Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 36: Mudah Tertipu



Asisten Erick pergi ke ruang pengendalian untuk memeriksa rekaman CCTV di ruangan Erick selama beberapa hari ini. Sedangkan Erick masih terus berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya sambil terus menggigit kuku. Memikirkan bagaimana bisa semua dokumen yang disimpannya dan beberapa dokumen cadangan menghilang semua? Anehnya dokumen itu saja yang menghilang, sedangkan dokumen penting lainnya masih utuh di komputer.


Apakah ini ulah virus komputer? Sepertinya mustahil. Erick juga sudah memasang antivirus di komputer dan laptop, bahkan antivirus terbaik supaya komputer tetap aman. Lalu, kenapa dokumen itu bisa menghilang sendiri? Mustahil ia menghapusnya tanpa sadar.


Rasanya semakin ingin menggila jika memikirkan penyebab masalah ini terus. Suara erangan dikeluarkan dari mulutnya membuat sang asisten terkejut saat memasuki ruangan ini.


Erick memasang tatapan tajam. “Jadinya, bagaimana hasilnya? Apakah ada seseorang yang memasuki ruanganku saat aku sedang di luar kantor?”


“Tidak ada sih. Yang masuk ke ruangan ini hanya kamu. Kecuali jika ada keperluan lain baru tim penjualan dan aku masuk.”


Dahi Erick semakin berkerut. Menghentakkan kaki menuju kaca di samping pintu, mengintip setiap orang melewati ruangannya satu per satu. “Kalau tidak ada orang yang sengaja menghapus dokumennya, lalu bagaimana bisa dokumen itu menghilang semua?”


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulut. Erick kembali menempati kursi kemudian menelusuri komputer mencari draft dokumen yang sudah dibuatnya. “Satu-satunya yang aku punya adalah draft dokumennya. Semoga adikku tidak akan marah karena baru pertama kali aku bersikap ceroboh begini.”


Sedangkan Elliot sedang menunggu kedatangan Erick di dalam ruangan sambil terus memutar kursinya dengan santai. Perkiraannya sekarang Erick pasti tidak akan bisa berbuat apa pun jika dihadapi masalah sebesar ini. Karena Erick tidak pernah berbuat kesalahan, semua yang dilakukannya selama ini selalu sempurna. Erick selama ini mendidik pegawainya supaya keterampilan pegawainya cukup memuaskan.


Jika dipikir-pikir saat di kehidupan sebelumnya, Erick juga tidak pernah melakukan kesalahan apa pun selama menjabat sebagai direktur perancang busana. Maka dari itu, Elliot sengaja berbalas dendam menggunakan cara halus supaya Erick bisa merasakan penderitaan seiring waktu berjalan. Meski baru pemanasan, Elliot penasaran apakah trik sederhana ini berhasil membuat kakaknya menggila.


Erick memasuki ruangan ini dengan penampilan kusut. Disambut wajah polos sang adik beranjak dari kursi, kemudian melangkah mendekatinya dengan santai. Erick tidak takut dimarahi sebenarnya, hanya saja malu berhadapan dengan adiknya karena hal kecil begini bisa bertindak ceroboh, membuktikan ia tidak pantas menempati posisi direktur suatu hari nanti.


Elliot memasang wajah polos mengulurkan tangan kanan. “Dokumennya mana? Kenapa kakak tidak kirim melalui email?”


“Soal itu … dokumennya menghilang.” Erick sedikit memalingkan mata.


“Apa?” Padahal dalam hati, Elliot terus bersorak girang karena misi rahasianya berhasil.


“Maaf, aku tidak bermaksud sengaja menghilangkannya. Tapi saat aku cari dokumennya di komputer dan laptopku, semuanya menghilang. Padahal aku sudah sengaja simpan di penyimpanan cadangan.”


Dalam sekejap darah Elliot sedikit mendidih. Meski sebenarnya ini hanya sandiwara, tapi ia tetap harus bersikap seolah-olah memang ia sangat marah karena kakaknya menghilangkan sebuah dokumen penting untuk referensi ke depan.


“Kakak ini gimana sih?! Jadinya, aku kan tidak tahu progress ke depannya gimana saat membuat proyek!”


