
Begitulah kronologi Elliot merencanakan misi rahasianya secara mulus sampai istrinya sendiri merasa seperti ditipu. Akibat saat ingin melakukan misi balas dendam selalu bermain rahasia, apakah ini adalah karma karena terlalu sering bermain rahasia?
Vallerie masih berdiri mematung, diberikan kejutan istimewa tidak terduga saat hari ulang tahunnya juga disambut semua orang terdekatnya sedang menunggu di ruangan khusus pengantin. Semua temannya, termasuk Erick dan Rachel langsung menyerbu menyambut kedatangan bintang utama dengan meriah, tapi aksi penyambutan itu langsung dicegah Elliot karena ia merasa tidak nyaman kalau tubuh istrinya disentuh para pria.
“Para wanita saja yang boleh peluk istriku!” Elliot merentangkan kedua tangan berdiri di hadapan semua temannya.
“Jadinya, kalian semua sungguh menipuku selama ini?” Tatapan Vallerie memelototi semua teman terdekatnya satu per satu.
“Sebenarnya aku tidak mau bermain rahasia. Tapi karena suamimu itu sangat cerewet, terpaksa aku berbohong.” Rachel memelototi Elliot sekilas berkacak pinggang.
“Maafkan kami selama ini membohongimu.” Aria menunduk.
“Kalau seandainya kami tidak menurut, mungkin suamimu akan marah besar.” Jordan juga memelototi Elliot sehingga membuat Elliot semakin merinding.
Vallerie menggeleng pelan, tangan kanannya terus mengayunkan tangan kiri suaminya kegirangan sambil memandangi semua temannya dengan pandangan berbinar. “Justru aku harus berterima kasih pada kalian karena sudah membantu suamiku selama ini. Kalian memang sangat pandai bersandiwara.”
“Kamu masih marah karena aku bersikap cuek selama ini?” Elliot sedikit memanyun.
“Tidak. Bahkan aku tidak sabar melakukan pernikahan lagi bersamamu.” Vallerie berlompat-lompat girang.
Reaksi Elliot tertawa gemas sambil menggandeng tangan istrinya menghampiri pakaian yang akan mereka pakai sudah dipajang terang-terangan di depan mata. “Aku sengaja memesan pakaian yang sama dari ibumu. Kita mengadakan pernikahan ulang, sudah pasti harus sama pakaian kita.”
“Berarti bisa dikatakan orang tuaku juga mengetahui rencanamu!” Vallerie menyipitkan mata.
“Orang tuaku juga.” Elliot mengedipkan mata kanan.
“Aku tidak peduli apa pun lagi. Aku tidak sabar pakai gaun pengantin lagi.”
“Kami akan merias wajahmu, Vallerie.” Rachel bersiap-siap mengeluarkan berbagai peralatan kosmetik andalannya bersama Aria dan Whitney.
Tubuh Vallerie disulap mengenakan gaun pengantin megah ditambah gaya rambut disanggul dihiasi mahkota juga dibantu beberapa hair stylist andalan Rachel. Untuk riasan wajah dibantu para wanita memoles wajah Vallerie menjadi pengantin sempurna di mata sang mempelai pria nanti.
Sedangkan Elliot juga wajahnya sedikit dipoles menggunakan bedak karena agak berminyak. Penampilannya dengan setelan tuxedo putih sudah sempurna. Tinggal menunggu istrinya masih dalam proses menghiasi diri di dalam satu ruangan khusus.
Beberapa menit telah berlalu, Vallerie keluar dari satu ruangan didampingi para wanita mengawal di setiap sisi membantu mengangkat gaun Vallerie sedikit mengembang bagian belakang.
Bola mata Elliot membulat dan mulutnya menganga, seketika mengamati wujud istrinya terlihat seperti malaikat tidak bersayap menampakkan senyuman termanis yang pernah diberikan selama ini. Perlahan Elliot menghampiri istrinya kemudian mendaratkan kecupan manis di punggung tangan sang istri.
“Kamu cantik, Sayang. Seharusnya saat itu aku melihatmu tersenyum lepas begini.”
