
Hii aku balik.
Yang mau kasih saran untuk ganti visual boleh ya!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Tasya sayang abang!! " Teriak Tasya diakhir kalimatnya lalu Varo memperlambat laju mobilnya dan memberhentikan nya ditepi jalan.
" Duduk ngak lo! " Perintah Varo, tapi Tasya tidak mendengar kan omongan Varo dirinya malah diam diposisi nya sambil melihat sungai yang berarus tenang.
" Tasya! duduk! " Perintah Varo lagi dengan nada membentak.
" Apaansi! terserah gue mau duduk kek, engak kek! ngapain lo yang repot! " Sarkas Tasya yang sebal.
Varo mendesis. Ingin sekali dirinya mendorong Tasya sampai terjun kesungai tapi apa daya Tasya adalah perempuan dan juga adik satu - satunya yang dimiliki oleh Varo. Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya.
" Yaudah deh.. gue ngalah " Lirih Varo lalu membuang pandangannya berhenti menatap Tasya yang masi memunggungi dirinya.
Tasya terkejut dan langsung membalikan badannya. " Lo serius?! serius kan?! " Tanya Tasya dengan nada berkobar - kobar tidak menyangka.
" Ih. Iya.. gue serius " Ujar Varo sebal dan terpaksa.
" Aaa... makasi abang! " Ucap Tasya lalu memeluk Varo dengan erat.
Varo yang merasakan pelukan itu merasa jengah, dirinya sangat malas dipeluk - peluk. Apalagi dengan adik sepupu nya yang tadinya berhasil meembuat dirinya ingin jantungan. " Lepas! lepas! " Ucap Varo sambil memberontak.
Tasya melepas pelukannya, kemudian tersenyum gembira sambil menatap Varo. " Apasih! ngak usah senyum - senyum! kaya boneka anabel tau ngak lo! " Ujar Varo.
Lalu setelah itu mobil Varo berjalan lagi sampai kekantor RJA Group.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruangan CEO RJA Group.
" Sudah makan? " Tanya Rangga kepada Tasya yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
" Sudah kok. Lo.. gimana? " Tanya Tasya balik.
" Belum si.. mau temenin gue makan ngak? " Tanya Rangga yang padahal memiliki maksud dan tujuan untuk ingin berduaan dengan Tasya. Hmm buaya.
Tasya melirik jam tangannya. " Tapi kan- " Ucapan Tasya terpotong.
" Iya sih jam makan siang memang sudah habis. Tapi.. gue kan yang punya perusahaan " Ujar Rangga lalu mengenggam tangan Tasya. Tasya memperhatikan tangan kekar yang sudah menyatu dengan tangan nya kemudian beralih menatap wajah Rangga yang sedang tersenyum.
" Yaudah deh, ayo. Tapi.. bisa ngak sih.. tangannya dilepas! " Protes Tasya sambil menatap Rangga dengan tatapan datar.
" Ngak bisa! tangannya sudah lem soalnya " Jawab Rangga berlasan lalu berjalan dan menarik Tasya. Sementara Tasya yang ditarik terpaksa berjalan dibelakang Rangga dengan sedikit terburu - buru agar langkahnya bisa sama.
Untung saja semua karyawan sedang dalam mode sibuk jadi hanya ada satu atau dua OB yang terlihat sedang mengepel atau mengatur benda agar tidak terlihat berantakan. Contohnya seperti Vas bunga berukuran besar.
Tapi hal itu tidak menjadi perhatian OB, karena mereka sedang fokus bekerja.
" Ihh.. Rangga lepasin! " Ucap Tasya memberontak ingin melepaskan genggaman tangan Rangga.
" Kan tangannya sudah di lem Tasya.. " Ucap Rangga masih dengan alasan kuno nya.
" Ishhh.. lepasin! lepasin! " Ucapnya lagi sambil memukul - mukul tangan Rangga.
" Diem kenapa si!. Jarang - jarang ya.. ada tangan cewe yang mau gue pegang " Ucap Rangga menyombongkan dirinya. Tasya ingin sekali mejambak rambut Rangga begitu mendengar kata - kata sombong yang keluar dari mulut Rangga.
Sesampainya dikantin kantor Rangga langsung duduk dikursi meja makan tapi eitsss... genggamannya belum terlepas begitu saja. Rangga memesan menu makanan yang menurutnya enak.
