
Tiba saatnya hari besar bagi Vallerie merayakan kemenangannya. Pada akhirnya setelah bertahun-tahun memendam rasa keinginan ingin berbalas dendam, terwujud juga impiannya berkat wanita misterius yang menyelamatkannya di sungai.
Hari ini Vallerie sengaja memilih pakaian berwarna merah tua bermodel profesional dengan gaya rambut sengaja dibuat bergelombang bagian bawah dan memakai lipstik berwarna merah cerah, menandakan ia siap menghadapi musuhnya dengan mengandalkan beberapa bukti yang didapatkan bersama Aria selama beberapa hari terakhir.
Vallerie sengaja mengatur suhu udara AC paling rendah, kemudian bergaya angkuh menempati kursi kerja menunggu kedatangan wanita licik yang menghancurkan kehidupannya dan Elliot di kehidupan sebelumnya.
Tidak sampai lima menit menunggu, Sofia memasuki ruangan tanpa membawa apa pun. Raut wajahnya semakin ketakutan mengamati senyuman sinis atasannya. Apalagi beberapa hari lalu ditantang membawakan bukti kalau ingin membuktikan tidak melakukan perbuatan kotor.
Sofia tidak berani menatap Vallerie, tapi Vallerie sengaja melangkah mendekati Sofia sambil membawa beberapa berkas berisi perbuatan kotor yang dilakukan Sofia selama ini.
“Sudah dapat bukti?” Vallerie bertanya langsung pada topik utama.
“Bu Vallerie … soal itu—”
“Memang benar. Kamu adalah pelaku yang melakukan tindakan plagiarisme. Dasar wanita munafik!” Vallerie langsung menuduh Sofia dengan tatapan melotot.
“Tapi, bukan saya pelakunya!”
Batas kesabaran Vallerie sudah habis. Tangannya bergerak lincah memperlihatkan semua berkas bukti penggelapan uang yang dilakukan Sofia tahun ini, nomor rekening dan berbagai transaksi penjualan di berbagai pasar kecil menjual hasil rancangan gaun plagiat.
Sofia menelan saliva gugup. Ia tidak bisa berkata-kata seketika mengamati semua bukti itu memang terbukti ia adalah pelaku sesungguhnya. Apalagi tercantum jelas pernyataan saksi pedagang pasar ilegal melaporkan Sofia yang selama ini menitipkan dagangan, kemudian memberikan komisi penjualan sebesar lima puluh persen.
“Jadinya, kamu masih mengaku tidak bersalah?!” Vallerie membentak, memukuli pundak Sofia berkali-kali menggunakan beberapa lembar kertas.
“Tapi, memangnya saya tidak boleh melakukannya? Pak Elliot tidak mengetahuinya sama sekali, sedangkan Anda baru bekerja di sini sudah bertindak seenaknya menyelidiki kegiatan saya selama ini. Jangan-jangan, semua pegawai juga diperlakukan sama!” Sofia mengelak dengan rasa tidak bersalah memelototi Vallerie balik.
“Tidak. Saya hanya mencurigai kamu. Semua pegawai biasa saja melakukan aktivitas mereka, kamu ingin berbuat jahat, tapi kamu tidak bisa memakai otak lebih cerdas.”
“Beraninya Anda!!”
Vallerie memperlihatkan beberapa bukti yang didapatkan berupa lembaran foto menunjukkan Sofia memang pernah mengunjungi pasar itu lalu membawa sejumlah uang tunai di dalam tas. Selain itu, Vallerie juga memperlihatkan perbandingan rancangan gaun musim panas beberapa perusahaan lain dengan rancangan Sofia memiliki persamaan akurat.
“Untungnya saya berhasil menyadarinya. Pantesan saja saat saya memeriksa semua tumpukan berkas hasil rancangan kamu, semuanya terlihat tidak asing.” Vallerie tertawa licik.
“Haruskah saya laporkan Anda pada Pak Elliot? Sikap Anda memang sudah sangat keterlaluan!”
Saat bersamaan, Elliot menerobos masuk ruangan ini dengan raut wajah polos menyaksikan sebuah adegan menegangkan antara Vallerie dengan pegawainya.
“Tepat waktu!” Sofia langsung menghampiri sang direktur.
“Vallerie, sebenarnya apa yang terjadi?” Elliot bertanya pada istrinya dengan tatapan cemas.
“Sofia melakukan tindakan ilegal selama ini. Aku sudah mengumpulkan banyak bukti aktivitas gelap yang dia lakukan. Bahkan sampai tim produksi juga aku menginterogasi satu per satu. Kamu coba baca laporannya satu per satu.” Vallerie menyerahkan setumpuk berkas yang didapatkannya untuk sang direktur.
