My Husband This Is My CEO Season 1

My Husband This Is My CEO Season 1
64



BREAKING NEWS.


" Natalie goldy, model terkenal akan melakukan sidang perdananya hari ini. " Begitulah isi berita yang disampaikan oleh salah seorang presenter yang menyampaikan berita distasiun televisi nasional.


Pengadilan.


Banyak sekali reporter yang datang untuk meliput hasil sidang pertama Natalie, kursi - kursi didalam ruang sidang pun telah sesak dipenuhi orang. Ada satu orang wanita disana yang nampak mencolok dari caranya berpakaian.


Kaca mata hitam yang digunakan, serta masker yang menutupi setengah wajahnya membuat wanita itu asing dan tidak dapat dikenali.


Dari arah pintu lain datang lah Natalie beserta dua polwan yang bertugas untuk mengiring Natalie disamping kanan dan kirinya. Natalie langsung duduk dikursinya.


Diruang sidang itu terdapat juga pengacara terkenal yang siap membela Natalie, sebagai clayen. Sidang pun dimulai, para hakim memasuki ruang sidang dan langsung duduk dikursi mereka.


Dikursi - kursi para reporter telah siap dengan pulpen dan buku catatannya, mereka mencatat semua hasil sidang pertama Natalie. Tapi tidak dengan wanita misterius itu dirinya hanya diam melihat situasi dengan sesekali matanya melihat kearah Natalie yang menundukan kepalanya.


Lamanya proses sidang membuat semua orang merasa lelah. Sidang diberhentikan sementara. Natalie dibawa oleh kedua polwan itu beranjak dari sana.


Kaki jenjang putih itu melangkah menyusul Natalie dengan sepatu heals tinggi berwarna peach yang dipakainya.


" Bisa saya bicara sebentar dengan Natalie " Ucap wanita itu yang berdiri tidak jauh dari tempat Natalie berdiri.


Natalie beserta dua polwan itu berbalik. Wanita itu membuka kaca matanya tapi tidak dengan masker hitamnya. Salah satu polwan mengangguk mengiyakan permintaan wanita itu.


Ditinggalnya Natalie dan wanita itu berdua disana sementara kedua polwan itu menunggu didepan ruangan pintu berwarna coklat. Wanita itu berjalan mendekat kearah Natalie, Natalie hanya bisa diam sambil memperhatikan wanita itu mendekat kearahnya.


Tinggi keduanya sedikit tidak sejajar karena perempuan misterius itu memakai heals sementara Natalie hanya memakai sepasang sendal jepit murahan.


Masker hitamnya dibuka, dan terlihat lah wajah putih mulus seorang model terkenal yang pernah terkena kasus. " Long time no see Natalie " Ucap wanita itu sambil tersenyum dengan bibir merah meronanya yang dihasilkan oleh lipstik.


Natalie terkejut, mulutnya menganga begitu mengetahui siapa orang yang menyapa sekarang. " Mor- morena..! " Ucapnya terkejut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keyla siang ini masih berada distudio pemoteran, sedangkan sore nanti dirinya akan ada jadwal pemotretan di pantai.


Keyla sedang menganti bajunya diruang ganti. Gaun seperti princes belle kali ini yang akan digunakan olehnya sebab tema pemotretannya kali ini adalah dunia dongeng.


Setelah selesai menganti bajunya, Keyla langsung berfoto dengan gaya seperti seorang princes. Anggun, indah dan cantik yang mengambarkan penampilan nya kali ini.


Sepuluh menit kemudian agenda pemotretan nya untuk siang hari ini selesai. Keyla menghela nafasnya lalu masuk kedalam mobil. Didalam mobil Keyla meregangkan ototnya yang kaku dan lelah.


Mobil yang digunakan Keyla untuk kerja adalah mobil miliknya, sebab semua fasilitasnya sudah kembali seperti semula. Bahkan perhiasannya yang sempat disita oleh papinya sudah balik ketangannya. Hanya saja dirinya tidak mau pulang kerumah nya dulu untuk tinggal bersama kedua orang tua dan kakaknya, Keyla sudah merasa nyaman dirumahnya sendiri dari pada dirumahnya yang dulu.


