Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 61: Sandiwara



Mulai melanjutkan aksi pembalasan dendam secara halus. Kali ini Elliot dan Vallerie mengundang Erick dan Rachel mengunjungi rumah mewah mereka untuk mendiskusikan persoalan rencana yang disusunnya beserta rekaman perbincangan Bertrand dan Carla. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin diceritakannya pada kakak iparnya, tapi bingung ingin memulainya dari mana karena sudah pasti Erick akan marah besar kalau mendengar kepribadian busuk Bertrand sepenuhnya.


Pertama, Vallerie memutar rekaman suara untuk Erick dan Rachel. Baru mendengar satu kalimat kasar sudah membuat mata Erick memerah dan mengepalkan kedua tangan kuat. Sudah pasti ia mengamuk mengingat skandal aneh dirilis kemarin masih membuatnya marah besar, jika ada kaitannya dengan tunangannya.


“Sudah kuduga sejak awal memang dia berengsek! Untung saja aku memperingatkan kalian lebih awal!”


“Sebenarnya tidak hanya ini juga. Masih banyak kejahatan yang dilakukan Bertrand selama ini. Kamu pernah mengungkit persoalan Bertrand pernah memerintahkan seseorang menyewa beberapa wanita untuk melayani pria di kamar hotel. Aku punya buktinya, meski tidak terlalu kuat.”


Vallerie memperlihatkan laporan dari teman Harry mengenai foto-foto Bertrand sedang bermain golf bersama para anak politikus. “Selama ini Bertrand bergaul dengan anak politikus, lalu membantu mencarikan para wanita lajang melayani para pria itu.”


Mengamati bukti yang didapatkan Vallerie, tatapan Erick melotot, kali ini memukuli meja kasar. “Tidak akan bisa kumaafkan! Seharusnya sekarang kita melaporkan perbuatannya pada polisi!”


Sekarang giliran Elliot menampakkan senyuman santai menatap Erick. “Kakak, bukti yang kita dapatkan masih belum cukup. Justru karena itu, kami ingin meminta bantuan kakak dan Rachel. Karena kakak paling ahli dalam hal melakukan bidang ini.”


Erick menatap tajam melipat kedua tangan di dada. “Memangnya kamu mau menyuruh kami melakukan apa? Istriku sedang hamil! Jangan melakukan aktivitas terlalu berat deh!”


Lagi-lagi Rachel menampakkan gejala morning sickness sampai bibirnya memucat. Telapak tangannya terus membungkam mulut rapat, Vallerie sedikit ragu Rachel bisa membantunya dilihat kondisi tubuh Rachel terlihat tidak stabil.


“Omong-omong, kamu baik-baik saja?” Vallerie menggenggam tangan Rachel sedikit gemetar.


Rachel menarik napas panjang, membuangnya perlahan. “Sudah biasa aku mengalami mual begini. Ini hanya setiap pagi, biasanya siang sudah normal. Nanti saat kamu hamil juga akan seperti aku.”


Bicara soal hamil, Vallerie masih menginginkan mengandung anak secepatnya. Karena ia sudah beberapa kali melakukannya bersama suaminya, mustahil di kehidupan sekarang mereka tidak memiliki anak lagi.


“Kalau kamu merasa tidak enak badan, jangan memaksakan dirimu. Apalagi sebenarnya aku ragu nanti bayimu kena imbasnya karena membantuku.” Vallerie mengelus punggung Rachel lambat laun.


Rachel menggeleng. “Tidak apa-apa. Sebagai pengganti hari ini seharusnya diadakan pertemuan keluarga tapi berakhir batal karena ayah mertua dirawat di rumah sakit.”


“Baiklah, kalau sampai tidak kuat jangan terlalu memaksakan diri!”


Rachel mengangkat kepala penasaran dengan rencana Vallerie. “Memangnya peran apa yang harus kulakukan bersama Erick?”


Vallerie tersenyum licik, mendekatkan bibirnya pada daun telinga Erick dan Rachel membuat Elliot juga mendekatkan daun telinganya. Seperti biasa istrinya selalu bermain rahasia membuat ia sedikit kesal. Sebenarnya ia tahu rencananya, tapi apakah istrinya akan mengubah konsepnya tanpa sepengetahuannya jika dilihat istrinya berbisik padahal di rumah sendiri?


Saat Vallerie selesai berdiskusi, tanpa sengaja bibirnya hampir menyentuh bibir suaminya karena jarak wajah mereka sangat berbeda tipis. Dengan cepat Vallerie memundurkan kepala sedikit memalingkan pandangan gugup.