Tatapan Elliot yang awalnya berwajah polos, kini berubah menjadi direktur kejam. Sambil membaca berkas itu, ia memelototi Sofia seperti ingin membentak habis-habisan.
Sofia tidak mau kalah secepat ini. Memasang wajah memelas sengaja merayu sang direktur dengan rayuan murahan. “Pak Elliot, sebenarnya saya difitnah istri Anda. Baru pertama kali bekerja di sini tapi sudah bertindak seenaknya. Saya mohon Pak Elliot, hukum istri Anda!”
Seketika Sofia ingin menyentuh lengan Elliot, tangannya langsung ditepis kasar.
“Apa?! Lancang sekali kamu menuduh Vallerie seolah-olah penjahat! Terutama kamu sangat lancang memerintahkan saya menghukum istri saya!” Elliot membentak sampai seisi ruangan bergema.
“Pak Elliot, Anda harus—”
“Tulis surat pengunduran diri sekarang juga! Bukti yang didapatkan Vallerie memang sangat jelas kamu pelaku yang selama ini menjual gaun tanpa persetujuan saya! Berani sekali kamu melakukannya di belakang saya!”
Suara teriakan Elliot yang menakutkan seperti biasa berhasil membuat tubuh Sofia membeku di tempat.
“Satu hal lagi! Jangan membawa nama Vallerie! Setiap ada orang yang menyebutkan namanya, saya tidak akan berdiam saja! Apalagi karena perbuatan kamu, perusahaan kita digugat karena tertangkap melakukan tindakan plagiat! Untungnya Vallerie sangat jeli membaca semua proposal rancangan yang kamu buat untuk acara catwalk nanti, semua rancangan itu hasil plagiat, semua orang akan menganggap Clarity Star Company Limited adalah perusahaan hasil jiplak!!”
Napas Elliot mulai terengah-engah akibat melampiaskan amarahnya terlalu berlebihan. Vallerie berinisiatif menggenggam tangan kanan suaminya untuk sedikit menenangkan hati suaminya.
“Dengar itu, Sofia! Bahkan Pak Elliot tidak membelamu lagi.” Vallerie sengaja menambah bumbu penyedap mengompori Sofia.
“Beraninya Anda!”
Hampir saja wajah Vallerie terkena tamparan kuat dari Sofia. Dengan cekatan Elliot langsung menahan pergelangan tangan Sofia sangat erat sampai memerah. “Vallerie tidak pantas menerima tamparan murahan dari kamu!”
“Apa yang Anda lakukan?!”
“Karena saya sudah selesai bicara, kamu dilarang menginjak kaki ke gedung ini lagi!” Vallerie tersenyum sinis melipat kedua tangan di dada.
Sofia berusaha memberontak, tapi tetap diseret paksa petugas keamanan.
Sekarang tersisa Vallerie dan Elliot di dalam ruangan. Elliot terus menampakkan senyuman manis sambil mengayunkan tangan kanan Vallerie kegirangan. Dalam hatinya dari tadi, ia terus memuji kehebatan Vallerie bisa mengetahui apa yang dilakukan Sofia, bahkan ia tidak mengetahui insiden ini kalau Vallerie tidak melaporkannya dulu.
Elliot tidak betah hanya memuji dalam hati, dengan penuh keberanian ia memeluk tubuh Vallerie kegirangan sambil mengecup puncak kepala Vallerie berkali-kali. “Aku sangat bangga padamu, Vallerie! Terima kasih sudah menyelamatkan perusahaan dan aku.”
“Aku hanya ingin mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Sebelumnya kamu terkena imbas karena aku, sekarang aku tidak ingin kamu menderita lagi karena masalah yang sama. Aku pasti membalas dendam pada orang-orang yang pernah mencelakakan kita.” Vallerie tersenyum manis seketika mendapatkan perlakuan ekstra manis dari suaminya sangat langka.
“Sebenarnya aku sudah tahu rencanamu.”
Vallerie membuka mulut lebar. “Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku tahu dari Jordan. Sebenarnya belakangan ini aku juga menyelidiki pelaku yang melakukan plagiarisme diam-diam. Lalu, Jordan mendapatkan informasi bahwa Sofia adalah pelakunya. Saat aku dan Jordan mengunjungi gudang menyelidiki bagian produksi mengenai produksi ilegal, beberapa pegawai di sana menceritakan kamu dan Aria sudah menyelidikinya lebih cepat dariku.”
