My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
68



Hujan sore hari ini turun deras menghujani Jakarta, Keyla hanya bisa mendengus kesal sambil duduk didepan studio foto yang sudah tutup. Tepatnya studio foto itu tempatnya pemotretan tadi.


Entah ini sudah menit keberapa Keyala menunggu kedatangan Ferel, dan juga ditambah apesnya lagi baterai ponselnya hanya sisa lima persen saja. Huh.. entah sampai kapan ponselnya akan bertahan sebelum mati.


Dering ponselnya terdengar, Keyla tersenyum begitu mengetahui bahwa Ferel yang menelpon.


" Hallo " Ucap Keyla menjawab telepon Ferel.


" Sayang, aku minta maaf. Kaya nya aku ngak bisa jemput kamu " Ujar Ferel memberi tau Keyla. Terdengar juga dari seberang telepon itu ribut entah suara apa. Kambing kali key.. lagi teriak. Canda kambing ✌.


" Te- " Sambungan telepon itu duluan terputus sebelum Keyla menyelesaikan ucapannya. Keyla mendecak kesal, kemudian dirinya mengehela nafas panjang.


Keyla menatap air hujan yang belum selesai turun. Tangannya terulur untuk merasakan air hujan. " Gue telepon Kenan aja ya? Tapi baterai nya.. sisa tiga persen " Ucap Keyla bermonolog sendiri sambil melihat baterai ponselnya.


Keyla menekan nama Kenan dikontak telepon ponselnya. Sedetik kemudian ponselnya mati sebelum sambungan telepon itu tersambung. Keyla menutup matanya sebentar kemudian melihat caffe yang berada di studio pemotretan itu. " Gue harus kesana " Putus Keyla agar dirinya bisa meminjam charger kepada karyawan caffe.


Keyla meremas erat tas miliknya. Sebelum dirinya menyebrang Keyla melihat kenan dan kekiri, Keyla memastikan agar tidak ada kendaraan yang lewat saat dirinya tiba - tiba menyebrang nanti.


Keyla mulai menyebrang jalan dengan berlari. Telapak tangan sebelah kanan nya digunakan untuk menutupi sedikit kepalanya dari guyuran air hujan, sementara tangan kirinya menggenggam erat tali tasnya.


Keyla menghela nafas lega, sekarang dirinya sudah berada didepan pintu caffe. Keyla menyesuaikan nafasnya terlebih dahulu. Kemudian setelah itu dirinya berjalan masuk kedalam caffe.


Memang sekarang maminya tidak ikut untuk menemani Keyla pemotretan, alasannya karena maminya akan menggantikan Keyla dan Ferel untuk menyiapkan beberapa urusan pernikahan yang belum selesai.


" Mbak, saya boleh minjem charger? soalnya.. baterai hp sy mati " Ujar Keyla meminjam charger kepada karyawan yang bertugas menjaga kasir.


" Boleh mbak, sebentar saya ambilkan " Ujar penjaga kasir itu dan langsung pergi meninggalkan kasir sebentar untuk meminjamkan charger miliknya.


Selama beberapa menit menunggu didepan meja kasir, jari Keyla hanya bergerak untuk mengetuk - ngetuk meja kasir sambil pandangannya yang memperhatikan jalan raya yang sedikit dilalui oleh kendaraan.


" Ini mbak " Ujar penjaga kasir memberikan Keyla charger yang nampaknya sesuai untuk ponsel Keyla yang bermerek mahal, sambil menampakan senyum ramahnya.


Keyla membalas senyum ramah penjaga kasir itu. " Makasi ya. Oh.. iya saya mau pesen yang ini sama... yang ini " Tunjuk Keyla memberitahu beberapa menu yang akan dipesannya selama menunggu baterai ponsel nya sedikit penuh.


Setelah selesai memesan makanan dan minuman, Keyla langsung duduk dikursi yang dipilihnya. Kebetulan disampinya ada lubang untuk mencharger ponsel nya. Setelah selesai mencharger ponselnya, Keyla hanya bisa diam sambil menatap keluar jendela. Keyla menatap rintik hujan yang jatuh dengan sedikit. Nampaknya hanya gerimis saja yang turun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Tasya sedang melakukan aktivitas rutinnya, dimana dirinya menonton drama korea di laptopnya. Tasya sesekali mengecek jam diponselnya. Waktunya satu jam menonton drama korea telah selesai, Tasya duduk sambil meregangkan otot - otot tangannya.


