Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 52: Dikejar Penguntit



Yang satu sedang di masa kesulitan, sedangkan sepasang suami istri ini melakukan dinner romantis di kediaman mereka sendiri. Berhubungan belakangan ini momen kencan mereka selalu diganggu, Elliot menetapkan mereka melakukan dinner romantis bernuansa sederhana di rumah.


Dinner romantis tidak berlangsung lama karena Elliot memasak variasi makanan lebih sedikit dari biasanya. Firasatnya mengatakan sepertinya mereka akan diganggu lagi tiba-tiba.


Sebagai gantinya, Vallerie dan Elliot melakukan rutinitas mencuci piring bersama, Elliot membiarkan kepala Vallerie bersandar manja di pundak lebarnya, kemudian mendaratkan kecupan manis di kelopak mata Vallerie sekilas.


“Hari ini kamu sengaja masak sedikit supaya aku tidak repot mencuci piring dan peralatan masak banyak?” Vallerie bertanya dengan nada manis.


“Sebenarnya bukan itu tujuanku. Justru aku lebih suka masak banyak variasi makanan supaya kamu cuci banyak piring,” Elliot membilas piring dipenuhi busa sambil menatap fokus pada istrinya, menampakkan senyuman usil.


“Ternyata kamu tega membiarkan aku kelelahan!” Bibir Vallerie memanyun sambil memainkan busa di punggung tangan suaminya dilapisi sarung tangan.


“Sayang, maksudku itu supaya kita bisa cuci piring seperti ini lebih lama. Kamu tidak mau bermanja denganku sambil cuci piring?” Elliot mengedipkan mata genit sambil menggambarkan sebuah hati kecil di punggung tangan sang istri dilapisi sarung tangan dipenuhi busa.


“Kamu ingin menggambar hati setiap cuci piring?” Vallerie tertawa anggun memandangi hasil gambar hati ciptaan suaminya, meski agak berantakan tapi menggemaskan baginya.


“Aku tidak pernah bosan menggambar untukmu. Karena gambar yang aku perlihatkan selama ini entah di notes kecil setiap aku selipkan di map atau kotak makanan, menunjukkan perasaanku sesungguhnya padamu.”


Vallerie dan Elliot saling melempar tawa bahagia. Seketika selesai mencuci piring terakhir, mereka melepas sarung tangan mereka kemudian berpelukan manja.


“Aku berharap tidak ada yang mengganggu kita lagi. Aku rindu bermain bersamamu.” Vallerie membenamkan kepala di dada suaminya.


“Aku juga rindu sampai rasanya ingin menggila karena sudah lama tidak bermain. Sehari tidak bermain saja rasanya membosankan.”


Jempol kanan Elliot mengusap bibir merah Vallerie masih terlihat menyegarkan. Perlahan memajukan bibirnya mendekati bibir di hadapannya, tangan kanannya sudah bersiap melingkar di kepala Vallerie.


Drrt…drrt…


Benar dugaan awal Elliot. Ada yang mengganggu mereka lagi dan kali ini darahnya mendidih karena mengganggu di saat tidak tepat. Dengan sigap Elliot menjauhkan wajahnya, membiarkan istrinya mengangkat panggilan telepon dari seseorang yang beraninya menghancurkan ciuman mereka hampir berhasil.


Firasat Vallerie sedikit buruk melihat nama orang yang menghubunginya adalah Whitney. Vallerie jadi teringat tugas yang ia berikan untuk Whitney adalah mengawasi pergerakan Carla. Jempol kanan bergerak lincah mengangkat panggilan telepon.


“Vallerie, firasatmu benar. Carla sedang dikejar seseorang!”


“Apa?” Sekilas Vallerie menatap suaminya dengan panik.


“Aku tidak tahu siapa yang mengejarnya sekarang. Yang pasti Carla sebentar lagi sampai di apartemennya. Aku kirimkan GPS untukmu juga.”


“Baiklah, kamu harus berhati-hati juga, Whitney!” Vallerie langsung mematikan panggilan telepon.


Elliot bergerak cepat mengambil kunci mobil sambil merapikan lengan kemeja yang disisingkannya. Bersama Vallerie berlari keluar dari rumah mewah menaiki mobil sedan terparkir di garasi.


