Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 68: Kejutan Manis dan Istimewa



Seminggu kemudian…


Vallerie bangun lebih awal karena hari ini adalah hari spesial dalam hidupnya. Baru saja mengerjapkan mata sudah disambut senyuman manis ditampilkan suaminya, menambah suasana hatinya bermekaran di pagi hari.


Balasan Vallerie tersenyum ceria mengelus kepala suaminya lambat laun. “Kamu bangun pagi-pagi sekali.”


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Elliot mendaratkan bibir sexy di bibir merah istrinya berdurasi beberapa detik. “Happy birthday, My Vallerie.”


Dibalas kecupan manis juga mendarat di bibir sang suami. “Terima kasih, Sayang. Aku mengira kamu melupakan hari ulang tahunku.”


“Entah di masa lalu maupun masa sekarang, aku selalu ingat hari ulang tahunmu. Seandainya hari ini hari kerja, mungkin aku akan mengajakmu bolos kerja sebagai hadiah ulang tahunmu.” Elliot mengedipkan mata kanan, menggunakan jari telunjuk menunjuk pelipis.


Dahi Vallerie mengernyit sedikit menjauhi suaminya. “Kalau ingatanmu masih belum pulih sampai sekarang, sepertinya aku meragukan kamu ingin ingat hari ulang tahunku. Kamu selalu membenciku saat itu, mustahil kamu ingin mengingat hal kecil ini.”


Elliot sengaja mencium bibir indah istrinya lagi sekilas. “Ingatanku belum pulih, kamu bisa menciumku. Setiap kita berciuman, pasti sepotong ingatan akan perlahan kembali padaku.”


“Pantesan saja kamu tidak ragu ingin menciumku saat hari pernikahan kita.”


Sepasang bibir indah saling bertautan lebih mendalam.


Kruk…


Tiba-tiba suara erangan perut membuat sepasang bibir terpaksa menghentikan aksi permainan bibir terlanjur manis. Elliot menunduk malu sambil mengelus perut sendiri. Entah kenapa dari dulu perutnya tidak bisa membaca situasi yang tepat.


“Aku masak sarapan dulu, ya. Aku ingin masak makanan enak untukmu.”


“Jangan masak terlalu banyak menu!”


Elliot memanyunkan bibir sambil memainkan pipi istrinya menggunakan jari telunjuk. “Memangnya kenapa? Hari ini hari ulang tahunmu. Sudah pasti aku ingin memasak berbagai variasi makanan lezat untukmu.”


“Cukup nasi omelet saja. Aku tidak mau merepotkanmu.”


Tanpa memedulikan kondisi perut semakin kelaparan, lagi-lagi Elliot mengecup bibir Vallerie, kali ini mencium berkali-kali dengan candu sampai tubuh mereka berguling-guling di ranjang. Vallerie tertawa semakin lepas menikmati kebahagiaan bersama suaminya di pagi hari tidak biasanya.


“Jangan keras kepala! Pokoknya hari ini aku ingin memasak makanan lezat untukmu. Selama ini aku selalu memasak nasi omelet untukmu meski kamu berulang tahun.”


Akhirnya Vallerie menyerah juga, daripada bibirnya dicium terus sampai membuatnya selalu candu ingin melakukannya terus. “Baiklah, aku tidak sabar menikmati menu spesial buatanmu hari ini.”


“Mau aku cium lagi?” Saat Elliot ingin berciuman lagi, Vallerie langsung memundurkan kepala lincah.


“Aku belum gosok gigi! Dari tadi kerjaanmu hanya menciumku!” Vallerie membungkam mulut menggunakan telapak tangan.


Elliot tertawa kecil sambil menyingkirkan telapak tangan istrinya menghalangi pemandangan bibir. “Aku juga belum gosok gigi. Tapi aku suka bibirmu selalu manis.”


Ucapan dan hati berbeda. Vallerie mengecup bibir suaminya berdurasi lama, kemudian melepaskannya dengan tatapan usil. “Aku sudah sangat lapar. Kalau belum puas berciuman, nanti saja baru dilanjutkan.”


Sebagai penutup, Elliot mencium bibir istrinya. “Baiklah, demi kesayanganku hari ini ulang tahun. Aku pasti menurutimu.”


Sambil menunggu suaminya selesai memasak sarapan, Vallerie terus memeluknya dari belakang sambil membantu mengambil beberapa bumbu dapur yang akan dicampurkan. Sengaja Vallerie bersandar manja di punggung lebar suaminya membuat suaminya sedikit kesulitan mengaduk sup di dalam panci.


Sambil mengaduk sup, mengandalkan tangan kiri, Elliot mengelus punggung tangan istrinya. “Hari ini kamu manja sekali. Apa efek samping dari aku menciummu terus dari tadi?”