Tasya beranjak dari kamar mandi, tapi dirinya langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar ada seseorang yang mengetok jendelanya.


Fikiran Tasya kini sudah traveling mengelilingi otaknya. " Ngak mungkin kan, ada monyet? " Tanya Tasya kepada dirinya sendiri sesekali juga Tasya memberi jeda pada ucapannya.


Tasya menabok pipinya, itu dilakukan agar ia sadar dari lamunannya. Tasya melanjutkan langkahnya kekamar mandi tapi baru saja dirinya ingin memutar pintu kamar mandi. Tapi malah dirinya dikejutkan oleh suara ketukan jendela.


Tasya menggelengkan kepalanya. " Sadar lo! ngak mungkin setan berwujud monyet! " Tegas Tasya kepada dirinya karena dirinya sudah berfikir akan hal yang berbau horor. Contohnya seperti film horor yang pernah ditonton olehnya yang judulnya ' Setan berwujud monyet '.


" Sya ini gue! " Teriak orang itu dengan suara khas laki - lakinya. " Bukain! " Suruhnya lagi sambil menggedor - gedor jendela Tasya.


Tasya mematung sejenak. Kemudian membalik badannya dan mendekat kearah jendela. " Ih.. masa iya monyet bisa ngomong? " Tanya Tasya yang belum melihat penampakan monyet seperti difikirannya.


Tasya meremas gorden bewarna coklat yang menutupi jendela kamar nya. Tasya membaca ayat kursi seperti yang diajarkan oleh bu guru agamanya dulu pada saat masa sekolah dasar. Dibukanya gorden itu dengan matanya yang tertutup.


Sedetk kemudian Tasya membuka matanya secara perlahan. " Nauzubillah monyet jadi - jadian! " Pekik dan teriak Tasya saat melihat manusia dengan sosok yang dikenali nya, Rangga.


Rangga mengisyaratkan untuk diam, dengan jari telunjuknya yang ditempelkan dibibirnya. Tasya mengangguk seolah lupa dengan apa yang dilakukannya tadi.


" Bukain " Ucap Rangga.


" Ngak! " Tolak Tasya tegas.


" Please... " Pinta Rangga sambil memperlihatkan wajah memelasnya. Tasya yang melihat wajah itu hanya bisa pasrah lalu membukakan jendela untuk Rangga. Sebenarnya dirinya malas sekali membukakan Rangga jendela tapi tidak tahu kenapa hatinya ingin sekali. Ceilah.. mbak Tasya dah kesemsem kek nya. Cuit - cuit.


Setelah jendela terbuka, Rangga melompat untuk masuk kedalam kamar Tasya, seperti maling. Tasya langsung menghindar agar dirinya tidak bertubrukan dengan Rangga. Tasya memutar bola matanya malas, kemudian mulutnya mencebik Rangga.


" Ngapain sih lo?! " Tanya Tasya dengan nada membentak.


" Lo kan- " Sebelum Tasya melanjutkan ucapannya Rangga langsung memebekap mulut Tasya. Rangga melihat bahwa dibawah sana ada sekumpulan anak muda yang sedang lewat dan berjalan didepan rumah Tasya. Bisa - bisa kalau mereka diliat berdua dikamar yang jendelanya belum ditutup, yang ada besok mereka berdua udah ubah status jadi suami istri. Ya.. walaupun Rangga mau nya seperti itu, tapi kan.. cara yang ini ngak bener.. bisa - bisa besonya Rangga digebukin sama mama Erina. Kan sakit jadinya.


Rangga langsung mendorong Tasya hingga punggung Tasya terkena tembong. Tasya membelalakan matanya saat merasakan pungung nya yang sakit. Dirinya ingin memaki Rangga, akan tetapi masalahnya.. mulutnya masi dibekap oleh Rangga.