Keyla membuka ponselnya dan menonton berita melalui website portal online. Keyla menonton berita tentang Natalie. " Wait.. " Ucap Keyla tak sengaja melihat orang seperti dikenali olehnya.


Keyla memutar ulang vidio itu. Mulutnya menganga tidak percaya seperti Natalie tadi. " Morena!. Apa yang dia lakuin disitu? " Tanya Keyla terkejut.


Jari jemari Keyla yang sudah diberi kutex mencari nomor telepon seseorang diponselnya. Beberapa kali dirinya menelpon tapi yang ditelpon tidak mengangkat.


" Mungkin masi tidur kali ya? " Gumam Keyla bertanya kepada diri sendiri.


Yap, tadi Keyla berniat menelpon Ferel. Akan tetapi panggilan telepon nya tidak dijawab karena sekarang di Madrid masih jam empat pagi. Panggilan telepon mereka yang terakhir adalah dua hari yang lalu pada saat Ferel menelpon Keyla jam tiga pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan CEO RJA Group.


Pintu ruangan yang terbuka membuat satu pegawai resepsionis bisa masuk bebas kedalam ruangan itu menaruh satu buket bunga besar.


" Taruh aja disofa " Ucap Rangga menyuruh pegawai resepsionis itu sambil melihat nya.


" Baik pak " Jawab pegawai itu, lalu menaruh buket bunga mawar disofa. Setelah menaruh buket bunga itu pegawai resepsionis itu menunduk memberi hormat lalu pergi.


Panggilan intercom masuk dan berdering didalam ruangan Tasya. Tasya yang sedang bersin - bersin langsung mengambil telepon itu dan menempelkannya di telinga.


" Iya pak, ada apa? " Tanya Tasya lalu bersin, dan mengelap hidungnya menggunkan tisum


" Kenapa lo? " Tanya Rangga bingung karena mendengar Tasya bersin.


" Gue pilek. Ngapain lo nelpon " Tanya Tasya.


" Keruangan gue sekarang " Suruh Rangga lalu menutup panggilan intercok sebelum Tasya menjawab.


Dengan hidung yang disumpali tisu Tasya keluar dari ruangannya. Rangga yang sedang duduk santai dikursinya menanti Tasya keluar dari ruangannya, langsung kaget saat melihat kondisi Tasya. " Astaga.. gue kira lu mayat! " Ucap Rangga kaget melihat Tasya menyumpali kedua hidungnya dengan tisu.


Tasya tidak menanggapi apa yang Rangga ucapkan tadi, dirinya hanya memasang wajah datar lalu berdiri didepan Rangga. " Aduh.. mbak.. cantik - cantik hidungnya disumpelin tisu " Sindir Rangga yang melihat Tasya lucu saat hidungnya disumpali tisu. Rangga berdiri dari duduknya kemudian mengajak Tasya kesofa dimana ada buket bunga itu berada.


" Tadaaaaaa.....!! " Ucap Rangga sambil menunjuk buket bunga mawar berukuran besar itu dengan kedua tangannya yang dijulurkan.


Begitu melihat ada buket bunga mawar disofa. Tasya langsung pingsan, untuk saja Rangga langsung menyangga tubuhnya agar tidak jatuh kelantai.


" Heh.. heh.. kenapa lo? " Tanya Rangga sambil menepuk - nepuk pipi Tasya. Karena tidak ada jawaban Rangga panik bukan maen, dirinya menyingkirkan buket bunga mawar itu dari sofa dengan kasar kemudian menidurkan Tasya disofa.


Buket bunga mawar itu sudah jatuh kelantai. Bunga mawarnya pun langsung berantakan. Rangga dengan segera lari kemeja kerjanya kemudian tangannya memencet nomer telepon untuk menghubungi bagian resepsionis. " Cepat kamu panggilkan dokter keruangan saya! " Suruh Rangga menelpon kebagian resepsionis. Kemudian panggilan telepon itu terputus.


