Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 43: Penyesalan Malam Pertama



Sungguh tidak terduga situasi sekarang. Setelah sekian lama saling menebak entah mata mereka salah melihat karena kelelahan bekerja sehingga terlalu banyak halusinasi, sosok wanita yang sangat diincar mereka terlihat jelas tepat di depan mata dengan penampilan casual berkelas atas.


Bola mata Vallerie dan Elliot terbelalak. Wujud wanita yang selama ini mereka anggap malaikat maut sekarang terlihat nyata. Dulu malaikat maut itu berwajah datar saat menyelamatkan mereka, sekarang terlihat tersenyum ramah menatap mereka. Entah teori konspirasi apa lagi yang menjadi penambah satu beban hidup mereka.


Hampir saja Vallerie batuk tersedak akibat dikejutkan sambil minum jus, tapi di benaknya sudah ada banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan langsung pada wanita misterius ini. Namun, jika dilihat, ekspresi wajah wanita ini seolah-olah seperti tidak mengenal mereka sebelumnya.


“Ini temanku yang aku bilang sebelumnya. Kalian bisa berkenalan dulu.” Whitney memberikan piring kosong untuk wanita ini.


Wanita ini menunduk sopan pada Vallerie dan Elliot. “Perkenalkan namaku Carla. Aku teman dekat Whitney, senang berkenalan dengan kalian.”


Awalnya saat ditanyakan identitas, wanita ini tidak ingin memberitahukan identitasnya, sekarang bersikap seperti orang normal. Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita ini? Apakah wanita ini juga hidup kembali sama seperti Elliot dan Vallerie? Tapi, bagaimana bisa seorang malaikat maut dihidupkan kembali? Itulah isi kepala Elliot dipenuhi semua pertanyaan itu.


“Namaku Elliot. Wanita di sebelahku adalah istriku. Senang berkenalan denganmu.” Elliot berjabat tangan dengan Carla. Aneh sekali, tangan Carla terasa hangat seperti suhu tubuh manusia dan Elliot bisa menyentuh wanita ini selayaknya manusia normal.


“Aku Vallerie. Senang berkenalan denganmu juga.” Sama seperti halnya dengan Elliot. Vallerie juga bisa merasakan betapa hangatnya tangan wanita ini, kehangatan tubuh wanita ini memicu semakin banyak pertanyaan di pikirannya.


“Karena semuanya sudah datang. Kalian bisa menikmati makanan kalian sepuasnya!” Whitney langsung mengambil beberapa potong daging panggang menaruh di piring.


Bibir Elliot sudah tidak bisa menahan rasa penasaran. Sejenak menaruh sumpit dan garpu di piring. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Carla?”


Alis Carla sedikit terangkat. “Maksudnya?”


“Kamu sungguh tidak pernah melihatku sama sekali?”


Carla menggeleng pelan dengan wajah polos. “Tidak. Justru ini pertama kali kita bertemu. Memangnya kenapa kamu beranggapan kita pernah bertemu sebelumnya?”


Whitney semakin bingung apa yang dibicarakan kedua temannya terasa canggung. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang telah terjadi, yang pasti percakapan antar teman justru membuat makan malam hari ini terkesan bukan untuk merayakan keberhasilannya, tapi lebih cenderung pada topik lain mengenai Carla.


“Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang aku terlewatkan?” Whitney memasang raut wajah curiga.


Tangan kiri Vallerie menyentuh punggung tangan kanan Elliot, bermaksud mengisyaratkan jangan bertindak gegabah dulu persoalan masalah ini. Karena Vallerie mencurigai ada musibah besar menimpa Carla di masa depan sehingga bisa membuat Carla menjadi malaikat maut dua tahun kemudian. Daripada Harry dan Whitney akan semakin curiga jika percakapan aneh ini terus berlanjut.


“Suamiku memang ada benarnya. Sebenarnya kami pernah melihat Carla di festival cokelat. Hanya saja Carla tidak melihat kami waktu itu jadinya wajar Carla tidak mengenal wajah kami sama sekali.” Untung Vallerie berpikir cepat memikirkan alasan yang tepat supaya tidak dicurigai balik, berkat mengelus punggung tangan suaminya di bawah meja membawakan sebuah ide.


“Begitu rupanya. Aku mengira Elliot sudah mengenal Carla duluan daripada mengenal Vallerie.” Whitney tertawa terkekeh.


Tatapan Elliot langsung memelototi Whitney. “Di mataku, hanya Vallerie adalah seorang wanita. Kamu jangan berprasangka buruk dulu deh!”