“Kalian bisa, ‘kan?”


“Sudah pasti bisa, aku paling ahli dalam hal ini.” Kedipan mata genit diberikan Rachel membuat jantung Erick menggebu-gebu tidak sabar ingin melakukannya.


Di antara semua, hanya Elliot berwajah murung duduk sendirian dengan gaya angkuh. Vallerie merasa agak bersalah karena lagi-lagi ia lupa janjinya tidak akan bermain rahasia.


Perlahan Vallerie mendekatkan bibirnya pada daun telinga suaminya. “Maaf, Sayang. Sebenarnya ubah sedikit konsep rencanaku itu ….”


Saatnya melakukan aksi sesuai arahan yang diberikan Vallerie sebelumnya. Untungnya perut Rachel masih belum membesar, sehingga ia masih bisa memakai dress sexy bermodel ketat dengan riasan wajah sedikit mencolok seolah-olah untuk menggoda calon suaminya. Sementara Erick memakai kemeja sengaja kancingnya dilepas satu supaya dada bidangnya sedikit terlihat.


Erick dan Rachel memasuki hotel bersama sambil mendorong koper masing-masing menuju meja resepsionis. Sedangkan Elliot dan Vallerie berpura-pura bermesraan di sofa khusus untuk pengunjung hotel bersantai, sambil memantau pergerakan sepasang kekasih sedang naik panggung sekarang.


“Ada yang bisa saya bantu?” sambut salah satu petugas resepsionis.


“Dekorasi hotel ini bagus juga. Benar sesuai apa yang direkomendasikan salah satu kenalan saya sering bermalam di sini.” Rachel mengamati sekeliling hotel sambil mempererat rangkulan lengan Erick.


“Jika dilihat hotelnya cantik begini, aku semakin bersemangat bermalam bersamamu nanti malam.” Erick mengecup kelopak mata Rachel sekilas.


Petugas resepsionis itu tertawa kikuk. “Terima kasih sudah memberikan pujian untuk hotel kami. Pihak manajemen pasti sangat senang mendengarnya.”


“Sebenarnya bukan kami, tapi orang ini yang selalu memuji pelayanan hotel ini memang terbaik di antara semua hotel yang pernah dikunjunginya.” Rachel sengaja memperlihatkan foto-foto pria itu pada petugas resepsionis.


“Oh, orang ini! Memang dia selalu menginap di sini sekitar seminggu tiga kali. Bahkan malam ini dia sudah memesan kamar hotel.” Petugas resepsionis menunjuk salah satu pria yang terlihat angkuh di foto.


“Benarkah?” Dalam hati Rachel, justru ini kesempatan emas supaya ia bisa menangkap pria itu demi mengungkapkan kejahatan Bertrand.


Dari kejauhan Erick memberikan sinyal pada adiknya, menandakan malam ini mereka akan menangkap pelaku yang selama ini memerintahkan Bertrand melakukan perbuatan ilegal terhadap wanita di hotel ini.


“Aku harap rencana Erick dan Rachel akan berhasil nanti.” Vallerie sengaja menyandarkan tubuhnya bermanja bersama suaminya, supaya seolah-olah memang mereka adalah sepasang kekasih ingin menumpang bercumbu di hotel ini.


“Kalau sampai mereka tidak berhasil, maka mereka tidak akan mendapatkan traktiran dariku!” Elliot tertawa usil sambil menatap istrinya.


Dahi Vallerie mengernyit, melipat kedua tangan di dada mengamati sikap suaminya angkuh lagi kalau sudah berkaitan masalah kekayaan. “Mau sampai kapan kamu bersikap sombong?”


“Kamu mau macaroon? Ada satu tempat macaroon terkenal yang pernah aku kunjungi. Macaroon di sana rasanya sangat lezat.” Elliot sengaja mengalihkan perbincangan daripada telinganya panas mendengar omelan istrinya.


Tanpa berbasa-basi lagi, Vallerie mengangguk cepat. “Aku sedang ngidam makan macaroon.”


Elliot tertawa gemas, menggandeng tangan istrinya keluar dari hotel ini menuju mobil sedan terparkir di lobby.


Aksi sandiwara Erick dan Rachel belum berakhir sampai sana. Kebetulan sekali mereka memesan kamar hotel tepat di sebelah para penjahat menginap, mereka semakin tidak sabar melakukan aksi brutal dengan mudah.