“Maafkan aku.” Tangannya semakin gemetar tapi Erick masih berusaha mengendalikan rasa gugupnya daripada ditertawakan adiknya.


“Lalu, aku harus melihat referensi mana lagi? Kakak yakin tidak ada dokumennya sama sekali?”


“Sebenarnya aku hanya memiliki draft saja. Maaf, aku tidak bisa memberikan dokumen lengkap.” Erick menyerahkan sebuah map bening berisi kumpulan dokumen dipersiapkannya sementara.


Elliot merebut map dipegang Erick dengan tatapan kejam. Melihat dokumen satu per satu menampakkan senyuman sinis. “Untungnya kakak punya draftnya, tapi kakak sangat ceroboh tidak menyimpan dokumen sudah sempurna itu dengan baik. Padahal dokumen itu sangat penting, seharusnya kakak tidak menghilangkannya.”


“Jangan melaporkan masalah ini pada ayah! Ayah pasti akan menghajarku habis-habisan kalau sampai tahu aku bertindak gegabah begini!” Sebenarnya dalam hati dan pikiran Erick semakin ketakutan membayangkan harus berhadapan dengan ayahnya karena masalah kecil ini.


Elliot memutar bola mata bermalasan, menaruh map itu di meja kemudian sengaja menggerakkan tangannya menyeka debu melekat di lengan jas mahal milik Erick. “Bukankah lebih cenderung kakak cemas tidak akan mendapatkan posisi yang sangat kakak inginkan? Kalau kakak berbuat ceroboh begini, ayah pasti sangat kecewa. Lalu, kakak semakin menunda menikahi Rachel. Rachel pasti sangat kecewa pada kakak karena kakak seperti sedang mempermainkannya.”


Tangan kanan Erick terkepal kuat. Setiap mendengar sindiran dari adiknya, rasanya ingin menonjok wajah adiknya habis-habisan. Terutama membawa nama wanita yang paling dicintainya selama ini. “Beraninya kamu! Awas saja kalau sampai ayah sungguh memarahiku, tidak ada pengampunan dariku!”


“Lihat saja! Selama ini kakak selalu sombong menganggap pekerjaan kakak selalu sempurna. Ini baru hal kecil tapi kakak sudah membuat masalah saja! Bagaimana kalau seandainya kakak menangani proyek yang kubuat bersama Vallerie? Mungkin kakak akan merusak citra nama baik perusahaan.”


Awalnya Erick ingin menonjok Elliot, tapi ia mengurungkan niat karena jika dilihat letak kamera CCTV sangat pas untuk merekam aksi brutalnya. Terpaksa ia memendam amarah dalam dirinya sampai merasa gerah sambil melonggarkan lilitan dasi.


Elliot tertawa puas saat Erick sudah tidak menampakkan batang hidung di sini. Ternyata ide konyolnya sungguh berhasil membuat Erick mengalami stress berat ditambah perkataan kejam. Namun, baginya ini masih belum cukup menghukum Erick. Ada trik lain yang masih disimpan saat tiba waktu yang tepat menjatuhkan Erick.


“Kakak … Kakak … Sebenarnya aku yang mengambil dokumen hardcopy dari ruangan kakak. Lalu, aku sengaja menghapus softcopy di komputer kakak. Jordan yang memanipulasi rekaman CCTV ruangan kakak supaya tidak tertangkap basah. Ternyata meski kakak sangat licik, tapi kakak mudah dibodohi juga.”


Erick memasuki ruangan menutup pintu dengan kasar. Tiba-tiba ia merasakan getaran ponsel dalam saku jas. Sejenak mengeluarkan ponselnya membaca sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal membuat dahinya menampakkan kerutan.


“Bagaimana rasanya menghadapi masalah kecil ini? Ini baru permulaan, kamu akan dihadapi masalah lebih besar lagi.”


Erick membelalakan mata. Dengan panik ia langsung membuat panggilan telepon pada nomor tidak dikenal, tapi nomor itu sudah tidak terdaftar.


“Ada orang sengaja ingin mencelakakan aku?”


