My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
71



Haii semua! udah 71 aja ni...


Likenya jangan lupa ya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini, Rangga sudah dibuat menganga oleh sekertaris nya sendiri. Bagaimana tidak, orang si Tasya cantik banget! terus belum lagi ditambah rambutnya yang digerai tidak seperti biasanya. Biasanya Tasya kalau kerja itu rambutnya dikuncir kaya ekor kuda.


" Masyaallah abang meleyot.. " Cicit Rangga dengan gayanya duduk dikursi dan menangkup dagunya dengan kedua tangan. Itu biar kiyowo maksudnya.


Tasya yang baru saja sampai dikantor langsung menatap sinis kearah Rangga, Ya.. permasalahan satu minggu yang lalu belum kelar. Itu masalah si Rangga bisik - bisik terus Tasya nya ngamok. " Apa lo! " ucap Tasya sewot dan menatap sinis kearah Rangga.


Rangga tersenyum mesem - mesem. " Ngak ada sya. Cuma terpukau aja sama kecantikan lo " Ujar Rangga yang jujur dari lubuk hatinya terdalam.


Tasya yang begitu mendengar itu langsung melengos pergi setelah dirinya berdecih kesal. " Jangan marah - marah sayang. Ngak baik " Tekan Rangga pada kata ngak baik.


Tasya yang mendengar itu hanya bisa diam lalu memutar knop pintu yang belum diputar setengah derajat.


" Lo kalau marah aja cantik sya. Apalagi ntar pas ijab kabul" Puji Rangga sambil tersenyum kuda. Tapi sayang tidak didengar oleh Tasya karena Tasya sudah masuk kedalam ruangannya.


Sementara didalam ruangan nya Tasya langsung mesem - mesem sendiri. Kenapa? Ya karena Rangga lah, siapa lagi kalau bukan dia.


Tapi beberapa saat setelah nya Tasya langsung melunturkan senyum mesem - mesem nya. " Sadar lo! ngapain senyam - senyum! " Ucap Tasya yang marah kepada dirinya sendiri sambil memperhatikan dirinya dikaca berukuran sedang yang ada tergantung diruangan nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tok.. tok.. tok..


Suara pintu ruangan Rangga diketuk oleh resepsionis yang nampaknya sedang mengatur nafasnya, karena berjalan cepat.


" Masuk! " Suruh Rangga dengan tangan nya yang masih membalik berkas - berkas.


Resepsionis itu langsung masuk setelah dipersilahkan, sebelum dirinya membuka suara dirinya terlebih dahulu menunduk walau tidak diperhatikan Rangga.


" Maaf pak, saya mengganggu waktunya " Ucap resepsionis itu terlebih dahulu.


Rangga langsung mengangkat kepalanya dan melihat resepsionis yang sedang berdiri didepan nya. Kaca mata kerjanya dilepas kemudian ditaruh diatas berkasnya. Tangan Rangga saling menggenggam, gaya Rangga saat ini sangat cool dan berwibawa.


" Ada apa? " Tanya Rangga singkat dan langsung pada intinya.


" Begini pak, di bawah.. ada tuan Zergan menunggu " Ujar resepsionis itu dengan memasang wajah tegangnya. Maklum aja kan biasanya gitu antara bawahan sama atasan.


" Zergan? " Tanya Rangga dengan nada bicara bergumam sendiri, kemudian wajah nya menampakan seperti sedang berpikir.


" Ada keperluan apa dia datang kesini? " Tanya Rangga serius.


" Ehmm.. " resepsionis itu enggan untuk menjawab, kedua tangannya saling menggenggam seperti sulit untuk mengatakan tujuan Zergan datang kesini.


" Apa? " Tanya Rangga dengan tatapan tajamnya.


" Anu pak.. itu.. " Resepsionis itu berbicara dengan terbata - bata nada bicara nya pun dijeda, karena kalau dirinya melanjut kan takut - takut entar bosnya marah. Kedua jemarinya pun saling meremas kuat.


