My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
79



Hai. Akhirnya sekarang udah selese ulangan. jadinya sekarang ada waktu untuk lanjutin cerita ini.


Akhirnya ya.. udah mau sampe ke ending cerita aja. Waktu yang cukup lama sih... untuk nulis cerita ini.


Selamat membaca episode 79 semua...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang ini cuaca nya rasanya panas banget, Sialnya lagi di ruangan Tasya sedang ada perbaikan AC. Terlihat juga keringat - keringat terus bercucuran dari dahi Tasya. Tasya menghela nafas panjang lalu membawa setumpuk berkas keruangan Rangga.


" Nih.. berkasnya " Ucap Tasya sambil menaruh setumpuk berkas itu di meja. Rangga yang awalnya sedang main hp langsung mebgalihkan pandagannya ke arah map - map yang saling bertumpukan.


Tasya yang sudah merasa capek dan panas langsung duduk di sofa ruangan Rangga dengan posisi nyaman. " Kenapa lama banget sih. AC diperbaiki?! mana dari tadi panas!. Belum lagi kipas anginnya ngak ada angin! " Ucap Tasya mengomel dengan penuh semangat dan wajah nya juga ditekuk super sebal dan bete.


" Ya.. namanya juga perbaikan " Balas Rangga sambil melihat Tasya tapi tangannya bergerak lain mengambil berkas bermap biru.


" Ya tapi, masa sampe satu jam banget sih? " Balas Tasya nyolot disertai dengan ekspresi betenya.


Rangga yang mendengar itu langsung menghela nafasnya dan memilih untuk diam sambil melihat kata demi kata dan angka demi angka yang terketik di berkas yang dipegangnya. Percuma juga kalau mau disautin kata Tasya tadi, toh juga.. tetep aja topik yang dibahas itu - itu terus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana malam memang dingin seperti hari - hari kemarin. Sekarang sedang terjadi acara bakar - bakar dihalam belakang rumah kediaman Adimaja, bukan nya bakar rumah tapi bakar daging, jagung, dan teman - temannya. Alias lagi berbequan. Gitu bukan si tulisannya?.


Tasya saat ini sedang mengoleskan mentega kejagung yang sudah ditusuk oleh bambu. " Lo kalau ngipas asepnya jangan ke gue dong... " Ucap Tasya protes kepada calon suaminya dari tadi juga dirinya lelah menahan nafas karena sepertinya asap itu dendam kepada Tasya.


" Bagus dong! biarin aja.. biar ntar kalau calon istri gue ini bau asep ngak ada yang deketin selain gue!... " Ucap Rangga sewot lalu mengipas kencang - kencang areng yang sudah panas itu menggunakan kipas sate.


" Rangga! " Teriak Tasya karena asap mengerumuni wajahnya. Tangannya pun mengipas - ngipas asap dan diiringi dengan suara batuk.


Rangga tertawa puas melihat Tasya yang kesusahan. Jahat kan dia...


" Lo dendam apa sih sama gue?! " Tanya Tasya sewot menatap Rangga marah tapi dibuat - buat. Sengaja.


" Gue " Ucap Rangga sambil menunjuk dirinya menggunakan kipas sate. " Gue dendam pengen nikahin lo! " Lanjut Rangga sewot dengan tatapan nyolot dan menantang.


Tasya yang mendengar itu langsung memutar bola matanya dan melempar sosis yang berukan besar kearah alat tempat membakar sosis yang kebetulan sosisnya bukan jatuh kearah tujuan tapi sosisnya jatuh kemuka Rangga. " Bundaaaaa mantunya jahat! " Teriak Tasya sambil berjalan dan menunjuk Rangga yang sedang berdiri dan terbengong karena sosis besar itu tadi berhasil membuat hidung nya merasakan sakit.


Di kediaman Adimaja kali ini memang ada keluarga Tasya, Varo si abang Tasya yang terlove juga dateng dong... tanpa diundang. Bukannya apa - apasih Varo dateng karena tadi kebetulan pas Tasya sama Rangga lagi beli mentega dan temen - temennya di swalayan si Varo muncul kelihatan disana. Makanya deh.. diajak aja.