Sedangkan Carla sudah sampai di basement apartemen. Memarkirkan mobilnya di dekat pintu masuk, kemudian berlari keluar dari mobil memasuki lift kebetulan terbuka lebar. Saat ingin menutup lift, tiba-tiba seseorang menahan pintu lift sampai membuatnya terkejut. Untungnya yang menahan pintu lift adalah Whitney.


Awalnya saraf Carla hampir terjepit, kini kembali tenang mengambil napas dalam lalu membuangnya pelan. “Whitney, sedang apa kamu ke sini?”


“Justru aku sangat mencemaskanmu!” Whitney langsung memeluk tubuh Carla erat.


Perlahan Carla melingkarkan lengan di punggung Whitney dengan ekspresi wajah bingung. “Aku mengira kamu sudah pulang atau kencan dengan Harry.”


“Harry lembur hari ini, maka dari itu, aku menunggumu dari tadi di kantor lalu mengikutimu sampai sini.”


Ting…


Saat pintu lift terbuka di lantai tujuan, Whitney langsung menarik tangan Carla menuju kediaman Carla yang letaknya tidak jauh dari lift. Whitney sengaja tidak mau memberitahukan terang-terangan mengenai seseorang misterius sedang mengejar Carla tadi, tapi berhasil dikalahkan Whitney tanpa perlu bertengkar fisik.


Di dalam kediaman Carla, Whitney dan Carla duduk bersantai di sofa ruang tamu. Sebenarnya Carla masih penasaran tujuan Whitney tiba-tiba mendatanginya di saat malam-malam begini tidak seperti biasa. Sedangkan Whitney terus mengamati jam dinding menunggu kedatangan Vallerie dan Elliot karena ia ingin semuanya berkumpul di sini baru menceritakan kejadian sesungguhnya.


Ding…dong…


Mendengar suara bel berbunyi nyaring, Carla terburu-buru berlari menuju pintu utama sambil melihat sosok tamu yang mendatanginya dari layar LCD kecil di sebelah pintu.


Vallerie dan Elliot memasuki kediaman Carla dengan panik. Apalagi tingkah Vallerie sangat berlebihan menyentuh tangan dan kepala Carla memeriksa kondisi fisik Carla.


“Carla, kamu terluka?”


Carla menggeleng memasang ekspresi wajah polos. “Aku tidak terluka sama sekali. Justru sekarang aku yang ingin bertanya pada kalian semua. Kenapa kalian tiba-tiba mengunjungiku malam-malam begini dan bagaimana kamu tahu alamat kediamanku, Vallerie?”


Vallerie mengatupkan bibir rapat, berjalan bergandengan tangan bersama suaminya menuju ruang tamu disambut Whitney juga sudah menunggu kedatangannya dari tadi.


Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu. Rasa penasaran Carla semakin membara melihat tingkah semua orang hari ini terlihat aneh tiba-tiba melindunginya. Yang lebih dicurigainya adalah Vallerie, sosok teman yang baru dikenalnya sudah bersikap berlebihan begini seolah-olah tahu kejadian masa depan.


“Aku tahu alamat kediamanmu dari Whitney. Kata Whitney, kamu dikejar seseorang sebenarnya. Maka dari itu, kami semua ke sini untuk melindungimu.” Akhirnya Vallerie menjelaskannya sambil menatap Whitney.


Carla tersentak, reaksi bola matanya membulat. “Bagaimana kalian bisa tahu aku sedang dikejar seseorang?”


“Sebaiknya katakan sejujurnya, Carla! Luka yang membekas di leher dan pergelangan tanganmu itu bukan luka biasa, ‘kan? Kamu disiksa seseorang.” Kali ini Vallerie akan membuat Carla membuka mulut.


Carla memalingkan pandangan sambil menggarukkan leher. “Soal itu—”


“Yang mengejarmu tadi ada kaitannya dengan luka yang membekas di tubuhmu. Kalau seandainya kami tidak menolongmu tadi, mungkin nyawamu akan melayang!”


“Untungnya aku berhasil menyetir kebut dan menghalangi mobil yang mengejarmu. Akhirnya dia menyerah juga. Seharusnya kamera dasbor mobilku merekam kejadian tadi.” Whitney mengeluarkan sisi cerdasnya mengibaskan rambutnya diikat model ponytail.


“Bertrand adalah pacarmu, ‘kan?” Vallerie langsung berbicara pada intinya sampai membuat Carla semakin terkejut.