“Kamu juga tampan hari ini. Lebih tampan dari sebelumnya kamu sangat galak.” Vallerie terkekeh.
Elliot mengerucutkan bibir. “Maafkan aku. Kamu boleh memarahiku setelah acara pernikahan kita berakhir.”
Pandangan Vallerie berbinar memandangi pesona tampan suaminya membuatnya semakin jatuh cinta. “Kamu … sungguh ingin mengadakan pesta pernikahan?”
“Tentu saja. Aku tidak mau memberikan kejutan setengah saja.”
“Tapi, kamu lupa mempersiapkan buket bunga.” Vallerie terus mencari buket bunga di sekelilingnya, tapi tidak ada satu pun buket tersedia.
“Sebenarnya ada.”
Tok…tok…
Saat bersamaan, orang tua kedua belah pihak memasuki ruangan ini. Ibunya Elliot membawa sebuah buket bunga mawar warna-warni untuk Vallerie.
“Selamat ulang tahun, Vallerie. Ini hadiah ulang tahun untukmu, spesial ibu petik dari kebun di belakang rumah.”
Vallerie mengamati buket bunga sederhana ini dengan raut wajah berseri-seri, kemudian memeluk ibu mertuanya melampiaskan tangisan haru. “Terima kasih, Bu. Bunga ini terlihat cantik seperti ibu.”
“Putraku sangat menyayangimu sampai merencanakan pesta pernikahan di hari ulang tahunmu. Sebenarnya ibu masih bingung apa yang merasuki pikirannya, yang pasti ibu sangat bahagia melihatmu juga sangat menyayanginya selama ini.”
“Kamu sangat beruntung menjadi istrinya, Vallerie. Baru pertama kali ibu melihat ada menantu mengadakan pesta pernikahan kedua kali di hari ulang tahun istrinya.” Ibunya Vallerie menatap Elliot dengan senyuman hangat.
“Ayah bingung juga melihat menantu ayah terus memohon saat itu. Membayangkan momen itu, ayah ingin tertawa lagi,” sambung ayahnya Vallerie.
Reaksi Elliot tersenyum malu sambil mengayunkan tangan kanan istrinya pelan.
“Ayah doakan segalanya yang terbaik di hari ulang tahunmu. Ayah mengerti alasan kenapa putraku ingin mengadakan pesta pernikahan ini.” Ayahnya Elliot tersenyum girang menepuk-nepuk pundak putranya santai.
Vallerie ingin meluapkan tangisan bahagia karena semua orang terdekatnya sangat menyayanginya. Membayangkan di masa lalu hanya sedikit yang memedulikannya, sekarang bertekad ingin menikmati masa bahagia bersama suaminya sepanjang hidupnya tanpa perlu mencemaskan ancaman nyawa lagi.
“Terima kasih semuanya. Aku tidak menyangka kalian semua sungguh berniat membantu suamiku mengadakan pesta pernikahan ini. Pasti sangat merepotkan di tengah kesibukan kalian.”
“Memang sangat merepotkan selama ini aku selalu menemani suamimu saat jam makan siang harus mempersiapkan pernikahan kalian.” Jordan tertawa jahil memandangi atasannya, dibalas tatapan tajam diperlihatkan sang atasan tanpa segan.
“Bukankah kamu sendiri suka membantuku sukarela?” protes Elliot berkacak pinggang.
“Sudahlah, daripada kita berbincang lama di sini, bagaimana kalau kita mulai saja acaranya? Aku sebagai pemimpin acara ini tidak sabar memeriahkan pernikahan kalian.” Erick menyatukan tangan sepasang pengantin dengan erat.
Pesta pernikahan diselenggarakan bertema outdoor. Beruntung cuaca hari ini bisa diajak kerja sama juga memperlihatkan sinar matahari terik menandakan pesta kali ini akan berlangsung lebih meriah dibandingkan sebelumnya.
Taman hotel dihiasi bunga mawar berwarna pink muda disusun setiap beberapa meter di tepi karpet merah dan juga hiasan lampu-lampu kecil beserta foto kencan mereka selama ini dan boneka sepasang pengantin beruang dipajang di meja.