Setelah acara bakar - bakaran makanan selesai sekarang saat nya semua keluarga berkumpul di gazebo berukuran sangat besar yang ada di halaman belakang. " Varo gimana perusahaan kamu? " Tanya papa Adi setelah selesai menelan sosis bakarnya.


Varo yang ditanya seperti itu langsung menoleh saat dirinya baru saja mengambil jagung bakar dipiring. " Aman kok om.. semua karyawan sejahtera dan damai " Jawab Varo santai.


Disaat kedua orang itu berbicara hanya Tasya dan Rangga saja yang berbeda. Mereka berdua sibuk dengan kisah mereka. Bagaimana tidak sibuk orang dari tadi mereka berdua saling suap - suapan sambil tertawa. Udah kayak anak TK lagi belajar berbagi ya bund..


" Enak banget ya om.. yang mau nikah berduan gitu " Sindir Varo terhadap Tasya dan Rangga.


Papa Adi yang di ajak berbicara langsung menyauti sindiran Varo tadi. " Iyalah enak! kan mereka bentar lagi nikah.. lah, kamu sekarang jomblo to the bone! " Sindir papa Adi tak kalah keras nya dan juga disertai gaya nyolotnya sambil menghabiskan sosis bakar yag masi tersisa ditusukan.


Varo yang disindir seperti itu langsung keselek jagung bakar. Dan semua orang yang duduk di gazebo besar itu tertawa melihat Varo yang tersedak jagung bakar karena tersindir omongan papa Adi. Tapi untung.. mama Erina masi baik kasi Varo air putih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga minggu sebelum acara pernikahan atau H- 21 Tasya dan Rangga mendatangi butik langganan mama Erina saat ingin memesan baju. Disana juga sudah ada perancang busana yang menunggu mereka.


" Mana calon istri kamu? " Tanya perancang busana itu, namanya adalah tante Quen. Temennya mama Erina kalau arisan berlian.


" Kayak nya bentar lagi nyampe deh tan, soalnya tadi lagi ngecek berkas dulu baru dia dateng kesini " Ucap Rangga menjelaskan sambil mengecek ponselnya siapa tau ada balasan pesan dari Tasya, karena tadi dirinya sudah mengirim pesan tapi belum dibalas.


Sementara saat ini Tasya diruangannya sedang membereskan tugasnya agar rapi dan tidak lelah dicari nanti. " Oke! " Ucap Tasya saat tugasnya sudah rapi terususun diatas meja.


Tasya dengan cepat langsung memasukan ponselnya kedalam tas tanpa mengeceknya terlebih dahulu. Dan dengan langkah cepat dirinya berjalan untuk keluar ruangan dan masuk kedalam lift yang kebetulan berada disamping ruangan CEO.


Didalam lift Tasya mengecek isi tas selempangnya, dan sesuai pikiran Tasya semua isi dalam tas yang diperlukan seperti ponsel dan dompet sudah aman didalam tas berwarna ungu lilac yang dipakainya.


Setelah lift terbuka yang langsung menuju ke kantai bawah, Tasya langsung berbicara kepada dua resepsionis yang sedang berjaga dilobi. " Mbak, nanti kalau misalkan ada yang nyariin saya atau pak Rangga... bilang aja kita sibuk ngak bisa diganggu ya " Ucap Tasya langsung ke intinya.


" Oke mbak " Saut salah satu resepsionis sambil tersenyum sementara resepsionis yang lagi satu sedang sibuk menerima panggilan telepon.


Setelah berkata seperti itu Tasya mengangguk sambil tersenyum dan kemudian dirinya berjalan secara tergesa - gesa. Untung saja sepatunya yang dipakai saat ini bukan heals melainkan dirinya memakai sepatu sneakers yang senada dengan warna kemeja nya. Pakaian Tasya saat ini bukan pakaian formal melainkan dirinya memilih untuk memakai pakai santai seperti eonni - eonni korea.


Untung saja saat Tasya baru keluar dari kantor satu mobil taksi sedang terparkir menunggu penumpang disana. Tasya mengetok kaca mobil lalu kaca mobil itu turun kebawah memperlihat pak supir taksinya. " Bisa anter saya ke quenna butique? " Tanya Tasya.