“Itu—”


“Tadi siang saat kita bertemu dengannya di restoran, dia berpura-pura menganggapmu sebagai teman terdekatnya. Lalu, saat hari libur kemarin, kamu beli hadiah untuk dia. Apakah benar?” Sekarang Vallerie bertingkah seperti detektif menginterogasi saksi mata, dilihat memakai cara ini sepertinya berhasil untuk Carla.


Akhirnya Carla tidak bisa berbuat apa-apa selain mengaku semuanya pada Vallerie. Lagi pula, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi karena kejadian tadi siang membuatnya marah besar sampai sekarang. “Memang benar Bertrand adalah pacarku selama ini. Lalu, Bertrand yang menyiksaku juga sampai ada luka memar.”


“APA?!” Reaksi semua orang terkejut sampai membuat gendang telinga Carla hampir pecah.


“Kejadian itu kapan terjadi? Kenapa kamu tidak memberitahukan semuanya padaku?” Whitney mengomel dengan tatapan melotot menyentuh kedua lengan Carla.


“Karena … aku sedikit trauma sebenarnya. Aku mengira Bertrand sungguh menyayangiku, tapi ternyata ….” Mata Carla mulai berkaca-kaca, tubuhnya langsung didekap Whitney.


“Dia sebenarnya pria berengsek hanya mempermainkanmu saja! Aku sebenarnya tahu saat tadi siang kamu dianggap sebagai teman saja. Memang aku tidak menyesal menolaknya sewaktu dulu!” Vallerie melampiaskan kemarahannya sampai napas sedikit tersengal-sengal, langsung ditenangkan suaminya dengan sentuhan tangan hangat mendarat di punggung tangan.


“Bertrand yang menyuruhku jangan memberitahukan pada siapa pun bahwa sesungguhnya kami berpacaran. Maka dari itu, maafkan aku karena merahasiakan hal penting ini pada kalian semua.” Carla menundukkan kepala sembilan puluh derajat terhadap semua temannya.


Sebenarnya Vallerie tidak terlalu memedulikan hal itu. Ia lebih mementingkan alasan Bertrand menyiksa Carla sampai terluka parah. Inilah yang membuat Vallerie sangat kecewa menjadikan Bertrand sebagai temannya sejak dulu.


“Maaf aku tidak bermaksud membuatmu mengingat kejadian pahit. Kalau boleh tahu, kenapa Bertrand menyiksamu? Padahal kamu menganggapnya selama ini selalu disayangi dia.”


Carla menyeka air matanya dengan lembut, dengan tatapan sendu menatap Vallerie sambil menggenggam tangan kanan Vallerie. “Karena aku tidak bisa menghadiri pesta ulang tahun dia. Tas yang kamu beli waktu itu dia suka. Tapi karena aku memberikan hadiah lebih awal dengan alasan hari itu aku ada pekerjaan lapangan, dia langsung marah.”


Carla terdiam sejenak. Sebenarnya ia tidak sanggup melanjutkan perkataannya membayangkan dirinya disiksa saat itu sampai masih menghantui pikirannya. Untungnya tidak membuatnya mengalami penyakit mental sampai membuatnya depresi. “Bertrand menyiksaku hanya karena masalah itu. Padahal aku sudah menjelaskan alasanku padanya dan dia tetap tidak mau menerima. Dia menganggapku mencari alasan karena bosan berpacaran dengan dia.”


Vallerie tertawa sinis sambil mengibaskan blouse dipakainya. Sekarang ia sudah tahu karakter busuk Bertrand seperti apa sehingga semakin bersemangat menindas Bertrand, karena sudah berani menyiksa wanita baik seperti Carla. “Lihat saja nanti! Akan kubalas perbuatannya saat hari ulang tahunnya nanti!”


“Tapi Vallerie, sangat bahaya kalau kamu datang sendirian,” sanggah Elliot menatap istrinya penuh cemas.


Vallerie menyilangkan kaki dan melipat kedua tangan di dada. “Tidak apa-apa. Aku bisa menghadapinya sendirian. Aku sudah tidak tahan dengan sikapnya lagi!”


Whitney menanggapi perkataan Vallerie selama ini sambil mengangguk-angguk. “Jadi ini alasan kamu meminta Harry menggali informasi mengenai Bertrand.”


“Aku sudah tahu kejadian ini akan terjadi. Pokoknya Carla mulai sekarang tinggal bersama Whitney saja, supaya keselamatanmu lebih terjamin.” Vallerie menatap Carla dan Whitney menampakkan senyuman cerdas.