Hanya teman-teman terdekat diundang ke pesta pernikahan ini. Termasuk Carla juga turut diundang karena berkat Carla, Vallerie dan Elliot bisa menikmati kehidupan pernikahan sangat manis. Carla mengajak seorang pemuda berpenampilan sederhana merupakan kekasihnya, duduk berdampingan di meja bundar berkumpul bersama semua teman dekat Vallerie yang membantu mempersiapkan pesta pernikahan ini.
Seketika Erick memberikan aba-aba, Elliot berjalan di karpet merah lebih dulu menuju altar pernikahan disambut tepuk tangan meriah. Dari kejauhan Elliot melambaikan tangan pada istrinya sedang berdiri berdampingan bersama sang ayah.
Sekarang giliran Vallerie berjalan di sepanjang karpet merah merangkul lengan ayahnya disambut tepuk tangan meriah semua teman terdekatnya. Saat tiba di altar pernikahan, sepasang pengantin baru berdiri saling berhadapan dan melempar senyuman terindah mereka.
Elliot kembali berpegangan tangan istrinya mengucapkan sumpah pernikahan terlebih dahulu, meski mereka sudah pernah mengucapkannya, kali ini dengan suasana hati sangat bahagia. “Elliot Sinclair dan Vallerie Emerald berjanji di hadapan Tuhan dan semua saksi pernikahan menghadiri pesta pernikahan kami, bahwa kami akan selalu saling mencintai meski ada badai ingin menghancurkan kehidupan pernikahan kami, saling melindungi dan mendukung satu sama lain sampai maut memisahkan kami.”
Erick ingin melakukan langkah selanjutnya langsung diberikan isyarat gelengan kepala sang adik.
“Kakak tidak perlu bertanya lagi. Tentu saja, aku Elliot Sinclair sangat menerima Vallerie Emerald sebagai istriku. Bahkan aku sangat menyayanginya sampai jantungku berdebar-debar dari tadi,” ungkap Elliot mengelus kepala istrinya lambat laun dengan tatapan penuh cinta, membuat semua orang terharu mendengarnya.
Vallerie semakin tidak bisa menahan deraian air mata sudah membendung di kelopak mata. Menampakkan senyuman ceria mengelus kepala suaminya perlahan. “Aku Vallerie Emerald juga sangat menerima Elliot Sinclair sebagai suamiku. Hanya Elliot yang bisa membuatku tersenyum di hari ulang tahunku.”
Erick melampiaskan tangisan haru mendengar ungkapan isi hati sepasang bintang utama membuatnya merasa iri. “Kalian bisa saling bertukar cincin.”
Pertama Elliot mengambil cincin berlian milik istrinya, kembali memasangkan di jari manis istrinya.
Dibalas Vallerie juga memakaikan cincin berlian di jari manis suaminya.
Tidak perlu diteriak semua saksi pernikahan, kali ini Elliot mencium bibir istrinya penuh rasa bahagia, menggerakkan bibir dengan lembut merasakan manisnya bibir istrinya berkali-kali lipat membuatnya semakin candu ingin melakukannya lebih lama.
Ciuman mesra kali ini berdurasi lebih lama dari sebelumnya karena Vallerie juga terus memainkan bibirnya dengan nikmat, ditambah ledakan confetti semakin menghiasi suasana romansa sangat manis.
Akhirnya sepasang bibir melepas tautan serentak. Diakhiri kecupan manis mendarat di kening sang istri selama beberapa detik. “I love you and happy birthday, My Vallerie.”
“I love you too, My Elliot.” Vallerie mencium dahi suaminya sekilas.
Tangan mereka saling bergandengan, berjalan perlahan menginjak karpet merah menyapa semua teman mereka satu per satu, disambut tepuk tangan meriah dan ledakan confetti di setiap titik menambah suasana romansa dalam pesta sederhana ini sangat indah dan manis.