" Bisa mbak bisa. Ayo naik " Ucap si pak supir taksi dengan cepat. Tasya langsung mengangguk dan masuk lalu duduk dikursi bagian belakang. Setelah dirinya duduk dengan santai didalam mobil taksi yang sedang berjalan itu, Tasya menghela nafas sambil menutup matanya.


Tasya merasakan nafasnya tercekat saat ini. Mungkin karena dirinya berjalan dengan tergesa - gesa. Lalu setelah itu dirinya mengambil ponsel didalam tasnya dan ternyata Rangga sudah menghubunginya banyak sekali, maupun itu lewat panggilan telepon atau lewat aplikasi berbalas pesan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara pintu butik itu terdengar terdorong oleh Tasya yang baru saja sampai disana setelah di antar oleh mobil taksi.


Rangga yang awalnya sedang duduk disofa langsung bangkit menyusul Tasya yang sedang bertanya kepada penjaga kasir. Rangga melihat Tasya baru datang dari pembatas ruangan yang terbuat dari kaca.


" Hei " Sapa Rangga sambil melingkarkan tangannya dipinggang Tasya.


Tasya menoleh menatap wajah Rangga. Lalu kembali berbicara kepada pejaga kasir. " Makasi mbak " Tutup Tasya mengakhiri pembicaraan nya.


Kemudian mereka berdua pun langsung pergi kedalam ruangan tante quen untuk mengukur dan memilih model baju. Yang pertama diukur adalah Tasya karena tante Quen bilang gini. " Nanti Rangga belakangan aja. Kan soalnya simple bajunya cuma jas aja " Ucap tante Quen lalu membawa Tasya pergi.


" Iya tante " Jawab Rangga sambil tersenyum.


Sekitar lima menit lama nya Tasya melakukan pengukuran baju. Dan kini saat nya Rangga lah yang masuk kedalam ruangan untuk diukur.


Saat sedang mengukur lingkaran pinggang tante Quen bertanya sambil melihat angka yang ada di alat pengukuran. " Kamu udah jarang nge gym ya? " Tanya tante Quen lalu tangannya bergerak menulis hasil pengukuran lingkar pinggang Rangga dibuku.


" Kok tante tau? " Tanya Rangga bingung sambil melihat dirinya dikaca saat tante Quen sedang melakukan pengukuran di bagian lengan.


" Yaiyalah tante tau. Orang si Ken aja jarang pergi nge gym. Kan biasanya kalau pergi sama kamu terus bilang sama tante " Ujar tante Quen panjang lebar. Iya, dari dialog ini kalian tau kalau tante Quen itu ibu kandung nya si Ken, sahabat Rangga.


Rangga yang mendengar itu langsung menyengir kuda. " Oke sudah selesai " Ucap tante Quen saat sudah selesai mengukur dan menyatat ukuran tubuh Rangga untuk dibuatkan baju sambil tersenyum.


" Ayo sekarang ajak Tasya nya masuk, untuk pilih model busana yang kalian pakai besok " Suruh nya kepada Rangga.


" Iya tante " Jawab Rangga lalu berjalan keluar memanggil Tasya yang sedang duduk disofa sambil memainkan ponselnya dan bersender.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya kegiatan Rangga dan Tasya untuk memilih baju yang akan digunakan saat hari sakral dan penting sudah selesai. Ya.. walaupun tadi ada sedikit ribut - ribut mengenai konsep wedding dresnya Tasya.


" Mampir makan dulu yuk " Ajak Tasya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Rangga.


Rangga langsung menoleh dan tangannya bergerak mengelus rambut Tasya dengan lembut. " Ayo. Mau makan dimana? " Tanya Rangga.


" Makan nasi padang boleh? " Tanya Tasya dengan tatapan mata yang menatap mata Rangga namun posisi nya masih sama duduk bersender dikursi belakang dengan Rangga, dan kepalanya ditaruh dipundak Rangga.


Rangga yang melihat tatapan mata Tasya yang lapar meminta makan langsung tersenyum. Dan bibirnya mencium kening Tasya. Tentu saja Tasya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rangga tadi.


Tasya langsung merubah posisinya menjadi duduk tegak dan pandangannya lurus kedepan. Kalau kalian bisa merasakan, hati Tasya saat ini sedang seperti naik role coster rasanya.