Rangga tidak memperhatikan mata Tasya yang melotot, dirinya malah memperhatikan sekumpulan anak muda yang sedang diam mengamati kamar Tasya yang jendelanya terbuka.


" Ngeliat apa lu? " Tanya salah satu anak muda yang mengalungkan sarung kelehernya kepada temannya yang melihat jendela Tasya terbuka.


Anak muda yang ditanya oleh temannya itu langsung menggelengkan kepalanya. " Ngak, ngak ada. Yuk lanjut! " Ajaknya kepada teman - temannya yang lain. Sekumpulan anak muda itu pun lanjut berjalan.


Rangga yang melihat para pemuda itu sudah berjalan, langsung melepaskan bekapan tangannya dimulut Tasya. " Tangan lo bau terasi! " Ucap Tasya ketus sambil melihat Rangga dengan tatapan membunuh.


Rangga yang mendengar ucapan Tasya seperti itu langsung mencium telapak tangannya. " Ngawur lo! " Sarkas Rangga sambil mendorong dahi Tasya dengan jari telunjuknya.


" Punya tujuan apa lo dateng kesini? " Tanya Tasya sinis kedua tangannya pun sudah disilangkan didepan dadanya, serta badannya dibuat bersender ditembok.


Rangga tidak menjawab melainkan dirinya malah nyelonong kemudian naik dan tidur dikasur Tasya. Tasya membelalakan matanya tidak percaya. " Setan lo! ngapain lo malah tidur ha?! " Umpat dan tanya Tasya kesal. Sumpah demi iron man yang terbang tanpa sayap baru pertama kali ini Tasya meengumpat terhadap Rangga.


Rangga yang mendengar Tasya mengumpati dirinya langsung tidur menyamping menghadap kearah Tasya yang sudah beridiri disamping kasurnya. " Wih.. ternyata bisa ngomong gitu juga lo. Tapi.. jangan ngomong gitu ke anak - anak kita nanti. Ngak baik " Ucap Rangga yang malah ceramah singkat.


Tasya berdecih. " Pala lo bulet! ora sudi!. Sampe.. bat man jadi cat woman! gue ngak akan nikah sama lo! " Ketus Tasya menekan ucapan nya. Btw.. kalau benci bisa jadi cinta ye kan?.


Rangga yang mendengar itu hanya mangut - mangut sambil memeluk guling Tasya. Sensasi yang Rangga rasakan sekarang adalah nyaman dan lembut. Iya, lembut. Lembut karena wangi sabun Tasya menempel pada seprei berwarna biru Tasya.


" Awas ngak lo! sana - sana! " Usir Tasya dengan cara mendorong Rangga menggunakan bantal. Kalau make tangan si bisa, tapi kan.. Tasya nya ora sudi.


Rangga yang jengah dengan tingkah Tasya langsung memikirkan ide konyolnya, yang bisa sajja nanti ide inj membawa keberuntungan baginya. Rangga tersenyum tanpa arti kearah Tasya. Tasya yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya.


" Kenapa lo? " Tanya Tasya bingung. Rangga tidak mejawab melainkan dirinya membuang bantal yang tadi digunakan Tasya untuk mengusir dirinya kelantai. Tasya melihat bantal nya dilantai, amarah Tasya kini memuncak.


Tangannya dilayangkan keudara kemudian... tanpa disangka - sangka Rangga mengambil kedua tangan Tasya. Tasya tidak bisa bergerak sekarang tangannya terkunci, dipegang Rangga. " Apaan si! lepasin! " Ucap Tasya risih.


Rangga tidak menjawab dirinya masih tersenyum seperti tadi. Sedetik kemudian Tasya ditarik oleh Rangga tidur disamping dirinya. " Lo gila! " Pekik Tasya tidak suka seperti ini. Tasya ingin beranjak dari kasur nya tapi tangannya malah ditarik lagi oleh Rangga sehingga posisi Rangga kini diatasnya dan Tasya berada dibawah Rangga.


Sumpah demi tanos yang anaknya nebula. Culik Tasya sekarang... Tasya sekarang menjadi patung, dirinya membatu. Bahkan hatinya tiba - tiba menjadi tempat untuk bermain drumband. Pak cepak cepak jeder!.