Tak beberapa lama datang dokter keruangan Rangga dengan tergopoh - gopoh. Dokter yang lari itu membuat kerumunan karyawan didepan ruangan CEO berkumpul karena penasaran.


" Eh.. eh.. ada apa nih? " Tanya Winda penasaran bertanya kepada temannya.


" Tasya pingsan win! " Ucap karyawan itu memberitau dengan heboh.


Winda kaget bukan maen. " Hah..! " Dengan cepat Winda membelah lautan karyawan yang sedang berkumpul didepan ruangan CEO, dan Winda masuk tanpa dipersilahkan oleh siempunya ruangan.


Winda bisa melihat Tasya yang sedang diperiksa oleh dokter. Rangga yang melihat ada karyawan lain masuk keruangannya menatap Winda dengan tatapan tajam setajam mata pisau. Saat ini posisinya sedang duduk disofa memangku kepala Tasya.


Winda langsung menundukan pandangannya. " Ma- maaf pak kalau saya lancang " Ucap Winda meminta maaf dengan perasaan yang gugup. Kedua tangannya saling menggenggam erat, rasa gelisah takut dipecat menghantui dirinya.


" Keluar! " Tegas Rangga dingin kepada Winda. Winda mengangguk mengerti lalu menunduk memberi hormat sebelum keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tisu yang menyumpal hidung Tasya sudah dibuang oleh dokter saat dokter itu datang.


Dokter itu telah selesai memeriksa Tasya, stetoskop nya dilepas dari telinga kemudian dikalungkan dileher. " Istrinya kenapa bisa pingsan pak? " Tanya dokter itu penasaran agar bisa menyimpulkan hasil pemeriksaannya.


Rangga kaget saat dokter itu mengucapkan bahwa Tasya adalah istrinya. Padahal masih proses berjuang. " Ah.. dia.. saya.. ngak tau pak. Tadi tiba - tiba pingsan setelah saya kasih buket bunga " Ujar Rangga yang gugup diawal jawabannya.


Dokter itu mengangguk lalu melihat buket bunga yang berserakan dilantai. " Istri bapak baik - baik aja kok. Dia cuma alergi bunga " Ujar dokter itu sambil tersenyum.


" Alergi bunga? " Ucap Rangga kaget tidak mengetahui Tasya alergi terhadap aroma bunga. " Lo bodoh Rangga. Stupid! " Ucap Rangga menyumpahi dirinya didalam hati.


" Iya pak. Nanti saya berikan resep obatnya, agar.. istri bapak cepat sembuh " Kata dokter itu lalu menulis resep obat apa saja yang akan dikonsumsi oleh Tasya. Setelah selesai menulis, dokter itu memberikan resep obat kepada Rangga.


" Terimakasi. Nanti biyayanya saya transfer " Ucap Rangga sambil menerima resep obat yang harus dibeli diapotek .


Dokter itu tersenyum. " Baik pak, nanti saya akan berikan nomer rekening saya diresepsionis " Ucap dokter itu. " Kalau begitu saya pamit " Izin dokter itu dan dijawab anggukan oleh Rangga.


Beberapa menit kemudian, Tasya bangun dari pingsannya. Matanyaa mengerjap pandangannya memperhatikan langit - langit ruangan. Tasya langsung bangun dari tidurnya karena melihat Rangga yang masih memangku kepalanya.


Degup jantung Tasya terasa kencang, untung saja ekspresi kaget Tasya tidak diperhatikan oleh Rangga sebab pria itu sedang tidur dengan cara menyandarkan badannya disofa.


" Huh.. kok jantung gue gini ya? " Tanya Tasya sambil merasakan debaran jantungnya dan memperhatikan wajah Rangga yang terlihat tampan saat tertidur.


Hachchim..