Raut wajah Rangga juga terlihat semakin penasaran sampai - sampai keningnya mengkerut. " Kata pak Zergan... pak Zergan mau ngajak mbak Tasya... " Sebelum ucapan terbata - bata resepsionis itu berlanjut dan selesai Rangga terlebih dahulu menggebrak meja.


Sontak saja resepsionis itu telonjak kaget, begitupun dengan Tasya yang sedang menulis di atas kertas HVS. Akibatnya laporan yang dibuatnya menjadi tercoret tidak beraturan. Tasya geram, akibat gebrakan meja tugasnya tercoret. Dengan langkah yang dihentakan Tasya berjalan kemudian membuka pintu ruangannya secara kasar.


" Lo! kalau mau marah jangan sampe bikin tugas gue rusak! " Bentak Tasya yang tak kenal situasi dan status antara bos dan bawahan. Nampak tadi jari tangahnya menunjuk Rangga.


Rangga yang dibentak seperti itu langsung berdiri dari kursinya dengan raut wajah marah. " Apa?! mau salahin gue?! inget! gue bos lo! " Bentak Rangga tak kalah keras dan kesal. Bukan dirinya kesal dengan Tasya melainkan dirinya kesal dengan Zergan.


Karena bisa - bisanya kecebong polkadot dateng ke RJA Group terus mau ngajak Tasya. Rangga sadar atas apa yang dilakukannya tadi, dirinya langsung merubah ekspresinya. " Maaf, gue- " Ucapan Rangga terpotong karena Tasya terlebih dahulu masuk kedalam ruangannya sambil menunduk.


Tasya kaget atas apa yang baru saja dilakukan oleh Rangga kepadanya. Sementara resepsionis yang sedari tadi disitu hanya bisa diam, dirinya terlalu takut untuk berbicara. Rangga mengepalkan kedua tangannya kemudian mengalihkan pandangannya kearah resepsionis itu. " Suruh dia pulang. Dan ingat! saya ngak mau kalau sampai alesan dia datang kesini untuk ketemua Tasya " Suruh Rangga ketus dengan menampilkan wajahnya yang sangat marah.


" I - iya pak " Ucap resepsionis itu terbata - bata kemudian setelah itu dirinya menunduk memberi hormat dan pergi meninggalkan ruangan CEO RJA Group.


Setelah suara pintu ditutup, Rangga memejamkan matanya sebentar kemudian berjalan kearah ruangan Tasya. Sesampainya didepan pintu ruangan Tasya Rangga diam sebentar kemudian mengetok pintu dan berkata. " Gue masuk ya " Ucap Rangga.


Karena tidak ada jawaban Rangga diam sebentar kemudian setelah itu masuk tanpa si empunya ruangan mempersilahkan. Terlihat saat dirinya masuk, Tasya sedang menuliskan ulang tugasnya yang tadi tercoret. Kertas HVS itu terlihat basah sedikit.


" Lo nangis? " Tanya Rangga sambil memperhatikan wajah Tasya yang terlihat masih asik menatap kertas HVS putih yang ada sedikit tulisannya. Rangga bersender duduk dimeja Tasya dengan kedua tangannya ditaruh dimeja. Aduh.. gimana ya mau jelasin kondisinya? sulit bener dah kalau author mau jelasin.


Tasya tidak menjawab dirinya masih diam, sambil mengeluarkan liquid bening atau air mata. Hidung nya juga sudah berwarna merah muda. " Lo tau ngak sih.. gue ngerjain ini semaleman... " Lirih Tasya dengan suaranya yang bergetar akibat menangis, tapi tatapannya masih tidak lepas dari kertas HVS itu.


" Ya.. maaf.. " Balas Rangga dengan lembut. Sumpah demi apa Rangga merasa bersalah. Dan ya.. mengenai soal ini dirinya tidak tahu. Tapi yang pasti tadi dirinya sedang terbakar cemburu.


" Gue capek.. Rangga " Lanjut Tasya kemudian karena tidak sanggup lagi Tasya melepas polpen ditangannya dan menutup wajahnya yang menangis sambil tertunduk.


