Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 47: Gejala Hamil



Rachel merasa tercampur aduk seisi perutnya. Rasanya ingin memuntahkan makanan yang ia nikmati tadi pagi, tapi ia tidak tega melakukannya karena hasil jerih payahnya memasak sarapan jarang sekali dilakukannya selama ini.


Meski sudah memeluk Rachel erat tapi Erick bisa merasakan getaran tubuh Rachel dan lehernya basah karena keringat dingin. Tidak biasanya Rachel bertingkah seperti ini tiba-tiba.


“Rachel, kamu kenapa sih? Jangan diam saja!” Kali ini Erick sengaja mengeluarkan jurus kekesalannya karena kekasihnya hanya bisa menutup mulut memicu dirinya semakin panik.


“Aku … mual. Erick … kumohon jangan memarahi aku.”


Alis Erick menurun lesu. Entah kenapa ia memiliki firasat terjadi sesuatu pada tunangannya tidak terduga. Sebenarnya Erick memikirkan sesuatu, tapi ia cemas kesimpulannya itu justru membuatnya kecewa kalau hasilnya tidak sesuai ekspektasi.


Yang bisa Erick lakukan adalah menenangkan Rachel sampai napas Rachel kembali stabil. Tangan kanannya terus bergerak perlahan di punggung lentik Rachel. Hanya dengan trik itu, Rachel sedikit lega, ditambah bibirnya terus meraba lekukan leher Erick dengan nikmat. Entah kenapa ia merasa leher Erick sangat istimewa bagi indera pengecap.


“Lehermu manis.” Rachel mengenduskan hidung tajam di leher Erick.


“Kamu masih mual? Mau ke rumah sakit?”


“Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih, Erick. Kalau seandainya aku mual di kantor, mungkin aku sungguh muntah di ruanganku.”


“Apa karena kemarin kita berenang terlalu lama? Maaf, aku terlalu egois karena aku ingin merayakan momen lamaran bersamamu.”


Rachel menggeleng pelan. “Bukan karena itu. Mungkin efek aku minum wine terlalu banyak kemarin.”


“Tapi—”


Rachel melepas pelukan dengan lincah kemudian memakai sabuk pengaman. “Sudahlah, antarkan aku saja ke kantor. Kamu juga tidak boleh terlambat kerja.”


Sedangkan Vallerie dan Elliot masih bersantai pagi-pagi karena mereka memang berniat berangkat kerja lebih awal, supaya tidak membuat mereka sakit kepala karena menghadapi kemacetan terkadang.


Sebenarnya Vallerie masih merasa tidak tenang kalau belum menyusun rencana menjatuhkan Bertrand. Sekarang ia memikirkan strategi menjatuhkan musuh tidak terduga itu daripada nyawa mereka lebih awal melayang dari sebelumnya.


Namun, justru isi pikiran Elliot berbeda jauh apa yang dipikirkan Vallerie. Karena minggu lalu melakukan kesalahan besar sehingga menyebabkan hubungan antar pegawai menjadi canggung, Elliot ingin mencoba memperbaiki kesalahannya. Ia ingin meminta bantuan istrinya, tapi jika dilihat raut wajah istrinya sedang serius, terpaksa mengurungkan niat menanyakan pendapat selain kasus.


Vallerie menatap kalender meja sekilas. Jika dilihat, sebentar lagi akan mendekati tanggal spesial bagi Bertrand. Memang benar Bertrand adalah pacar Carla. Maka dari itu, Carla membelikan sebuah hadiah istimewa untuk Bertrand. Entah Carla sudah mengetahui sifat busuk Bertrand atau tidak, hanya ia yang tahu jawabannya.


“Sebentar lagi ulang tahun Bertrand.” Vallerie menunjuk-nunjuk salah satu tanggal dengan tatapan tajam.


Darah Elliot langsung mendidih mendengar istrinya justru mengingat ulang tahun pria lain apalagi seorang pembunuh, dibandingkan dirinya. “Sayang! Kenapa kamu mengingat hari ulang tahun pria berengsek itu?!”


“Kenapa kamu marah-marah sih? Kan wajar aku tidak sengaja ingat karena dia temanku!” Vallerie membentak balik dengan tatapan melotot.


Elliot memutar bola mata dan berkacak pinggang. “Teman? Dia tidak pantas dibilang teman setelah apa yang dia perbuat pada kita?!”