Rangga yang melihat Tasya bersikap seperti itu langsung terkekeh. Tanggannya pun langsung bergerak merangkul Tasya dan kini mereka duduk berdempetan. Kayak udah ngak ada space aja ya.. makanya dempet - dempetan.


" Kenapa? kaget? " Tanya Rangga. Dan sontak pertanyaannya itu langsung dijawab gelengan kepala oleh Tasya.


" Terus... mau lagi? " Tanya Rangga sambil tersenyum jahil.


Tasya langsung menoleh dan menatap Rangga sinis. Rangkulan tangan Rangga pun langsung dilepasnya. Tidak hanya Rangkulan kini Tasya pun langsung menjauhkan tempatnya duduk sampai mentok kearah pintu mobil. " Ngak! " Seru Tasya membantah dengan sewot.


Rangga hanya bisa tertawa senang ketika melihat ekspresi dan tingkah Tasya yang menurutnya lucu.


Tasya yang dipanggil seperti itu memilih diam. Tunggu, kejadian yang tadi belum bisa membuat hatinya tenang. " Tenangkan hati hamba yaallah " Ucap Tasya ngebatin.


Karena tidak ada jawaban Rangga memanggil Tasya kembali. " Sayang.. " Panggil Rangga. Tapi Tasya memilih tetap diam.


" Sayang.. katanya laper? ayo dong turun " Lanjut Rangga karena sudah dua menit lamanya mobil milik nya berhenti disamping rumah makan padang setelah diparkirkan oleh bapak supir.


Tasya yang mendengar itu langsung menoleh keluar lewat kaca jendela mobil. " O- oh udah sampe. Ya- yaudah ay- ayo " Balas Tasya gugup dan berbicara tidak lancar.


Dengan gerakan cepat Tasya turun membuka pintu mobil lalu menutupnya lagi tanpa menoleh sedikit pun kearah Rangga. Rangga yang masi didalam mobil dan melihat tingkah Tasya hanya bisa mesem - mesem sendiri, walaupun si pak supir juga ikutan senyum ngeliatin dari kaca mobil.


" Pak, nanti bapak mau makan nasi padang didalam atau saya beliin? " Tanya Rangga sebelum turun dari mobilnya. Gini - gini juga Rangga itu bukan majikan yang tidak memanusiakan manusia, Rangga itu masi punya sisi baik dihidupnya.


" Emang nya boleh mas? " Tanya pak supir dengan badan yang sudah diputar setengah kebelakang menghadap Rangga.


" Boleh pak, bentar lagi kan mau masuk jam makan siang juga " Balas Rangga sambil tersenyum ramah.


Pak supir yang mendengar itu tersenyum membalas senyuman Rangga. " Yaudah deh mas, saya minta dibungkusin aja. Soalnya saya takut nanti mobil mas kenapa - kenapa " Ucap pak supir.


" Oh yaudah. bapak mau satu bungkus atau berapa? " Tanya Rangga lagi bersikap ramah.


" Satu aja mas " Jawab pak supir sambil tersenyum.


" Oke " Jawab Rangga lalu segera turun dari mobil dan menyusul Tasya yang sudah duduk anteng didalam rumah makan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Didalam kamarnya, Tasya sedang diam sambil tersenyum - senyum sendiri. Lalu dirinya menutup wajah nya dengan bantal. Kejadian tadi siang belum bisa dilupakan oleh dimana bibir Rangga terasa mencium keningnya.


" Gue baper, gue baper " Ucap Tasya bermolog kepada dirinya sendiri. Sambil kedua tangannya bergerak mengipas - ngipas wajahnya yang terasa panas.


Saat dirinya sedang senang sendiri terdengar suara dering ponselnya. Dan ternyata pucuk dicinta Rangga pun menelpon. Pas banget kan momen nya. Tasya langsung tersenyum ketika melihat Rangga yang menelpon nya malam ini.


Tasya berdehem - dehem untuk menetralkan suara nya agar tidak gugup nanti saat berbicara dengan Rangga. Setelah merasa suara nya sudah netral Tasya langsung menekan gambar telepon berwarna hijau.


" Lama banget sih.. diangkatnya " Ucap Rangga membuka obrolan dengan mengomel.