Vallerie hampir keceplosan tertawa lepas. Mulutnya berusaha menahan tawa, kepalanya bersandar manja pada lengan suaminya menampakkan senyuman anggun. “Kamu terlalu posesif. Aku suka sikapmu selalu posesif.”


“Sesi kenalan sudah dulu, ya. Aku jadi merasa tidak nyaman kalau kalian tidak membahas persoalan keberhasilanku!” Whitney memukuli sendok berkali-kali.


“Omong-omong Carla, bolehkah aku meminta kartu namamu? Karena kita sudah berkenalan tadi. Aku ingin menganggapmu sebagai temanku juga.” Vallerie sengaja memakai trik ini supaya ia bisa melihat nama lengkap Carla.


“Tentu saja boleh. Kamu temannya Whitney, sudah pasti kamu temanku juga.” Tidak hanya memberikan kartu nama untuk Vallerie saja, Carla juga memberikannya untuk Elliot.


Saat Vallerie menatap kartu nama Carla, entah kenapa jika dilihat terus nama lengkap Carla, ia pernah melihatnya di suatu tempat sewaktu dulu.


Di masa lalu, Carla bukan merupakan teman Whitney. Sedangkan sekarang Whitney berteman dengan Carla, sesuatu apa lagi yang terlewatkan Vallerie sampai rasanya ingin menggarukkan kepala? Namun, ia tidak ingin fokus pada masalah ini dulu. Karena hari ini hari libur, Vallerie ingin fokus bersenang-senang dengan suaminya saja, tidak mau memikirkan apa pun dulu setelah merencanakan pembalasan dendam pada Erick membuat kepalanya terasa lelah berpikir.


Akhirnya Vallerie dan Elliot terbebas juga dari Whitney. Di kediaman mereka, Vallerie langsung mengambil sebuah vas bunga berukuran besar menaruh semua tangkai bunga mawar di dalam vas. Tidak lupa juga pita di buket bunga diikat di vas sebagai hiasan.


Tidak perlu membersihkan diri terlalu lama dan tidak keramas karena hari sudah larut malam, akhirnya Vallerie bisa kembali bermanja dengan suaminya di ranjang sambil membuka amplop berisi kartu ucapan. Belum membaca isi ucapan, Vallerie tertawa gemas sambil mengamati wajah suaminya menampakkan senyuman manja seolah-olah memberikan kode keras mendesak membaca ungkapan darinya secepatnya.


“Kamu tidak baca?” Tangannya sudah gatal ingin membuka kartu ucapannya.


“Wajahmu terlalu manis sudah mengalihkan perhatianku.” Vallerie menyentuh pipi Elliot dengan kedua telapak tangan.


“Maukah aku membacakan untukmu?” Tangan kiri Elliot meraih kartu undangan dipegang Vallerie, tapi kartu itu langsung dijauhi.


“Tidak perlu. Biar aku saja yang baca sendiri. Aku hanya membutuhkan sandaranmu.”


Seketika Vallerie membuka kartu ucapan ini sudah disambut tulisan tangan suaminya sangat indah berisi ucapan panjang lebar hampir mengisi penuh kartu ini. Saat membacanya perlahan dalam hati, tetesan air mata tiba-tiba membasahi kelopak mata lambat laun.


“Vallerie yang paling kusayangi entah di masa lalu maupun sekarang, maaf selama kamu hidup di masa sekarang, aku masih banyak kekurangan di matamu. Aku selalu membentakmu, aku selalu bersikap cuek, terkadang aku memperlakukanmu kasar memakai fisik. Semua yang kulakukan saat itu, aku ingin menebus semua dosa yang telah kuperbuat supaya kamu melupakan semua momen pahit itu. Aku sendiri memang egois. Dulu aku ingin menikahimu karena aku kesepian, tapi kamu masih menerimaku apa adanya meski banyak sekali kekurangan dalam diriku. Sedangkan sekarang kekurangan yang kumiliki adalah kurangnya kasih sayang yang kuberikan untukmu. Maka dari itu, kalau aku bersikap keterlaluan lagi, kamu bisa memarahiku sama seperti halnya sewaktu dulu aku memarahimu. Sejak bertemu denganmu, aku bisa merasakan masa depanku sangat cerah berkat kehadiranmu. Aku sangat menyayangimu, Vallerie. Dulu kita menikah selama dua tahun tidak memiliki anak, bagaimana kalau di masa sekarang, kita bisa memiliki anak jika melakukannya sekarang? Maaf soal malam pertama di hari pernikahan kita tidak ada. Memikirkan soal itu, aku merasa dosaku bertambah berkali-kali lipat dan pantas dihukum.”


