
Haii aku balik
Udah lebih tiga hari ya aku ngak nulis..
Hehe sorry kemarin author masih ulangan dan sekarang sudah selesai semua.
Yang udah nungguin yuk dibaca..
Punten..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Nih.. jas lo yang kemarin gue pinjem " Ucap Tasya sambil menyodorkan paper bag hitam kedepan wajah Rangga yang sedang antusias menyantap makan siangnya.
Mulut Rangga yang masi menganga karena Tasya berbicara saat dirinya akan memasukan nasi kedalam mulut langsung berbicara. " Taruh aja diatas sofa " Ujar Rangga lalu setelah itu memasukan makanan kedalam mulutnya.
" Oke " Balas Tasya sambil tersenyum dan langsung berjalan kearah sofa setelah itu dirinya memilih duduk diatas sofa sambil memperhatikan Rangga yang sedang mengunyah makanan.
" Rangga " Panggil Tasya saat dirinya sedang duduk bersandar diatas sofa sambil memainkan kuku panjang yang sudah dilapisi kutex berwarna biru tua dan putih.
Rangga menoleh kearahnya sambil mengunyah makanan. " Hmm? " Kata Rangga
" Kalau seandainya... gue.. ngak bisa terima lamaran lo yang waktu itu gimana? " Tanya Tasya lalu merubah arah pandangannya kedepan dimana tempat Rangga sedang duduk dan menyuapi makanan kedalam mulut.
Rangga meminum air putih nya lalu tersenyum. " Ya.. ngak papa. Kan.. lo bilang waktu itu kalau pernikahan harus ada cinta " Jawab Rangga dengan ekspresi biasa saja seolah dirinya sudah siap bila lamarannya ditolak.
Tasya mengangguk paham. " Tapi.. kalau seandainya gue terima, lo nya gimana? " Tanya Tasya dengan tatapan serius.
Rangga langsung menunjukan ekspresi tersenyum tapi malu - malu. " Ya.. ya.. gue.. kan memang niatnya untuk nikahin lo " Jawab Rangga dengan gaya bicara yang cool dan menahan senyum nya. " Yok sya nikah! " Ajak Rangga serius.
Tasya hanya diam entah dirinya kini bingung dan dilema. Antara menerima atau tidak dirinya tidak tau harus memilih yang mana, hatinya belum menuntunnya untuk memilih dua pilihan jawaban itu.
Tasya menghela nafasnya, lalu beranjak pergi dari ruangan CEO dan berjalan kearah ruangan nya. Saat dirinya ingin membuka pintu suara Rangga terdengar membuat dirinya enggan untuk melanjutkan tangannya yang sudah siap mendorong pintu.
" Jangan dipikirin sya,... kalau ngak bisa gue juga ngak maksa " Ucap Rangga sambil melihat Tasya yang diam memunggungi dirinya.
Setelah berhenti sebentar Tasya melanjutkan tangannya untuk membuka pintu dan setelah pintu terbuka dirinya langsung masuk kedalam ruangan sekertaris tanpa membalas apa yang Rangga ucapkan tadi. Sungguh dirinya masih bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mall.
Malam hari ini, Ferel membawa Keyla dan maminya untuk berjalan - jalan ke mall. Awalnya tadi Keyla tidak mau ke mall dengan alasan uangnya tidak akan cukup untuk membeli semua yang diinginkan oleh dirinya.
Bayangkan saja sekarang gaji nya menjadi model tidak sebanding dengan yang dulu, belum lagi dirinya juga harus memenuhi kebutuhan bulanan dan juga memberi mamanya uang setiap bulan.
Suasana mall tidak terlalu ramai walaupun sekarang sudah malam. Ferel, Keyla, dan mami Keyla baru saja masuk kedalam mall.
" Kamu mau makan dulu atau langsung belanja? " Tanya Ferel sambil berjalan dan menggenggam tangan Keyla.
Keyla menoleh kearah Ferel. " Makan dulu aja deh, soalnya tadi dirumah belum makan malam " Jawab Keyla.