Vallerie sengaja mencium punggung lebar suaminya. “Pokoknya kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku kepanasan pagi-pagi.”


Ding…dong…


Terdengar suara bel berbunyi nyaring, spontan Elliot langsung mematikan kompor berlari keluar dari rumah. Vallerie hanya bisa memendam rasa penasarannya sambil menyentuh bibirnya sendiri.


Tidak sampai lima menit, Elliot kembali memasuki rumah sambil membawa sebuah paper bag berukuran besar. Elliot mengeluarkan sebuah kotak kue berukuran besar membuat mulut Vallerie menganga.


“Ini hadiah ulang tahunmu. Aku sengaja pesan kue ulang tahunmu khusus dari salah satu kenalanku memiliki toko kue. Semoga kamu suka.”


“Sudah pasti aku suka. Apalagi kamu pesan kue blackforest ada hiasan bunga mawar dan hati.” Pandangan Vallerie berbinar memandangi hiasan di kuenya ditambah ada sebuah tulisan tertulis “Happy Birthday, My Vallerie.”


“Sebelum tiup lilin, kamu harus menikmati sarapan buatanku dulu.”


Vallerie memanyunkan bibir sambil terus mengayunkan lengan tangan suaminya. “Aku mau tiup lilin dulu supaya bisa memotret semua masakan buatanmu dan kue ulang tahun bersamaan.”


Elliot menuruti keinginan istrinya. Menancapkan beberapa tangkai lilin, kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan girang, sengaja mengganti lirik lagu sedikit demi terkesan istimewa untuk istri tercinta.


“Selamat ulang tahun, Istriku. Ucapkan permohonanmu dulu baru tiup lilin.”


Sejenak memejamkan mata mengucapkan permohonan sederhana dalam hati, lalu membuka mata meniup lilin dengan cepat, langsung disoraki tepuk tangan meriah sekaligus kecupan manis di pipinya sekilas.


“Sekarang kamu boleh potret menu masakanku dan kue ulang tahun.” Elliot memberikan ponsel istrinya.


Tidak peduli makanan terasa dingin, Vallerie lebih memprioritaskan mengabadikan kenangan manis di hari ulang tahunnya. Memposisikan kue ulang tahun dikelilingi semua menu masakan suaminya, lalu melakukan swafoto bersama suaminya sambil memegangi kue.


Hanya berdurasi singkat, akhirnya Vallerie mencicipi masakan spesial buatan suaminya satu per satu. Pertama yang dicobanya adalah telur dadar gulung. Baru sekali cicip sudah langsung membuat dirinya tercengang hingga mulutnya menganga mengunyah lembutnya tekstur makanan ini dengan anggun.


“Aku sangat menyukai telur dadar gulung ini. Sebenarnya resep rahasianya apa sih? Baru kali ini kamu ingin mencoba masak untukku.” Vallerie mengayunkan sumpit digenggamnya sambil menggoyangkan kepala kanan kiri kegirangan.


Elliot menunduk malu menggarukkan kepala sejenak. “Sebenarnya aku sempat pelajari dari salah satu temanku. Tenang saja, temanku itu pria. Jadinya kamu jangan mengira aku bermain bersama wanita lain diam-diam.”


Reaksi Vallerie tertawa gemas sambil mencicipi sup asparagus buatan suaminya merupakan makanan favoritnya sejak dulu. “Aku tahu suamiku bukan tipe pria mata keranjang. Kamu selalu lebih mengutamakan aku dibandingkan wanita lain. Entah di dunia sekarang atau masa lalu, kamu selalu dikhianati wanita lain. Hanya aku yang paling kamu percayai dan aku selalu menemanimu ke mana pun kamu pergi.”


“Tidak seru deh menjahili istriku akan cemburu. Kamu terlalu cerdas, aku kesulitan menipumu.” Elliot mencubit pipi istrinya.


“Kalau kamu menipuku, maka terimalah hukuman dariku.” Vallerie menyentuh dagu suaminya dengan senyuman usil.


Tangan kanan Elliot mengambil sebuah kotak kecil terlihat mewah tampak dari luar yang disembunyikan di balik bantal sofa, kemudian memperlihatkan untuk istrinya sambil membuka kotak itu perlahan, isinya berupa gelang dihiasi berlian-berlian kecil mengelilingi ukiran dua hati kecil.


Lagi-lagi Vallerie dikejutkan hal tidak terduga. Apalagi sepanjang hidupnya baru pertama kali diberikan perhiasan padahal ia sama sekali tidak pernah meminta dibelikan. “Gelang ini indah sekali!”