Bibir Elliot terkatup rapat sambil membayangkan hasil jerih payah istrinya selama ini selalu bekerja lembur sampai ketiduran di ruang kerja membuat senyumannya melebar. “Saat aku menemanimu tidur semalam, aku membaca sekilas berkas laporan yang kamu dapatkan selama ini bersama Aria.”
“Lalu, kenapa selama ini kamu berpura-pura polos?”
“Karena aku ingin mengujimu juga, apakah kamu sungguh pantas menangani masalah besar ini sampai merahasiakan dariku. Tadi sebenarnya aku dan Jordan sudah mempersiapkan rencana cadangan kalau rencanamu gagal.”
Vallerie menunduk malu memainkan kuku jarinya. “Maaf, aku tidak bermaksud merahasiakan darimu. Habisnya aku tidak ingin merepotkanmu dalam masalah ini, sedangkan kamu sendiri selalu sibuk bekerja keras mempersiapkan proyek.”
Tangan kanannya membelai rambut indah istrinya memasang tatapan penuh makna. “Kamu adalah pahlawanku. Aku harus memberikan kasih sayang lebih besar untukmu. Kamu berjasa sangat besar, aku bingung ingin memberimu apa. Padahal aku kaya, aku cemas hadiah yang kuberikan untukmu tidak sesuai seleramu.”
Vallerie menggeleng pelan dan mengecup hidung sang direktur sekilas. “Cukup kamu mencintaiku seperti dulu dan kamu bersikap lembut lagi, aku sudah sangat bahagia. Aku tidak membutuhkan barang mahal.”
“Sebenarnya aku malu mengatakan ini. Vallerie … aku—”
Tok… tok…
Terdengar suara ketukan pintu sangat lembut membuat Elliot rasanya ingin marah karena telah merusak momen manisnya bersama Vallerie. Tapi karena sekretaris pribadi sang ayah yang memanggil mereka tiba-tiba, terpaksa Elliot harus menunda perkataannya dulu dan mengikuti asisten itu menuju ruangan sang ayah.
Kedatangan Vallerie dan Elliot disambut ceria oleh kedua orang tuanya Elliot, tapi Erick tidak menyambut sama sekali dan sibuk memainkan ponsel dengan gaya angkuh.
Vallerie dan Elliot duduk berdampingan di sofa. Diam-diam Elliot menggenggam tangan Vallerie erat sebagai lanjutan pelampiasan rasa bahagia atas tindakan yang dilakukan Vallerie sangat tersentuh.
“Ayah ingin memanggil kami kenapa?” Elliot berbasa-basi.
“Ayah dengar Vallerie berhasil menangkap pegawai yang melakukan tindakan plagiat. Memang tidak salah kamu merekrutnya sebagai perancang busana eksekutif.”
“Karena dari dulu, aku sudah sangat memercayainya, Ayah.” Pandangan penuh kasih sayang yang diberikan suaminya membuat pipi Vallerie sedikit memerah malu.
“Vallerie, kamu mau hadiah apa? Tindakanmu hari ini sungguh menolong perusahaan.”
“Aku tidak membutuhkan apa pun, Ayah. Cukup memiliki Elliot sudah membuat hidupku bahagia.” Vallerie menunduk hormat sambil merangkul lengan suaminya manja.
Jantung Elliot berdebar kuat tiba-tiba, hatinya sangat menggebu-gebu ingin mengucapkan perkataan yang ia ingin ucapkan sempat tertunda tadi sekarang juga. Padahal tembok gengsinya sudah mulai runtuh, tapi keadaan yang menghalanginya sekarang.
Sang ayah tertawa terbahak sambil menepuk-nepuk sandaran sofa. “Vallerie, kamu memang sangat lucu. Baru pertama kali ayah melihat seorang wanita tidak memedulikan harta.”
“Aku biasa saja, ayah jangan terlalu melebihkan aku.” Vallerie menunduk sopan.
“Sebagai gantinya, ayah ingin merayakan kemenanganmu. Nanti ayah akan mengadakan makan malam bersama di rumah.”
“Boleh saja, Ayah. Aku pasti bisa mendatangi ayah. Benarkah, Elliot?” Sorot mata Vallerie tertuju pada suaminya berwajah malu.
“Tentu saja aku mau. Sudah lama aku tidak makan bersama ayah, ibu, dan kakak.” Elliot menjawab dengan nada datar, sebenarnya ia merasa tidak nyaman melihat kakaknya hanya berdiam dari tadi menampakkan wajah murung.
Erick merasa kesal dalam hati, menggenggam ponselnya erat melampiaskan kekesalannya karena lagi-lagi ia kalah dari adiknya.