Rangga mendesah prustasi dengan menggaruk - garuk rambutnya, pemandangan yang dilihatnya sekarang membuat hatinya ingin ikut menagis. Dirinya langsung merangkul Tasya dan membawanya kedalam pelukannya.


" Iya iya gue salah. Maaf.. " Ucap Rangga lembut kemudian semakin mengeratkan pelukannya. Tapi berbeda dengan Tasya dirinya tidak membalas pelukan Rangga melainkan dirinya menaruh wajahnya dipundak sebelah kanan Rangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kita coba flash back ke tiga hari yang lalu.


Meeting siang hari ini di hotel mawar melelahkan. Bagaimana tidak dari tadi tangan Tasya tidak henti - hentinya untuk mencatat apa saja poin penting dari pertmuan yang dilakukan hari ini.


Sambil berjalan menuju area parkir Rangga berbicara terus menerus mengenai pertemuan terhadap clayen yang tadi kepada Tasya. Sampai - sampai Tasya jengah dan memilih jalan terlebih dahulu meninggalkan Rangga. " Sya! lo denger ngak sih " Teriak Rangga memanggil Tasya yang sudah jauh melangkah didepan nya.


Kali ini Rangga menyamakan langkahnya saat berjalan dengan Tasya. " Gue mau, supaya kerja sama kali ini cepet di setujuin. Lo mau kan bantu gue? " Tanya Rangga lalu membukakan pintu mobil untuk Tasya dan Tasya hanya diam atas perlakuan Rangga. Dirinya terlalu malas untuk membalas apa yang Rangga ucapkan, sebab dirinya masih marah atas kejadian beberapa hari lalu.


Tasya lebih memilih untuk memutar bola matanya malas, lalu memasukan dirinya kedalam mobil. Rangga yang memperhatikan sikap Tasya seperti itu hanya bisa diam dan menghela nafas sesering mungkin. Hari ini dan kemarin Tasya sama saja, Tasya masih tidak mau berbicara dengan nya. Kalaupun Tasya ngomong pasti jawab nya judes gitu. Hmmm kesian anak nya bapak Adi.


Oke, selesai deh. Flash back off.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesuai janji yang telah disepakati bersama pada tadi sore sebelum pulang kerja. Rangga dan Tasya akan makan malam di caffe dekat perumahan Tasya. Sebenarnya tadi Rangga mau nya ngajak makan malam di hotel yang sama pas tanggal 22 juni.


" Dihotel aja si.. kenapa malah di caffe! " Ketus Rangga tidak suka dengan keputusan Tasya.


" Gue malessss. Lo tau ngak sih.. kalau mau kehotel dandan nya itu bisa sampe satu jam! " Tekan Tasya pada kata satu jam. Rangga menghela nafasnya dirinya menyetujui apa yang Tasya ucapkan tadi dan mobil yanh digunakan mereka terus melaju sesuai arah dan jalannya.


Caffe Moon.


Saat ini mereka berdua sedang menunggu pesanan yang sudah dipesan. Walaupun di caffe, Rangga tetep mau kalau suasana nya romantis terus cuma mereka berdua yang jadi pelanggan. Bahkan satu caffe disewa sampe tiga jam, inget tiga jam bukan satu malem. Sultan mah gitu, bikin iri!.


Tapi beda lagi ceritanya sama si Tasya, kalau sudah dipastikan si Tasya itu marah besar sama apa yang udah di lakuin Rangga. Ya gimana ngak marah coba! masa iya ke caffe terus pelanggan nya cuma mereka berdua!. Lu kata Caffe deket kuburan apa?!.


" Gila ya lo! gue kan sengaja mau makan disini biar rame... " Ketus dan rengek Tasya tidak suka dengan keputusan Rangga yang secara tiba - tiba.


" Ya biarin. Selagi ada uang kenapa ngak? " Ucap Rangga yang santai dan sombong. Lalu kemudian beralih menatap benda yang tadi sudah dipegang nya dan disembunyikan dibawah meja agar tidak ketahuan.