Tidak terasa pesta pernikahan sederhana berakhir cepat. Suasana malam pernikahan sekarang terkesan indah jika dilihat Elliot berinisiatif membantu melepas gaun pengantin dipakai Vallerie, tidak hanya itu, mereka juga menikmati berendam air panas dalam bathtub berdurasi lumayan lama.
Cukup puas mandi bersama sambil bermain air di dalam kamar mandi, sekarang mereka melanjutkan bermesraan di ranjang dengan balutan bathrobe putih karena saat mendatangi hotel, mereka tidak membawa apa pun.
Elliot mendekap tubuh istrinya hangat, membiarkan istrinya terus bermanja menampakkan senyuman manis sepanjang hari, membuatnya semakin tidak rela melewatkan hari spesial ini.
Vallerie membenamkan kepala di dada suaminya merasakan detak jantung berdebar-debar menambah rona merah menyala di pipinya. “Sayang, terima kasih sudah memberikan kejutan istimewa di hari ulang tahunku. Pasti sangat sulit mempersiapkan semuanya meski dibantu teman kita dan orang tua kita.”
“Tidak akan merepotkan jika kejutan itu diberikan sebagai hadiah ulang tahunmu. Maaf, selama ini aku selalu tidak bisa memberikan hadiah yang banyak untukmu, aku tidak kreatif.”
Vallerie menggeleng pelan. “Justru aku paling suka hadiah ini. Bahkan jauh lebih indah daripada saat kamu melamarku di masa lalu. Kamu selalu memberikan sedikit hadiah, tapi kenangan yang kamu ciptakan bersamaku di hari ulang tahunku, harganya tidak ternilai. Justru hadiahmu berbeda dari lainnya dan sangat unik menunjukkan kamu suami paling kreatif di dunia ini”
“Inilah alasan kenapa aku selalu memberikan kamu sedikit hadiah. Meski barang yang kuberikan harganya murah di mata orang lain, tapi kenangan yang kita ciptakan tidak bisa dibeli dalam bentuk apa pun dan jika ada harganya pasti tidak terhingga nilainya.”
Mendengar gombalan manis suaminya, Vallerie semakin melepas tawa bahagia mengelus pipi lembut suaminya memasang pandangan penuh cinta. “Maafkan aku selama ini selalu berprasangka buruk padamu. Aku selalu mencurigai kamu sudah bosan denganku dan lebih memedulikan Jordan.”
Elliot mencium kelopak mata istrinya. “Mustahil aku bosan dengan istri kesayanganku. Justru sebenarnya aku bosan makan siang bersama Jordan demi merencanakan kejutan istimewa untukmu.”
Vallerie dan Elliot saling berciuman mesra selama beberapa detik menyalurkan energi cinta mereka tidak terhingga sekarang. Elliot melepas tautan bibir sedikit menjauhi bibir istrinya sejenak. “Bahkan aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang telah aku perbuat di hari pernikahan kita waktu itu. Aku menyakiti perasaanmu saat aku menetapkan aturan tidak ada malam pertama. Sekarang, aku ingin menarik ucapan itu.”
Vallerie tersenyum menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga. “Kamu ingin melakukannya sekarang?”
“Hadiah ulang tahunmu terakhir hari ini sebelum pergantian hari beberapa jam lagi. Aku ingin memiliki anak bersamamu. Tidak ada kata tunda lagi sebelum aku menyesalinya.” Elliot menyunggingkan senyuman usil melepas pita bathrobe miliknya perlahan.
“Lalu, janjimu mengajakku pergi ke Paris?” Vallerie memajukan bibirnya mendekati bibir sexy suaminya sangat menggoda.
Dada bidang Elliot kini terlihat jelas. Perlahan Elliot menempelkan bibirnya di lekukan leher istrinya sambil melepas ikatan pita bathrobe dipakai istrinya. “Kita akan pergi lusa. Bulan madu kita adalah ke Paris sekaligus mengabulkan keinginanmu.”
Sepasang bibir indah saling bertautan erat memulai melakukan permainan panas yang akan menguras energi cukup banyak sepanjang malam saling melempar bathrobe ke lantai sampai berserakan. Kembali melanjutkan permainan bibir panas sambil menggenggam tangan erat, terutama Elliot yang terus memimpin permainan ini sampai napasnya mulai tersengal-sengal.