Suara bersin Tasya membuat Rangga terganggu dalam lelapnya tidur. Rangga mengerjapkan pandangannya kekanan kiri kemudian memperhatikan sosok Tasya yang sudah duduk disampingnya.


" Lu udah bangun? " Tanya Rangga dengan suara serak khas bangun tidurnya. Tasya mengangguk dengan ekspresi masih terkejut akibat jantungnya yang tidak berhenti berdetak secara normal.


" Gue anterin pulang ya, lu kan lagi sakit. Entar gue beliin obat diapotik " Ujar Rangga kemudian beranjak dari posisi duduknya. Kedua pahanya terasa keram akibat terlalu lama memangku kepala Tasya.


" Jangan deh.. jangan! " Tolak Tasya. Dan Rangga yang sedang melakukan peregangan memberhentikan aktivitasnya.


" Kok jangan sih.. lo kan lagi sakit! entar bersin - bersin lagi loh. Dokter bilang lo alergi serbuk bunga " Ujar Rangga panjang lebar dan protes karena Tasya tidak mau pulang.


" Alergi? Gue sama sekali ngak punya alergi Rangga! " Tegas Tasya menyalahkan ucapan Rangga yang tidak benar dengan ekspektasinya.


" Tapi itu kan kata lo. Dokter bilang lo alergi! Jangan keras kepala deh.. " Ketus Rangga marah tidak suka dirinya dibantah. Tasya kesal dirinya mendesis seperti ular lalu kakinya berjalan kearah ruangannya sambil dihentak - hentakan.


Tak beberapa lama Tasya keluar sambil menenteng tasnya, Rangga hanya diam memperhatikan Tasya dengan matanya gayanya pun berkacak pinggang. Langkah Tasya kini telah sampai didepan pintu ruangan CEO tangannya juga sudah menggenggam kayu pintu bersiap untuk membuka pintu kayu berukuran besar itu.


" Jadi ngak? katanya mau anterin gue pulang! " Tanya Tasya dengan raut wajah sebal dan cemberut. Nada bicaranya juga ketus. Entahlah Tasya saat ini mungkin sedang datang bulan.


Rangga yang dari tadi mengerutkan dahinya, langsung merubah ekspresinya menjadi tersenyum. Kemudian dirinya berjalan mendekat kearah Tasya dan membuka pintu kayu itu.


" Silahkan tuan putri " Ujar Rangga mempersilahkan Tasya keluar dari ruangannya. Tasya langsung melengos berjalan mendahului Rangga, kakinya berjalan dengan cara dihentakan.


" Nyebelin banget! " gumam Tasya sambil berjalan. Rangga hanya bisa pasrah dengan sifat Tasya saat ini. Memang perempuan itu harus ekstra sabar bila ingin dihadapi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Caffe.


Malam sudah datang, sehabis pemotretan Keyla meluangkan waktunya untuk bertemu dengan teman lamanya dulu diagensi model. Temannya itu bernama Morena.


Keyla yang menunggu dari tadi dimejanya, mengaduk minuman yang dipesannya dengan sedotan. " Hei.. sorry ya gue lama " Ucap Morena yang baru datang lalu mendudukan dirinya dikursi.


Keyla tersenyum sambil mengangguk. " Duh.. udah lama banget ya kita ngak ketemu " Ujar Morena melepas kangennya bersama Keyla.


" Iya udah lebih setahunan. Bay the way... gimana karir lo di sana? " Tanya Keyla berbasa - basi dengan karir Morena di Italia. Dimana disana adalah tempat rumah mode dunia.


" Ya... seperti yang lo liat " Jawab Morena sambil tersenyum senang.


Jauh nya jarak membuat mereka lama tidak bertemu. Dulu mereka direkrut oleh salah satu agensi model terkenal di London, tapi job model mereka berbeda - beda negara.


Acara perbincangan itu berlanjut sampai mereka berdua memutuskan untuk pergi dari caffe itu.


~ Bersambung ~


Mau 2000 kata tapi ngak bisa nih...


See u ya...