Tasya yang mendengar itu langsung mengangkat bibirnya sebelah keatas, seolah dirinya mencibir Rangga. Bener - bener cowok yang ada didepannya ini minta di jadiin suami. Eh.. engga deh kan belum dijawab Yes.


Beberapa menit kemudian makanan datang, pelayan caffe menaruh makanan dan minuman diatas meja. " Silahkan " Ucap pelayan setelah menaruh semua yang dipesan.


Tasya langsung memakan makanannya tanpa mau menunggu Rangga yang dari tadi belum memakan makanan nya, Rangga hanya diam memperhatikan Tasya makan. Dirinya gugup sekarang untuk menanyakan keputusan Tasya.


" Sya " Panggil Rangga, dengan tangannya yang menggenggam erat kotak bludru berukuran sedang yang bewarna biru tua. Tasya yang dipanggil langsung mengangkat pandangannya dan menatap Rangga dengan tatapan bertanya.


" Lo tau kan kalau sekarang itu hari apa? " Tanya Rangga. Sumpah demi roti boboy boy yang rasa cokelat, detak jantung Rangga seperti berpacu cepat. Dan ini tumben sekali.


Tasya tidak berfikir lagi dirinya langsung menjawab karena mengetahui sekarang hari apa. " Hari sabtu " Jawab Tasya dengan wajah polos dan tanpa ada rasa bersalah.


JDERRRR!


Capek deh... bukan hari itu yang dimaksud Rangga. Maksudnya sekarang hari dimana Tasya harus menjawab semunya. " Ya- iya.. memang hari sabtu, tapi,... lo ngak inget gitu selain sekarang hari sabtu.. hari apa sekarang? " Ucap Rangga terbata pada awalnya.


Tasya nampak berfikir keras sambil menatap wajah Rangga yang menunggu jawaban benar. Mata Tasya langsung melotot kemudian jarinya dijentikan. " Gue inget! " Jawab Tasya specles. " Sekarang kan hari ulang tahun nya kucing gue! " Pekik Tasya histeris.


Arghhh.. sudahlah. Bukan ini jawaban nya. Rangga nampak tersenyum paksa ikut senang karena kucing Tasya yang berbulu putih itu ulang tahun. Happy birthday ya...


" Astaga! kok gue bisa lupa sih?! " Ucap Tasya lalu menepok jidatnya.


Tolong dong.... Rangga mau manjat pohon cabe aja. Rangga capek! kalau ngode - ngode terus!. Rangga memejamkan matanya cukup lama kemudian menghela nafas. Oke, sekarang Rangga harus kuat mental dan hati.


Rangga menaruh kotak bewarna biru tua itu diatas meja. Tasya yang masih asik dengan ponselnya mencari hadiah untuk kucing nya tidak terlalu memperhatikan apa yang Rangga taruh.


" Sya " Panggil Rangga lembut.


Tasya menoleh kemudian tersenyum. " Kenapa? " Tanya Tasya masih belum sadar akan keadaan dan situasi yang terjadi. Capekk deh Rangga nya.


" Gue mau lo jawab sekarang " Tegas Rangga denhan wajah serius lalu mendorong kotak bewarna biru tua itu kedekat Tasya. Tasya yang melihat itu langsung terdiam dan menaruh ponselnya yang masih menyala dimeja.


Kemudian tatapan nya beralih menatap Rangga. " Emang sekarang sudah dua bulan ya? " Tanya Tasya polos dan tidak mengingat tanggal.


Rangga mengangguk. " Gue mohon lo jawab iya " Ucap Rangga berharap menatap wajah Tasya lekat - lakat. Dan sekarang mata mereka saling satu arah memandang, lurus tidak ada belok nya.


~ Bersambung ~


Spoiler nih.


" Kita cerai aja! aku capek! " Teriaknya.


Note ya semua nya.. kalau spoiler belum tentu muncul di episode berikutnya.