" Oke " Balas Ferel sambil tersenyum melihat wajah tunangannya. Mami Keyla yang berada disamping mereka hanya diam dan berjalan sambil memainkan ponselnya, saat ini dirinya sedang menyuruh Kenan datang menyusul kemall karena sebagai orang tua yang umur nya sudah setengah abad, dirinya tidak ingin menganggu pasangan muda yang dimabuk asmara.
" Rel, mami ajak Kenan ngak papa ya? " Tanya mami Keyla.
" Enggak papa kok mi, malahan seru kalau ada abang juga " Balas Ferel sambil tersenyum dan mengangguk.
...****************...
Restoran.
Mereka bertiga sudah berada didalam restoran, makanan pun sudah dipesan dan sekarang tinggal menunggu saja.
Sambil menunggu makanan dan minuman datang, Keyla dan Ferel berbicara bahkan bercerita satu sama lain. Sementara mami Keyla hanya diam tidak mau mengganggu kesenangan putri dan calon menantunya.
" Ken, sini! " Panggil mami Keyla karena melihat Kenan yang baru datang sambil melambai - lambaikan tangan, sontak suara mami Keyla membuat Keyla dan Ferel pun ikut menoleh kebelakang melihat Kenan yang sedang berdiri . Kenan yang melihat maminya melambai - lambaikan tangan mengangguk mengiyakan dan langsung berjalan.
" Maaf mi... kalau Kenan agak lama datengnya " Ucap Kenan sambil tersenyum.
" Iya, ngak papa " Balas mami nya.
Dari kejauhan sudah berjalan pria paruh baya yang umurnya hampir tujuh puluh tahun. Dengan badan yang masih bugar pria itu berjalan kearah meja dimana tempat Keyla dan yang lainnya sedang duduk berkumpul.
" Ish.. papi sakit! " Rengek Kenan tidak terima dirinya dipukul.
Keyla dan mami Keyla langsung diam setelah melihat kalau ada orang yang selama ini belum mereka temui datang. Pasti ini ulah Kenan, karena dirinya lah satu - satu nya orang yang tinggal serumah dengan papinya.
" Dibilangin jangan ajak papi kamu, liat tuh adek kamu! " Gumam mami Keyla kepada Kenan dengan suara kecil, dan setelah itu menunjuk Keyla yang sedang menunduk dengan isyarat mata.
" Papi maksa mi " Kata Kenan jujur. Sebenarnya tadi dirinya tidak ingin mengajak papinya ikut tapi apa boleh buat papinya terus saja memaksa dengan alasan dirinya bosan kalau dirumah terus. Dan alhasil begini lah keadan sekarang, diam tidak ada yang berbicara.
" Sayang.. ngak papa? " Tanya Ferel yang melihat Keyla dari tadi menundukan pandangannya sambil meremas tas putih yang dipakainya. Tangan Ferel pun menggenggam erat tangan Keyla.
" Hmmm.. " Jawab Keyla sambil tersenyum dan sudah mulai berani mengangkat kepalanya.
Setelh itu pelayan datang membawakan pesanan untuk empat orang saja, karena papi Keyla menjadi tamu tidak diduga jadinya Ferel memesankan satu menu makan dan minuman lagi.
" Mau aku suapin? " Tanya Ferel yang dari tadi melihat Keyla tidak enak dengan situasi sekarang. Keyla menjawab pertanyaan Ferel dengan gelengan kepala sambil tersenyum melihat Ferel.
Acara makan malam direstoran mall sudah berjalan beberapa menit dari tadi, namun hanya ada suara alat makan saja yang bekerja. Canggung, itulah yang mengambarkan keadaan.
Semenjak kejadian Keyla yang ditampar oleh papinya dan semua barang - barang nya dipindahkan, membuat Keyla menjadi bersalah kepada papi dan malu atas perbuatan nya.
Tapi bagaimana dengan mami Keyla saat ini?. Jawaban nya sama, dirinya masih marah kepada suami nya itu. Minta maaf duluan?. Mami Keyla paling anti denga hal itu, dirinya merasa gengsi bila meminta maaf duluan dengan suaminya.
Papi Keyla berdehem. " Enak banget sosisnya. Key.. kamu mau nambah lagi ngak? papi masi punya banyak ni... " Tawar papi Keyla sambil tersenyum.