“Sudahlah, kamu jangan marah-marah lagi! Justru saat hari ulang tahunnya, aku ingin merencanakan sesuatu.” Senyuman licik terbit pada sudut bibir Vallerie membuat Elliot mulai penasaran.


“Kamu mau berbalas dendam padanya saat hari ulang tahunnya?”


Vallerie mengangguk sekaligus menampakkan senyuman sinis. “Dia sudah membunuh kita, sudah pasti aku tidak akan pernah memaafkannya. Sebenarnya aku menyesal membantu Carla memilih tas yang bagus untuk Bertrand. Tapi, aku sudah punya rencana lain untuk membuatnya tersiksa.”


Awalnya Elliot membentak istrinya, sekarang yang ia lakukan bertepuk tangan girang dan mengacungkan dua jempol. “Kalau kamu butuh bantuanku, tinggal panggil aku saja.”


“Aku ingin melakukannya sendirian. Aku tidak ingin merepotkanmu terus, apalagi aku sudah mengenal Bertrand sejak dulu.”


“Tapi, menghadapi Bertrand tidak semudah kamu bayangkan. Di masa lalu, dia membunuh tiga orang. Kamu masih ingin menghadapinya sendirian?!” Elliot membentak lagi hingga seisi ruangannya ini bergema, membuat bibir Vallerie memanyun.


Vallerie bergeming dan membuang muka. Batas kesabarannya sudah habis dibentak suaminya terus pagi-pagi membuat suasana hati mulai tidak enak. “Kebiasaan deh selalu bentak aku setiap tidak setuju dengan pendapatku!”


Elliot menunduk bersalah. Ingin meraih tangan istrinya, tapi langsung dihindari lincah, posisi duduk juga sekarang sedikit berjauhan. “Sayang, maafkan aku. Aku tidak akan membentakmu lagi.”


Tetap saja Vallerie masih mengambek dan semakin sengaja duduk bergeser menjauhi suaminya.


Elliot masih ingin belum menyerah. Perlahan menggeserkan tubuhnya kembali menempel pada tubuh istrinya langsung memeluk tubuh istrinya erat. “Kamu tidak akan bisa kabur dariku.”


“Aku tidak pernah ingin kabur darimu. Hanya saja, kamu menyebalkan!” Vallerie masih membuang muka


Kecupan manis mendarat di pipi Vallerie sekilas. Sekejap hati Vallerie langsung bermekaran tidak ingin bersikap kekanak-kanakan terlalu lama, kepalanya langsung menoleh ke arah suaminya. “Kamu boleh membantuku. Tapi, izinkan aku menyusun rencananya.”


Baru semalam mengungkit persoalan bagaimana cara berhadapan Erick di hari kerja, sekarang dipraktikkan sungguhan.


Raut wajah Erick terlihat galak, menambah rasa gugup Elliot berbicara dengan kakaknya selayaknya saudara kandung. Biasanya berbicara seolah-olah mereka sungguh bermusuhan.


“Kakak tumben mendatangiku pagi-pagi begini. Padahal aku tidak meminta kakak mendatangiku.” Elliot menelan saliva kaku, masih terkejut karena hampir saja adegan ciuman tertangkap basah.


“Justru kakak sengaja mendatangimu karena ada satu utang yang belum kamu lunasi.”


Elliot tahu utang yang dimaksud kakaknya itu apa. Utang permintaan maaf yang tulus karena sudah merusak kencan, lalu memasukkan Rachel ke dalam perangkap mereka.


Bukan Elliot yang meminta maaf. Justru Vallerie langsung berdiri di depan suaminya, berhadapan dengan Erick kemudian menunduk hormat. “Maafkan aku. Jangan salahkan Elliot. Dia tidak memiliki kesalahan apa pun. Kalau mau memarahinya, lampiaskan ke aku saja. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak berprasangka buruk pada kalian.”


Elliot menatap lesu pada istrinya, kemudian bergantian posisi berdiri, Vallerie kini di belakang Elliot. “Vallerie, kamu tidak bersalah. Biar aku saja yang minta maaf. Semua ide gila mengenai peretasan komputer kakak, mencuri dokumen penting dan menjebak kakak itu adalah ideku. Aku pantas diberi hukuman.”


Reaksi Erick tertawa terbahak. Padahal ia bermaksud bergurau, tidak disangka adik dan adik iparnya bisa berpikir polos setelah melakukan perbuatan jahat padanya belakangan ini.