“Sebenarnya aku ingin memberikan gelang ini saat ulang tahun pernikahan kita yang ke dua. Tapi, karena keinginanku tidak tercapai saat itu, aku ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahunmu. Semoga kamu suka gelang rancanganku.”


Perlahan Vallerie meraba gelang berlian ini lambat laun memandang dengan pandangan berbinar, spontan Elliot merebut gelang itu memasangkan di pergelangan tangan kiri Vallerie.


“Dua hati saling berdampingan erat menandakan Elliot dan Vallerie tetap saling mencintai meski dilanda berbagai musibah yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kita lagi.” Elliot mengelus ukiran dua hati itu.


Vallerie mengecup dua hati terukir di gelang dipakainya. “Terima kasih sudah memberikan hadiah indah ini. Pasti akan selalu kupakai gelang pemberianmu ke mana pun aku pergi.”


Sebuah buku catatan tebal juga disembunyikan di balik bantal sofa. Elliot mengambil buku itu berwarna cokelat tua bersampul kulit mahal, kemudian menyerahkan untuk istrinya.


Vallerie menerima buku catatan itu dengan tatapan bingung. “Ini apa?”


“Buku diary. Pandanganku terhadapmu selama dua bulan sebelum menikah.”


Vallerie teringat selama dua bulan menjalin hubungan menjelang pernikahan di dunia sekarang. Sikap suaminya sangat cuek dan bisa dikatakan setiap hari dirinya yang selalu menanyakan kabar suaminya, meski jarang bertemu empat mata. Namun, terkadang Elliot juga menanyakan kabar kalau suasana hatinya membaik menjelang hari pernikahan.


Perlahan membaca isi hati Elliot per tanggal sampai hari pernikahan. Bukan marah, justru tetesan air mata jatuh di selembar kertas, isi buku diary itu justru mengungkapkan bahwa sebenarnya Elliot mulai menaruh perasaan istimewa sampai suatu hari membelikan obat untuk Vallerie diam-diam saat Vallerie tidak enak badan.


Mulut Vallerie menganga menatap suaminya dengan tatapan iba, sambil menunjuk sebuah pernyataan penting mengenai isi hati sesungguhnya yang tidak terduga bagi Vallerie.


“Terima kasih sudah melamarku. Entah kenapa aku tidak tega bersikap cuek terus padamu saat kita menikah nanti. Kamu sangat manis setiap tersenyum. Kamu selalu berhasil membuatku terhibur di saat suasana hatiku memburuk.”


“Kamu … sungguh sudah menyukaiku sejak itu?” Jempol Vallerie lambat laun meraba kertas tebal ini.


Elliot mengangguk malu. “Maaf, saat itu aku masih bingung dengan isi hatiku. Terkadang aku bersikap baik di hadapanmu dan aku lebih sering bersikap ketus. Maka dari itu, aku terus menghindarimu daripada kamu sakit hati.”


“Lalu, saat aku sakit ….”


“Aku menitipkan obat pada ibumu. Kamu pasti tidak akan pulih kalau berhadapan dengan pria jahat seperti aku.”


Tangisan Vallerie semakin pecah. Membaca isi buku diary ini sebagian besar mengenai rasa bersyukur Elliot menerima pernikahan ini sebenarnya, Vallerie tidak bisa berkata-kata, tapi ia masih penasaran apakah isi buku diary itu sungguhan atau tidak. Kebanyakan selalu mengucapkan rasa bersyukur berkat kehadiran dan senyuman indah yang selalu ditampilkan Vallerie meski selalu kena bentak tapi masih bisa dipertahankan.


Elliot tersenyum hangat, memeluk tubuh istrinya dengan erat. “Akan aku ceritakan padamu. Meski aku cuek, tapi aku selalu mencemaskanmu. Kamu berhasil menerobos hatiku, sudah pasti aku perhatian padamu diam-diam meski di matamu, aku selalu kasar.”


Vallerie menggeleng pelan. “Kamu bisa ceritakan padaku lain kali. Dua bulan pasti sangat panjang ceritanya. Kamu bisa ceritakan pelan-pelan entah besok atau minggu depan di saat kita ada waktu luang.”


Sorot mata Elliot tertuju pada gelang yang dipakai istrinya dan buku diary miliknya. “Maaf, aku tidak bisa memberikan hadiah yang banyak untukmu.”


“Bagiku, ini sudah cukup banyak. Ada kamu sudah bersedia memberikan banyak kejutan untukku pagi-pagi begini, aku sangat bahagia.” Vallerie memeluk tubuh suaminya kegirangan.


“Aku ingin kencan denganmu sepanjang hari.” Elliot melepas pelukan, mengulurkan tangan kanan menampakkan tatapan penuh cinta.


“Aku mau!” Vallerie menggenggam tangan suaminya cepat.