Memasuki jam makan siang. Elliot dan Vallerie melakukan makan siang romantis di restoran langganan mereka, menceritakan sebuah misi sederhana yang mereka lakukan selama di kantor berhasil. Apalagi Elliot terus tertawa puas setiap membayangkan raut wajah Erick penuh kegelisahan padahal baru dihadapi masalah kecil.


Vallerie mendengar cerita itu tertawa tanpa henti. Ia mengambil sesendok mie kemudian memasukkan ke dalam mulut Elliot. “Tidak kusangka ide konyolmu sungguh berhasil, Sayang.”


“Aku lebih tidak menyangka melihat Erick ternyata mudah tertipu. Memang rencanaku ini dilakukan dengan mulus seolah-olah memang kesalahan Erick secara murni. Tapi, dia tidak mencurigai siapa pun dan selalu menyalahkan dirinya.” Giliran Elliot memasukkan sesendok mie ke dalam mulut Vallerie.


“Tadi sebelum jam makan siang, aku sudah mengirimkan surat ancaman untuknya. Aku sebenarnya penasaran ekspresi wajahnya seperti apa saat membaca pesan singkat dariku.” Senyuman licik terpampang jelas pada wajah Vallerie membuat Elliot semakin mendukung sikap licik Vallerie sangat membanggakan baginya.


“Omong-omong, kamu sudah buang nomor itu, ‘kan? Aku takut justru kamu yang terkena masalah demi membalas dendam pada Erick.”


“Tenang saja. Kamu lupa saat aku menghadapi Sofia seperti apa? Aku tidak mungkin bertindak gegabah saat ingin berbalas dendam.” Vallerie sengaja mengibaskan rambut panjang dengan gaya angkuh sambil menikmati mie kuah melahap.


Dahi Elliot mengernyit dan melipat kedua tangan di dada. “Sayang, kenapa kamu menikmati mie sendiri sih? Kamu tidak ingin disuapi aku?”


“Maaf, aku sangat lapar dari tadi. Jadinya aku lupa kalau kamu ingin menyuapiku.” Vallerie menunduk malu sambil menggeserkan piring ke arah Elliot.


Elliot mencubit pipi istrinya dengan kedua tangan. “Dasar rakus!”


“Aku kan juga butuh energi yang banyak supaya misi kita selalu sukses.”


“Tapi, bukan berarti kamu melupakan aku juga.” Bibir Elliot memanyun sambil terus memainkan sumpit berputar-putar.


Vallerie tersenyum manis, mengelus pipi suaminya lambat laun. “Aku tidak pernah melupakan suami kesayanganku. Kalau aku melupakanmu, mungkin aku tidak akan menjalankan misi rahasia ini bersamamu.”


Senyuman girang terukir pada wajah Elliot, tangan kanan bergerak cepat memasukkan sesendok mie ke dalam mulut Vallerie sambil menyingkirkan anak rambut hampir menusuk mata Vallerie. “Gombalanmu terlalu manis tadi. Aku jadi semakin bersemangat ingin berbuat jahil pada Erick.”


“Ada bagusnya keahlianmu dalam bidang peretasan meski Jordan lebih mahir. Biasanya pria yang cerdas dalam peretasan itu sangat tampan.”


Api cemburu membara dalam dirinya. Tatapan Elliot berubah drastis menjadi tajam. “Jadinya, Jordan lebih tampan daripada aku? Haruskah aku memintanya mengajariku sampai semahir dia?”


Vallerie tertawa usil sambil memasukkan sesendok mie berporsi besar ke dalam mulut Elliot. “Tukang cemburu! Aku belum selesai bicara. Menurutku, seorang direktur galak dan cerdas itu jauh lebih tampan lagi.”


Elliot tertawa kecil, mencium pipi Vallerie. “Baiklah, aku akan lebih galak lagi supaya kamu terpesona padaku.”


Vallerie menyentuh dagu suaminya. “Sebenarnya, aku jatuh cinta pada kecerdasanmu saat menyusun strategi bisnis. Apalagi setiap rapat meski kamu sangat tegas, tapi kamu menawan.”


Di tengah perbincangan mereka, seorang wanita sangat dikenal Vallerie berpenampilan sederhana sedang mengambil pesanan makanan di kasir. Wanita muda itu berhasil memancing perhatian Vallerie sampai Vallerie tidak bisa berkata-kata.