Vallerie dan Elliot saling melempar pandangan bingung. Tidak biasanya Erick bisa tertawa lepas, padahal selama ini Erick selalu berwajah dingin di hadapan mereka.


“Aku hanya bercanda tadi. Masalah sebelumnya sudah kulupakan. Justru aku mendatangi kalian sekarang adalah aku ingin mengajak kalian makan malam bersamaku dan Rachel nanti malam.”


Semakin dibuat bingung. Entah apa yang merasuki Erick tiba-tiba mengajak makan malam bersama. Bisa dikatakan sejak Elliot menikah, baru pertama kali diajak seperti ini tanpa sebab apa pun.


“Kakak sungguh ingin mengajak makan malam? Apakah kakak demam?” Eliot menyentuh dahi Erick sekilas dengan tatapan bingung.


Erick sedikit memundurkan kepala. “Sudahlah, pokoknya dinner romantis kalian ditunda dulu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan pada kalian.”


“Hal penting apa? Kakak bisa bicarakan langsung di sini.”


“Rachel juga ingin berbicara dengan kalian. Sesulit itukah menunda kencan kalian? Padahal kalian bisa bermesraan di rumah lebih puas!”


Rona merah menyala pada pipi Elliot dan Vallerie. “Kakak tidak perlu membicarakannya terang-terangan juga.”


“Omong-omong Vallerie, aku tidak bermaksud mengusirmu. Kamu boleh keluar sebentar? Aku ingin berbicara berdua saja bersama Elliot.”


Sebenarnya Vallerie merasa tersinggung karena ia diusir kakak iparnya secara halus. Tapi, apa boleh buat ia hanya bisa menurutinya sambil mengecup pipi suaminya sekilas. “Aku kerja dulu, ya.”


“Kalau merasa bosan, kamu main bersamaku di sini saja.” Elliot juga mengecup pipi istrinya.


Keduanya saling melambaikan tangan sampai Vallerie tidak menampakkan batang hidung di ruangan ini.


Erick ingin berbincang sesuatu penting dengan Elliot hanya berdua saja. Elliot bingung melihat sikap kakaknya berubah drastis sejak ia menjahili kakaknya selama seminggu. Apakah hanya perlu ditindas maka sikap Erick langsung berubah?


“Kakak sebenarnya mau bicara apa sih sampai mengusir Vallerie?” Elliot melipat kedua tangan di dada.


Erick mengamati sekelilingnya sedikit gugup kemudian melangkah mendekati adiknya. “Vallerie sudah hamil belum sih?”


Bola mata Elliot terbelalak. Dalam hatinya, padahal mereka baru melakukannya saat hari libur kemarin, bagaimana bisa kakaknya berpikiran begitu? Memang wajar sih, Erick pasti mengira mereka sungguh melakukannya saat malam pernikahan.


“Belum. Memangnya kenapa, Kak?”


Erick mengamati sekeliling ruangan sedikit gugup, lalu pandangannya tertuju pada adiknya. “Menurutmu, kalau seorang wanita tiba-tiba mual terus setiap pagi itu alasannya kenapa? Wanita itu tidak beraktivitas terlalu berat sebelumnya. Apalagi bukan hanya mual, sikapnya sedikit aneh. Wanita itu tiba-tiba sangat menyukai bau tubuh kekasihnya.”


Dahi Elliot mengerut. “Kakak sedang bicara apa sih? Itu gejala wanita hamil.”


Tubuh Erick langsung mematung. Pandangannya langsung teralihkan mengamati sekeliling ruangan, sehingga menimbulkan rasa curiga Elliot tiba-tiba mengungkit persoalan ini. Padahal Erick bukan tipe pria yang suka membahas persoalan pribadi. Lebih mementingkan urusan pekerjaan selama jam kerja.


“Begitu rupanya. Berarti kemungkinan … wanita itu hamil.”


Elliot mengerutkan dahi. “Kakak kelihatan sangat gugup sepertinya. Tidak mungkin Rachel hamil, ‘kan? Kakak tidak membuat anak bersamanya di luar nikah?”


Erick semakin gugup langsung membungkam mulut Elliot rapat. Justru sikap Erick seperti ini membuat Elliot semakin yakin wanita yang dibicarakan Erick adalah Rachel. Apalagi melihat bahasa tubuh Erick sangat ketakutan menandakan bahwa memang pria yang diungkit Erick itu adalah dirinya sendiri.


“Tebakan aku benar, ‘kan? Rachel hamil di luar nikah.”