" Ya maaf.. tadi ngak denger soalnya habis dari kamar mandi " Ucap Tasya berbohong tidak sesuai kenyataan.


" Ooh " Ucap Rangga ber oh ria.


" Gimana perutnya udah enakan? " Lanjut Rangga bertanya. Karena tadi saat setelah makan basreng level pedas yang dijual dijalan perut Tasya tiba - tiba sakit.


" Udah si.. tapi.. " Ucap Tasya menggantung kalimatnya.


" Tapi hati nya deg - degan? gitu maksudnya? " Tanya Rangga dengan nada bicara yang menggoda. Kayak nya felling antara Rangga dan Tasya kuat deh.. makanya Rangga tau kalau sekarang hati Tasya cenat - cenut


" En- enggak kok.. " Bantah Tasya gugup.


" Ooh engggak. Terus tadi waktu aku... cium kening kamu, kamu kenapa? " Tanya Rangga menjeda ucapannya agar terdengar seperti dirinya sedang berfikir.


" Enggak. Apa - apaan sih.. " Cela Tasya sewot padahal dirinya sedang tersenyum.


" Hmm yaudah deh... kalau gitu. Tapi tadi muka kamu merah lo " Ujar Rangga jujur dan kembali menggoda Tasya.


" Rangga ih.. ngeselin lo ya! " Ucap Tasya tidak suka.


Terdengar saat Tasya berkata seperti itu Rangga langsung tertawa. " Iya deh iya. Yaudah, selamat malem cantik nya Rangga " Ucap Rangga dan langsung mematikan sambungan telepon.


Setelah panggilan telepon dimatikan Tasya langsung menutup wajah nya dengan bantal dan berteriak sekencang - kencangnya. Bunda yang awalnya mau masuk kamar dan mendengar teriakan Tasya langsung memutar arah langkahnya kearah kamar Tasya. " Sya.. are you oke? " Tanya bunda nya menyelipkan kepalanya untuk melihat Tasya tanpa memperlihatkan seluruh badannya.


Tasya yang mendengar bundanya bertanya langsung, diam dan mengangkat jari jempol nya sebagai tanda kalau dirinya baik - baik saja. Bunda nya pun mengangguk dan langsung menutup pintu yang bercat putih itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini adalah hari H- 10 menuju acara sakral yaitu pernikahan Rangga dan Tasya. Mobil yang digunakan oleh mereka saat mengunjungi kantor WO sudah terparkir di garasi kediaman Adimaja.


Langsung Rangga dan Tasya turun dari mobil itu dan masuk kedalam. Saat baru saja masuk kedalam ternyata mereka berdua disambut oleh mama Erina, papa Adi, Reyhan dan Mia. Sepertinya mereka akan pergi ke acara pernikahan bila dilihat dari pakaian yang digunakannya.


" Kak Rangga. Mia nitip anak Mia ya.. " Ucap Mia sambil tersenyum cantik dan menggendong anaknya yang sedanf tertidur.


" Anak aku juga itu " Cela Reyhan.


Mia langsung menatap sinis suaminya. " Iya.. iya.. anak kita maksudnya " Ucap Mia dan setelah itu langsung memberikan anaknya kepada Tasya. Iya kepada Tasya soalnya kalau ke Rangga, Mia masih belum yakin Rangga bisa gendong anak nya.


" Kenapa ngak sewa baby sister aja sih? " Tanya Rangga bingung.


" Ngak, gue ngak mau anak gue dimacem - macemin sama orang yang baru gue kenal " Saut Reyhan sebelum Mia yang menjawab. Rangga yang mendengar jawaban itu langsung mengangguk dengan gaya nya yang cool dari tadi memasukan kedua telapak tangannya kedalam kantong celananya.


" Asi nya sudah ada kan? " Tanya Tasya sambil menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri. Agar bayi yang digendongannya itu tetap lelap didalam tidurnya.


" Sudah kok kak, itu ada di box tempat asinya " Jawab Mia sambil tersenyum ramah. Tasya membalas jawaban Mia dengan anggukan dan senyuman.