" Lepasin... ini kan sudah sampe dikantin " Ujar Tasya tidak suka tangannya masih digenggam oleh Rangga. Rangga hanya diam tidak bergeming sampai makanan nya datang diantar pelayan.
" Ish.. nyebelin! " Kesal Tasya dengan gaya menaruh wajahnya dimeja dan menjadikan tangan sebelah kirinya sebagai bantal. Wajahnya ditekuk dirinya sangat sebal sampai saat ini Rangga masih mengenggam tangannya padahal pria itu sedang makan.
" Ngapain liatin gue? " Tanya Rangga yang melihat Tasya menatap dirinya dengan tatapan sinis dan marah.
" Mau aja! emang kenapa sih? ngak boleh?! " Kesal Tasya dengan nada marah dan penuh penekanan.
" Boleh kok! Boleh banget malah! " Jawab Rangga bersemangat. Lantas Tasya mengernyit heran lalu menegakkan tubuhnya seperti posisi semula dan menatap heran kepada Rangga.
Seolah mengerti dengan arti tatapan Tasya Rangga melanjutkan ucapannya yang tadi masi ada lanjutannya. " Karena yang natap gue itu bidadari " Lanjut Rangga dengan senyum manisnya.
Apakah Tasya baper? ohh tidak sama sekali!. Dirinya malah merasa ingin melempar Rangga dari jurang lalu melepas harimau agar daging yang ada didalam tubuhnya habis tidak tersisa. " Hahaha.. garing " Kata Tasya dengan ekspresi datar dan tertawa renyah kres.. kres..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku mau cepetin waktu ceritanya, karena aku mau cepet - cepet tamatin cerita ini terus hiatus sebulan.
Bang... hayati lelah nulis novel tapi ngak ada respon dari kalian yang teken favorite.
***
Lima hari kemudian.
Pagi hari ini, Ferel beserta Kenan sedang menanti Keyla yang bebas dari penjara. Sesuai janji Varo kemarin Keyla dapat bebas hari ini.
Ferel merentangkan tangannya lebar - lebar untuk meyambut Keyla kedalam pelukannya. Keyla yang melihat Ferel melakukan itu langsung memeluk Ferel dengan erat setelah melepas tas yang dibawanya dari dari dalam tadi.
" Iya aja gue mah. Jadi jombo kayak nyamuk! " Ujar batin Kenan yang tersiksa karena harus melihat tingkah laku dua bucin disampinya.
" Aku kangennn.. " Ujar Keyla kepada Ferel dengan wajah yang didongakan tapi tangannya masih setia melingkar dipunggung Ferel.
" Baru kemarin loh key, kita ketemu " Balas Ferel sambil tersenyum senang.
Kenan berdehem karena dirinya merasa tersindir sebagai jomblo dengan status selama tiga tahun. " Udah belom si acara kangen - kangenannya?! " Tanya Kenan dengan nada yang menyindir.
Keyla yang mendengar itu langsung tersenyum, dirinya kemudian beralih memeluk Kenan kakaknya. " Kak kenan.. aku kangen " Ucap Keyla.
Kenan tersenyum melihat sikap adeknya, lalu tangannya mengelus kepala Keyla. Kemudian setelah itu Keyla melepas pelukannya dan mengajak Kenan beserta Ferel untuk pergi dari kantor polisi itu.
" Pulang yuk! " Ucap Keyla lalu mengambil tasnya yang berisikan baju - baju dan memberikannya kepada Kenan.
Kenan yang menerima tas itu hanya bisa melongo tidak percaya, sementara Keyla yang tadi memberikannya tas sudah jalan mendului dirinya bersama Ferel dengan tangan yang saling berpegangan erat seperti ingin menyembrang lewat zebra crosh.
" Jomblo dilarang iri! " Tegas Kenan dalam hatinya. Lalu berjalan menyusul Ferel dan Keyla yang sudah masuk kedalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disinilah Tasya dan Varo sekarang berada bersama seorang pria bertubuh tinggi dan atletis.
Didepan makam yang bertuliskan Alfahri Mahesa.
Dengan gaya tangan yang dimasukan kedalam kantong dan kaca mata hitam yang dipakainya pria itu berbicara. " Bukan soal berapa usianya.. tapi soal berapa pengorbanannya " Jelas pria itu memandang makam kakaknya.
~ Bersambung ~