Penampilan mereka disulap menjadi pakaian casual, Vallerie sengaja memakai jepitan dibeli suaminya saat di pusat perbelanjaan, membuat sang suami tertawa gemas mengamati penampilannya dari ujung kepala sampai kaki pasti ada kaitannya dengan benda pemberiannya.


“Tidak salah aku memilih jepitan itu untukmu. Kamu terlihat sempurna sekarang.” Elliot mengacungkan jempol kanan.


“Omong-omong, kamu ingin mengajakku kencan di taman bermain? Kamu menyuruhku berpakaian casual saja.”


Elliot sengaja tidak menjawab. Menggandeng tangan istrinya dengan girang keluar dari rumah mewah mereka.


Reaksi Vallerie tercengang seketika melihat tindakan dilakukan suaminya sungguh berubah drastis sejak hidup di dunia sekarang. Biasanya selalu naik mobil, kini mereka menaiki bus umum. Vallerie semakin penasaran apa yang merasuki suaminya sehingga ingin naik kendaraan umum tiba-tiba. Mereka menempati satu tempat duduk bersama dan saling berpegangan tangan.


“Sesekali aku ingin naik kendaraan umum bersamamu. Sebenarnya aku bosan setiap bepergian mengendarai mobilku tidak bisa bermanja denganmu puas. Kalau sekarang, aku dan kamu bisa saling bermanja dan mendengarkan lagu favorit kita.”


Vallerie mengernyitkan alis, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan sedikit kesal karena teringat sikap suaminya sempat selalu jual mahal setiap ada kaitannya dengan gaya hidup mewah. “Bukankah dulu kamu selalu memamerkan kekayaanmu? Naik sepeda saja tidak mau. Apakah sekarang kamu baru menyadarinya?”


“Bergaya hidup mewah terus tidak akan membuatku bahagia. Lagi pula, aku tidak perlu bersusah payah menghadapi kemacetan. Lebih baik aku naik bus umum supaya bisa bersantai bersamamu.” Elliot mengedipkan mata kanan sekilas sambil memakaikan headset miliknya di telinga kanan istrinya.


Elliot memainkan airpod miliknya memutar salah satu lagu romantis favorit mereka berjudul “Till Death Do Us Part - White Lion”. Membiarkan kepala istrinya bersandar di pundaknya manja dan memeluknya dengan penuh kasih sayang saling melempar senyuman bahagia.


“Entah kita dipisahkan beberapa kali oleh maut, aku tetap menggenggam tanganmu erat seperti sekarang.” Elliot mengecup pelipis Vallerie mendalam sambil menghayati lagu romantis itu sampai air matanya hampir menetes.


“Lagu ini cocok menggambarkan hubungan kita sejak dulu. Pantesan saja lagu ini selalu menjadi favorit kita.” Vallerie mencium pipi suaminya.


“Omong-omong, apakah sinar matahari mengganggumu?” Telapak tangan Elliot menghalangi cahaya matahari ingin menembus mengenai wajah istrinya.


“Sebenarnya kamu ingin mengajakku ke mana sih? Kalau mau pergi ke pusat perbelanjaan, sebaiknya pakai mobil pribadi saja karena aku yakin kamu akan berbelanja kebutuhan rumah.” Vallerie terus mengedipkan mata penuh penasaran.


Elliot menggeleng pelan. “Aku akan mengajakku ke tempat sangat indah.”


Tempat indah yang dimaksud Elliot adalah sebuah hotel berbintang lima merupakan salah satu hotel ternama di kota ini. Vallerie semakin penasaran kenapa suaminya mengajak ke hotel saat siang bolong apalagi di hari ulang tahun. Apa yang direncanakan suaminya terkesan penuh misteri bagi Vallerie?


Di lobby hotel sudah disambut beberapa petugas hotel dengan hormat. Elliot menolak dikawal para petugas hotel, karena tidak ingin kehadirannya menarik perhatian semua pengunjung hotel. Elliot menuntun Vallerie bukan menuju kamar hotel, entah kenapa menuju suatu ruangan terletak di lantai dasar menambah rasa penasaran Vallerie seperti apa kejutan lain yang akan diberikan suaminya.


“Sayang, sebenarnya kamu ingin melakukan apa sih?”


Langkah kaki mereka terhenti. Dua penjaga pintu membuka pintu ruangan ini dengan lebar, disambut meriah semua teman terdekat membuat Vallerie tercengang. Apalagi ruangan ini merupakan ruang tunggu pengantin biasanya untuk memakai gaun pengantin dan merias diri terlebih dahulu.


“Vallerie, kita akan menikah hari ini,” ungkap Elliot dengan tatapan mendalam menambah jantung Vallerie berdebar-debar.