Suasana di dalam kamar hotel ini hening. Mereka sengaja tidak ingin berbicara dulu untuk menguping apakah ada suara seseorang memasuki kamar sebelah atau suara seperti ada seorang wanita disiksa habis-habisan.


Mendengar ada suara aneh sedikit terdengar bersumber dari kamar sebelah, Rachel dan Erick langsung melakukan misi mereka. Melangkah keluar dari kamar mereka dengan lincah, lalu menuju kamar hotel yang letaknya hanya bersebelahan dengan mereka.


Erick menampilkan senyuman usil pada Rachel tepat di depan kamar sambil meregangkan otot lemas. Begitu juga Rachel sudah memasang raut wajah sinis siap berhadapan dengan musuh di balik pintu ini.


Tidak hanya Erick dan Rachel saja, Vallerie dan Elliot yang baru tiba di sini juga ikut membantu menangkap penjahat di dalam kamar. Karena mereka cemas justru Erick dan Rachel akan terluka kalau hanya melakukannya tanpa bantuan. Terutama Rachel sedang hamil, keselamatan Rachel adalah nomor satu bagi Vallerie.


Mereka berempat sengaja mengetuk pintu secara brutal, sehingga tidak perlu menunggu sepuluh detik, pintu kamar sudah dibuka lebar oleh salah satu pria yang ada di foto berpenampilan berantakan.


“Kalian siapa? Seenaknya mengetuk pintu membuat keributan!” Pria itu memelototi semua tamu tidak diundang.


Dua pasang kekasih menerobos masuk kamar ini sengaja mendorong pria itu secara brutal sampai terjatuh. Tidak hanya satu orang, ada beberapa pria di kamar ini juga sedang dilayani beberapa wanita yang sudah disewa Bertrand.


Vallerie berdecak kesal sambil mengumpat, tatapannya langsung kejam mengamati seisi ruangan ini. “Jadi ini penyebab keributan di kamar! Mengganggu suasana kencan!”


Sesama pria berdiri saling berhadapan, apalagi saat salah satu dari mereka ingin menyentuh bokong Vallerie, Elliot langsung menahan pergelangan tangan pria itu sampai berbunyi retak. “Lancang sekali ingin menyentuh tubuh istri saya!”


“Siapa yang menyuruhnya berpakaian sexy? Lagi pula, postur tubuhnya tidak mencerminkan dia sudah menikah.”


Darah Elliot langsung mendidih. Tangannya bergerak lincah membanting tubuh pria itu sekuat tenaga di lantai sampai dahi pria itu berdarah.


“Berengsek!” Elliot menonjok wajah pria itu berkali-kali sekuat tenaga.


Semua pria di sana langsung menyerbu Elliot dan Erick karena tindakan Elliot baru saja memprovokasi mereka.


“Serang!” pinta salah satu dari pria itu.


Para pria saling baku hantam, sedangkan Vallerie dan Rachel langsung menyelamatkan para wanita lajang yang hampir dilecehkan para pria berengsek itu. Sebenarnya mereka sengaja mengulur waktu sambil menunggu kedatangan polisi menangkap semua penjahat di kamar ini satu per satu.


“Siapa yang menyewa para wanita? Apakah Bertrand?” Vallerie menginterogasi disela perkelahian sesama pria.


“Akan saya bunuh kalian semua malam ini!”


“Silakan saja. Polisi akan menangkap kalian sebentar lagi. Kami tidak bodoh seperti yang kalian bayangkan!” Tanpa segan Vallerie juga ikut menendang area terlarang pada salah satu pria sampai pria itu terjatuh lemas.


Rachel tidak disarankan ikut campur karena sedang hamil, cemas karmanya justru akan jatuh pada bayinya di masa depan. Yang dilakukannya adalah memantau dari kejauhan memberikan arahan apabila ada pria lain ingin menyerang Vallerie.


Di tengah perkelahian, kepala Elliot hampir dipukul seorang pria dari belakang menggunakan benda tumpul.


Tatapan Vallerie melotot dan panik. “Awas, Elliot!”


PUKK


Justru nyawa Elliot masih terselamatkan berkat sang kakak berhasil menyelamatkannya. Elliot tersenyum sekilas pada kakaknya memberikan isyarat bahwa ia sangat berterima kasih pada kakaknya karena sudah menyelamatkannya.


Vallerie kembali bernapas lega sambil menggenggam tangan Rachel erat dan menghubungi polisi untuk mendatangi lokasi ini secepatnya sebelum nyawa mereka ikut terancam.