Entah kenapa nafas Rangga tercekat bila melihat Tasya lebih dekat sekarang. Wajah yang mulus tanpa ada jerawat dan flek hitam, itulah yang dilihat oleh Rangga dari dekat. Rangga menaturalkan ekspresinya yang gugup, kini wajah Rangga seperti orang yang sombong.


" Lo mau gue ngomong jujur ngak? " Tanya Rangga sambil menatap Tasya dengan lututnya yang menjadi penyanggah agar tubuhnya tidak jatuh dan malah menimpa badan Tasya. Kan kalau itu kejadian berabe jadinya. Tangan nya pun memegang kedua tangan Tasya agar Tasya tidak menampar dirinya.


Jantung Tasya masih berdetak cepat. " A- apa? " Tanya Tasya gugup karena jantung nya belum stabil.


Rangga yang mendengar Tasya gugup langsung tersenyum manis. " Lo cantik, sama kaya bulan " Ujar Rangga menjawab pertanyaan Tasya.


" Bunda... Tasya mau mati aja deh. Bunda... Tasya baperrr.. " Isi batin Tasya yang menjerit senang saat mendengar penuturan yang diberikan oleh Rangga dengan tulus. Wajah Tasya tiba - tiba menjadi semerah cabe. Eh.. pedes dong.


Rangga semakin tersenyum dibuat oleh Tasya. Bagaimana tidak, orang si Tasya sampe blusing gitu. Dah lah author laper, eh baper. " Basi tau ngak! " Ketus Tasya dengan wajah ketusnya lalu mendorong tubuh Rangga dari atas dirinya karena Rangga sudah melepas tangannya.


Rangga langsung tertidur disamping Tasya, dirinya terkekeh sendiri. Sementara Tasya, eh si mbak udah lari kekamar mandi!. Harap maklum aja sih.. orang udah baper gitu. " Gue tau lo suka sama gue " Ucap Rangga bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menatap langit - langit kamar Tasya. Kedua tangannya pun digunakan untuk menjadi bantal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya.


Hai matahari! sudah siapkah kamu menyambut dua insan yang dalam waktu beberapa jam lagi akan menjadi suami istri?


Iya, siapa lagi kalau bukan Keyla dan Ferel.


Cling..


Suara notifikasi masuk kedalam ponsel Ferel. Ferel yang sedang menyisir rambutnya dikaca melihat pesan itu, dirinya tersenyum bahwa calon istrinya yang mengirimkan pesan itu.


Setelah selesai berkaca dan menyisir rambutnya, Ferel mengambil ponselnya yang ditaruh diatas nakas kemudian dirinya berjalan membawa ponsel itu dan duduk di bangku rofftof kamarnya.


Ferel membuka aplikasi pesan itu. Ternyata Keyla mengirimkan dirinya satu buah foto. Ferel membuka foto itu setelah dirinya berhasil mengunduh nya.


Selang beberapa detik kemudian masuk lagi pesan dari Keyla.


Pesan itu berisi. " Itu kamu? " Tanya Keyla pada pesannya.


" ****! " Umpat Ferel sambil menggebrak meja.


Cling..


Lagi sekali masuk pesan dari Keyla. " Kalau bener, kita jangan lanjutin rencana pernikahan nya " Isi pesan Keyla, kemudian setelah itu Keyla terlihat tidak aktif.


Ferel mengepalkan kedua tangannya. Dirinya tidak habis fikir, dari mana Keyla mendapatkan foto itu. Dan lagi, Keyla meminta untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan mereka. Yang benar saja!. Hanya menghitung jam dan menit mereka akan menikah! masa iya harus dibatalin.


Ferel mengambil kunci motor nya dan turun melalui lift apartemen nya. Iya, sekarang dirinya berada di apartemen setelah tadi malam mengantarkan seseorang yang dikenalnya.


~ Bersambung ~


Udah 1885 kata nih..


likenya kakak, komen juga, oh iya rate nya jangan lupa.


Proses untuk revisi akan dilakukan setelah novel inj tamat.


Lombok, 16 oktober 2021.


21:54