Keyla yang ditawarkan sosis enggan untuk menjawab penawaran papinya. Ferel yang duduk disamping Keyla hanya bisa diam sambil melihat ekspresi Keyla yang sudah tidak tahan sekaligus gugup ditawari sosis oleh papinya.
Ferel menggenggam tangan Keyla, dirinya berusaha untuk menenangkan. " Kayak nya Keyla mau deh pi. Buktinya aja.. sosis dipiringnya sudah habis " Ucap Ferel yang menyauti tawaran calon mertuanya sambil tersenyum seolah dirinya polos tidak tau tentang apa yang sedang terjadi.
Papi Keyla mengangguk lalu menaruh satu sosis dipiring Keyla sambil tersenyum. " Ayo dong key dimakan " ucap papinya setelah menaruh sosis dipiring.
Mami Keyla dan Kenan hanya mampu untuk diam dan menikmati adegan yang sedang terjadi sambil menghabiskan makanan yang ada dipiring mereka.
" Aku suapin ya.. " Ucap Ferel lalu memotong sosis dan menyuapinya kemulut Keyla. Keyla hanya bisa diam menerima suapan Ferel. Ferel yang melihat Keyla memakan sosis nya hanya bisa tersenyum.
Setelah itu suasana kembali seperti biasa. " Rel, kata papa kamu besok kamu mau berangkat ke madrid. Berapa hari disana? " Tanya papi Keyla.
" Iya pi besok Ferel berangkat kemadrid. Kalau disana ya... mungkin sekitar tiga atau lima hari " Jawab Ferel. Sementara itu Keyla sudah menatap Ferel dengan sinis, dirinya tidak mengetahui kalau besok Ferel akan berangkat kemadrid. Pantesan saja Farel mengajaknya ke mall ternyata karena ini.
Ferel yang titatap sinis oleh Keyla hanya bisa tersenyum. " Sorry, bukannya aku ngak mau kasih tau kamu " Ucap Ferel. Keyla langsung memutar bola matanya malas dan memakan makanannya tanpa mau melihat tunangannya itu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih di mall yang sama namun kali ini sudah berpindah tempat ketempat yang berjualan baju.
Ferel sengaja mengajak Keyla kesana karena dirinya tau kalau tunangannya itu hobi belanja walaupun dirinya sudah keluar dari penjara.
" Udah dong... ngambeknya. Dari tadi aku dicuekin terus, iya deh besok pulang dari madrid kita langsung nikah aja biar kamu ngak ngambek " Ucap Ferel yang memancing Keyla untuk berbicara, sekaligus melamar Keyla untuk yang kedua kalinya.
Keyla yang sedang melihat - lihat baju langsung memberhentikan aktivitasnya begitu mendengar apa yang diucapkan oleh Ferel barusan. " Jangan ngada - ngada deh.. persiapan pernikahan itu butuh satu bulan bahkan lebih " Ucp Keyla dengan nada ketusnya. Kemudian setelah itu berjalan kebagian celana.
" Siapa juga yang mau ngada - ngada. Aku serius kok " Tegas Ferel.
" Oh begitu " Saut Keyla acuh sambil melihat celana - celana yang bagus.
" Beneran Keyla.. beneran " Tegas Ferel lagi tapi hanya dibalas dengan anggukan saja oleh Keyla. Karena Keyla merasa Ferel hanya bercanda. Ya mana bisa mereka menikah secepat ini, dirinya berbaikan dengan papinya saja belum.
" Sayang.. aku serius " Tegas Ferel.
" Iya serius " Saut Keyla santai sambil berjalan membawa keranjang belanjanya kekasir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan pagi nya Keyla mengantar Ferel kebandara. Sesuai agenda Ferel akan berangkat kemadrid hari ini.
" Soal yang kemarin malam aku serius " Tegas Ferel lagi sebelum berangkat menuju pesawatnya.
Keyla hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman saja. Dirinya merasa kalau Ferel sedang bercanda dari kemarin.
~ Bersambung ~
Udah ya sampe sini ... byee