angkuh, merangkul lengan Erick.
“Terima kasih karena sudah membenci pacarku! Mungkin aku akan membunuhmu kalau sampai kamu menikahinya!”
Elliot menunduk bersalah sambil menyentuh wajahnya juga sedikit babak belur karena ditonjok sedikit kasar. “Maafkan aku.”
“Permintaan maaf saja tidak cukup bagiku! Kamu harus ganti rugi atas kejahilanmu belakangan ini. Kamu menghilangkan semua dokumen penting yang sudah kubuat dan selalu mengancamku dengan nomor tidak dikenal.”
“Tidak hanya itu juga, Elliot mengancamku kemarin malam dan tadi.” Rachel memperlihatkan pesan singkat berisi semua surat ancaman yang dikirimkan Vallerie.
“Apa?” Sorot mata Erick langsung tertuju pada Rachel berwajah polos.
Kepala Rachel menunduk. “Maaf, aku tidak bermaksud membohongimu soal pegawaiku menggangguku tengah malam.”
“Seharusnya kamu mengatakan yang sebenarnya! Kalau sampai kamu diancam pembunuh sesungguhnya gimana!” Erick memelototi Rachel dan berkacak pinggang.
Bibir Rachel memanyun. “Habisnya aku tidak mau kamu mencemaskan aku.”
Elliot dan Vallerie memutar bola mata. Entah kenapa awalnya ingin meluruskan perkara ini, sekarang jadi dialihkan sepasang kekasih bertengkar karena masalah kecil.
“Bertengkarnya nanti saja! Sekarang aku ingin meminta maaf pada kalian karena sudah salah menuduh. Ternyata kalian orang baik.” Vallerie terus menundukkan kepala di depan Erick dan Rachel.
“Aku juga mau minta maaf karena sudah membuat kakak menderita selama ini. Tapi tenang saja, semua dokumen kakak ada di tanganku sebenarnya.”
“Awas saja kalau sampai kalian berbuat onar lagi! Permintaan maaf selanjutnya tidak akan kumaafkan!” Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk Elliot dan Vallerie.
“Bahkan kencanku dengan Erick jadi hancur karena kalian!” tambah Rachel dengan nada suara melengking.
Namun, ada satu hal yang masih membuat Vallerie sulit memercayai perkataan Erick. Padahal ia mengingat jelas Erick yang mendorongnya saat itu, bukan Bertrand. Kenapa di kehidupan sekarang Bertrand ingin mencelakainya? Vallerie ingin memastikannya langsung pada Erick.
“Bagaimana kamu tahu Bertrand adalah pelaku sebenarnya dibalik kasus aku hampir diperkosa?”