" Yasudah.. kalau gitu kita pergi dulu. Inget Ranga.. jangan bikin nangis ponakan kamu " Ucap Mama Erina pamit dan melarang Rangga agar tidak jahil dan usil.


" Iya ma.. " Jawab Rangga dengan memasang raut wajah berusaha tersenyum.


" Yaudah.. kita pamit " Ucap mama Erina. Lalu semua orang yang berkepentingan untuk pergi ke acara pernikahan langsung berjalan ke arah mobil yang sudah disiapkan.


Saat berjalan didepan Rangga, Reyhan langsung memberhentikan langkahnya dan menatap Rangga tanpa raut wajah yang jelas alias datar. " Inget jagain anak gue " Ucap Reyhan lalu menepuk pundak Rangga dan melanjutkan kembali langkahnya.


Suara mesin mobil yang menderu sudah hilang, karena dua mobil alpard yang digunakan untuk ke acara pernikahan sudah pergi. Suasana rumah Rangga pun kini sunyi dan hanya ada beberapa pelayan saja yang lalu lalang berjalan untuk keperluan pekerjaan.


" Ayo kita tidurin dulu " Ajak Tasya sambil melihat Rangga yang sedang terdiam melihat wajah anak Mia dan Reyhan yang anteng saat tidur.


Rangga langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tasya. " Siapa yang kita tidurin? " Tanya Rangga kurang ngeh.


Tasya menghirup nafasnya dalam - dalam sambil memejamkan matanya. " Ya.. kita tidurin anaknya Mia sama Reyhan lah " Ucap Tasya sabar.


" Oh.. " Ucap Rangga mengerti sambil mengangguk. " Ayo " Lanjut Rangga dan langsung berjalan kearah lift, tapi Tasya tidak menyusulnya Tasya masih diam ditempat semula dengan melihat Rangga kesal.


Rangga berbalik saat sudah sampai didepan lift. " Ngapain masih diem disana? ayo dong " Ucap Rangga tanpa rasa bersalah.


" Terus.. box asinya kenapa ngak dibawa? " Tanya Tasya marah tapi nada suaranya tidak keras karena dirinya sadar sedang menggendong bayi yang tertidur lelap.


Rangga yang mendengae itu pun langsung menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rangga pun kembali berjalan ke tempar yang tadi untuk mengambil box asi yang lupa dibawa olehnya. " Maaf sayang.. " Ucap Rangga sambil menyengir lalu kemudian berjalan kearah lift dan diikuti oleh Tasya dari belakang.


" Box asi aja masih dilupain. Terus besok pas udah nikah! gue yang dilupain! " Gumam Tasya saat sudah berada didalam lift.


Rangga langsung menoleh kearah Tasya. " Kamu ngomong apa sih? ngak jelas aku dengernya " Tanya Rangga dengan bingung nya.


Tasya langsung menoleh dan melihat Rangga lalu menampakan wajahnya yang tersenyum. " Ngak kok, ngak ada " Ralat Tasya. Lalu Rangga pun mengangguk dengan polosnya.


Dan kalian pasti tau apa yang akan terjadi selama beberapa jam kedepan. Rangga dan Tasya akan simulasi menjadi orang tua sebelum besok setelah menikah mereka akan menjadi orang tua beneran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya Tasya dan Rangga sedang nge date berdua ke mall. Bukan Tasya yang minta tapi Rangga yang mau kalau malam ini jalan - jalan ke mall cuma untuk makan di restoran terus beli perabotan rumah tangga untuk isi apartemen yang nanti ditempatin mereka berdua. Terus rumah Tasya gimana?


Untuk rumah Tasya, Tasya rencana nya mau jual rumahnya walaupun rumah itu hadiah dari ayahnya. Tapi ayahnya juga sudah setuju untuk rencana Tasya yang jual rumahnya. Jadi mulai dari beberapa minggu yang lalu Tasya sudah pindahin barang - barang nya semua kerumah orang tuanya.


~ Bersambung ~


Untuk nulis episode ini sudah ketunda tiga hari dari hari kamis dan jumlah kata untuk episode ini nyampe 3030 kata jadi selama tiga hari author terus nulis tapi nyicil.


Insyaallah episode terakirnya pas episode 80. Jadi ini episode menuju ending ya..


Makasi yang sudah baca!