Elliot memberikan jeda sejenak. Menatap istrinya sangat sexy dengan tatapan intens sambil meraba belahan dada istrinya lambat laun. “Aku semakin tergila-gila padamu. Aku ingin menyentuhmu sepanjang malam.”
Vallerie tersenyum centil menempelkan bibirnya di daun telinga suaminya. “Aku juga semakin tergila padamu. Aku lebih memilih bermain bersamamu sepanjang malam daripada tidur.”
Aktivitas panas di malam hari dilanjutkan kembali. Entah sungguh ingin melakukannya sepanjang malam atau tidak, hanya sepasang pengantin baru yang tahu jawabannya.
Vallerie dan Elliot bersiap-siap mengemas semua kebutuhan mereka yang akan dibawa ke Paris. Paspor sudah aman di dalam tas dan mereka sudah menyiapkan dua koper besar untuk pergi selama seminggu menikmati masa bulan madu mereka.
“Hmm aku harus bawa apa lagi, ya? Sepertinya semuanya sudah lengkap.” Vallerie memeriksa barang di dalam koper satu per satu menyesuaikan dengan daftar barang yang dibawanya tertulis di buku catatan kecil.
“Jangan lupa bawa aku.” Elliot melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping istrinya dari belakang sambil mencium lekukan leher istrinya mendalam.
Reaksi Vallerie tersenyum mengambang, sekilas mencium pipi suaminya sambil mengelus lambat laun. “Nomor satu di dalam daftar yang harus aku bawa adalah suamiku. Kamu yang mempersiapkan semuanya, sudah pasti kamu paling istimewa.”
Belum selesai sebenarnya mempersiapkan pernikahan ulang, Elliot mengajak istrinya melakukan sesi pemotretan prewedding ulang, meski sudah ditekankan tidak ingin melakukannya supaya tidak membuat pihak studio bingung melihat hasil foto sudah sempurna sebelumnya, sekarang mau melakukannya lagi.
Posisi mereka sekarang berpose mesra menempati sofa berlatar di istana kerajaan Eropa. Vallerie sudah memposisikan tubuhnya bermanja di dada suaminya melempar pandangan penuh cinta satu sama lain, kemudian dipotret langsung oleh fotografer profesional.
Saatnya beristirahat sejenak setelah melakukan sesi pemotretan cukup lama dengan latar berbeda-beda entah indoor maupun outdoor, dengan balutan pakaian casual mereka berjalan santai bergandengan tangan menelusuri taman di belakang gedung studio.
“Kamu memang keras kepala. Padahal aku sudah bilang tidak perlu foto ulang. Nanti pihak studio akan bingung.” Vallerie mempertegas, tapi ekspresi wajahnya memperlihatkan ia sangat bahagia melakukan sesi pemotretan lagi.
“Aku tahu kamu sangat suka dilihat raut wajahmu sangat bahagia. Tenang saja, meski kita foto ulang, tapi foto lama tidak akan kubuang meski terkesan paksaan saat itu. Semua kenangan yang telah kita lalui akan selalu kuingat dalam pikiranku.” Elliot menunjuk pelipisnya menggunakan jari telunjuk.
“Kalau sampai kamu amnesia lagi sampai membentakku?” Dahi Vallerie mengernyit.
“Kamu boleh membunuhku sesuka hatimu.”
Vallerie memeluk tubuh suaminya erat. “Tidak mau. Lebih baik menciummu daripada membunuhmu. Berkat kita berciuman saat itu, ingatanmu kembali pulih. Pertahankan sikapmu sangat manis ini. Jangan membuatku sengsara lagi! Nanti kalau aku hamil, kamu harus merawatku sepenuh hatimu.”
Elliot tersenyum manja menempelkan bibir di puncak kepala istrinya. “Aku selalu candu melihat senyumanmu sejak pertama kali bertemu denganmu. Aku tidak akan membuat senyumanmu sirna dari kehidupan kita.”