Sudah selesai baca ucapan itu panjang lebar. Elliot mendaratkan kecupan manis di pelipis istrinya berdurasi lama menyalurkan kasih sayang sangat besar sebagai pengganti telah melakukan banyak dosa sewaktu dulu.


Balasan dari Vallerie senyuman bahagia yang ditampilkannya sekaligus sentuhan tangan penuh cinta mendarat di pipi suaminya. “Aku mau memiliki anak bersamamu, Elliot. Sejarah kehidupan kita berubah sejak awal, pasti kita bisa memiliki anak juga di masa sekarang. Aku sudah memaafkanmu mengenai malam pernikahan kita sangat pahit. Kamu bisa memperbaiki kesalahanmu sekarang.”


“Vallerie … mengingat perkataanku malam itu, aku kalau jadi kamu, pasti aku akan stress berat. Kenapa kamu masih mudah memaafkan pria bodoh dan payah seperti aku?” Mata Elliot mulai sembab.


Vallerie menggeleng cepat. “Siapa yang berani bilang kamu pria bodoh dan payah? Meski kamu berkata menyakitkan saat itu, tapi aku masih memaafkanmu. Aku tidak tega membentak pria yang selalu menyayangiku selama ini.”


Deg..


Hati Elliot tersentuh dalam sekejap sampai tubuhnya mematung. Mendengar ungkapan isi hati istrinya membuatnya tercengang, ia semakin bersemangat ingin melakukan aktivitas olahraga sepanjang malam bersama istrinya. “Aku tidak bisa tidur berkat ucapanmu tadi.”


“Aku lebih suka kamu tidak bisa tidur karena gombalanku daripada bersedih terus. Sekarang kamu memiliki aku, kalau kamu tidak bisa tidur, aku bisa menemanimu seperti berbincang santai atau bermain sampai kamu ingin tidur.”


Elliot menelan salivanya semakin gugup pertama kali ingin mengajak melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama hidup di dunia ini. “Aku ingin mengganggumu sepanjang malam.”


Pakaian Vallerie sekarang memperlihatkan sudah siap ingin melakukannya. Menggunakan gaun tidur bermodel satin, sengaja tidak diikat terlalu kuat sehingga sedikit terlihat lingerie yang dipakai Vallerie berwarna cream sekilas.


Vallerie mulai bertingkah nakal melepas pelukan sambil menaruh kartu ucapan itu di meja sebelahnya. Dengan gaya centil memposisikan tubuhnya terbaring terlentang di ranjang sambil meraba pakaian tidur suaminya juga bermodelan sama, apalagi dada bidang terlihat jelas di depan mata sampai membuatnya tidak sabar ingin melakukannya.


Elliot mulai meraba lekukan leher Vallerie lambat laun menggunakan bibirnya sehingga membuat Vallerie tertawa geli memeluk pinggang suaminya erat.


“Kebiasaan dari dulu selalu mengincar leherku.” Vallerie berbicara dengan nada sexy, melingkarkan lengannya erat pada leher Elliot.


“Itu baru pemanasan. Sekarang, aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku sesungguhnya. Milikku selamanya.”


Sekarang sepasang bibir saling bertautan menggerakkan bibir mereka penuh agresif sambil saling membantu melepas ikatan pita pada masing-masing pakaian tidur mereka sehingga merosot ke ranjang. Merasa tidak nyaman dengan kehadiran pakaian tidur, dengan santai membuang ke lantai sampai berserakan ditambah bantal juga ikut diusir dari area panggung.


Sejenak Elliot memberikan jeda, memberi kesempatan untuk mereka mengambil napas sebelum melakukan permainan panas lebih dalam. Pemandangan indah dan sexy di hadapannya memperlihatkan sang istri hanya berpenampilan memakai lingerie, tangan jahilnya mulai usil ingin melepas lingerie yang dipakai Vallerie sambil mengusap dada Vallerie dengan lembut. Sedangkan mata Vallerie sampai tidak berkedip dan semakin menggebu-gebu mengamati tubuh suaminya sangat kekar dan sexy membuatnya ingin melanjutkannya lagi.


Elliot mengelus kening istrinya mulai berkeringat. “Aku sungguh menyesal tidak melakukannya di malam pertama kita.”


“Kalau kamu menyesal, aku mengizinkan kamu menggangguku malam ini. Aku kesulitan tidur.”


Sudah merasa lega mengambil napas, mereka saling berciuman panas lagi dan kali ini melakukannya sampai terdengar suara ******* yang begitu indah dari luar kamar. Pada akhirnya malam pertama berhasil dilakukan setelah menunda cukup lama sejak mereka menikah di masa sekarang.